
Alex tanpa sengaja kembali bertemu dengan Anya saat hendak pergi ke kampusnya, wanita itu terlihat menunjukkan senyumnya seraya mengedipkan mata begitu melihat Alex ada di depannya. Tentu saja Alex sangat-sangat bingung, ia heran mengapa Anya seolah-olah tengah berusaha untuk menggodanya. Tingkah wanita itu memang seperti seorang pemuas, yang tentunya membuat Alex sangat geram dan muak sekali melihatnya.
Kini Alex terpaksa menghentikan langkahnya sejenak, lantaran Anya berhenti tepat di depannya dan mengajaknya ke suatu tempat. Alex tak memiliki pilihan lain, ia pun terpaksa mengikuti kemauan wanita itu meski saat ini ia sedang dikejar waktu untuk pergi ke kampus. Namun, Alex juga ingin tahu apa saja kegiatan yang dilakukan Anya padanya semasa ia mabuk dan pingsan pada malam hari itu.
Anya membawanya ke dalam unit apartemennya, tanpa melepaskan genggamannya kini Anya meminta Alex untuk duduk sejenak pada sofa yang tersedia disana. Alex masih bengong dan heran melihat kelakuan Anya, terlebih ini kali pertama bagi Alex datang mengunjungi tempat wanita itu. Ia menatap sekeliling, dan suasana disana begitu mengerikan serta membuat bulu kuduknya berdiri.
Tak lama kemudian, Anya kembali dengan membawa dua gelas minuman serta kue sebagai cemilan. Anya ingin melayani Alex dengan sepenuh hati dan membuat pria itu nyaman berada disana, ya karena ia tahu kalau selama ini Alex selalu saja berusaha menghindar darinya. Padahal, Anya hanya ingin bisa berdekatan dengan pria itu dan mengenal Alex lebih jauh dari sekarang.
Dengan ragu-ragu Alex meminum minuman itu, ia menepis sejenak perasaan cemasnya dan coba berpikir positif pada Anya. Lagipun, Alex juga yakin kalau Anya tidak akan melakukan hal yang buruk padanya saat ini. Setelah minum, Alex pun fokus menatap wajah Anya dan meminta wanita itu untuk segera mengatakan apa yang dia ingin katakan.
"Kamu mau ngomong apa? Langsung aja ngomong biar gak kelamaan, karena saya sebentar lagi ada kelas dan harus segera pergi!" pinta Alex.
Anya tersenyum sembari meletakkan gelasnya di meja, ia raih satu tangan Alex dan digenggamnya dengan erat seraya mengusap-usap lembut punggung tangan pria itu. Alex diam saja saat diperlakukan seperti itu, meski di dalam hatinya dia merasa amat jijik dan ingin segera mual ketika anggota tubuhnya disentuh oleh Anya.
"Gausah buru-buru dong, Lex! Kita masih punya banyak waktu disini, aku mau habisin waktu aku berdua sama kamu seperti malam itu."
Di luar dugaan, Anya justru menempelkan wajahnya pada bahu Alex dan mengusapnya perlahan. Jantung Alex berdetak lebih kencang dari biasanya, tak mungkin ia bisa kuat bertahan dalam posisi seperti ini kalau Anya terus saja menggodanya. Biar bagaimanapun, Alex adalah seorang lelaki dan ia masih memiliki hasrat.
"Nya, please stop! Don't do that!" sentak Alex yang langsung mendorong kepala Anya menjauh darinya.
Anya terlihat sangat kesal, ia tatap wajah Alex dengan ekspresi cemberut dan pipi yang menggembung seolah dibuat-buat. Alex sama sekali tak terpengaruh dengan ekspresi yang dihadirkan wanita itu, dia justru berpaling dan bangkit dari tempat duduknya berniat pergi dari sana.
"Mau kemana Lex? Aku kan belum ngomong loh sama kamu, tahan dong!" ujar Anya.
"Sudah cukup ya Anya, gue gak punya waktu banyak lagi buat ladenin sikap aneh lu itu! Gue ini harus pergi ke kampus sekarang, jadi lu jangan coba-coba halangi gue!" ucap Alex dengan tegas.
"Ta-tapi Lex, ada sesuatu yang mau aku tunjukin ke kamu. Sebentar dulu ya!" pinta Anya.
Alex pun dibuat penasaran dengan apa yang hendak diberikan Anya padanya, lelaki itu menurut dan menunggu disana saat Anya melangkah pergi. Alex terus berpikir keras, apa kiranya yang akan diberikan Anya kali ini. Namun, entah mengapa tiba-tiba ia teringat pada kejadian malam itu dan mengira Anya akan membahasnya kembali.
Kini akhirnya Anya kembali beserta satu buah ponsel di tangannya, Alex menatap heran ke wajah wanita itu dan terlihat makin penasaran saat Anya malah membawa ponselnya. Lelaki itu benar-benar bingung, ia tidak bisa menebak apa yang hendak dilakukan Anya dengan ponsel tersebut.
"Duduk lagi Lex, semua yang aku mau bicarakan ke kamu ada di hp ini! Aku yakin kamu kaget banget lihatnya nanti," suruh Anya.
Alex tak menjawab, ia menuruti saja permintaan Anya dan terduduk disana bersama wanita itu. Matanya tak bisa berpaling dari ponsel yang ada di tangan Anya saat ini, sungguh ia amat penasaran dan sudah tidak sabar ingin mengetahui apa yang akan diberikan Anya padanya.
"Anya, sebenarnya kamu mau bicarain apa sih? Tolonglah, aku udah gak punya banyak waktu!" tanya Alex dengan nada lembut.
Anya tersenyum dibuatnya, "Kamu gak sabaran banget sih, kalem dong Lex! Iya deh, ini aku buka hp nya sekarang buat kamu. Tapi, kamu janji ya jangan kaget pas lihatnya nanti!" ucapnya.
"Hah? Emangnya apa isi ponsel itu sampai bisa bikin aku kaget?" Alex tampak makin penasaran.
Bukannya menjawab, Anya kini fokus pada layar ponselnya dan membuka galeri yang ada disana lalu menunjukkannya pada Alex.
"Lihat Lex, kamu pasti tahu kan ini apa!" ujar Anya.
Deg
Kedua bola mata Alex kompak terbelalak lebar melihat isi dari galeri di ponsel milik Anya itu, ia menatap tak percaya ke arah Anya ketika tahu bahwa wanita itu sengaja memotret kelakuan mereka dikala mabuk malam itu dan kini Anya malah menunjukkan hasilnya kepada Alex.
"Apa-apaan ini, Nya? Kamu bilang kamu gak ngelakuin apa-apa malam itu, tapi ini kenapa ada foto kita berdua dalam kondisi telanjang berdua di ranjang, ha?" geram Alex.
"Tahan Lex! Kamu gak mau kan kalau aku sebar kelakuan buruk kamu ini? Nanti, keluarga kamu bisa malu besar loh!" ancam Anya.
Alex menggeram kesal, dua tangannya terkepal kuat dan rahangnya bergetar menahan emosi. Rasanya ingin sekali Alex memberi pelajaran pada Anya saat itu juga, tetapi ia sadar kalau sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya untuk bisa menghapus foto-foto tersebut dari ponsel milik Anya agar hidupnya bisa terbebas dari ancaman.
"Nya, tolong kamu jangan kayak gitu! Hapus foto itu dari hp kamu, aku gak mau orang lain sampai melihatnya!" mohon Alex.
"Hahaha, ada syaratnya Alex dan kamu harus penuhi itu sebelum aku hapus foto-foto ini!" ucap Anya.
Alex mengernyitkan dahinya, "Apa itu? Cepat katakan!" ujarnya dengan panik.
"Menikahlah denganku, kita nikmati indahnya hidup bersama-sama! Aku yakin, kamu pasti rindu sentuhan istri kamu kan?" ucap Anya.
Deg
Alex tersentak mendengarnya, tak menyangka jika Anya akan mengajukan syarat seperti itu. Tentunya Alex tidak mungkin mengiyakan permintaan Anya yang ingin dinikahi, karena sampai kapanpun cinta Alex seutuhnya hanya untuk Keisha seorang.
•
•
Keisha baru pulang dari sekolahnya tepat saat malam menjelang, wanita itu tampak sangat lelah karena seharian ini ia harus mengikuti berbagai macam kegiatan yang ada di sekolahnya. Mulai dari ekskul, sampai acara yang memang penting dan tidak bisa ia lewatkan. Sehingga, Keisha kini melangkah seorang diri melewati gerbang keluar sembari menunduk lesu.
Wanita itu sebenarnya bisa saja menghubungi orang rumah atau memesan taksi online, ya tetapi saat ini ponselnya mati karena baterai yang lemah dan ia lupa membawa charger sebelumnya. Keisha pun hanya bisa pasrah, ia terpaksa mencari-cari kendaraan umum yang bisa ia naiki di sekitar sana sambil menahan rasa lelah dan kantuknya.
Ia terus berjalan dengan perlahan sembari menggendong tas miliknya serta menenteng beberapa peralatan yang ia bawa di tangan, sungguh Keisha sangat lelah dan tidak kuat jika harus berjalan terus sampai ke jalan raya. Akhirnya Keisha memilih untuk istirahat sejenak di sebuah halte, karena kebetulan ia melihat halte yang kosong disana dan bisa dijadikan tempat istirahat.
Sambil duduk ia terus celingak-celinguk ke kanan dan kiri seolah mencari kendaraan umum di sekitar sana, namun suasana begitu sepi dan hampir tidak ada kendaraan yang lewat. Ya kecuali beberapa motor serta mobil pribadi, tentu tidak mungkin ia dapat menumpang pada kendaraan pribadi.
Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti tepat di depannya dan menampakkan dua orang pria berpenampilan aneh yang turun dari motor itu untuk menghampirinya. Keisha sontak merasa cemas, terlebih saat kedua pria tersebut mendekat dan tersenyum ke arahnya. Langsung saja Keisha berusaha melindungi barang-barangnya, ia tak mau jika mereka itu ingin merampasnya.
"Ehem ehem, permisi neng! Kita boleh numpang tanya sebentar gak ya?" ucap salah satu pria yang berambut keriting itu.
"Eee boleh-boleh aja kok, emangnya kalian mau tanya soal apa?" ucap Keisha dengan gugup.
Bukannya langsung mengajukan pertanyaan yang diinginkan, kedua pria itu malah sengaja duduk menghimpit Keisha di tengah sambil terus tertawa kecil yang membuat Keisha merinding. Berada di antara kedua pria asing, tentunya sangat tidak pernah dibayangkan oleh Keisha. Kini, Keisha benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.
"Kalian ngapain sih? Tadi katanya mau tanya, kenapa malah duduk disini?" heran Keisha.
"Hahaha, sebentar dulu dong neng cakep! Kita kan masih mau duduk-duduk ngaso dulu disini, emang gak boleh ya? Ini kan halte tempat umum, jadi bebas dong kita mau ngapain aja disini!" ujar si keriting.
"Iya betul tuh, kita capek tahu abis jalan seharian jauh banget lagi. Makanya kita mau ngaso sebentar disini, mumpung ada halte lah," sahut si plontos.
Mendengar perkataan kedua pria itu, Keisha dibuat semakin takut dan merinding. Ia mengambil nafasnya dalam-dalam, lalu bersiap-siap untuk pergi dari sana agar bisa menghindari kedua pria tersebut. Biar bagaimanapun, Keisha tentu tak ingin jika ia terus berada disana dan akan mengalami hal yang buruk ketika ada dua orang pria di dekatnya.
Disaat Keisha hendak beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba si keriting lebih dulu mencekal lengannya dan menahan agar Keisha tetap disana. Lalu, si plontos juga ikut meraih tangan Keisha yang lain dan dicengkeram dengan kuat serta memaksa wanita itu untuk kembali duduk.
"Eits, mau kemana sih neng cakep? Sini dulu dong duduk sama kita, kan tadi udah bilang mau jawab pertanyaan kita!" ujar si keriting.
"Pak, lepasin! Saya mau pulang, lagian kalian sendiri yang gak mau nanya kan!" rengek Keisha.
"Oh kamu mau pulang? Yaudah, kita antar aja gimana? Kasihan cantik cantik pulang sendiri, mending sama kita kan!" ucap si keriting.
"Gausah pak, saya bisa sendiri kok. Bapak berdua mending duduk aja disini!" tolak Keisha.
Bukannya menurut, si keriting dan si plontos malah terus mencengkram lengan Keisha dengan kuat seolah tak ingin melepasnya. Bahkan, si plontos mulai berani membelai rambut Keisha serta menghirup aroma tubuhnya. Keisha sontak meronta, berteriak keras sembari berusaha melepaskan diri.
"Ish, jangan kurang ajar ya pak! Lepasin saya, tolong!" teriak Keisha.
"Hahaha, teriak aja sepuas kamu cakep! Gak akan ada yang bisa dengar kamu, jadi kamu sebaiknya ikut aja sama kita ya!" ucap si keriting.
"Enggak, saya gak mau! Kalian itu sebenarnya mau apa sih? Lepasin saya!" kesal Keisha.
"Tenang neng cakep, kita cuma mau kasih kepuasan kok buat kamu! Udah ya nurut aja sama kita, gausah maksa buat kabur!" ucap si plontos.
"Iya, ayo kita ke kebun di belakang sana yang sepi dan gelap!" sahut si keriting.
Keisha terbelalak mendengarnya, ia semakin panik dan ketakutan karena tidak ingin dilecehkan oleh kedua pria menyeramkan itu. Keisha berhasil menggunakan idenya untuk lepas dari mereka, ya wanita itu menginjak kaki si keriting serta plontos dan berlari dengan cepat.
"Hey jangan lari!!" teriak si plontos.
Kedua lelaki itu terus mengejar Keisha, sampai akhirnya mereka berhasil mendapatkan Keisha kembali dan mendekapnya dari belakang. Keisha tak bisa berontak lagi saat ini, sebab tubuh serta mulutnya dibungkam oleh si plontos dengan sangat kuat dan tidak memberikan Keisha ruang sedikitpun.
"Diam kamu! Atau kami akan berbuat kasar sama kamu!" sentak si keriting.
Keisha menggeleng cepat, ia tentu tidak mau jika si keriting dan plontos memaksanya serta membawa ia pergi ke suatu tempat untuk dijadikan pemuas. Ia akan merasa sangat kotor jika sampai saat ini ia dilecehkan oleh kedua pria itu, karena sampai kapanpun Keisha hanya mengizinkan Alex yang bisa menyentuh tubuh indahnya itu.
Tin tin tin...
Tanpa diduga, sebuah mobil tiba-tiba muncul dari belakang mereka dan membunyikan klakson yang sangat keras. Sontak si plontos serta keriting tampak ketakutan, mereka sama-sama menoleh ke arah mobil dan melihat seorang lelaki turun dari sana dengan pakaian rapih.
Lelaki muda yang tampan itu kini melangkah menghampiri mereka, membuat Keisha merasa lega dan berharap kalau orang itu akan menolongnya kali ini dari jeratan si plontos. Benar saja, tanpa basa-basi lelaki itu langsung meminta kedua pria tersebut melepaskan Keisha saat ini.
"Lepasin dia, kalau enggak—"
"Kalau enggak apa? Lo emang bisa apa bocah ingusan?" si plontos langsung menyela.
Lelaki itu menyeringai dibuatnya, lalu mengambil sesuatu dari dalam jasnya dan menodongkan itu ke arah plontos serta keriting. Ya itu sebuah pistol yang dimilikinya, sontak kedua pria tersebut merasa kaget dan spontan melepaskan tubuh Keisha karena ketakutan dengan senjata itu.
"Gawat, ayo kita cabut dari sini! Orang itu gak bisa dianggap remeh, dia punya pistol!" ucap si keriting.
"Iya bener, yaudah yuk!"
Akhirnya mereka berdua pergi dari sana dan lari terbirit-birit, membuat si lelaki yang tadi membawa pistol terkekeh kecil dan meletakkan kembali pistolnya ke dalam jas. Ia tidak perlu repot-repot menghadapi kedua preman tersebut, karena mereka sudah lebih dulu kabur begitu melihat senjatanya.
Kini lelaki itu tampak menghampiri Keisha yang sedang menangis sesenggukan, ia begitu kasihan melihat wanita seperti Keisha yang hampir dilecehkan oleh orang-orang mesum seperti tadi. Apalagi, ia melihat jelas kalau Keisha masih memakai seragam yang artinya wanita itu adalah seorang pelajar.
Ia pun menyodorkan saputangan ke arah Keisha, meminta wanita itu untuk menyeka air matanya menggunakan saputangan tersebut. Ia ikut merasa bersedih dengan apa yang dialami Keisha saat ini, karena ia paling tidak suka saat melihat seorang wanita tersakiti seperti ini.
"Hey, udahan nangisnya ya! Orang-orang itu udah pergi kok, kamu lap air mata kamu pakai saputangan ini ya!" ucap lelaki itu.
Keisha menoleh ke arah lelaki itu dengan mata berkaca-kaca dan wajah yang sembab dipenuhi air mata, ia terlihat sesenggukan dan menelan saliva nya dengan susah payah saat melihat lelaki itu sudah berada di dekatnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...