
Anya tiba di rumah Alex setelah ia berhasil mengikuti mobil pria itu dengan ojek yang ia tumpangi, setelah dipastikan mobil Alex benar-benar berhenti dan memasuki halaman rumah di depan sana maka Anya pun juga ikut turun dari motornya. Anya memang sengaja mengikuti mobil yang dikendarai Alex itu, karena ia ingin tahu dimana lokasi kediaman Alex saat ini berada. Dengan begitu, Anya dapat lebih mudah juga menjalankan rencana yang telah ia buat selama ini.
Sesudah membayar ojek tersebut, Anya pun mengambil tempat yang aman untuk bersembunyi dan memantau Alex serta Keisha dari jauh. Ia berdiri di belakang pohon yang terletak di sebrang rumah Alex, lalu matanya terbuka lebar menatap ke arah Alex dan Keisha yang sedang berdebat disana. Ia tersenyum melihatnya, ia menyangka jika Alex dan Keisha berdebat karena dirinya.
Tanpa berpikir panjang, Anya mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan memotret lokasi tersebut sebagai bahan bukti. Ya nantinya Anya akan menggunakan gambar itu untuk mengancam Alex, sehingga mau tak mau pastinya Alex harus mengikuti setiap perkataannya. Namun, Anya juga harus berhati-hati dan tidak boleh ceroboh dalam menjalankan misinya kali ini.
Disaat ia tengah asyik mengambil gambar, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan suara deheman seorang pria yang terdengar sangat dekat darinya. Anya reflek menyembunyikan ponselnya, lalu menoleh ke arah pria yang tadi berdehem itu. Betapa syoknya Anya saat ini, karena benar ada sosok pria yang tengah berdiri di dekatnya sambil menatap tajam dengan kedua tangan terlipat.
Anya pun tampak gugup, ia berusaha mencari alasan yang tepat jikalau nanti pria itu bertanya padanya mengenai apa yang ia lakukan disana saat ini. Tak mungkin Anya menjawab jujur, karena pasti pria itu akan melaporkannya pada Alex nanti. Ya walau Anya sendiri belum tahu, siapakah pria yang ada di hadapannya sekarang ini.
"Lagi ngapain disitu mbak? Ngeliatin apa sih?" pria itu langsung bertanya padanya disertai senyum lebar serta tatapan yang mencurigakan.
Anya benar-benar bingung saat ini, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal dan coba mencari cara untuk bisa menjawab pertanyaan dari si pria tanpa membuatnya mengetahui niat sebenarnya Anya berada disana. Meski Anya tak mengenali siapa pria itu, tapi bukan tidak mungkin jika si pria adalah kenalan atau bahkan sahabat dari Alex sendiri.
"Kenapa diam mbak? Saya heran deh, buat apa coba mbaknya ini ngeliatin ke arah rumah itu sambil pegang hp segala? Apa jangan-jangan mbak ini bagian dari reporter ya?" ujar si pria.
"Eee saya gak ngapa-ngapain kok, saya cuma ngadem aja disini sambil lihat-lihat pemandangan. Menurut saya pemandangan disini bagus, makanya saya ambil hp buat rekam semuanya. Anda sendiri ngapain ikut-ikutan kesini?" ucap Anya gugup.
Pria itu tersenyum dibuatnya, "Kenalin, saya Rizky sahabat dekatnya Alex! Saya kesini ya mau temuin sahabat saya itu," ucapnya sembari menyodorkan tangan ke arah Anya.
Anya terdiam selama beberapa detik, ia tatap wajah pria di hadapannya sambil terlihat bingung dengan sodoran telapak tangan ke arahnya. Tapi kemudian, Anya juga menggerakkan tangannya untuk meraih telapak tangan pria itu. Anya pun mengenalkan dirinya pada Rizky, lalu sama-sama tersenyum dan saling memandang.
"Saya Anya, saya gak kenal sama sahabat kamu itu dan saya juga gak tahu kalau ini rumahnya dia. Maaf kalau saya mengganggu!" ucap Anya berbohong.
"Gak masalah kok," singkat Rizky.
Tak terasa mereka masih saling bersalaman sampai kini, bahkan sepertinya Rizky mulai tertarik pada Anya yang memang cukup cantik dan juga seksi. Apalagi, saat ini Rizky juga sedang tidak memiliki kekasih.
"Cantik juga nih cewek, lumayan kalo gue jadiin mainan!" gumam Rizky dalam hati.
•
•
Alex masih terlibat perdebatan berat dengan Keisha di halaman rumahnya, pria itu telah salah bicara tadi dengan mengatakan kalau Anya adalah seorang wanita penghibur. Sontak saja Keisha merasa terkejut, ia kini curiga jika Alex ada main dengan Anya yang memang bertugas untuk menghibur dan memuaskan setiap lelaki yang ada di dekatnya.
Bukan hal yang wajar tentunya bagi seorang suami seperti Alex bila mendekati sosok wanita penghibur, apalagi Keisha tengah mengandung calon anaknya. Kini Keisha pun kembali meminta penjelasan dari suaminya, sebab ia tak yakin jika Alex hanya sekedar berteman dengan Anya disana. Keisha juga ragu kalau Alex berkata jujur, pasalnya tingkah Alex saat ini benar-benar gugup dan mencurigakan.
"Mas, jadi ternyata Anya itu wanita penghibur? Terus kalian tinggal satu apartemen dan deketan? Apa iya kalau kalian gak ngapa-ngapain selama disana, ha?" tanya Keisha tampak ragu.
Alex hanya bisa menundukkan kepalanya, ia bingung harus menjelaskan darimana kepada Keisha mengenai hubungannya dengan Anya. Ia juga tak tahu apa yang sekiranya bisa membuat Keisha percaya padanya, apalagi sekarang ini Keisha terlihat sangat curiga padanya dan tidak akan mudah bagi Alex meyakini istrinya itu.
"Jawab mas, jangan diam aja! Beneran diantara kamu dan Anya gak ada hubungan?" sentak Keisha.
"Harus berapa kali sih aku bilang sama kamu? Aku dan Anya itu cuma sebatas tetangga, kamu percaya dong sama aku sayang!" tegas Alex.
"Gimana bisa aku percaya sama kamu, mas? Sikap kamu aja mencurigakan kayak gini," ujar Keisha.
"Mencurigakan gimana sih? Aku harus gimana coba biar kamu bisa percaya sama aku? Aku udah bicara jujur ke kamu, tapi kamu masih aja curiga dan nuduh aku yang enggak-enggak! Aku capek tahu kayak gini terus!" ucap Alex begitu emosi.
"Loh, kamu kok jadi emosi sih mas? Harusnya aku dong yang kesal sama kamu, karena kamu banyak merahasiakan sesuatu dari aku!" ucap Keisha.
"Terserah kamu mau bilang kayak gimana juga, aku capek!" sentak Alex.
Keisha mengernyitkan dahinya seolah tak mengerti dengan sikap Alex saat ini, sedangkan pria itu sendiri tampak berbalik dan melangkah pergi begitu saja. Ya sepertinya Alex memang benar-benar emosi, sehingga kini Keisha lah yang dibuat bingung dan merasa bersalah. Niatnya hanya ingin mengetahui ada hubungan apa diantara Alex dan Anya, tetapi sekarang hubungan mereka justru berantakan.
"Mas, mas Alex tunggu!!" dengan sekuat tenaga, Keisha mencoba menghentikan suaminya itu.
Namun, sangking kesalnya Alex sampai-sampai pria itu tak perduli dengan teriakan serta permohonan dari istrinya. Alex masuk begitu saja ke dalam rumahnya, dan disana ia berpapasan dengan Mayra yang terlihat penasaran. Rupanya Mayra mendengar semua perdebatan sepasang suami-istri itu, tetapi Mayra juga belum tahu apa masalahnya.
"Lex, ada apa? Kamu berantem lagi sama istri kamu? Ayolah, kalian kan sama-sama udah dewasa loh! Masa kalian mau berantem terus?" ucap Mayra menegur putranya itu.
"Haish, aku lagi gak pengen bicara ma. Kalau mama pengen kasih nasihat, sana mama nasehatin aja mantu mama itu!" ucap Alex dengan ketus.
Mayra terkejut mendengar kata-kata putranya barusan, ia tak mengerti mengapa Alex bisa sampai semarah itu saat ini. Lalu, Alex pun melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamar sambil langsung membanting pintu dengan keras. Mayra menggeleng dibuatnya, belum pernah ia melihat Alex begitu emosi seperti sekarang.
"Anak itu kenapa ya?" gumamnya lirih.
Disaat Mayra menoleh ke arah lain, ia melihat Keisha yang berdiri di hadapannya dengan wajah sendu serta air mata yang mengalir. Tanpa berpikir panjang, Mayra segera menghampiri wanita itu dan memeluknya erat. Mayra pun berusaha menenangkan Keisha, meski ia belum tahu masalah apa yang terjadi diantara Keisha dan Alex.
•
•
Lana tiba di depan rumah sahabatnya, ia pun tampak sangat senang karena akhirnya ia dapat merasakan berboncengan dengan sang lelaki yang ia idolakan. Rasanya ia tak ingin semua itu berakhir, bahkan jika memungkinkan maka Lana ingin terus berada di atas jok motor lelaki itu. Namun, saat ini Lana harus bersikap seperti biasa dan tidak boleh membuat Zikri merasa ilfeel padanya.
Klik
Helm berhasil terlepas, tetapi pandangan keduanya justru masih terus terjaga sampai saat ini dan tidak ada yang dapat mengakhirinya. Lana amat terpesona pada ketampanan Zikri, begitu juga sebaliknya karena Zikri pun tidak bisa melepaskan diri dari wajah cantik Lana yang berhasil memikat hatinya.
"Eee ma-maaf, makasih udah bantu lepasin helmnya!" Lana sadar lebih dulu dan langsung mengalihkan pandangannya.
"Ah iya sama-sama, kalo gitu gue cabut ya?" ucap Zikri yang juga merasa gugup.
"Umm iya, sekali lagi makasih udah mau anterin aku sampai kesini! Aku harus bayar atau enggak nih?" ucap Lana.
Zikri tergelak, "Hahaha, yakali bayar. Emangnya gue tukang ojek apa?" ucapnya.
"Kan kali aja kamu minta dibayar gitu karena udah anterin aku, tapi kalau emang gak mau sih ya gapapa. Aku bersyukur banget malah!" ucap Lana.
"Iya, lu gausah bayar. Mending uangnya lu pake aja buat jajan tuh!" ucap Zikri.
Lana mengangguk dan kembali mengucap terima kasih pada lelaki itu, kemudian Zikri pun naik ke motornya dengan membawa helm yang tadi dipakai oleh Lana. Sebelum pergi, Zikri menyempatkan menatap wajah Lana sekali lagi sambil tersenyum. Lana yang ditatap seperti itu sontak tersipu, namun dia senang karena sikap manis Zikri padanya.
"Bye Lana, gue pergi ya! Hati-hati lu!" ucap Zikri melambai ke arah Lana.
"Ih kebalik, harusnya aku yang bilang hati-hati sama kamu. Kan kamu yang mau pergi, aku mah tinggal masuk ke dalam," ucap Lana.
"Ahaha, sama aja kok." Zikri terkekeh dibuatnya.
"Hm iya, hati-hati di jalan! Jangan ngebut-ngebut okay!" ucap Lana.
"Sip!" Zikri mengacungkan jempolnya.
Tanpa berlama-lama lagi, Zikri bergegas menancap gas dan pergi meninggalkan tempat itu dengan motornya. Lana terus tersenyum sembari melambaikan tangan ke arah motor pria itu, rasanya ia begitu bahagia dan momen ini tentunya akan menjadi momen yang paling membahagiakan di dalam hidupnya.
"Haaaahh, ganteng banget sih kamu Zikri! Andai kamu mau terima aku jadi pasangan kamu," gumam Lana yang mulai berkhayal.
Tiba-tiba saja, seseorang menepuk pundaknya dari belakang dan membuatnya terkejut. Seketika lamunan gadis itu hilang dalam sekejap, reflek ia berbalik serta menoleh ke arah belakang. Saat itu juga ia menemukan sahabatnya tengah berdiri disana sambil memandangnya, sepertinya dia mendengar semua yang Lana bicarakan tadi sehingga dia pun tertawa cekikikan saat ini.
•
•
Malam harinya, selepas makan malam Alex langsung beranjak dari tempat duduknya dan berniat untuk segera masuk ke kamar. Harry selaku ayah dari pria itu pun tampak heran dibuatnya, karena tak biasanya Alex bersikap seperti itu. Apalagi, sedari tadi Alex juga tak berbicara sama sekali pada mereka disana dan lebih banyak diam.
Harry pun menegurnya, menahan Alex untuk tetap disana dan tidak pergi ke kamarnya. Begitu juga yang dilakukan oleh Mayra serta Lana, tetapi Alex sepertinya tidak mau menuruti permintaan mereka dan lebih memilih meneruskan langkahnya. Hal itu sontak menimbulkan kecurigaan di pikiran mereka, yang kemudian reflek menatap ke arah Keisha.
"Keisha, ada apa sih sama suami kamu itu? Kenapa dia kelihatan emosi banget kayaknya, apa kalian sedang ada masalah?" tanya Harry penasaran.
"Eee...." Keisha terlihat bingung dan tak tahu harus menjawab apa.
"Tadi mama juga udah coba tanya ke Keisha soal ini, tapi dia gak mau cerita. Mungkin aja emang kita sebaiknya gak ikut campur pa, toh mereka kan udah dewasa dan bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri," sela Mayra.
"Iya sih ma, tapi kan papa pengen tahu aja gitu. Gak biasanya loh Alex bersikap kayak gitu, ada masalah apa sih sebenarnya?" ucap Harry.
Keisha terdiam saja dan melanjutkan makan malamnya sampai habis, ia tak berniat menceritakan apa yang menjadi permasalahan antara dirinya dan Alex kepada kedua orang tua itu. Ya Keisha hanya tidak ingin mereka salah paham, lalu mengira jika Alex memang telah bermain api di belakangnya dan membuat keributan nantinya.
Setelah selesai makan, Keisha pun juga pamit kepada mereka semua untuk bisa cepat menyusul Alex ke kamar. Ya tentu saja Mayra serta Harry kompak mengangguk, mereka juga tak ingin jika Keisha dan Alex berlarut-larut terkena masalah. Sebagai orang tua, pastinya Mayra maupun Harry sama-sama ingin anaknya itu hidup bahagia.
Kini Keisha masuk ke dalam kamarnya secara perlahan, ia syok melihat Alex yang sudah terbaring di atas sofa dengan mata terpejam. Keisha pun menggelengkan kepala, lalu melangkah ke dekat sang suami. Keisha berniat membangunkan pria itu, karena tidak baik jika sehabis makan Alex langsung tertidur nyenyak seperti itu.
"Mas, mas bangun mas! Tidurnya nanti dulu ya, mas kan baru selesai makan loh. Gak baik tahu kalau sehabis makan langsung tidur kayak gini, bangun ya mas!" ucap Keisha dengan nada lembut.
Alex pun merasa terusik dibuatnya, ia langsung membuka matanya dan tampak kesal ketika melihat Keisha ada di dekatnya. Pria itu bangkit dan terduduk disana, menatap tajam ke arah Keisha seolah tak menyukai kehadirannya. Namun, Keisha hanya tersenyum saja dan berusaha tetap tenang dikala emosi Alex yang tengah tinggi itu.
"Apaan sih kamu, ngapain pake bangunin aku segala? Mau cari ribut lagi?" geram Alex.
Keisha menggeleng dengan cepat, "Enggak mas, aku bukan mau cari ribut sama kamu. Aku kan cuma bilang ke kamu, kalau habis makan itu gak boleh langsung tidur!" ucapnya.
"Ah bawel banget sih! Aku tuh capek tahu gak, aku pengen tidur biar tenang! Kalau kamu gak pengen lihat aku tidur disini, yaudah aku akan cari hotel dekat sini supaya gak ada lagi yang ganggu aku!" ucap Alex tampak emosi.
"Mas, kamu tuh kenapa sih? Aku bukannya gak pengen kamu tidur, aku kan udah jelasin alasannya tadi," ucap Keisha.
Alex yang terlanjur kesal langsung bangkit dari sofa dan mengambil jaket miliknya, pria itu pun bergerak cepat keluar dari kamarnya tanpa berbicara apa-apa lagi pada Keisha. Sontak Keisha berusaha mengejar suaminya itu, tetapi tampaknya Alex tidak perduli lagi pada apapun yang dikatakan Keisha saat ini.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...