
Mata Shella terbelalak lebar melihatnya, kenapa bisa ia baru sadar sekarang kalau Keisha memakai cincin yang sama seperti milik Alex tadi. Tentu saja Shella tak terima, bagaimanapun caranya ia akan tetap memperjuangkan cintanya dan tidak perduli dengan status Keisha saat ini. Ya Keisha memang sengaja tak mengatakan bahwa dia sudah menikah dengan Alex, karena ini semua demi kebaikan mereka.
Setelah itu, Keisha langsung mengajak Tasya pergi dari sana karena menurutnya tak ada lagi yang perlu dibahas oleh mereka. Shella juga tidak menghalangi langkah Keisha lagi, karena ia telah mengetahui semuanya. Sebagai seorang wanita yang mencintai pria idamannya, Shella bertekad bahwa ia tak akan menyerah sampai disitu dan akan terus berjuang demi bisa mendapatkan Alex.
"Shella, barusan lu udah dengar dan lihat sendiri kan dari Keisha? Alex tuh punya pacar, baiknya lu cari cowok lain deh yang mau lu kejar! Jangan Alex! Lagian lu itu cantik kok, gue yakin cowok-cowok banyak yang mau sama lu!" bujuk Novia.
"Enggak Nov, gue cuma suka sama kak Alex. Dia itu beda dari cowok-cowok lainnya, makanya gue kagum sama dia Nov!" ucap Shella tegas.
"Tapi, lu gak mungkin bisa dapetin Alex! Dia itu udah jadi pacarnya Keisha, lu sadar dong Shella! Gue gak mau ya kalau sampai kita jadi punya musuh nantinya," ucap Novia memperingatkan.
"Hahaha..." tiba-tiba saja, suara tawa seseorang mengejutkan keduanya.
Sontak Shella serta Novia sama-sama menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang tertawa tadi, lalu keduanya dibuat kaget saat Tarra bersama teman-temannya sudah berdiri disana dan memandang ke arah mereka. Ya Novia tentu kenal betul dengan Tarra, sedangkan Shella terlihat heran karena baru kali ini ia melihat lelaki itu.
"Kalian siapa? Terus kalian mau apa? Kenapa kalian ketawain kita, emangnya kita ada salah apa ya sama kalian semua?" tanya Shella terheran-heran.
"Ahaha, tenang saja Shella! Kita gak ada niat jahat kok sama kalian, justru kita kesini mau bantu lu buat rebut si Alex dari Keisha," jawab Tarra.
Shella tersentak mendengarnya, "Maksudnya? Emang kalian bisa bantu gue?" tanyanya bingung.
"Oh jelas, gue bisa lakukan apapun yang gue mau. Kalau lu butuh bantuan gue, pasti gue bakal bantu lu semampu gue. Termasuk merebut Alex dari tangan Keisha," jelas Tarra.
Shella tersenyum lebar mendengar ucapan Tarra barusan, ia sangat senang bisa mendapat bantuan dari pria itu demi mewujudkan cintanya. Tarra pun bergerak mendekat ke arah Shella dan menyodorkan tangan disertai senyuman, sontak Shella mengernyit keheranan tak mengerti apa yang dimaksud oleh pria tersebut mengajaknya salaman seperti ini.
"Jadi gimana, lu butuh bantuan gue gak? Kalau iya, jabat tangan gue sebagai bukti mulai sekarang ini kita bekerjasama!" ucap Tarra.
Perlahan Shella mengangkat tangannya meraih telapak tangan pria itu dan berjabatan dengannya, "Oke, gue siap buat kerjasama sama lu. Gue mau banget bantuan dari lu," ucapnya tegas.
"Baguslah, gue akan bantu lu dekat sama Alex. Tapi, gue minta satu syarat yang harus lu lakuin buat gue!" ucap Tarra.
"Apa?"
Tarra tersenyum melepas tangannya, "Cukup mudah, lu cuma perlu serahin Keisha ke gue!" ucapnya.
Deg
Mata Shella membulat seketika mendengar permintaan yang diajukan Tarra, tentu saja gadis itu amat terkejut dan tak percaya jika Tarra meminta dirinya membawa Keisha ke hadapan pria itu. Bagi Shella, hal tersebut adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat ia lakukan karena Keisha pasti juga tak akan mau menuruti perintahnya.
•
•
Disisi lain, Keisha dan Tasya telah tiba di kantin sesuai tujuan awal mereka tadi. Keduanya pun terduduk di tempat yang kosong, lalu memesan makanan serta minuman disana. Tampak sekali jika Keisha masih belum bisa melupakan ucapan Shella saat di lorong tadi, ia sangat khawatir kalau Shella akan berbuat nekat demi merebut Alex darinya.
Tasya sebagai sahabat yang baik dan perduli langsung saja mendekati Keisha berniat untuk menenangkan sohibnya itu, ya tentu Tasya tak mau jika Keisha terus bersedih dan cemas karena memikirkan perkataan Shella. Sejujurnya Tasya juga sangat kesal dengan kelakuan gadis itu tadi, rasanya jika bukan di sekolah maka Tasya mungkin sudah menghabisi Shella saat itu juga.
"Kei, udah ya lu gak perlu mikirin ucapan si sinting Shella itu terus! Walaupun dia berusaha sekuat tenaga, dia juga gak bakal bisa ambil Alex dari lu kok! Secara Alex kan udah sah jadi suami lu, paling Shella cuma gigit jari nanti," ucap Tasya.
"Tetap aja Sya, gue tuh gak suka kalau Shella terus deketin Alex! Apalagi yang gue lihat, Alex tuh kayak welcome gitu sama si Shella," ucap Keisha.
"Ah itu mah karena Shella aja yang kegatelan, gue yakin kok Alex gak bakal kepincut sama perempuan gatel kayak dia! Lu percaya deh, Alex itu cuma cinta sama lu, Kei!" ucap Tasya.
Keisha menggeleng perlahan, "Gak mungkin, kalau Alex cinta sama gue pasti dia gak akan makan donat pemberian cewek itu!" ucapnya tegas.
"Lo tenang ya Keisha! Mungkin Alex punya alasan sendiri kenapa dia makan donat itu, udah ya lu jangan salah paham dulu!" ucap Tasya.
"Apapun alasannya, tetap aja gue gak suka karena dia udah gak menghargai gue sebagai istrinya! Dia larang gue buat dekat sama cowok lain, tapi dia sendiri terang-terangan terima pemberian Shella di depan gue!" ucap Keisha.
"Gue ngerti perasaan lu kok, tapi lu gak perlu khawatir karena ada gue disini!" ucap Tasya.
Akhirnya kedua sahabat itu saling berpelukan disana dengan Keisha yang masih merasa kecewa dan sedih pada kelakuan suaminya, untung saja Tasya dapat menguatkan sahabatnya itu sehingga Keisha tidak lagi terlalu bersedih dan berhasil tenang setelah pelukan Tasya. Meski begitu, dalam pikiran Keisha masih terus terlintas mengenai perkataan Shella dan juga kelakuan gadis itu pagi tadi.
"Keisha!" tiba-tiba saja, suara seorang wanita terdengar dan membuat keduanya terkejut lalu reflek melepas pelukannya.
"Hah Shella?" Tasya spontan membelalakkan matanya, karena ketika menoleh ternyata yang dia lihat adalah Shella alias murid baru di sekolah itu yang amat dibenci oleh Keisha.
"Hai! Gue boleh gabung kan sama kalian disini? Soalnya gue mau bicara sama Keisha," ucap Shella.
"Lo tuh mau apa lagi sih? Gak puas lu udah bikin Keisha sakit hati gara-gara ucapan aneh lu tadi? Mending lu pergi deh sana!" ketus Tasya.
"Justru itu Tasya, gue kesini karena gue mau minta maaf sama Keisha," ucap Shella.
Deg
Keisha dan juga Tasya sama-sama terkejut mendengar perkataan Shella barusan, mereka menatap tak percaya ke arah gadis itu karena tidak mungkin Shella akan tulus meminta maaf pada Keisha saat ini. Ya sontak Keisha langsung berdiri menatap ke arah gadis itu, matanya menyala tajam seolah menunjukkan kekesalannya.
"Lo gak salah bilang begitu ke gue? Serius lu mau minta maaf, setelah lu tadi ngomong langsung mau rebut Alex dari gue? Lo pikir gue bakal semudah itu percaya gitu, hm?" ujar Keisha.
Shella tersenyum mendekatinya, "Ah Kei, soal itu gausah dibahas lagi lah! Gue minta maaf ya, karena tadi tuh gue belum tahu kalau Alex pacar lu. Bener deh gue nyesel udah ngomong gitu, maafin gue ya?" ucapnya membujuk wanita itu.
"Jangan percaya sama dia, Kei! Gue gak yakin kalau dia beneran mau minta maaf sama lu, pasti ini cuma akal-akalan dia aja supaya dia bisa lebih dekat sama Alex!" ucap Tasya menyela.
Keisha pun terdiam, ia benar-benar bingung harus mempercayai siapa kali ini. Sebetulnya ia juga setuju dengan ucapan Tasya, namun entah mengapa saat menatap wajah Shella ia merasa jika gadis itu tulus meminta maaf padanya. Akhirnya kini Keisha dibuat dilema, sebab Shella begitu meyakinkan dirinya kalau gadis itu ingin meminta maaf.
•
•
Ya padahal sebelumnya Alex mengatakan pada mereka kalau dia tidak mau meniduri istrinya, namun sekarang malah Alex mengaku sendiri tentang itu. Tapi tentu semua itu wajar dilakukan oleh seorang suami pada istrinya, Rizky pun senang mendengar itu dan bangga pada sahabatnya. Apalagi Keisha juga merupakan sosok wanita yang cantik luar biasa.
"Wah Lex, gak nyangka gue akhirnya lu mau juga sentuh istri lu itu! Selamat ya bro, gue salut sama lu!" ucap Rizky memujinya.
"Iya bro, selamat ya! Btw, gimana rasa apem punyanya si Keisha? Enak gak?" sahut Tio.
"Heh! Pertanyaan lu ngaco aja Yo, kalo si Alex kesinggung bisa abis lu sama dia bro!" ucap Rizky meledek sohibnya itu.
"Ahaha, santai Rizky santai! Gue gak kesinggung kok, mungkin si Tio ini penasaran sama rasa miliknya Keisha. Sorry ya bro, lu gak bisa ngerasain punya dia yang enak banget itu!" kekeh Alex.
"Waduh, gue jadi kepo banget deh pengen ngerasain juga! Andai gue punya cewek, pasti bisa langsung gue cobain tuh," sarkas Tio.
"Hahaha, makanya lu cari cewek sana! Kan banyak tuh adek kelas kita yang cantik-cantik, gue yakin modelan kayak lu masih ada kok yang mau!" ujar Alex.
"Sialan lu Lex! Jelas lah pasti ada, tapi gue aja yang selama ini pilih-pilih!" ucap Tio.
"Halah gaya lu, sana coba lu keliling cari cewek yang mau jadi pacar lu! Kalau lu berhasil, gue bakal traktir lu sepuasnya deh!" ucap Rizky menantang.
"Oke, gue bakal buktiin ke kalian semua nih! Tunggu aja, nanti pasti gue bawa tuh cewek!" ucap Tio.
Alex dan Rizky tersenyum saja mendengarnya, mereka sama-sama menanti perkataan Tio untuk dapat diwujudkan nantinya. Tak menunggu lama, Tio langsung beranjak dari duduknya dan pergi untuk menerima tantangan dari Rizky tadi. Ya Tio ingin mencari gadis yang cocok dijadikan pacarnya, agar bisa mendapat traktiran dari Rizky nanti.
"Hahaha, lu yakin gak Lex kalau Tio bisa dapet cewek sekarang?" tanya Rizky.
Alex menggeleng sambil terkekeh, "Ya jelas enggak lah, palingan dia balik-balik kesini nanti mewek. Siapa sih cewek yang mau sama dia?" ucapnya.
"Ahaha, wah parah lu Lex! Tadi lu bilang ke dia kalau dia cakep, sekarang malah kebalikannya!" kekeh Rizky.
"Biasalah, itu kan tadi biar si Tio percaya diri aja dulu," ucap Alex tertawa puas.
"Hahaha..."
Sontak Rizky bersama teman-temannya yang lain langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Alex barusan, mereka tertawa seolah tidak ada beban di hidup mereka kali ini. Bahkan Alex juga tak tahu jika Keisha saat ini tengah bersedih akibat kelakuannya tadi, dirinya malah asyik saja tertawa bersama para temannya disana.
•
•
Tio yang sedang mencari wanita di sekitaran lorong sekolah, justru tak sengaja bertemu dengan Tarra beserta teman-temannya disana. Tentu saja Tio terkejut melihatnya, ia menghentikan langkah lalu berdiam menatap mereka satu persatu. Tio pun tampak khawatir, karena yang ia tahu Tarra itu sangat membenci Alex maupun temannya saat ini.
"Wih ada apaan nih? Kenapa kalian pada cegat jalan gue kayak gini?" tanya Tio dengan santai.
Bukannya menjawab, Tarra justru memerintahkan salah seorang temannya untuk menyeret paksa tubuh Tio hingga menyentuh dinding. Lalu, mereka semua berdiri mengelilingi Tio dan menatap ke arahnya sambil tersenyum tipis. Sontak Tio mulai ketakutan, dirinya khawatir jika mereka semua ingin menghajarnya disana sebagai balas dendam.
"Eh eh eh, kalian tuh kenapa sih? Gue punya salah apa sama kalian, kenapa kalian malah mau serang gue?" ucap Tio ketakutan.
"Tenang Tio! Lu gak perlu takut kayak gitu, kita disini gak ada yang mau serang lu kok!" ucap Tarra.
"Terus lu pada mau apa? Gausah kebanyakan cencong deh, buruan ngomong supaya gue gak perlu lagi ngeliat muka kalian!" sentak Tio.
"Okay okay, santai! Kita kesini cuma mau kasih tahu ke lu sesuatu kok," ucap Tarra.
Tio mengernyitkan dahinya, "Sesuatu apa?" ucapnya bertemu dengan penuh heran.
"Kasih tahu ke temen lu si Alex itu, suruh dia temuin gue di rooftop sepulang sekolah nanti! Gue mau bicara penting sama dia, itu sih kalau dia pengen ceweknya selamat!" ucap Tarra menjelaskan.
"Maksud lu apa? Emangnya lu mau apain Keisha?" tanya Tio.
"Hahaha, itu lu gak perlu tahu. Mending lu kasih tahu aja ke Alex sekarang, takutnya dia terlambat datang dan Keisha keburu abis di tangan gue!" ucap Tarra.
"Sialan lu! Lu gak akan bisa lukain Keisha, selagi ada Alex di dekatnya!" tegas Tio.
"Tapi, nyatanya Alex sekarang gak ada di dekat Keisha kan? Gue bisa lakukan apapun yang gue mau ke Keisha nantinya," ucap Tarra menyeringai.
"Kurang ajar lu!" umpat Tio.
Tarra kembali memerintahkan sahabatnya untuk melepaskan Tio, lalu mengajak mereka semua pergi dari sana meninggalkan Tio begitu saja tanpa perduli dengannya. Setelah ditinggal sendiri, kini Tio tampak kebingungan karena perkataan Tarra tadi. Ya Tio tidak bisa diam saja, ia harus memastikan bahwa Keisha baik-baik saja saat ini.
Namun baru saja Tio hendak melangkah mencari keberadaan Keisha, tanpa diduga dirinya justru menabrak seorang gadis yang berjalan di dekatnya. Akibatnya, gadis itu pun merintih kesakitan seraya memegangi lengannya yang ditabrak oleh Tio. Tentu saja Tio merasa tidak enak, langsung ia menghampiri gadis itu dengan wajah panik.
Bruuukkk
"Awhh sakit!" rintih gadis itu tampak kesakitan.
"Hah? Eh dek, kamu gapapa?" tanya Tio yang langsung mendekat dan membantu gadis itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...