Menikah Karena Skandal

Menikah Karena Skandal
Bab 39. Bikin film


Ciiittt


Mobil yang dikendarai Hani terpaksa berhenti secara mendadak, lantaran ada sebuah mobil menyalipnya dari kanan dan berhenti tepat di depannya. Sontak saja Hani terkejut, wanita itu juga sampai tersengal karena nyaris saja mengalami kecelakaan. Untungnya ia masih sempat menginjak rem, jika tidak mungkin mobilnya sudah menabrak mobil itu.


Tak lama kemudian, tampak seorang pria keluar dari mobil tersebut dan menatap ke arahnya. Hani terbelalak kaget melihatnya, sebab pria itu ialah Alex alias suami Keisha yang baru saja dikerjai olehnya. Kini Hani pun tampak kebingungan, ia takut Alex akan menanyakan mengenai Keisha dan pastinya Hani tidak tahu harus menjawab bagaimana.


Terlihat Alex mengetuk kaca mobilnya, meminta wanita itu keluar dari dalam sana agar berbicara dengannya. Setelah sempat berpikir, akhirnya Hani terpaksa keluar menemui Alex dengan perasaan gugup. Sekeras apapun ia berusaha untuk tenang, tetap saja Hani saat ini sangat gugup dan ketakutan karena khawatir Alex akan mencurigainya.


"Alex, ada apa lu kejar-kejar mobil gue? Lu mau cari Keisha ya? Dia masih ada di pesta kok, ini gue pengen isi bensin dulu. Makanya gue pergi sendiri," ucap Hani gugup.


Alex tersenyum dan melangkah mendekati wanita itu, "Okay, isi bensin ya? Bukannya mau pulang karena rencana lu udah berhasil, hm?" ujarnya.


Deg


Jantung Hani berhenti berdetak saat itu juga, ia terkejut dengan ucapan yang dilontarkan Alex barusan. Apakah mungkin Alex telah mengetahui semuanya, tapi bagaimana bisa? Jujur Hani tak tahu harus apa, ia dihadapkan pada situasi yang benar-benar menyulitkan bagi dirinya.


"Apa yang udah lu lakuin ke Keisha di tempat tadi? Jawab Hani, jangan sampai gue emosi gara-gara lu cuma diam aja!" sentak Alex.


"Hah? Gu-gue gak ada ngelakuin apa-apa loh, gue cuma undang dia buat datang ke pesta. Lu kenapa jadi curiga gini sih sama gue, Lex? Gue ini orang baik loh," ucap Hani menyangkal.


"Hani cukup! Gue tahu semua ini cuma rencana lu sama si Shella buat jebak Keisha, iya kan? Mending lu ngaku sekarang juga!" tegas Alex.


"Ngaku apa sih Alex? Beneran deh gue gak ngelakuin apa-apa, lu percaya dong sama gue! Lagian kalau lu kurang yakin, sana coba gih lu temuin Keisha terus tanya langsung ke dia!" ucap Hani.


"Masih aja gak mau ngaku ya lu, oke deh kalo gitu ayo lu ikut gue sekarang!" ucap Alex.


Alex yang terbawa emosi langsung menggenggam tangan gadis itu, ia memaksa Hani untuk ikut dengannya pergi dari sana. Akan tetapi, Hani yang takut terus berontak dan tidak mau mengikuti perintah Alex itu. Hani sangat bingung kali ini, sebab Alex malah semakin mengeratkan pegangannya dan terus memaksa gadis itu ikut bersamanya.


Karena tak memiliki pilihan lain, Hani terpaksa mengikuti permintaan Alex dan pergi bersamanya. Wanita itu pun masuk ke dalam mobil, meski ia kelihatan takut sekali. Ya Alex memang berniat untuk mengulik informasi dari Hani, karena hanya Hani yang bisa ia tekan untuk saat ini dan bisa memberikan informasi mengenai Keisha.


"Han, selagi lu belum kasih tahu gue apa yang terjadi sama Keisha. Gue gak akan lepasin lu," tegas Alex.


Hani cukup terkejut mendengar ucapan Alex barusan, ia spontan menoleh ke samping menatap wajah Alex dengan sedikit emosi. Jika saja bukan karena dendamnya pada pria itu, mungkin Hani tidak akan tega melakukan hal seperti tadi kepada Keisha.


"Lo tuh mau apa sih Lex? Lo mau bawa gue kemana?" tanya Hani tampak ketakutan.


"Pake nanya, ya jelas gue bakal bawa lu ke tempat pesta tadi buat ketemu Shella. Gue yakin kalian kerjasama, makanya gue pengen bongkar semua kebusukan kalian!" jawab Alex.


"Lex, percuma. Keisha udah gak ada disitu, lu cuma buang-buang waktu kalau bawa gue kesana!" ucap Hani tegas.


"Maksudnya??" Alex tampak penasaran.


Gadis itu menyeringai, membuat Alex semakin penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Keisha. Alex pun terus bertanya pada Hani, berharap Hani mau memberitahunya dan mengatakan dimana Keisha saat ini. Jujur saja Alex tentu khawatir, terlebih ponsel milik Keisha tidak bisa dihubungi sedari tadi.


"Iya Alex, gue kasih tahu nih ya sama lu. Jadi, Keisha itu sekarang udah gak ada di tempat pesta. Ya paling dia lagi sama Tarra, soalnya tugas gue sama Shella kan udah selesai," ucap Hani.


"Apa? Sama Tarra??" Alex terkejut bukan main, emosinya memuncak begitu mendengar penjelasan Hani mengenai keberadaan Keisha.




Disisi lain, Keisha baru tersadar dari pingsannya dan langsung dibuat terkejut karena ia berada di sebuah tempat asing dengan dikelilingi oleh kamera-kamera yang cukup banyak. Apalagi saat ini ia tergeletak di atas ranjang dalam kondisi kedua tangan serta kakinya terikat kuat, Keisha pun mencoba berontak untuk melepaskan diri tetapi gagal.


Keisha benar-benar panik, wanita itu coba mengingat-ingat momen sebelum ia pingsan dan mengapa dirinya saat ini bisa berada disana. Ya ia tahu, sebelumnya ia tengah mengikuti pesta bersama Hani dan Shella. Namun, entah kenapa tiba-tiba dirinya merasa pusing saat di jalan pulang dan pingsan begitu saja.


Disaat ia tengah asyik mengingat kembali, tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki yang banyak sedang menuju ke arahnya. Wanita itu coba mencari tahu, lalu tak lama pintu kamar itu terbuka dan Tarra beserta rombongannya masuk ke dalam sana disertai tawa kepuasan. Sontak Keisha menjadi semakin panik, kini dirinya berada di dalam ruangan bersama cukup banyak pria yang ia benci.


"Hahaha... hahaha...."


Mereka terus tertawa, sampai Tarra kini mendekati Keisha dan duduk di sampingnya. Perlahan satu tangan pria itu mengusap keningnya, Keisha mencoba memalingkan wajah untuk menghindar dari sentuhan Tarra walau akhirnya gagal. Tarra juga melepas lakban dari mulut Keisha secara kasar, ia menariknya kuat dan membuat Keisha meringis kesakitan di area bibirnya.


"Ahaha, baguslah lu udah sadar Keisha. Jadinya gue gak perlu repot-repot bangunin lu," ucap Tarra disertai kekehan mengejeknya.


"Mau apa lu, ha? Kenapa gue bisa ada disini, apa yang udah lu lakuin ke gue?" tanya Keisha cemas.


"Sssttt, lu gausah khawatir gitu Keisha! Lu aman kok sama kita, disini lu cuma harus nurut dan jangan bantah kalau lu mau baik-baik aja!" ucap Tarra.


"Gue gak paham, kenapa lu sekap gue? Lepasin, gue mau pulang dan ketemu Alex!" sentak Keisha.


Bukannya menurut, saat itu juga Tarra tertawa terbahak-bahak dan disahuti oleh teman-temannya yang juga ikut menertawakan perkataan wanita itu tadi. Mereka tentu saja tidak mungkin akan membiarkan Keisha pergi dari sana tanpa melakukan apa-apa, sehingga Tarra merasa jika apa yang dikatakan oleh Keisha seperti sebuah lelucon.


"Lo pikir lu bisa lepas gitu aja dari sini, ha? Itu sesuatu yang mustahil Keisha, lu harus lakukan sesuatu dulu buat kita!" ucap Tarra dengan tegas sembari mencengkram rahang wanita itu.


Keisha terbelalak mendengarnya, "Maksudnya, gue harus ngelakuin apa?" ucapnya penasaran.


Tarra tertawa sekilas seraya melepaskan cengkeramannya dari rahang Keisha, lalu ia menunjuk ke sekelilingnya dimana terdapat banyak sekali kamera yang seolah siap mengambil gambar maupun video mereka disana.


"Lu lihat di sekeliling lu sekarang ini ada apa? Ya, itu kamera. Dan lu tahu apa fungsi kamera-kamera ini ada disini?" ucap Tarra.


Keisha menggeleng dengan ekspresi cemas, wanita itu memang tak tahu apa sebab ditaruhnya kamera cukup banyak di sekitar mereka saat ini dan untuk itu ia pun menggeleng sekaligus bertanya pada Tarra apa yang hendak dilakukan oleh pria itu. Namun, Tarra justru kembali tertawa dan beranjak dari ranjang sembari melangkah mengelilingi kamera.


Keisha mengernyitkan dahinya, "Lu bicara apa sih Tarra? Gue gak ngerti deh serius, film apa coba yang mau lu bikin? Kenapa harus bawa-bawa gue?" ujarnya.


"Hahaha, pake nanya lagi. Ya jelaslah, kalau ada enam orang laki-laki dan satu orang perempuan di dalam kamar kayak gini. Udah pasti kita mau buat film dewasa," jawab Tarra santai.


"Ahaha hahaha hahaha..."


Keenam pria itu tertawa puas seraya mengangkat kedua tangan mereka ke langit, sepertinya mereka sangat bahagia malam ini melihat ekspresi ketakutan di wajah Keisha setelah mengetahui apa rencana mereka. Bukan Tarra tentu jika tidak memiliki rencana buruk untuk musuh-musuhnya, termasuk apa yang dia lakukan kali ini kepada Keisha sebagai balas dendam terhadap Alex.


Sementara Keisha justru terlihat panik, ia berusaha melepaskan diri dari ikatan yang menjerat tubuhnya itu. Akan tetapi, semua ikatan itu teramat kuat dan tidak mampu dilepas oleh Keisha. Sontak wanita itu sangat-sangat ketakutan, apalagi suara tawa yang menggelegar di sekitarnya menambah rasa takutnya akan perkataan Tarra tadi. Bagaimana mungkin Keisha akan melakukan hubungan bersama enam orang pria sekaligus saat ini?


"Kalian semua gila! Kalian gak waras! Lepasin gue dari sini, gue gak mau ngikutin kemauan kalian itu!" sentak Keisha.


"Hey Keisha, lu gak perlu takut kayak gitu! Tenang aja kali, rileks!" ucap Tarra tersenyum santai.


"Iya Keisha, lu cukup diam dan jangan melawan! Maka, lu gak bakal ngerasa sakit kok! Kita akan ngelakuin ini dengan pelan," sahut Raffa.


"Sialan! Dasar biadab kalian semua!" umpat Keisha.


Bruuukkk bruuukkk


Tiba-tiba saja, terdengar suara seperti barang yang terjatuh berantakan dari arah luar. Seketika Tarra bersama teman-temannya itu kompak menoleh ke belakang, mereka penasaran apa yang terjadi dan siapa yang bisa masuk ke markas rahasia mereka saat ini. Padahal tidak ada siapapun yang tahu lokasi mereka, selain tentunya mereka sendiri.


"Siapa itu ya? Tarra, biar gue sama yang lain cek ke luar. Lu disini aja jagain Keisha, barangkali itu penyusup yang mau cari gara-gara!" ucap Raffa.


"Oke, kalian hati-hati! Kalau ada apa-apa, jangan lupa kasih tahu gue!" ucap Tarra.


Raffa mengangguk paham, kemudian ia bersama temannya yang lain sama-sama keluar dari kamar itu meninggalkan Keisha berdua dengan Tarra. Tentu saja Tarra kembali menatap ke arah Keisha, ia tersenyum seringai dan membelai wajah wanita yang tengah berkeringat karena panik itu.


"Ahaha, belum apa-apa aja lu udah keringetan begini. Payah banget sih lu!" ledek Tarra.


Keisha hanya diam sembari menggerakkan kepalanya, ia tidak mau wajahnya disentuh oleh pria biadab seperti Tarra.




Kini Alex telah tiba di lokasi pesta bersama Hani yang ikut dengannya, mereka langsung bergegas turun dari mobil dan memasuki rumah besar tersebut untuk menemui Shella. Akan tetapi, begitu sampai di dalam mereka malah bertemu dengan Novia yang terlihat panik. Sontak Alex bergerak mendekati wanita itu, lalu bertanya mengenai keberadaan Shella saat ini.


Novia mengatakan yang sejujurnya, bahwa Shella tadi tidak sengaja meminum minuman yang telah dicampur obat tidur untuk Keisha. Sekarang ini Shella pun tengah tertidur di kamarnya akibat minuman tersebut, seketika Alex merasa jengkel dan melampiaskan amarahnya dengan cara menendang meja yang ada di dekatnya.


"Aaarrrgghhh sial! Sekarang gimana caranya gue bisa tahu lokasi keberadaan Tarra? Gue harus selamatin Keisha!" geram Alex.


Hani dan Novia sama-sama saling menatap satu sama lain, mereka kebingungan melihat reaksi Alex saat ini yang terlihat begitu emosi setelah mengetahui istrinya dalam bahaya. Lalu, Alex kini beralih menatap wajah Novia berharap wanita itu tahu lokasi markas Tarra yang baru. Namun, Novia mengatakan jika dirinya tidak pernah diberitahu apa-apa oleh Shella mengenai Tarra.


"Masa sih Nov? Serius lu gak tahu dimana Tarra? Lu itu kan temannya Shella, lu cukup dekat loh sama dia. Pasti dia pernah bicara kan sama lu soal Tarra, mending lu jujur deh sama gue!" ucap Alex.


"Gue udah jujur Lex, gue emang gak tahu. Cuma Shella yang tahu, percaya dong!" tegas Novia.


"Yaudah, dimana Shella sekarang? Gue mau lihat kondisi dia secara langsung, kali aja gue bisa bikin dia sadar!" ucap Alex.


"Eee Shella ada di kamarnya, ayo deh gue antar lu kesana!" ucap Novia gugup.


Alex mengangguk, mereka pun melangkah bersamaan menuju kamar tempat Shella berada. Ketiganya memasuki kamar itu, terlihat lah sosok Shella tengah terbaring disana dalam keadaan tertidur pulas akibat obat yang dia konsumsi. Alex langsung mendekatinya, menyentuh wajahnya berharap agar Shella bisa segera sadar.


"Heh, cepat bangun lu! Gue butuh bantuan lu buat cari tahu dimana Tarra, ayo bangun!" sentak Alex.


"Lex, sabar! Gue beli obat tidur itu yang paling mujarab, tapi waktu berlakunya cuma sebentar kok. Orang yang minum obat itu, paling lama tidur sekitar setengah jam lah. Jadi, kita tunggu aja dia dulu!" ucap Hani menenangkan.


"Nah dengerin tuh, lagian Shella udah tidur sekitar sepuluh menitan kok!" sahut Novia.


"Tetap aja gak bisa, segitu mah kelamaan dan keburu Keisha diapa-apain sama si Tarra! Gue mau selamatin dia sekarang!" sentak Alex.


"Ya tapi gimana Lex? Cuma Shella yang tahu dimana lokasi si Tarra," ujar Hani.


Alex terdiam bingung, pikirannya benar-benar kacau memikirkan kondisi Keisha sehingga ia tidak bisa berpikir dengan tenang. Ia sungguh khawatir pada Keisha, sebab hingga kini ia tak tahu dimana dan bagaimana keadaan istrinya itu.


Tling


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada pesan masuk dari nomor Tasya yang membuat Alex penasaran. Pria itu langsung membukanya, matanya terbelalak seketika saat melihat Tasya mengirimkan sebuah lokasi kepadanya. Tentu saja Alex bingung, ia tak tahu lokasi siapakah yang dikirim oleh Tasya itu.


"Ini Tasya kirim lokasi siapa ya? Kok gak ada penjelasannya sih?" batin Alex.


"Eengghh..."


Tak lama kemudian, terdengar suara lenguhan dari mulut Shella. Sontak Alex, Hani dan juga Novia sama-sama menatap ke arah Shella dengan tatapan terkejut. Ketiganya heran mengapa Shella terlihat mengusap tubuhnya sendiri, seperti orang yang tengah kepanasan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...