
Lana kini dibawa ke rumah sakit oleh Alex yang tampak begitu cemas, ia langsung meminta dokter disana untuk memeriksa kondisi adiknya itu. Alex benar-benar khawatir pada keselamatan sang adik, ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya. Hingga kini, bahkan Lana juga masih belum sadarkan diri dan membuat Alex semakin panik serta tidak bisa tenang memikirkan Lana saat ini.
Tak lama kemudian, Alex pun menemui dokter itu dan bertanya mengenai kondisi Lana yang sedang terbaring di brankar saat ini. Alex tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya pada sang dokter, karena jujur ia sangat khawatir pada adiknya. Bagi Alex, apa yang terjadi pada Lana juga bisa ia rasakan dan menjadi sebuah luka yang teramat sangat di dalam hatinya ketika Lana tersakiti seperti sekarang.
"Dok, gimana keadaan adik saya dok? Dia baik-baik aja kan dok? Jawab saya dok, saya mohon!" ucap Alex dengan tampang cemasnya.
"Ohh, jadi ini adik anda? Saya kira tadi pasien ini istri anda loh pak," ucap dokter itu.
Alex mengernyitkan dahinya, "Maksud dokter gimana? Kenapa dokter mengira adik saya ini istri saya?" tanyanya terheran-heran.
"Ya pak, soalnya pasien ini tidak sakit kok. Gejala yang dialami olehnya ini merupakan tanda kehamilan, setelah saya periksa usia kandungan pasien sudah memasuki Minggu ketiga pak," jawab dokter itu menjelaskan secara rinci.
"Apa dok? Adik saya hamil?" Alex terkejut bukan main, mulutnya menganga dan matanya terbelalak lebar seolah tak mempercayai itu.
Dokter itu hanya mengangguk disertai senyuman tipisnya, ia tak mengetahui apa-apa kalau Lana belum menikah saat ini. Sedangkan Alex tentu saja sangat terkejut mendengar jawaban sang dokter, ditatapnya wajah Lana yang masih terbaring pingsan dengan ekspresi tak percaya. Alex sungguh bingung, bagaimana bisa adiknya itu hamil di luar nikah.
"Benar pak, selamat ya sebentar lagi anda memiliki keponakan!" ucap dokter itu.
"Tidak dok, ini gak mungkin. Gimana bisa adik saya hamil, dok? Dia aja belum menikah loh, pasti dokter salah kira kan. Saya gak percaya, adik saya ini gak mungkin hamil dok!" ucap Alex.
"Eee maaf pak, tapi saya tidak mungkin salah. Pasien memang sedang mengandung, saya hanya menyampaikan apa yang saya tahu," ucap dokter itu.
Alex semakin tersentak, ia tidak menyangka adik yang ia sayangi itu harus mengandung di luar nikah dan entah siapa yang melakukannya. Selama ini Lana tak pernah menceritakan apa-apa padanya, tetapi sekarang ia justru mendapat kabar bahwa Lana sedang mengandung. Perasaannya hancur, ia merasa gagal sebagai seorang kakak.
"Kalau begitu saya mohon izin pak, anda tenang saja karena adik anda akan sadar kok! Tapi, sebaiknya nanti anda jangan banyak bertanya dulu ya ke pasien!" ucap dokter itu.
"Baik dok, terimakasih!" singkat Alex.
Dokter itu pun pergi dari sana meninggalkan Alex, ya karena sudah tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membantu Lana kali ini. Alex pun mendekat ke arah Lana, ia tatap wajah adiknya dengan ekspresi sedih seolah tak menyangka bahwa semua ini akan terjadi pada gadis itu. Alex tahu ini berat bagi Lana, pasti Lana akan merasa sangat bersedih nantinya.
"Lana, lu kenapa bisa kayak gini sih? Harusnya lu cerita sama gue, secara gue ini kan abang lu. Sekarang kalo udah begini gue harus gimana coba, apa yang bakal gue ceritain ke mama papa nanti?" gumam Alex dengan lirih.
Air mata menetes dari wajahnya, jatuh mengenai lengan gadis itu dan membuat Lana secara tak sadar bergerak lalu membuka matanya saat ini.
•
•
Disisi lain, Revan kembali datang ke rumah Alex untuk menemui Keisha setelah memastikan kalau saat ini Keisha hanya sendiri disana. Ya Revan ingin memanfaatkan momen itu, agar ia dapat berbicara berdua dengan Keisha kali ini. Revan belum menyerah untuk bisa mendekati Keisha, karena ia sangat menyukai setiap kali berada di dekat Keisha.
Kebetulan Keisha kini melangkah ke luar berniat untuk melihat siapa yang datang, sehingga Revan tak perlu susah-susah memanggil namanya. Saat itu juga Revan tersenyum lebar sembari menatap wajah Keisha, sedangkan wanita itu terbelalak lebar dan tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan sana saat ini.
"Ah Keisha, syukurlah kamu keluar! Tolong buka pintu pagar ini dong, aku mau masuk dan bicara sama kamu!" ucap Revan dengan lembut.
Perlahan Keisha berjalan mendekati pria itu, ia masih terus menatap bingung ke arahnya dan tak menyangka Revan akan kembali datang kesana. Padahal, kala itu Keisha telah berulang kali meminta pada Revan untuk tidak datang lagi. Namun, jelas sekali bahwa Revan tak mau menuruti permintaan Keisha dan tetap saja kekeuh ingin menemuinya.
"Revan, kamu tuh gak bisa dibilangin apa gimana sih? Aku minta kamu untuk menjauh, tapi kenapa kamu malah datang lagi kesini sekarang? Apa kamu gak ngerti bahasa?" tanya Keisha dengan ketus.
"Aku bisa aja turutin kemauan kamu itu, tapi gak tahu kenapa aku maunya ada di dekat kamu terus. Ayolah Keisha, biarin aku disini ya!" ucap Revan.
"Gak bisa Revan, aku mohon kamu pergi sekarang dari sini! Aku gak mau ada salah paham nantinya, apalagi kalau sampai mas Alex lihat kamu ada disini. Lebih baik kamu pergi Revan, jangan bikin masalah!" ucap Keisha.
"Aku gak akan pergi dari sini Keisha, karena aku masih pengen ngobrol sama kamu. Biarin dulu aku masuk ke dalam, aku janji gak akan melukai kamu kok Keisha!" ucap Revan.
"Kenapa kamu maksa banget sih? Udah aku bilang gak bisa ya gak bisa!" sentak Keisha.
Revan menghela nafasnya, ia justru membuka secara paksa gerbang itu dan masuk ke dalam rumah mendekati Keisha. Tak ada yang bisa dilakukan Keisha saat ini, karena gerak Revan cukup cepat dan sudah berhasil berada di dekatnya. Revan tersenyum ke arahnya, membuat Keisha semakin kikuk tak tahu harus berbuat apa.
"Sekarang kamu gak bisa usir aku lagi Keisha, kamu harus mau bicara sebentar sama aku! Yuk kita duduk disana, aku mohon Keisha!" ucap Revan memaksa.
Bukannya cemas, Revan justru meraih lengan Keisha dan mengajak wanita itu pergi bersamanya menuju tempat duduk yang ada di teras. Keisha mencoba berontak, tetapi Revan tak ingin melepasnya sampai mereka tiba di tempat duduk itu. Akhirnya Keisha tak bisa melakukan apa-apa lagi, sebab cengkraman Revan memang cukup kuat di lengannya.
"Ayo kita duduk disini Keisha, aku mau bicara sebentar sama kamu!" pinta Revan.
"Okay, kamu mau dibuatin minum apa nih? Biar aku bikinin dulu di dalam, silahkan kamu duduk gih!" ucap Keisha dengan ramah.
"Gausah buat minum, ayo kamu ikut duduk aja sama aku!" ucap Revan.
Mau tidak mau, Keisha terpaksa menuruti perintah Revan dan ikut terduduk disana bersama pria itu dengan sedikit gugup.
•
•
Lana tersadar dari pingsannya, Alex pun reflek mendekat ke arahnya dan coba bertanya pada gadis itu mengenai dirinya. Lana sendiri masih tampak pusing sembari memegangi kepalanya, ia heran mengapa bisa dirinya ada di rumah sakit. Lalu, Lana juga menatap wajah Alex yang tepat berada di dekatnya dengan ekspresi keheranan.
"Sayang, lu masih pusing ya? Istirahat aja, tidur dulu gausah maksa buat bangun! Gue bakal selalu jagain lu disini kok, gue gak akan tinggalin lu!" ucap Alex sembari memegangi telapak tangan adiknya.
"Kak, kenapa aku bisa ada disini? Kakak ya yang bawa aku kesini?" tanya Lana penasaran.
Alex mengangguk perlahan, "Ya Lana, gue yang bawa lu kesini. Tadi itu lu pingsan pas di rumah, makanya gue langsung bawa lu kesini," jawabnya.
"Terus kak, apa kata dokter tentang aku? Aku kenapa?" tanya Lana.
Alex pun terdiam saat itu juga, ia menundukkan wajahnya sambil berpikir keras mencoba untuk memberi jawaban yang tidak mengejutkan adiknya. Bagaimanapun, ini adalah sesuatu yang rumit bagi Alex dan membuatnya amat bingung. Tak mungkin ia langsung mengatakan jika Lana hamil, itu pasti akan membuat Lana sangat frustasi.
"Lu istirahat aja dulu, tenangin diri lu! Gue gak mau bikin lu makin sakit nanti, tapi nanti bakal gue kasih tahu kok ke lu!" ucap Alex sambil tersenyum.
"Emang ada apa sih kak? Kenapa kakak gak langsung kasih tahu ke aku sekarang? Ayolah, kakak jawab ya pertanyaan aku biar aku gak penasaran!" ucap Lana.
"Eee lu maksa banget sih Lana, gue takut kondisi lu nanti memburuk kalo gue ceritain semua ke lu!" ucap Alex dengan tegas.
"Tapi aku mau tahu, kak!" ucap Lana kekeuh.
Alex semakin bingung kali ini, tak ada yang bisa ia lakukan selain berkata jujur kepada adiknya. Ya mau tidak mau Alex memang harus menjelaskan itu, karena Lana juga pastinya lambat laun akan mengetahui semuanya. Kehamilan itu memang sungguh membingungkan, bahkan Alex masih tak menyangka hingga kini.
"Tadi dokter bilang, lu itu hamil. Usia kandungan lu udah masuk Minggu ketiga," jawab Alex lirih.
Deg
Mata Lana membulat seketika, apa yang ia cemaskan sebelumnya kini menjadi kenyataan dan dirinya benar-benar hamil. Jantungnya berdegup sangat kencang, ia tak percaya kalau ternyata saat ini ia memang sedang mengandung. Air mata mulai mengalir di wajahnya, ia tak sanggup menerima kenyataan mengenai dirinya.
"Lana, lu jangan sedih ya! Pokoknya apapun yang terjadi, gue bakal selalu ada di dekat lu kok! Lu gausah khawatir, tenang aja ya cantik!" ucap Alex seraya mengusap wajah adiknya.
"Kak, ini gak mungkin kak. Kakak pasti bohong kan sama aku? Aku gak mungkin hamil, kakak bohong! Kakak bicara jujur dong sama aku, jangan bohongi aku kayak gini! Mana mungkin coba aku bisa hamil?" sentak Lana.
"Sssttt, hey tenang dulu sayang! Gue kan udah bilang tadi, lu harus bisa jaga emosi lu! Itu alasan kenapa gue gak mau kasih tahu yang sebenarnya sama lu," ucap Alex cemas.
"Hiks hiks, aku gak mungkin hamil kak! Aku gak mau!" Lana terisak saat ini.
Melihat itu membuat Alex merasa kasihan, ia tidak tega dengan kondisi Lana yang begitu menyedihkan dan langsung memeluknya erat.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...