
Lana yang masih berada di sekolahnya tampak tengah memandangi para pria yang tengah bermain basket di lapangan sana. Sejak lama gadis itu memang mengagumi sosok kapten tim basket tersebut yang menurutnya sangat tampan dan gagah perkasa, entah mengapa Lana selalu tidak bisa berhenti memandanginya dari jauh seperti ini.
Terlihat juga Lana sudah membawakan sebotol air mineral yang nantinya akan ia berikan kepada pria tersebut, meski ia belum tahu apakah si pria mau menerimanya atau tidak. Lana pun bersorak ketika pria itu berhasil memasukkan bola ke dalam ring, teriakannya menggema di seluruh lapangan itu hingga membuat beberapa orang menoleh.
Lana tidak pernah merasa bosan atau lelah untuk menonton aksi pria tersebut disana, meski kadang ia sampai terlambat pulang ke rumahnya. Ya rasa kagum itu sudah lebih dari sekedar kagum, mungkin Lana telah menyukai pria itu dan berharap bisa menjadi kekasihnya. Hanya saja, Lana tahu kalau semua itu mustahil dapat ia lakukan.
Setelah permainan selesai, Lana cekatan mendekat ke arah pria idamannya sambil membawakan botol mineral untuknya. Gadis itu menyapa si pria disertai senyuman manisnya, kedua lesung pipi milik Lana memang menjadi senjata andalan baginya untuk memikat para kaum pria yang ia sukai dan berharap pria itu mau memberi perhatian padanya.
"Hai Zikri! Kamu pasti haus kan abis main basket tadi, nih aku bawain minum loh buat kamu! Ada handuk juga yang aku siapin," ucap Lana.
Kehadiran Lana di dekatnya membuat pria bernama Zikri itu terkejut, begitu juga dengan teman-teman basketnya yang ada disana karena lagi-lagi Lana terus saja menemuinya. Ini bukan kali pertama bagi Lana, sebab belakangan ini gadis itu memang terus datang dan memberikan air mineral serta handuk untuk Zikri.
"Thanks, tapi besok-besok lu gak perlu bawain ini lagi ya buat gue!" ucap Zikri dingin.
"Hm, kenapa gitu? Kan lumayan loh kamu bisa dapa minum gratis dari aku, lagian aku juga gak masalah kok kalau harus kasihin ini terus ke kamu," ucap Lana tampak tersenyum lebar.
"Lo emang gak masalah, tapi gue yang masalah kalo lu begini terus. Udah ya, mending lu kasih aja ke orang lain besok-besok!" ucap Zikri.
"Ta-tapi, aku kan—"
Ucapan Lana terhenti lantaran Zikri berbalik dan pergi meninggalkannya begitu saja sambil membawa botol serta handuk darinya, Lana cukup kecewa dan wajahnya pun tampak cemberut karena ditinggal lagi oleh pria itu. Namun, Lana senang karena Zikri masih mau menerima pemberian darinya walau pria itu tetap saja bersikap dingin.
"Eh Lana!" tanpa diduga, salah seorang teman Zikri yang juga merupakan anggota tim basket sekolah mendekat ke arahnya dan menegurnya.
"I-i-iya, kenapa?" Lana terlihat gugup saat pria itu mendekatinya sambil tersenyum.
"Gue heran sama lu, kenapa sih lu deketin Zikri mulu? Lu itu cantik loh Lana, harusnya cowok yang kejar-kejar lu!" ucap pria itu.
Lana menggeleng perlahan, "Aku biasa aja kok, kalau aku cantik gak mungkin Zikri tinggalin aku tadi. Lagian aku tuh cuma kagum sama dia, aku gak ada perasaan suka atau cinta kok," ucapnya.
"Ah masa? Dari tindakan yang lu lakuin ke dia, gue yakin lu pasti suka sama dia! Udah deh Lan, lu gak bisa tutupin semua itu dari kita!" ucap si pria.
"Iya tuh, kelihatan banget kok kalo lu suka sama Zikri!" sahut temannya yang lain.
Lana pun terdiam sembari menundukkan wajahnya, ia sendiri bingung apakah rasa kagumnya pada Zikri telah berubah menjadi cinta atau tidak. Kalaupun memang iya, Lana juga tidak yakin jika ia bisa memiliki Zikri nantinya. Dirinya dan Zikri itu bagaikan langit dan bumi, sangat jauh dan tidak mungkin bisa bersatu.
"Lan, mending udah deh lu jangan ngarep cinta dari si Zikri terus! Dia itu sukanya sama Cherry anak kelas sebelas, jadi lu gak bakal bisa bikin Zikri suka sama lu!" ucap pria itu lagi.
Mendengar perkataan para teman Zikri barusan, membuat hati Lana serasa teriris dan harapannya pun pupus sudah untuk bisa mendekati Zikri. Lana juga baru mengetahui info mengenai Zikri yang menyukai salah satu kakak kelasnya, yakni Cherry. Memang Cherry adalah wanita yang cantik dan menjadi idola disana, tentunya Lana akan sulit untuk bisa bersaing dengan wanita itu.
"Yeh dia malah diam aja, daripada lu mikirin Zikri terus yang belum tentu mikirin lu juga. Nih, mending lu sama bang Syaiful aja deh!" kekeh si pria.
"Hehe, halo dek Lana!" pria bernama Syaiful itu menyapa ke arahnya disertai senyum lebar, ya Syaiful adalah kakak kelasnya yang sebentar lagi akan lulus dari sekolah.
Lana menggeleng saja, kemudian berlalu pergi dari lapangan itu dengan perasaan sedih. Lana sungguh tak sanggup lagi setelah mendengar semua perkataan dari teman-teman Zikri tadi, gadis itu kecewa sekaligus menyesal karena Zikri ternyata sama sekali tidak menganggapnya.
•
•
Kini Lana pun terduduk di taman sekolah dengan perasaan sedihnya, wajah gadis itu terlihat murung setelah mengetahui semuanya tadi. Entah mengapa Lana tampak kecewa karena tahu bahwa Zikri sudah memiliki seorang wanita yang dia cintai, walaupun Lana sendiri juga belum tahu apakah dirinya menyukai pria itu atau tidak.
Disaat gadis itu sedang melamun seorang diri dengan wajah murungnya, tiba-tiba saja sosok lelaki berkacamata datang mendekatinya dan ikut duduk di sebelahnya. Lelaki itu menyapanya, lalu tersenyum ke arah gadis itu dengan lebar. Lana cukup terkejut melihatnya, apalagi ia sedari tadi merasa kalau di sekitarnya tidak ada satu orangpun.
"Hai Lana! Kamu kelihatannya lagi sedih banget, ada apa sih Lana cantik?" ucap lelaki itu.
Lana mengernyitkan dahinya, kemunculan laki-laki itu amat membuatnya merasa risih dan terus berusaha menjauh darinya. Sejak lama pria itu memang memiliki rasa padanya, namun Lana sama sekali tidak menggubris atau perduli dengan tindakan si pria yang selalu saja mendekatinya.
"Mau aku sedih atau enggak itu bukan urusan kamu, Arfan. Kamu mending pergi deh, aku lagi pengen sendiri dan gak mau diganggu!" ketus Lana.
Lelaki bernama Arfan itu tersenyum mendengarnya, ia tahu Lana sedang bersedih dan memiliki masalah. Namun, sepertinya Lana memang tidak ingin memberitahu apa masalah yang sedang dia hadapi sekarang ini. Sebagai seorang lelaki yang menyukai gadis itu, Arfan kini tidak segampang itu menyerah dan terus berusaha mendekati Lana disana.
"Kamu jangan begitu lah Lana! Aku ini perduli loh sama kamu, jadi ayo kamu cerita aja ya dan gausah ngerasa ragu kayak gitu! Mungkin aja aku bisa bantu kamu, siapa tahu nanti kamu gak sedih lagi kan," ucap Arfan tersenyum lebar.
Lana menggeleng perlahan, "Gak perlu, aku gak butuh bantuan kamu Arfan! Aku itu cuma lagi mikir soal ujian besok," ucapnya berbohong.
"Ah masa mikirin ujian sampai kusut banget kayak gitu? Lagian kelihatan kok kamu itu abis nangis, mending jujur deh sama aku ada apa! Kasih tahu ke aku, siapa yang nyakitin kamu!" ucap Arfan.
"Kamu tuh apaan sih? Gausah sok perduli deh sama aku, kita ini gak ada hubungan apa-apa ya dan kamu bukan siapa-siapa aku!" sentak Lana.
"Ya aku tahu, tapi gak ada salahnya kan kalau aku mau tahu masalah kamu? Aku ini cuma pengen jadi pendengar yang baik kok, aku yakin kamu pasti butuh sosok itu!" ucap Arfan tenang.
"Enggak tuh, aku gak butuh apa-apa. Sana kamu pergi, jangan ganggu aku!" ucap Lana kesal.
Lana bangkit dan berniat pergi dari sana karena Arfan yang tak kunjung menuruti perintahnya, tapi tiba-tiba Arfan justru ikut berdiri dan meraih tangan Lana untuk digenggam serta meminta gadis itu tetap disana. Lana terkejut dengan tindakan nekat Arfan saat ini, padahal biasanya lelaki itu selalu menghargai dirinya dan tidak pernah melakukannya.
"Arfan, apaan sih kamu? Ngapain kamu pegang tangan aku coba? Jangan kurang ajar ya, atau aku teriak nih! Ingat loh, kakak aku itu ketua geng yang galak dan kejam! Kamu mau dihajar sama dia nanti, ha?" geram Lana.
"Huft, iya deh terserah kamu aja. Kalau kamu gak bolehin aku pergi, yaudah sana kamu yang pergi!" ucap Lana.
"It's okay."
Lelaki itu tak memiliki pilihan lain, demi wanita tercintanya maka ia rela melakukan apapun yang dia mau. Arfan memandang wajah Lana selama beberapa detik, sebelum akhirnya memutuskan pergi dari sana meninggalkan gadis itu sesuai perintahnya. Meski berat, namun Arfan harus bisa melakukan semua itu agar Lana tidak kecewa.
Lana kembali ditinggal seorang diri saat ini di taman sekolah itu, ia pun terduduk dan melamun di tempat itu memikirkan perkataan dari teman-teman Zikri saat di lapangan basket tadi. Jujur saja Lana tidak bisa melupakan hal itu, sepertinya gadis itu memang sangat mencintai Zikri dan tidak terima jika Zikri mendekati wanita lain.
Tak lama kemudian, sesuatu yang di luar dugaan terjadi dan membuat Lana begitu terkejut. Pria yang biasa ia dekati itu sekarang ada di sebelahnya, ya dia adalah Zikri alias si ketua basket dari kelas sepuluh yang tentu satu angkatan dengannya. Zikri menyapanya, lalu Lana pun kompak menoleh dan bangkit dari tempat duduknya.
"Eh Zikri, ka-kamu kok kesini? Ada apa?" tanya Lana dengan gugup dan bingung.
Zikri hanya tersenyum tipis ke arah gadis itu dan menyodorkan handuk miliknya, sontak Lana terperangah karena ternyata Zikri datang kesana untuk mengembalikan handuk itu kepadanya. Padahal, tadinya Lana mengira Zikri mengejarnya untuk menjelaskan mengenai perkataan temannya tentang dirinya yang menyukai Cherry.
"Gue cuma mau balikin handuk ini, thanks ya atas perhatiannya!" ucap Zikri lirih.
•
•
Alex pulang ke rumahnya seorang diri setelah puas mengikuti Keisha yang pergi bersama Revan, pria itu tak sanggup lagi melihat kedekatan antara istrinya itu dan juga Revan disana. Tentu saja Alex cemburu, karena sampai sekarang Keisha masih berstatus sebagai istrinya. Dan seharusnya, Keisha tidak senekat itu pergi bersama lelaki lain.
Pikiran Alex pun semakin kacau, pria itu mengacak-acak rambutnya sendiri dan memukul angin sambil berteriak keras. Alex begitu kesal dan menyesal dengan semua yang terjadi saat ini, ia tak mengira kalau akhirnya malah jadi semakin kacau karena kesalahannya. Seandainya ia tak menemui dokter Nita tadi dan meminta tes DNA, maka mungkin Keisha tak mungkin semarah ini padanya.
Dikala pria itu tengah sangat emosi dan kesal, tiba-tiba saja sebuah mobil muncul di dekatnya. Alex menoleh ke arah mobil tersebut, matanya terbelalak menyadari bahwa Keisha istrinya turun dari sana bersama Revan. Kedua tangan Alex mengepal kuat menandakan ia begitu emosi, rasanya ia ingin menghajar saja Revan sampai babak belur.
"Keisha!" Alex berteriak keras memanggil istrinya, sembari berjalan mendekatinya.
Sontak Keisha serta Revan menoleh secara bersamaan ke arah pria itu, mereka tampak biasa saja saat Alex berdiri tepat di sebelah mereka dengan tampang emosi. Keisha sendiri sudah tak perduli dengan amarah suaminya nanti, karena semua ini sengaja ia lakukan untuk bisa menuruti tuduhan dari Alex sebelumnya.
"Kenapa mas, kamu marah lihat aku jalan sama Revan? Bukannya kamu sendiri ya yang nuduh aku selingkuh, giliran aku jalan sama cowok beneran kok kamu malah gak senang gitu?" cibir Keisha.
"Keisha cukup! Kamu gak boleh kelewatan kayak gini, kamu itu istri aku!" tegas Alex.
"Kelewatan? Kalau aku kelewatan, lalu kamu apa? Kamu pikir kamu gak keterlaluan gitu nuduh aku yang enggak-enggak?" geram Keisha.
"Keisha, aku—"
"Apa mas? Aku udah gak perduli lagi ya kamu mau bilang apa, karena aku cuma mau turutin yang kamu tuduhkan tadi!" sela Keisha penuh emosi.
Alex terdiam tak mampu berbicara apa-apa lagi saat ini, rasanya ia sudah kalah berdebat dengan istrinya karena memang semua ini terjadi akibat kesalahannya sendiri. Seharusnya Alex lebih mempercayai Keisha dibanding temannya, meski ia lebih lama mengenal para sahabatnya itu dibanding bertemu dengan Keisha.
"Aku heran deh sama kamu, harusnya kamu puas dong lihat aku jalan sama laki-laki lain kayak gini. Kan kamu sendiri tadi yang nuduh aku begitu, jadi harusnya kamu gak perlu marah-marah dong mas!" ucap Keisha terheran-heran.
"Gak gitu sayang, ayolah kamu maafin aku! Aku sekarang percaya sama kamu, tapi aku mohon kamu jangan kayak gini ya!" bujuk Alex.
"Terserah mas, aku capek banget nih mau istirahat. Kalau kamu izinin, sekarang aku pengen minta Revan buat antar aku ke rumah kakek. Gapapa kan mas?" ucap Keisha.
"Hah? Apa-apaan sih kamu Keisha? Jelas lah aku gak akan izinin kamu pergi sama dia!" tegas Alex.
Keisha geleng-geleng kepala seolah tak perduli dengan ucapan Alex barusan, wanita itu memilih melangkah masuk begitu saja ke dalam rumahnya. Alex berusaha menahan istrinya itu dengan cara berteriak, namun Keisha tak mau perduli dan malah meneruskan langkahnya dengan cepat sambil berpura-pura tak mendengar apapun.
Disaat Alex hendak mengejar Keisha kesana, tanpa diduga Revan dengan berani mencegah Alex dan mencengkram lengan pria itu. Revan meminta pada Alex untuk bicara sebentar, namun tentu saja Alex menolak dan malah semakin emosi. Alex memang kesal lantaran Revan hadir di dalam rumah tangganya, pria itu tak menyangka masalahnya akan menjadi semakin rumit seperti sekarang.
"Lex, bisa kita bicara sebentar? Saya mau omongin soal Keisha, saya yakin kamu harus tahu soal ini!" ucap Revan tampak serius.
"Apaan sih? Gausah sok asik deh lu, mending lu pergi sana dan jangan ikut campur urusan rumah tangga gue sama Keisha! Lu itu yang bikin gue sama Keisha bertengkar, harusnya lu sadar!" sentak Alex.
"Iya Lex, saya tahu kok soal itu. Tapi, kamu juga harus sadar kalau kamu berandil besar di dalam keretakan rumah tangga kamu sendiri!" ucap Revan.
Alex semakin kesal dan langsung menghentak tangannya dari genggaman Revan, ia mendekati pria itu lalu mencengkram kerah bajunya seolah bersiap memukulnya. Tangannya yang lain juga sudah terkepal, sebentar lagi mungkin saja akan terjadi keributan disana antara mereka berdua.
"Lo gausah sok tahu jadi orang! Kalau gak ada lu di kehidupan Keisha, semua ini gak akan terjadi!" sentak Alex penuh emosi.
"Lex, kamu harus sadar sama kesalahan kamu! Kalau aja kamu bisa lebih percaya sama Keisha, saya yakin Keisha gak akan semarah itu sama kamu!" ucap Revan tak kalah tegas.
"Ah banyak omong lu sialan!" Alex mengumpat kesal dan hendak melayangkan pukulannya.
"Kak Alex jangan!!"
Akan tetapi, sebuah teriakan seorang gadis berhasil menghentikan tindakannya itu dan membuat keduanya terkejut. Alex mengurungkan niatnya, satu tangannya itu berhenti tepat di hadapan wajah Revan sebelum sempat menyentuhnya. Alex menoleh ke asal suara, disana lah ia menemukan Lana yang sepertinya baru pulang sekolah.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...