
Alex mengangguk setuju, kemudian ia pergi bersama Bram menuju mobil yang terparkir disana. Tak lupa Bram membantu membawa barang bawaan milik Alex, dan memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya. Lalu, mereka sama-sama masuk dan duduk di kursi depan agar memudahkan keduanya saling mengobrol satu sama lain.
Tak butuh waktu lama, akhirnya kedua pria tampan itu tiba di penginapan yang sejenis apartemen sebagai tempat tinggal Alex selama berkuliah di negara itu. Alex pun turun dari mobilnya bersama Bram, dan mereka kini memasuki apartemen itu dengan santai sembari mendorong koper miliknya.
Saat sampai di unit apartemen milik Alex, keduanya tentu menghentikan langkah dan menaruh barang bawaan tepat di depan pintu. Bram mengatakan jika ini adalah unit yang dipesan oleh Harry, selaku ayah dari Alex. Kini Alex tampak tersenyum lebar, ia senang karena diberikan unit apartemen semewah itu oleh papanya.
"Nah Lex, ini nih unitnya yang dipesan bokap lu. Udah lu masuk aja ke dalam, sorry ya gue cuma bisa antar sampe sini!" ucap Bram.
"Okay gapapa, thanks ya udah jemput gue di bandara tadi dan antar gue sampe sini!" ucap Alex.
"Sama-sama Lex, kalo gitu gue cabut ya? Unit gue ada di bawah, lu chat gue aja kalo mau mampir!" ucap Bram.
"Sip!" singkat Alex.
Setelah Bram melangkah pergi dan tak terlihat lagi, Alex kini tampak menatap ke sekelilingnya dan mengagumi keindahan apartemen itu yang memang sangat mewah. Alex benar-benar merasa kagum, ia tak menyangka papanya akan memberikan unit apartemen sebagus ini.
Tapi, kemudian ia baru teringat pada satu hal mengenai ponselnya yang rusak saat di bandara tadi. Alex pun mengambilnya dari dalam koper, untuk memastikan apakah hp itu benar-benar rusak atau sudah bisa dihidupkan. Namun, nyatanya hp itu memang tidak bisa ia nyalakan lagi.
"Ah sial! Gue lupa minta bantuan Bram lagi tadi, hp kentang dasar! Gimana gue bisa kabarin Keisha coba sekarang?" kesal Alex.
"Ehem, excuse me!"
Tanpa diduga, terdengar suara seorang wanita yang menyebutnya dari arah belakang. Alex pun menoleh karena terkejut, lalu terbelalak begitu melihat sosok wanita cantik berdiri disana. Ia tatap tubuh gadis itu dari atas sampai bawah, benar-benar luar biasa dan berhasil menghipnotis dirinya.
"Eee halo, mister! Permisi!" wanita itu terlihat heran, pasalnya Alex justru terdiam memandanginya.
Alex yang melamun akhirnya tersadar, kini ia tampak gugup ketika berhadapan dengan sosok gadis berambut cokelat itu. Alex belum mengenal siapa gadis itu, tetapi entah kenapa dirinya sudah seperti terpesona akan kecantikan si gadis.
"Ah iya, saya minta maaf. Ada apa ya?" ucap Alex dalam bahasa Inggris.
Gadis itu menggeleng pelan, "Tidak ada, saya cuma mau lewat. Kebetulan unit saya di sebelah situ, tapi barang-barang anda menghalangi saya," ucapnya.
"Oh iya iya, ma-maaf saya gak sengaja!" Alex yang kikuk langsung mengangkat semua kopernya ke pinggir dan memberi akses jalan bagi gadis itu.
"Terimakasih, kalau begitu permisi!" ucap gadis itu singkat dan kemudian berlalu pergi.
Alex hanya bisa diam menatap kepergian gadis itu, ia menyesal karena lupa bertanya siapa nama si gadis dan meminta nomornya. Namun, ia masih memiliki banyak waktu karena gadis itu tinggal di sebelah unitnya. Tentu saja Alex bisa menemui kembali gadis itu nantinya, lalu mengajaknya berkenalan atau bahkan saling bertukar nomor.
•
•
Keesokan harinya, Alex keluar dari unitnya sembari membawa ponsel miliknya yang rusak itu untuk dibenarkan. Sejak malam tadi Alex memang terus mencoba menyalakan kembali ponselnya, tetapi semua sia-sia karena memang ponsel itu sudah rusak dan tidak bisa dinyalakan lagi. Tentu saja Alex bingung, sebab ia belum memberi kabar apa-apa sampai sekarang kepada Keisha juga orangtuanya.
Tak lama kemudian, Bram muncul di hadapannya dan menyapa Alex sembari membawa sejumlah makanan di tangannya. Alex pun tersenyum melihat keberadaan sahabatnya itu, terlebih dengan makanan yang dibawa olehnya. Kebetulan sekali sekarang ia memang sedang lapar, selain itu ia juga membutuhkan bantuan dari sohibnya itu.
"Oi Lex, pagi-pagi merengut aja tuh muka! Ada apa sih, ha?" sapa Bram.
Alex tergelak, "Hahaha, iya tadi gue emang sedih gara-gara hp gue rusak nih. Gue jadi gak bisa ngabarin keluarga gue di indo deh, tapi untung aja ada lu sekarang!" jawabnya.
"Ohh, jadi lu mau minta gue benerin tuh hp? Oke santai aja, gue punya kenalan kok soal itu! Nih, sekarang lu sarapan dulu!" ucap Bram.
Dengan antusias Alex mengambil makanan tersebut dari tangan sahabatnya, kemudian ia langsung mengajak Bram untuk masuk ke dalam unitnya dan sama-sama menikmati sarapan. Namun sebelum itu, mereka lebih dulu dikejutkan dengan sosok gadis yang muncul dari pintu samping dan menyapa ke arah mereka sambil tersenyum.
Alex benar-benar tak menyangka, pria itu sampai terdiam melongok dan tampak kaget begitu melihat gadis itu muncul kembali di depannya. Inilah yang ia nanti-nantikan sejak kemarin, akhirnya kini ia kembali bisa melihat gadis itu. Ia pun tak akan melewatkan kesempatan ini, dan pastinya ia akan mendekati gadis itu lalu berkenalan dengannya.
Bram tampak kaget melihat ekspresi rekannya yang terdiam setelah munculnya sosok gadis itu di hadapan mereka, tapi kemudian Bram tersenyum menyeringai karena menyadari kalau Alex menyukai gadis tersebut. Bram pun berniat meledeknya, karena ia tahu pastinya Alex sekarang sedang diam-diam mengagumi kecantikan gadis itu.
"Ehem ehem, ngapain sih diem aja? Udahan kali ngeliatin nya biasa aja, tuh mata kayak belum pernah lihat yang bening aja!" cibir Bram.
Alex tersentak dan spontan menoleh ke arah Bram dengan emosi, rasanya ia sangat malu ketika mendengar Bram mengatakan itu di hadapan si gadis yang ia belum kenali. Pastinya gadis itu akan sedikit ilfeel padanya, dan kini Alex kehilangan kesempatan untuk bisa berkenalan dengannya.
"Apaan sih lu? Gue cuma kaget lihat nih cewek tiba-tiba nongol, gausah ngada-ngada deh lu!" elak Alex tampak emosi.
"Haha, santai aja kali! Dia ini namanya Anya, dia dari indo juga sama kayak lu!" ucap Bram.
Sontak Alex pun terkejut, ia kembali melirik ke arah gadis bernama Anya itu dan menatapnya sambil tersenyum. Seketika Anya membalasnya, gadis itu juga tersenyum begitu mengetahui Alex sama dengannya yang juga berasal dari negara indo.
"Oh nama kamu Anya, ya? Pantas aja muka kamu kelihatan kayak dari Asia gitu, eh ternyata benar. Salam kenal ya, nama aku Alex!" ucap Alex seraya menyodorkan tangannya.
"Anya." balas gadis itu sembari meraih tangan Alex dan berjabatan dengannya.
Cukup lama mereka saling berjabat tangan, sampai membuat Bram yang ada disana merasa terasingi dan tidak nyaman. Bram pun berdehem kecil untuk menegur keduanya, sehingga Alex serta Anya kompak melepas jabat tangan mereka itu.
"Eh eh, sorry nih ya kalo gue ganggu momen kalian? Waduh gawat emang lu Lex, baru juga sehari disini!" kekeh Bram.
Alex hanya memutar bola matanya dan membuang muka dengan jengkel, sedangkan Anya terlihat menunduk karena malu dan tampak bahwa wajahnya bersemu memerah.
•
•
"Duh, si Anya itu kok bisa cantik banget kayak gitu ya? Gue kan jadi takut khilaf kalo gini, apalagi dia tinggal di sebelah gue!" ujar Alex.
Bram terbelalak mendengarnya, "Buset Lex, tobat Lex tobat! Lu punya istri di indo, kasihan tuh istri lu kalo sampe lu berkhianat disini! Emangnya lu mau bikin dia tersakiti?" ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
"Haha, ya enggak sih. Gue itu cinta mati sama istri gue bro, walaupun sampai sekarang dia masih belum mau kasih keturunan buat gue. Padahal kan gue pengen banget punya anak," ucap Alex.
"Sabar aja Lex! Katanya kan bini lu masih sekolah, mungkin dia belum siap kali!" ucap Bram.
"Iya emang itu alasan dia, tapi kan tetap aja gue gak senang. Gue tuh pengen cepat-cepat punya anak dari dia bro!" ucap Alex.
"Tunggu aja kali, sebentar lagi juga kan dia lulus tuh! Terus dia mau lu bawa kesini juga kan?" ucap Bram.
Alex manggut-manggut perlahan, "Iyalah, mana bisa gue biarin bini gue disana tanpa gue? Malahan gue tadinya pengen bawa dia kesini langsung sekarang, ya tapi gak dibolehin sama ortu," ucapnya.
"Ahaha, yaudah lu sabar aja! Lu juga harus jaga hati dia bro, gak boleh tuh lu mau coba main-main di belakang dia!" ucap Bram.
Alex terdiam begitu saja, wajahnya menunduk karena ia juga merasa bersalah. Seharusnya Alex memang menjaga hatinya untuk Keisha yang sedang berjuang sendirian di tempat tinggalnya saat ini, bukan malah ia tergoda dengan wanita lain seperti yang dia lakukan tadi.
Bram tersenyum melihat ekspresi Alex saat ini, ia pun bergerak mendekati sahabatnya itu lalu menyodorkan ponselnya kepada Alex. Sontak saja Alex terkejut dengan itu, dia menatap ke arah Bram dengan wajah bingung dan tak mengerti mengapa Bram memberikan ponselnya.
"Ngapain lu, Bram?" tanya Alex keheranan.
"Hadeh, ini gue pinjamin hp buat lu. Siapa tahu lu kangen sama bini lu kan, lu bisa pake nih hp gue buat telpon mereka!" jawab Bram.
"Oalah gitu toh, thanks deh bro!" Alex langsung mengambil ponsel itu dan mencoba menghubungi nomor istrinya, tapi sesaat kemudian ia malah mengurungkan niatnya itu.
Bram tentu menatap heran ke arah Alex saat ini, "Lah, lu kenapa bro?" tanyanya.
"Gue lupa bro sama nomor teleponnya Keisha, gue juga gak inget nomor nyokap atau bokap gue. Duh, gimana ya ini?" ucap Alex tampak kikuk.
"Hah??" Bram terkejut bukan main mendengarnya.
Bahkan Bram sampai menepuk jidatnya kali ini, ia tak menyangka jika Alex sebodoh itu sampai tidak mengingat nomor telepon istri ataupun kedua orangtuanya. Padahal Alex sudah lama mengenal keluarganya itu, tetapi sungguh membingungkan mengapa Alex justru tidak mengingat nomor mereka semua saat ini.
Flashback end
•
•
Keisha baru selesai diperiksa oleh dokter kandungan di rumah sakit, ia ditemani dengan Mayra serta Harry yang sama-sama mengantarnya kesana. Keisha pun tampak bersedih kali ini, wanita itu benar-benar bingung antara ia harus bahagia dengan kabar yang baru diterimanya ini atau ia justru akan bersedih karena menganggap suaminya telah tiada.
Kini Keisha keluar dari ruangannya bersama Mayra, ia dituntun dengan lembut oleh Mayra yang terlihat tersenyum bahagia setelah mendengar apa yang dialami Keisha saat ini. Biar bagaimanapun, Mayra tentunya tetap bahagia karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang nenek seperti yang sejak lama ia tunggu-tunggu.
Di luar sana, sudah menunggu sosok Harry yang memang tampak sangat penasaran dengan hasil tes Keisha barusan. Begitu Keisha serta Mayra keluar, Harry langsung saja mendekati kedua wanita itu dan bertanya penuh penasaran. Harry tampak tidak sabaran, ia meminta Mayra ataupun Keisha untuk segera memberi jawaban padanya.
"Bagaimana ma, apa hasil tesnya Keisha? Dia hamil atau enggak?" tanya Harry begitu penasaran.
Mayra tersenyum lebar seraya memandang wajah menantunya, ia terlihat begitu bahagia dan antusias menyambut kehamilan Keisha. Ia juga tidak sabar menantikan reaksi dari suaminya itu begitu mendengar kabar tersebut, pastinya Harry juga akan sama bahagianya seperti dirinya.
"Iya pa, ternyata benar Keisha positif hamil. Usia kandungannya juga sudah masuk Minggu ke empat, mama senang banget tahu dengarnya!" jawab Mayra.
"Oh ya? Syukurlah, papa juga ikut senang kalau Keisha hamil! Setidaknya ada pengobat rasa sedih kita setelah kehilangan putra kita," ucap Harry.
"Benar pa," singkat Mayra.
Namun, Harry terlihat heran begitu melihat ekspresi Keisha saat ini. Pasalnya wanita itu malah terlihat tidak bahagia dengan kehamilannya, untuk itu Harry pun coba bertanya pada menantunya mengenai mengapa wanita itu tampak bersedih. Padahal, seharusnya Keisha sangat bahagia menyambut kehamilan yang ditunggu-tunggu itu.
"Keisha, kenapa kamu kelihatan sedih gitu? Kamu gak bahagia sama kehamilan ini, atau kamu masih kepikiran sama Alex?" tanya Harry bingung.
Keisha menundukkan wajahnya kali ini, "Umm, aku masih belum bisa lupain mas Alex, pa. Aku senang kok sama kehamilan ini, karena dari dulu kan ini yang aku dan mas Alex tunggu-tunggu. Hanya saja, sayang banget mas Alex udah gak ada!" jawabnya.
"Sssttt, udah kamu gak perlu bahas soal itu lagi ya sayang! Papa yakin di atas sana Alex pasti ikut bahagia melihat kamu hamil anaknya, jadi kamu juga harus bahagia ya Keisha!" ucap Harry.
"Itu benar sayang, kamu gak boleh sedih terus! Mama dan papa kan ada disini," sahut Mayra.
"Iya ma, pa. Makasih banyak ya karena mama dan papa udah mau perduli sama aku, aku beruntung banget punya kalian!" ucap Keisha tersenyum.
"Sama-sama, sayang."
Akhirnya Mayra memeluk Keisha dengan erat seraya mengusapnya, menenangkan menantunya itu agar tidak terus bersedih memikirkan suaminya yang kini telah bahagia disana.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...