
Alex menghentikan mobilnya ke pinggir dan merasa frustasi setelah tak kunjung berhasil menemukan keberadaan istri serta anaknya disana, ia tampak mengeluh dan terus mengusap wajahnya. Sudah hampir seharian ia mencari mereka, tapi hingga kini ia belum berhasil juga menemukannya. Alex pun sungguh bingung, ia tidak tahu lagi harus mencari kemana dan apa yang akan ia lakukan saat ini.
Cherry yang berada di sebelahnya mencoba untuk menenangkan pria itu, ia menaruh tangannya di pundak si pria dan mengusap secara perlahan disertai senyuman manisnya. Ia berharap Alex bisa lebih tenang kali ini, apalagi ia melihat Alex terus saja merasa bersalah dengan kepergian istri dan juga anaknya. Ya Alex mulai sadar saat ini, bahwa ialah yang menjadi penyebab semua hal ini terjadi.
"Kak, tenangin dulu diri kamu! Kalau kamu emosi, semuanya bakal sia-sia. Kamu gak akan bisa temuin istri sama anak kamu," ucap Cherry.
Alex menoleh ke arahnya, "Ya Cherry, aku tau itu. Tapi aku benar-benar nyesel banget, karena aku yang udah bikin Keisha kabur dari rumah bawa Kenzie. Aku nyesel Cherry, aku menyesal!" ucapnya tegas.
"Tapi kak, ini semua bukan salah kamu kok!" ucap Cherry membujuknya.
Alex menyunggingkan senyumnya, fokus menatap wajah Cherry dan mendekat ke arahnya dengan satu tangan yang ia gerakkan. Kini Alex mengusap lembut telapak tangan yang mulus milik gadis itu, ia juga menggenggamnya dengan kuat dan sesekali mengecup punggung tangannya.
"Makasih ya Cherry, kamu selalu bisa bikin aku tenang sekarang! Aku gak tahu deh kalo gak ada kamu bakal gimana, mungkin aku udah menyerah dan gak tahu lagi harus apa," ucap Alex.
Cherry turut mengulum senyum kali ini, bahkan ia berani meletakkan tangannya di atas punggung tangan Alex. Entah mengapa gadis itu merasa semakin nyaman berada di dekat Alex, meski awalnya ia sempat ragu untuk terus mendekati pria yang sudah beristri itu. Apalagi, ia tahu kalau semua yang dilakukannya itu tidak benar.
"Aku kan perduli sama kamu, jadi aku gak mau kalau kamu sampai kenapa-napa!" ucap Cherry.
"Eee apa aku boleh minta satu hal sama kamu? Katanya kamu perduli kan sama aku, berarti boleh dong?" tanya Alex.
Cherry mengernyitkan dahinya, "Kamu mau minta apa sih?" ucapnya kebingungan.
"Kiss, i want a kiss from you." tanpa ragu Alex mengetakan itu kepada Cherry kali ini, yang sontak membuat mata gadis itu terbelalak lebar.
Cherry sungguh terkejut, ia tak percaya jika Alex akan terang-terangan meminta itu padanya. Kini ia benar-benar bingung dan tak tahu harus apa, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain karena merasa bingung. Terlebih, tangan mereka masih saling menyatu kali ini.
"Kenapa kamu diam? Kamu gak mau ya ciuman sama aku?" tanya Alex lagi.
"Hah? Eee gimana ya? A-aku takut aja kak, kamu itu kan statusnya masih suami orang. Aku gak mau dianggap jadi pelakor nantinya, apalagi istri sama anak kamu juga masih hilang," ucap Cherry gugup.
"Sssttt, gausah takut gitu Cherry!" Alex mendekat dan menaruh jarinya di bibir gadis itu.
Lalu tanpa diduga, Alex juga menarik tengkuk Cherry mendekat ke arahnya dan menahannya agar tidak bergerak kemana-mana. Cherry sungguh gugup saat ini, gadis itu hanya bisa diam dan menelan salivanya ketika Alex terus menatapnya dari jarak dekat. Apalagi, jari jemari Alex tak berhenti membelai bibir ranum Cherry yang sungguh menggoda baginya.
"Kamu cantik banget Cherry, makin cantik kalau dilihat dari jarak sedekat ini!" goda Alex.
Cup!
Ya akhirnya Alex menempelkan bibirnya disana, sontak Cherry terkejut bukan main ketika merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya.
•
•
Lana sendiri tak tahu apa yang menjadi penyebab Alex tega sampai berbuat seperti itu di belakang Keisha, padahal menurutnya Keisha itu sudah paling sempurna dan mengalahkan siapapun wanita di dunia ini. Namun, Alex justru mengkhianati cinta Keisha dan lebih memilih sosok wanita seperti Cherry yang jelas tidak ada apa-apanya dibanding dengan Keisha.
Arfan pun tampak bingung melihat ekspresi Lana saat ini, ia terus menatap ke arahnya dan ingin sekali menegur gadis itu. Arfan sungguh tak mengerti, ia heran mengapa Lana sedari tadi terus melamun seperti tengah memikirkan sesuatu. Padahal, Arfan sudah berusaha mengajak Lana berbicara dengannya agar mereka bisa lebih akrab tentu.
"Lana, hey Lana!" akhirnya Arfan menegur gadis itu, ia memanggil dan menepuk pundak Lana sampai sang empu menoleh dengan bingung.
Seketika Lana tersadar dari lamunannya, lalu terlihat heran ketika Arfan memanggilnya. Ya Lana memang tidak bisa fokus mencari Keisha saat ini, karena yang ada di pikirannya selalu saja tentang Alex dan Cherry. Lana benar-benar khawatir, ia tak mau Alex terjebak dalam pesona serta rayuan gadis seperti Cherry dan malah berpisah dengan Keisha.
"Kamu kenapa sih Lana? Lagi mikirin apa?" tanya Arfan tampak bingung.
"Eee maaf Arfan, aku tuh kepikiran aja sama kakak aku! Aku takut dia berbuat macam-macam sekarang, apalagi istri sama anaknya belum ditemuin. Rasanya aku gak bisa tenang nih," jawab Lana jujur.
"Ohh, ya kamu tenang aja ya Lana! Kita kan lagi berusaha nih buat temuin ipar sama ponakan kamu, kamu berdoa aja deh mending!" ucap Arfan.
"Iya Arfan, makasih kamu udah coba tenangin aku! Tapi, aku tetap aja gak bisa tenang karena mikirin kakak aku. Boleh gak sih kalau kita balik aja ke rumah aku? Aku mau tau kondisi kak Alex gimana sekarang," ucap Lana.
"Umm, bukannya tadi bang Alex juga pergi nyari istrinya ya? Percuma dong kita ke rumah, pasti dia gak bakal ada disana," ucap Arfan.
"Iya sih," singkat Lana.
Lana semakin mencemaskan abangnya itu, ia berharap semoga Alex bisa tahu diri dan tidak bermain api di belakang Keisha. Bagaimanapun, selingkuh adalah hal yang tidak benar dan ia tak mau abangnya sampai melakukan itu, apalagi dengan senior di sekolahnya sendiri. Tentu Lana akan merasa malu nantinya, bisa saja ia menjadi bahan ejekan satu sekolah.
"Lana, kamu gak perlu cemas terus kayak gitu ya!" ucap Arfan yang tiba-tiba mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut.
"Ka-kamu benar Arfan, tapi tetap aja aku cemas tau. Kamu gak ngerti sih gimana perasaan aku, coba deh kamu jadi aku biar kamu tau betapa cemasnya aku mikirin kakak aku!" ucap Lana.
Arfan tersenyum, ia malah semakin gencar mengusap wajah Lana yang ia sayangi itu. Bahkan, Arfan juga menghentikan mobilnya sejenak untuk lebih fokus menenangkan Lana. Kini Arfan mendekat, sampai membuat Lana merasa gugup dan berdebar-debar tak karuan.
"Aku gak mungkin dong bisa jadi kamu Lana, gimana caranya coba?" ucap Arfan sambil terkekeh.
"Ahaha, ya makanya kamu jangan minta aku buat tenang terus dong! Susah tau supaya aku bisa lupain semua kecemasan aku ini," ucap Lana.
"Iya iya, aku ngerti kok." Arfan mengangguk paham.
Setelahnya, Arfan mencubit hidung Lana dan tersenyum sambil terus menatap wajahnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...