
Arfan masih berada di rumah Lana dan tengah bersama gadis itu untuk berbincang dengannya, mereka berdua kali ini terduduk di sofa ditemani dua gelas minuman buatan Keisha tadi. Arfan pun tampak begitu kagum dengan kecantikan Lana, sebab gadis itu terlihat lebih natural dari biasanya. Jika saja Arfan dapat memiliki Lana seutuhnya, maka pasti Arfan akan sangat berbahagia nantinya.
Pertanyaan terus timbul di dalam benak Arfan saat ini, ia masih penasaran apa sebenarnya yang terjadi pada Lana hingga gadis itu terlihat amat bersedih sewaktu ia temui ketika di taman sekolah. Bahkan, kini Lana juga masih tampak begitu sedih dan seperti habis menangis. Tapi entah kenapa, Arfan rasanya cukup sulit untuk bisa mengajukan pertanyaan kepada Lana mengenai hal tersebut.
"Arfan, kamu kenapa diam aja kayak gitu? Kamu datang kesini cuma buat anterin parcel ini, hm?" tanya Lana berusaha menegur pria itu.
"Eh eee, a-aku juga mau tanya sesuatu ke kamu sih Lana. Jujur aku penasaran soal ini daritadi waktu kita di sekolah, tapi kamu jawab dengan jujur ya Lana!" ucap Arfan tampak gugup.
"Apa yang mau kamu tanyain?" Lana terlihat begitu penasaran kali ini.
Arfan tersenyum dan menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan gadis itu, ia menghela nafas singkat sembari menguatkan dirinya. Arfan memang ragu untuk bertanya pada Lana kali ini, karena ia khawatir itu akan menyakiti hati Lana. Namun, Arfan harus memastikan sendiri apakah yang ada dalam pikirannya itu benar atau tidak.
"Begini Lana, aku itu penasaran sama kamu. Sebenarnya apa sih yang bikin kamu jadi sedih kayak gini? Apa masalah yang kamu alami Lana?" ucap Arfan mengajukan pertanyaan.
Lana terdiam selama beberapa detik ketika Arfan menyampaikan kata-kata itu, ia menatap wajah Arfan sampai tak berkedip kali ini. Rasanya Lana begitu bingung, ia belum yakin untuk menceritakan semua masalahnya kepada Arfan. Terlebih masalah mengenai kehamilan dirinya, sebab ia tak mau ada banyak orang yang mengetahui hal itu.
"Ka-kamu gak perlu cemas soal itu Arfan, aku baik-baik aja kok! Aku nangis di sekolah tadi bukan karena ada masalah, jadi kamu tenang aja ya Arfan!" jawab Lana sambil tersenyum.
Arfan menggeleng perlahan, "Tidak Lana, aku yakin pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku! Lebih baik kamu jujur, karena aku gak akan bisa tenang sebelum tahu apa penyebab kamu menangis!" ucapnya tegas.
"Kenapa kamu maksa banget sih Arfan? Aku udah bilang gak ada apa-apa, harusnya itu cukup buat kamu dan aku harap kamu ngerti!" sentak Lana.
"It's okay, aku gak akan maksa kamu lagi. Aku paham yang namanya privasi, tapi aku begini karena aku perduli sama kamu Lana. Aku gak mau kamu terus bersedih kayak gini," kekeuh Arfan.
Deg
Kalimat yang dilontarkan Arfan sungguh membuat Lana terkejut, ia tak menyangka kalau Arfan sangat perduli dan perhatian padanya. Kini Arfan juga terus menatap ke arahnya, satu tangannya bahkan sudah menganggap telapak tangan gadis itu. Akan tetapi, Lana benar-benar bingung harus mengatakan apa kepada Arfan saat ini.
"Sekarang aku tanya lagi ke kamu, apa kamu begini karena Zikri? Dia yang sakitin kamu ya Lana?" ucap Arfan kembali bertanya pada gadis itu.
"Hah? Kenapa kamu bisa berpikir begitu? Enggak kok, ini bukan karena Zikri!" elak Lana.
"Baguslah, tadinya aku khawatir banget kalau Zikri nyakitin kamu. Seenggaknya sekarang aku lega sedikit, biarpun aku belum tahu apa penyebab kamu sampai sesedih ini," ucap Arfan tersenyum.
Lana manggut-manggut saja, lalu menunduk karena merasa bersalah telah membohongi Arfan.
•
•
Revan sendiri hanya senyum-senyum tipis dengan dua tangan yang ia angkat untuk menyapa wanita itu, sepertinya Revan sengaja ingin menggoda Keisha agar mau mendekat ke arahnya saat ini. Dengan begitu, maka Revan bisa lebih dekat dengan wanita yang ia cintai itu. Entah mengapa Revan amat sulit melupakan Keisha, meski ia telah berusaha beribu kali untuk menghapus bayangan Keisha dari pikirannya, tapi itu semua selalu saja gagal.
"Halo lagi Keisha, aku senang banget bisa lihat muka cantik kamu itu lagi disini! Kamu kenapa gak ngabarin aku sih kalau kamu balik kesini, hm? Kan aku udah bilang, kalau ada apa-apa itu kabarin dong cantik!" ucap Revan dengan lembut.
Keisha menggeleng perlahan, "Van, kamu apaan sih? Kamu sudah banget ya dibilanginnya? Aku ini udah bersuami, jadi stop ganggu aku!" ucapnya tegas.
"Ck, apa perdulinya buatku Keisha? Suami kamu aja lagi asyik-asyikan tuh sama perawan muda di pinggir jalan, ngapain kamu masih perduli banget sama dia coba?" ucap Revan.
Deg
Perkataan Revan membuat Keisha terkejut seketika, matanya menatap tajam ke arah Revan seolah tak mempercayai ucapannya. Keisha berpikir bahwa Revan hanya ingin memancingnya, agar ia membenci Alex dan mau menerimanya. Tentu saja Keisha tak semudah itu percaya, apalagi Revan tak memiliki bukti yang bisa dilihat olehnya.
"Kamu jangan asal bicara ya! Mana buktinya?" pinta Keisha.
"Oh kamu mau bukti? Okay, aku bakal tunjukkan ke kamu sekarang buktinya!" ucap Revan seraya mengambil ponsel miliknya.
Keisha pun terbelalak, pikirannya semakin kacau saat ini dan detak jantungnya bergerak tak karuan. Revan segera menunjukkan sebuah foto di galeri ponselnya itu, lalu dapat terlihat dengan jelas bahwa yang ada di foto itu adalah Alex. Namun, Keisha tak bisa mengetahui pasti siapa perempuan yang tengah bersama suaminya itu disana.
"Gimana, kamu percaya kan sekarang Keisha? Suami kamu itu belum berubah, dia masih sama seperti Alex yang dulu suka nyakitin kamu!" ucap Revan.
Air mata mengalir membasahi pipi Keisha, wanita itu seperti tak menyangka jika hal ini akan kembali terjadi di kehidupan rumah tangganya. Keisha sendiri tak mengerti mengapa Alex masih saja seperti itu, padahal sebelumnya Alex sudah sempat berjanji untuk tidak berkhianat darinya lagi dan ingin menjalin hubungan yang baik dengannya.
Namun, nyatanya saat ini pria itu justru kembali mengkhianatinya. Keisha benar-benar syok melihat foto yang ditunjukkan Revan, matanya melihat jelas kalau Alex memang tengah bersama seorang wanita muda yang ia tak tahu siapa. Rasa sakit mendatangi hatinya, Alex sungguh tega karena telah kembali memberikan luka yang amat dalam baginya.
"Kenapa kamu tega ngelakuin ini sama aku, mas? Apa sih salah aku sebenarnya?" Keisha menangis terisak, air matanya sudah tak dapat ia bendung lagi kali ini.
Revan yang melihatnya sontak merasa kasihan, ia tidak tega karena Keisha terus saja menangis seperti itu. Tanpa meminta izin darinya, Revan mendekat dan lalu mencoba untuk menghibur Keisha dengan cara merangkulnya. Keisha yang sedang sedih tentu tak menyadari itu, ia terima saja ketika Revan merangkul dan mengusapnya lembut.
"Yang sabar ya Keisha, aku tau ini berat buat kamu! Tapi, ini adalah jalan yang ditunjukkan Tuhan ke kamu supaya kamu bisa lepas dari Alex!" ucap Revan sembari menaruh wajah Keisha di bahunya.
Keisha hanya terdiam dan terus menangis, pikirannya mengarah pada sosok suaminya yang saat ini sedang bersama wanita lain.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...