Menikah Karena Skandal

Menikah Karena Skandal
Bab 123. Kepergok


Joshua tengah bersama Tasya di sebuah restoran yang biasa mereka datangi, kali ini Joshua hanya ingin mengajak Tasya makan siang dengannya dan tidak akan ada permainan panas diantara mereka seperti sebelumnya. Tasya sudah memilih untuk menjalani hidupnya dan mencari sosok pria yang dapat mencintainya dengan tulus, Tasya juga telah meminta Joshua untuk mengerti keputusannya itu.


Meski Joshua amat merasa kecewa dan bersedih, namun pria itu tidak dapat berbuat apa-apa mengingat semua itu adalah hak Tasya. Jika Joshua terus memaksa, maka bisa saja Tasya akan berbuat hal yang tidak diinginkan olehnya. Lagipula, Joshua masih bisa mencari wanita lain di luar sana yang dapat ia nikmati dan dijadikan sebagai pemuas hasratnya selagi Tasya tidak ada di sampingnya.


"Tasya, makasih ya lu udah mau temenin gue makan siang kali ini! Gue senang bisa kenal sama lu, ya walau sebentar lagi kita bakal berpisah. Jujur gue pasti bakal kangen banget sama semua momen yang pernah kita jalani!" ucap Joshua.


"Gue juga Jos, ya wajar lah namanya kita kan udah barengan lumayan lama. Tapi, gue yakin kok lu pasti bisa lupain gue!" ucap Tasya.


"Yeah, gue gak yakin soal itu. Sampai sekarang aja gue masih terus kepikiran sama rasa punya lu yang sempit dan menjepit itu, gak akan ada wanita di dunia ini yang bisa tandingi lu!" ucap Joshua.


Pipi Tasya memerah seketika, "Hadeh Jos, bisa-bisanya lu bahas soal itu disini! Gue malu tau, gimana kalo ada yang denger?" ujarnya kesal.


"Hahaha, biarin ajalah. Mereka pasti juga pengen ngerasain punya lu, tapi sayang aja cuma gue yang bisa tau gimana rasanya," ucap Joshua terkekeh.


Tasya geleng-geleng saja mendengar ucapan pria itu, ia merasa bingung entah harus senang atau sedih ketika Joshua merasa candu dengan tubuhnya. Jujur Tasya memang juga menyukai gaya permainan Joshua, karena pria itu selalu buas dan berhasil membuatnya puas setiap kali mereka bermain entah itu di apartemennya atau di hotel.


"Jos, abis ini rencananya lu mau ngapain? Apa lu bakal cari cewek pengganti gue buat puasin lu, atau malah cari istri?" tanya Tasya penasaran.


Joshua tersentak dan nyaris tersedak mendengar pertanyaan yang diajukan Tasya barusan, ia mengernyitkan dahinya seraya menatap wajah wanita di hadapannya itu. Joshua bingung harus menjawab apa, karena sebenarnya ia juga tak tahu apa yang akan ia lakukan setelah berpisah dengan Tasya nantinya.


"Gue gak tahu deh Sya, ya mungkin opsi pertama itu bakal gue lakuin," jawab Joshua lirih.


Tasya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, ia tahu Joshua pasti akan memilih jawaban yang itu karena memang Joshua tidak mungkin dapat menahan gairahnya sampai ia menemukan sosok istri yang dia inginkan. Tasya mewajarkan itu, asalkan bukan Keisha lah yang diganggu oleh Joshua dan diminta untuk melayaninya.


"Ya suka-suka lu deh, Jos. Gue doain aja supaya lu bisa dapat apa yang lu mau, karena gue kasihan juga sama lu kalau sampai lu stress karena gak bisa salurin hasrat lu itu!" ucap Tasya terkekeh.


"Nah itu dia Sya, lu tahu sendiri kan kalau gue susah buat nahan hasrat gue. Gak tau deh nih gue bakal dapat pengganti lu apa enggak, karena pasti susah buat nemuin perempuan yang sama persis seperti kamu Tasya," ucap Joshua.


"Yaudah, lu usaha aja dulu Jos! Gue juga paling gak akan mudah buat lupain lu," ucap Tasya.


Disaat mereka asyik berbincang dan saling berpandangan, tiba-tiba saja suara deheman terdengar dari dekat keduanya.


"Ehem ehem!"




Keisha masih berada di rumahnya dan tengah bermain bersama putranya di teras depan, ia tampak begitu asyik dengan apa yang ia lakukan saat ini. Meski, pikirannya juga tak bisa lepas dari sang suami yang sekarang entah ada dimana. Keisha merasa bersalah karena telah mengatakan hal itu kepada Alex tadi, seharusnya ia tak melakukan itu mengingat Alex memang pria yang sensitif.


Disaat ia tengah asyik bermain dengan Kenzie, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Keisha pun reflek menatap ke arah mobil tersebut, ia menyipitkan matanya pertanda bahwa ia penasaran siapa yang datang. Lalu tak lama, matanya menemukan sosok Revan muncul dari dalam mobil itu dan melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum lebar.


Sontak Keisha merasa heran dengan kehadiran Revan disana, apalagi ia tak pernah memberikan info mengenai alamat rumahnya kepada pria itu. Namun, sekarang Revan malah datang disana dan bergerak menemuinya. Keisha sungguh bingung mengapa Revan bisa mengetahui alamat rumahnya, namun ia tetap bangkit dari kursi dan pergi menemui sosok lelaki yang dulu menolongnya di jalan.


"Hai Keisha! Senang banget aku bisa ketemu kamu disini, aku udah cari-cari kamu kemana-mana loh tapi gak ketemu juga! Eh ternyata kamu tinggal disini sama suami dan anak kamu ya?" ucap Revan.


Keisha geleng-geleng kepala mendengar ucapan Revan, ia heran mengapa Revan sampai mencari dirinya seperti itu dan sangat niat. Padahal, sudah berulang kali Keisha mengatakan pada Revan untuk menjauh darinya. Alasannya tentu karena Keisha telah memiliki seorang suami, apalagi sekarang Keisha juga susah melahirkan sosok putranya.


"Kenapa kamu diam aja Keisha? Kamu gak bolehin aku buat masuk ke dalam nih, hm? Masa iya tamu kamu dibiarin berdiri aja di luar kayak gini? Panas loh Keisha, kasihan juga bayi kamu itu digendong panas-panasan begini!" ucap Revan.


"Revan, mau apa kamu datang kesini sih? Tau darimana kamu alamat rumah aku, ha?" tanya Keisha dengan tegas.


Pria itu tak menjawabnya, ia malah tersenyum lebar dan terus memandangi wajah cantik Keisha. Bagi Revan, kecantikan Keisha memang luar biasa dan begitu menarik bagi Revan. Walaupun ia tahu bahwa Keisha sudah bersuami, namun tidak ada salahnya apabila Revan dapat berteman dengan Keisha dan berdekatan dengannya.


"Aku kan udah bilang, aku usaha sendiri secara terus-menerus buat cari tempat tinggal kamu loh. Aku ini mau tunjukin ke kamu, kalau aku bisa jadi sahabat yang baik buat kamu," ucap Revan.


"Kamu gak perlu seperti itu Revan, sampai kapanpun kita gak mungkin bisa bersahabat. Mana ada cewek yang udah punya suami, temenan dengan laki-laki lain? Apa kata orang-orang coba? Aku juga gak mau bikin mas Alex cemburu," ucap Keisha tegas.


"Oh ayolah Keisha, kamu jangan kayak gitu dong! Masa kita temenan aja gak bisa sih? Aku tuh cuma mau ada di dekat kamu Keisha," bujuk Revan.


"Aku rasa kita gak bisa begitu, kamu mending pergi aja deh dari sini Van! Aku gak mungkin dekat sama laki-laki lain, disaat aku udah punya suami. Kamu tolong ngertiin posisi aku ya!" ucap Keisha.


"Kenapa harus aku terus yang ngertiin kamu? Apa kamu gak mau ngertiin aku juga?" tanya Revan.


Keisha sampai geleng-geleng kepala dibuatnya, ia heran dengan sikap Revan yang terus memaksa ada di dekatnya. Bahkan, saat ini Revan juga berhasil membuka pintu pagar dan menerobos masuk ke dalam rumah itu untuk menemui Keisha. Sontak Keisha panik, tetapi tak ada yang bisa dia lakukan untuk dapat mencegah Revan mendekatinya.




Alex sendiri masih menikmati momen berdua bersama Cherry di sebuah restoran, mereka tampak begitu bahagia dan terus tersenyum lebar. Alex sangat senang dengan momen ini, karena setidaknya ia dapat menenangkan diri setelah hampir bertengkar dengan istrinya tadi. Apalagi, Alex akui kalau Cherry sangatlah cantik hari ini.


Namun, kebersamaan mereka itu dikacaukan dengan kemunculan Shella yang tanpa sengaja melihat mereka ada disana. Sontak Shella merasa terkejut dengan apa yang dilihatnya, ia menggeleng tak percaya karena ternyata Alex masih saja nekat mengkhianati Keisha di belakangnya. Tanpa basa-basi lagi, Shella pun segera menghampiri mereka dan menegur Alex secara kasar.


Alex tampak begitu panik melihat Shella ada disana, ia spontan bangkit dari tempat duduknya dan berdiri menghadap ke arah Shella. Rasanya Alex tak percaya jika Shella juga berada di tempat itu, apalagi Shella memergokinya tengah bersama Cherry. Alex pun bingung harus menjelaskan apa, karena pasti Shella akan memberitahukan ini kepada Keisha.


"Lex, aku gak nyangka ya sama kamu? Tega banget loh kamu kayak gini di belakang Keisha, padahal katanya kamu itu cinta mati sama dia! Apa ini yang namanya cinta, ha?" ucap Shella.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Alex, pria itu hanya bisa menggeleng perlahan dan tampak bingung harus mengatakan apa. Shella terus menatap ke arahnya, kemudian ia juga melirik wajah gadis yang ada di sebelah Alex. Tanpa diduga, Shella mengambil sebuah gelas di meja lalu menyiram tubuh Cherry dengan air tersebut.


Byuurrr


"Hah apa-apaan nih? Kenapa kamu siram aku?" tentu saja Cherry protes dengan tindakan Shella, karena ia tak merasa berbuat salah atau apalah itu.


"Heh dasar pelakor gak tahu diri! Bisa-bisanya lu deketin suami orang, dasar cewek murahan!" Shella mengumpat dan memberikan kata-kata kasarnya kepada gadis tersebut.


Cherry mengernyitkan dahinya dan dibuat bingung dengan perkataan Shella, ia tak mengerti apa maksud dari ucapan Shella barusan. Bajunya saat ini terlihat begitu basah akibat tindakan Shella, sehingga Cherry pun tampak kesal. Alex yang ada di dekatnya langsung membantu Cherry untuk membersihkan itu, namun Cherry menolaknya.


"Sini aku bantu Cherry, maafin tindakan teman aku ini ya!" ucap Alex sembari mendekati gadis itu.


"Gausah, mending kamu jelasin ke aku deh sekarang! Apa maksud ucapan cewek ini tadi? Kenapa dia bilang kalau aku ini pelakor dan lagi deketin suami orang?" ucap Cherry tegas.


"Ka-kamu gausah dengerin dia ya Cherry, aku minta maaf sama kamu! Sekarang aku bakal bantu bersihin baju kamu," ucap Alex.


"Aku gak percaya sama kamu, aku yakin pasti ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari aku! Apa jangan-jangan, kamu udah punya istri ya? Tapi, kamu ngaku ke aku masih single," ucap Cherry.


Deg


Alex tersentak, tak tahu lagi harus berkata apa di depan Cherry saat ini. Cherry sudah mulai curiga pada dirinya, dan semua itu karena ucapan Shella tadi yang sungguh di luar dugaan serta tidak dapat dicegah oleh Alex. Kini Alex pun benar-benar bingung, karena jujur ia tidak mau kehilangan sosok gadis seperti Cherry.


"Kenapa kamu diem, Lex? Kamu gak bisa jelasin itu semua ke cewek ini, ha? Apa perlu aku yang kasih tahu ke dia?" sela Shella.


Lagi-lagi Alex tak berkutik dibuatnya, ia heran mengapa masalahnya jadi serumit ini.




Hari berganti, Lana pulang ke rumah dengan kondisi yang cukup memprihatinkan dan langkahnya yang agak tertatih akibat nyeri pada area bawahnya. Lana memang baru bisa pulang pagi ini, karena kemarin seharian gadis itu pergi bersama Zikri. Bahkan, Zikri seolah tak ingin melepasnya dan terus meminta melakukan hal kotor tersebut.


Lana yang terlanjur sayang dengan Zikri, tak menolak sama sekali permintaan pria itu. Akibatnya, Lana pun harus menanggung semua kesakitan yang ia rasakan saat ini. Terlebih, Lana sudah kehilangan sesuatu yang paling berharga di hidupnya. Lana pun begitu ketakutan, ia khawatir Zikri akan meninggalkannya setelah mendapatkan tubuhnya.


"Hiks hiks, apa tindakan aku ini benar? Seharusnya aku gak sepolos itu kemarin, bisa-bisanya aku percaya banget kalau Zikri gak akan melakukan hal itu. Tapi, nyatanya Zikri malah ambil perawan aku dan setubuhi aku berkali-kali," gumamnya lirih.


Begitu sampai di depan pagar, Lana langsung bertemu dengan Harry alias papanya yang hendak pergi bekerja. Sontak Harry tampak cemas ketika melihat putrinya begitu lemas, apalagi semalam gadis itu tidak pulang dan tak memberi kabar apapun padanya. Langsung saja Harry mendekati putrinya itu, lalu bertanya banyak padanya.


"Lana sayang, apa yang terjadi nak? Kamu kenapa semalaman gak pulang, kemana aja kamu?" tanya Harry degan begitu cemasnya.


"Umm, aku minta maaf ya pa? Aku tahu aku salah, tapi semalam itu aku diminta nginep di rumah teman aku. Soalnya emang hari udah malam, jadi aku gak mungkin juga maksa pulang," jawab Lana.


"Hadeh sayang, kalo gitu ya minimal kamu kabarin mama atau papa lah nak! Papa ini panik banget loh nyariin kamu, papa cemas sama kamu!" ucap Harry.


"Iya pa, maafin aku ya?" ucap Lana.


"Hm, yasudah papa maafkan kamu. Sekarang kamu masuk gih, terus sarapan ya biar kamu gak lemas kayak gini!" ucap Harry memerintah.


Lana mengangguk kecil, "Iya pa, papa mau ke kantor ya?" ucapnya.


"Ya sayang, papa harus ke kantor sekarang. Kamu baik-baik aja kan? Gak ada yang terjadi sama kamu, hm?" ucap Harry memastikan.


Lana terdiam, jujur ia sebenarnya tak ingin berbohong pada papanya itu. Namun, tidak mungkin juga ia mengatakan kalau saat ini dirinya sudah tidak perawan karena Zikri lah yang mengambilnya. Pasti Harry akan sangat kecewa padanya, apalagi jika pria itu tahu kalau Lana sama sekali tak menolak pada ajakan Zikri sebelumnya.


"Aku gak kenapa-napa kok pa, aku cuma kurang tidur aja semalam. Makanya aku jadi lemas kayak gini deh, ya wajar ajalah pa kan namanya nginep di rumah teman," ucap Lana sambil tersenyum.


"Oh okay, papa percaya sama kamu. Sekarang kamu masuk ya sayang, kasihan tuh mama kamu cemas banget dari semalam!" ucap Harry.


"Oke pa, papa hati-hati ya di jalan!" ucap Lana sembari mencium punggung tangan papanya.


Setelah itu, Lana pun bergegas masuk ke dalam rumahnya walau dengan perasaan yang tidak tenang karena memikirkan kejadian kemarin. Sedangkan Harry juga pergi dari sana menggunakan mobilnya, meski pria itu masih merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Lana darinya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...