
Setelah selesai menikmati makan siang bersama di restoran itu, Alex dan Keisha kini bersiap untuk pulang karena sudah cukup lama mereka bermain disana. Alex amat cemas dengan istrinya saat ini, apalagi mengingat kejadian tadi di sekolah. Ya Alex ingin segera membawa Keisha pulang ke rumah, agar tentu wanita itu bisa puas beristirahat.
Namun, sepertinya Keisha masih belum ingin pulang ke rumah dan tetap menginginkan berada di mall itu bersama suaminya. Keisha berkata jika ini semua adalah permintaan calon bayi mereka, sehingga Alex mau tidak mau harus menuruti itu. Sebagai seorang suami dan calon ayah yang baik, Alex tentu dibuat bingung saat ini harus melakukan apa.
"Mas, jangan pulang dulu ya! Aku masih mau main di mall ini, kayaknya anak kita senang deh mas kalau main sama kamu!" ucap Keisha tersenyum lebar.
"Hm, kamu mah ada-ada aja sayang. Selalu deh bawa-bawa anak kita kalau kepengen sesuatu, padahal aku yakin ini mah kemauan kamu aja kan buat jalan sama aku?" ucap Alex.
"Ih jangan salah sangka dulu mas! Bener kok anak kita yang mau, kalo gak percaya tanya aja sendiri!" ucap Keisha cemberut.
Alex tersenyum dan gemas melihat ekspresi istrinya, ia cubit dengan lembut pipi sebelah kanan sang istri sambil berulang kali mengusapnya. Alex memang tidak bisa menolak kemauan Keisha saat ini, meski ia masih sangat khawatir dengan kondisi sang wanita yang belum membaik. Ya Alex terpaksa mengangguk saja, karena ia tidak mau membuat istrinya merasa kecewa nanti.
Kini keduanya tidak jadi pulang ke rumah, Alex memutuskan mengajak sang istri berputar-putar di area mall meski tanpa tujuan. Mereka berdua tampak saling bercanda dan tertawa penuh riang, sepanjang jalan Alex juga terus merangkul istrinya itu seolah tak ingin Keisha diambil lelaki lain.
"Sayang, mau beli apa nih kamu? Mumpung aku baik, jadi aku tawarin ke kamu. Siapa tahu kamu lagi kepengen sesuatu kan?" ujar Alex.
Keisha pun berpikir sembari mengetuk jarinya ke dagu, ya wanita itu dibuat bingung saat harus memilih apa yang ia inginkan sekarang. Pasalnya, sejak dulu Keisha memang jarang sekali belanja dan tidak tahu ingin membeli apa. Namun, tiba-tiba ia berpikir mengenai peralatan bayi untuk calon anaknya nanti yang akan segera dilahirkan.
"Oh ya mas, gimana kalau kita pilih-pilih barang yang bagus buat calon anak kita? Misalnya baju atau tempat tidur, ya kan?" ucap Keisha sambil tersenyum.
"Umm, kalau menurut aku sih jangan dulu ya sayang! Usia anak kita ini kan baru empat bulan, takutnya nanti malah gimana-gimana gitu!" ucap Alex.
Sontak Keisha kembali merengut dibuatnya, ia kecewa karena Alex tidak setuju dengan usulnya tadi untuk membeli barang-barang perlengkapan bayi. Memang betul apa yang dikatakan Alex tadi, kalau mereka belum boleh membeli semua keperluan bayi untuk anak mereka karena usia kandungan Keisha yang masih baru menyentuh empat bulan.
"Jangan marah ya sayang! Aku dengar itu dari mama, katanya pamali kalau beli barang bayi pas usia kandungannya masih awal," ucap Alex.
"Tapi mas, aku kan—"
"Loh Alex??" tiba-tiba saja, mereka dibuat terkejut dengan kemunculan seorang wanita di hadapan mereka saat ini yang langsung menyapa sang Alex.
Baik Alex maupun Keisha sama-sama terbelalak, terutama Alex yang seolah tak menyangka dengan kehadiran wanita tersebut disana. Alex bahkan sampai menggeleng pelan, matanya terus menatap ke arah si wanita yang menyapanya itu disertai mulut menganga lebar.
"A-Anya..."
•
•
Lana tiba di rumahnya bersama sang supir yang akhirnya tadi datang juga menjemputnya walau harus memakan waktu cukup lama, ya Lana sungguh kesal dan sepanjang perjalanan gadis itu terus cemberut karena kelakuan supirnya. Namun, Lana setidaknya bisa mendapat kebahagiaan setelah Zikri tadi memberikan sebuah permen kepadanya.
Begitu ia turun dari mobilnya, gadis itu langsung disambut oleh Mayra yang kebetulan hendak pergi juga menemui teman-temannya. Tentu saja Lana mendekati mamanya itu dan mencium tangannya, lalu terlihat tersenyum dengan lebar. Awal mulanya semua tampak biasa saja, tapi tiba-tiba Mayra menemukan sosok pria di belakang Lana yang tengah berdiri sambil memandang ke arahnya.
"Loh sayang, itu kamu sama siapa? Pacar kamu?" tanya Mayra menunjuk ke arah si cowok.
Lana terkejut bukan main dengan ucapan mamanya itu, ia reflek menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang ada disana. Kedua matanya langsung terbelalak lebar ketika melihat Arfan mengikutinya sampai kesana, ya ternyata sedari tadi lelaki itu mengikutinya dan Lana tidak sadar akan hal itu karena terlalu fokus dengan permen dari Zikri.
"Hah? Ma, dia bukan pacar aku kok. Aku juga gak tahu kenapa dia bisa ada disini, perasaan tadi aku gak ngajak siapa-siapa," ucap Lana mengelak.
Mayra pun ikut terkejut dengan pernyataan putrinya, jika bukan diajak oleh Lana maka lalu siapa yang membawa pria itu kesana. Namun, kini Arfan coba mendekat disertai senyuman tipis dan dua tangan yang ditaruh di depan. Arfan menyapa Mayra dengan lembut, mencium tangan wanita itu dan tersenyum ke arah Lana sambil mengedipkan matanya.
"Halo tante! Maaf ya kalau saya lancang, tapi tadi saya cuma pengen silaturahmi kok!" ucap Arfan.
"Ohh, ya ya gak masalah kok. Tapi, kamu ini siapanya Lana? Terus kok kamu bisa ada disini?" tanya Mayra dengan wajah heran.
"Eee saya Arfan tante, saya ini teman sekolahnya Lana dan kebetulan kami cukup dekat," jawab Arfan.
Mayra tersenyum dibuatnya, ia geleng-geleng kepala dengan ucapan Lana barusan karena menurutnya gadis itu sangat lucu. Sedangkan Arfan disana juga ikut senyum-senyum tipis dan menunduk lesu, sepertinya niat Arfan berhasil untuk membuat Lana tersipu dengan kedatangannya saat ini. Apalagi, kebetulan sekali ada sosok Mayra disana yang merupakan ibunda dari Lana gadis tercintanya.
"Yaudah Lana, mama mau pergi dulu ya? Ini temannya diajak masuk aja, suruh bibik buatin minum juga!" ucap Mayra pada putrinya.
"Ma, dia bukan teman aku. Aku gak mau ah dia masuk ke dalam!" tolak Lana.
"Lana, udah kamu jangan kayak gitu sama Arfan ya! Ajak dia masuk terus bicara ke dalam, kamu harus ramah sama teman sekolah kamu!" paksa Mayra.
"Huft, iya ma iya."
Dengan sangat terpaksa Lana mengikuti perintah mamanya dan mengajak Arfan masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Mayra sendiri tampak pergi bersama supirnya meninggalkan rumah itu. Arfan tentu sangat bahagia, apalagi ia dapat berbicara berdua dengan Lana di dalam rumah itu.
•
•
Sementara itu, Zayn masih mencoba mendekati Shella dengan cara mengajaknya menikmati santap sore bersamanya di apartemen. Ya kebetulan mereka tidak sengaja bertemu di lobi, sehingga Zayn memiliki kesempatan untuk membujuk gadis itu agar mau ikut bersamanya. Hingga kini, Zayn memang masih menyukai sosok Shella.
Melihat keberadaan lelaki itu di dekatnya, Shella sontak mendengus kesal dan memutar bola matanya seolah malas menanggapinya. Shella sama sekali tak menyukai pria itu, karena yang ia sukai hanyalah Alex ataupun Joshua. Namun, Shella juga belum tahu bagaimana caranya untuk bisa lepas dari kejaran pria yang menurutnya aneh itu.
"Shella, kita ngopi-ngopi yuk di cafe! Sambil nyemil terus lihat pemandangan disana, kayaknya seru deh. Kamu mau kan Shella?" ucap Zayn tersenyum lebar.
"Umm, sorry Zayn gue gak bisa! Gue ada urusan penting di luar nih, lu sendiri aja atau ajak yang lain kan banyak tuh cewek disini bukan gue doang!" ucap Shella menolak secara lembut.
"Nah soal itu aku gak bisa, aku cuma mau sama kamu. Ayolah Shella, sekali ini aja kok dan gak lama juga!" bujuk Zayn.
Shella menggeleng perlahan, "Gue udah bilang kalau gue gak bisa lakuin itu, gue pengen pergi ini temuin teman gue. Mungkin kapan-kapan aja kita bisa ngopi bareng ya?" ucapnya kekeuh.
Disaat Shella hendak pergi melewatinya, Zayn dengan cepat menahan gadis itu dan memintanya tetap disana. Biar bagaimanapun, Zayn tetap ingin menikmati waktu bersama Shella saat ini karena ia begitu menyukai gadis tersebut. Namun, seperti yang tadi Shella katakan bahwa dia tidak mau dan tidak bisa menerima ajakan pria itu.
"Beberapa menit aja kok Shella, masa kamu gak bisa sih? Emang kamu ada acara apa sama teman kamu, penting banget ya?" tanya Zayn memastikan.
"Hm, menurut lu gimana? Kalau gak penting, gak mungkin gue seburu-buru ini!" jawab Shella ketus.
Zayn tersenyum saja dan terus memandang wajah cantik gadis di hadapannya, ia meraih satu tangan Shella lalu menggenggamnya dengan kuat. Tentu saja Shella yang tengah terdiam tampak kaget dengan kelakuan Zayn saat ini, gadis itu tak menyangka jika Zayn bisa berani menyentuh tangannya seperti itu tanpa seizinnya.
"Shella, aku tuh suka banget sama kamu. Aku mau kamu jadi pacar aku, itu aja kok!" bujuk Zayn.
"Lo itu kenapa sih? Gue beneran gak bisa ngopi sama lu, gue ada janji sama teman gue. Lo gak bisa ngerti soal itu ya, oh atau lu budeg dan gak ngerti bahasa Indonesia?" kesal Shella.
"Bukan begitu Shella, sekarang aku mau kamu jawab pertanyaan aku tadi ya! Kita pacaran, kamu setuju kan?" ucap Zayn dengan tegas.
Shella geleng-geleng kepala dibuatnya, ia heran mengapa Zayn sekeras itu memaksanya untuk menjadi pacarnya. Padahal, ia sendiri tidak pernah menyukai pria itu dan masih banyak wanita lain di luar sana yang bisa didekati olehnya. Shella pun berusaha melepaskan diri dari cengkraman Zayn, tetapi sepertinya pria itu tak memberi ruang sama sekali bagi Shella untuk bisa bergerak.
"Ish, lepasin gue Zayn! Gue udah ditunggu sama teman gue sekarang, kalo lu gak lepasin gue nanti gue teriak loh!" geram Shella.
Zayn terdiam sesaat, dan lalu tanpa berpikir panjang ia melepaskan saja tangan Shella sesuai permintaan dari sang gadis. Meski Zayn sangat kecewa, namun pria itu juga tak mau ambil resiko jika nantinya Shella berteriak.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...