
Setelah acara akad selesai, Bisma langsung membawa Sania ke pelaminan. Mereka berdua menyambut setiap tamu yang berdatangan dengan penuh kebahagiaan. Para sahabat, keluarga dan juga para rekan kerja sang papa dan juga para pamannya berdatangan untuk menyaksikan pernikahan kedua insan itu. Acara di lakukan begitu mewah, bahkan aula gedung itu di penuhi dengan suara tawa dan juga kebahagiaan.
Tidak lupa dengan Tuan Alvando berserta seluruh keluarganya, mereka juga hadir di pesta itu untuk menyaksikan kebahagiaan Sania dan Bisma. Rifki dengan senyuman yang terus melingkar di wajah tampannya mendorong kursi roda sang kakak menuju ke pelaminan itu.
"Selamat ya, Sa! semoga pernikahan kalian bahagia selamanya," ucap Mala tersenyum sambil memeluk pengantin wanita itu.
"Terima kasih ya, Kak!" ucap Sania tersenyum sambil memeluk Mala.
"Mama!" ucap Rizki berlari mendekati sang mama.
Dengan penuh kerinduan dia memeluk mamanya itu, setelah Mala keluar dari rumah sakit, mereka tidak pernah bertemu lagi. Bukannya Mala masih membenci putranya itu, tetapi dia merasa malu kepada dirinya sendiri. Dia merasa jika dia adalah ibu yang sangat buruk, sehingga dia tidak punya keberanian untuk menemui putranya itu lagi.
Sedangkan Rizky, dia tetap menyayangi mamanya itu dengan begitu tulus. Bahkan dia sudah melupakan semua kenangan buruk saat tinggal bersama sang mama. Sania adalah ibu sambung yang sangat baik, sehingga dia tidak membiarkan kebencian tertanam di hati bocah itu. Dia selalu mengajarkan Rizki untuk selalu memaafkan, agar bocah itu tumbuh menjadi orang yang pemaaf, tanpa ada dendam yang akan menghancurkan hidupnya sendiri.
"Rizki!" gumam Mala menitipkan air matanya sambil membelai lembut rambut lebat putranya.
"Mama kenapa menangis? apa Rizki menyakiti mama?" tanya Rizki melepaskan pelukannya.
"Tidak sayang! kamu tidak menyakiti mama. Justru mama yang telah menyakitimu, Nak. Mama bahkan merasa malu kepadamu," ucap Mala menunduk tidak sanggup melihat wajah polos putranya itu.
"Mama tidak bersalah! mama jangan menangis lagi ya. Rizki sangat menyayangi mama, jadi jika mama menangis itu sama saja mama menyakiti hati Rizki lagi," ucap Rizki menghapus air mata sang mama lalu mencium punggung tangan mamanya itu dengan lembut.
Tanpa sadari, kelakuannya itu membuat air mata Mala kembali mengalir dengan derasnya. Mala memaki dirinya sendiri karena telah menyia-nyiakan putra sebaik anaknya itu. Dia merasa jika dia adalah ibu yang paling hina di dunia ini.
"Maafkan mama, Nak! maafkan mama," hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu.
"Semuanya sudah berlalu. Lebih baik kita lupakan saja, dan kita buka lembaran baru bersama-sama," ucap Sania mengusap lembut punggung Mala.
Sedangkan Bisma hanya diam sambil memperhatikan kedua wanita itu. Sebagai seorang suami, dia harus menghargai perasaan istrinya. Jadi, lebih baik dia diam, dari pada membuat perasaan istrinya itu terluka.
"Terima kasih ya, Sa! kamu memang wanita yang baik. Aku minta maaf, karena aku telah hadir di tengah-tengah cinta kalian," ucap Mala menatap Sania dengan penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa. Justru karena kehadiranmu membuat cinta kami semakin erat. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, setiap orang yang datang kepada kita pasti ada alasannya. Baik untuk menjauhkan yang buruk, ataupun mendekatkan yang baik untuk kita," ucap Sania tersenyum.
"Aku titipkan putraku kepadamu ya. Aku yakin kamu adalah sosok ibu yang dia harapkan selam ini. Aku yakin, kamu pasti bisa memberikan dia kasih sayang yang tidak aku berikan selama ini," ucap Mala menyerah tangan mungil Rizki ke genggaman Sania.
"Aku berjanji. Aku akan menyayanginya seperti putraku sendiri," ucap Sania tersenyum.
Mendengar ucapan Sania, Mala langsung merasa sangat lega. Dia kemudian beralih ke Bisma yang berdiri di samping Sania. Dia menatap pria itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Sebenarnya dia merasa malu, dia merasa sangat malu kepada pria itu. Dia terlalu di penuhi dengan rasa kebencian, sehingga dia rela menghancurkan kebahagiaan Sania dan juga Bisma.
"Aku tidak tau berkata apa! aku hanya bisa mengucapkan kata maaf! Walaupun aku merasa tidak pantas untuk mendapatkan maaf darimu. Aku mohon, jaga Rizki, dia tidak bersalah. Dia juga korban," ucap Mala terisak.
"Sayang! kamu antar mama Mala ke nenek ya. Paman ingin bicara dengan Mama Sania dan juga papa dulu," ucap Rifki.
"Baik, Paman!" ucap Rizki tersenyum lalu mendorong kursi roda Mala turun dari pelaminan itu.
"Sa! selamat ya atas pernikahanmu. Aku minta maaf, karena kehadiran kakakku kalian harus mengalami penderitaan dan juga permasalahan yang tiada henti," ucap Rifki menatap Sania dengan mata berkaca-kaca.
Jujur dia merasa sangat terluka ketika melihat wanita yang dia cintai bersanding dengan pria lain. Namun, dia sadar, jika cintanya tidak apa-apanya dibandingkan kekuatan cinta pasangan itu. Sehingga dia memilih untuk mengubur rasa cintanya dan membiarkan Sania hidup bahagia dengan pria yang dia cintai.
"Tidak masalah, Ki! dia dunia ini tidak ada namanya kebahagiaan tanpa melalui perjuangan terlebih dulu. Kami sudah melupakan semuanya. Sekarang giliranmu untuk melupakannya. Aku harap kamu juga bisa menemukan cinta sejatimu secepatnya," ucap Sania tersenyum.
"Cinta sejatiku adalah kamu, Sa! tapi kamu sudah menjadi milik orang lain. Aku harap kamu bisa bahagia dengan pilihanmu," batin Rifki sambil menatap lekat Sania.
"Arghh! ternyata kakak memiliki sahabat yang sangat tampan. Kenapa kakak tidak mengatakannya kepadaku?" teriak Aulia naik ke atas pelaminan ketika melihat sosok pria yang menarik di matanya.
"Ini anak mulai lagi," gumam Bisma memukul keningnya pelan.
"Hai, Kak! kenalkan namaku Aulia, adik sepupu Kak Sania," ucap Aulia memperkenalkan diri.
"Rifki!" ucap Rifki tersenyum.
"Lebih baik kamu pergi saja, sebelum kami terkena masalah setelah ini," bisik Sania mengingat kelakuan adiknya itu.
"Kenapa? sepertinya dia sangat imut, jadi apa salahnya?" ucap Rifki terkekeh kecil.
"Apakah kakak sudah punya pacar?" tanya Aulia tanpa malu.
"Sudah!" ucap Sania langsung menjawab pertanyaan Aulia.
"Kenapa kakak yang menjawabnya? aku tidak bertanya kepada kakak," ucap Aulia ketus.
"Lagipula aku tidak perduli jika kakak punya pacar atau tidak. Karena aku juga memiliki banyak pacar, jadi apakah kakak mau jadi selingkuhanku?"
"Aulia!" ucap Bisma menatap kesal kelakuan putri sahabatnya itu.
"Kenapa kakak marah? kakak cemburu ya? lagipula kakak yang salah, kenapa kakak meninggalkanku dan menikah dengan Kak Sania,"
"Gibran! adikmu membuat ulah lagi," ucap Bisma langsung menghubungi Gibran dengan frustasi.
Bersambung......