Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 63


Aldan duduk di balkon kamarnya seorang diri. Dia menatap rembulan yang begitu indah dengan senyuman yang terus melingkar di wajahnya. Hari pernikahannya tinggal menunggu hari lagi, sehingga membuat pemuda itu semakin tidak sabar untuk duduk di depan penghulu bersama gadis yang sangat dia cintai.


"Jangan mengahayal di tengah malam sendirian. Nanti ayam tetangga pada kena penyakit lho," ucap Wijaya melihat putranya itu yang tersenyum seorang diri.


"Papa menganggu saja. Padahal aku lagi ngebayangin bagaimana rumah tanggaku dengan calon mantu papa," ucap Aldan tersenyum kecil.


"Hem! papa tau. Ternyata putra papa sedang kasmaran," ucap Wijaya tersenyum lalu duduk di samping putranya itu.


Mendengar ucapan papanya, Aldan hanya tersenyum kecil. Sudah lama dia tidak merasakan kebahagiaan seperti ini. Selama ini dia hanya bisa memendam perasaannya kepada Yuki. Namun, akhirnya mereka sebentar lagi akan disatukan dengan ikatan suci pernikahan. Walaupun sempat di halangi dengan tembok yang begitu besar yang tercipta di tengah-tengah mereka. Akan tetapi, akhirnya mereka bisa meruntuhkan tembok itu dengan penuh kesabaran dan juga perjuangan.


"Kau sangat mencintai Yuki?" tanya Wijaya melihat kebahagiaan yang terus terpancar di wajah putranya itu.


"Ia, Pa! aku sangat mencintainya. Bahkan sejak pertama kali melihatnya, aku merasa jika adalah tulang rusukku yang telah hilang satu. Walaupun aku sempat tidak yakin jika aku bisa hidup bersamanya. Tapi berlahan Allah menunjukkan jika takdir yang telah di ciptakan untukku, akan tetap menjadi milikku. Walaupun aku sempat patah semangat dan tidak yakin akan bisa memilikinya," ucap Aldan menunduk.


"Lalu kenapa kau tidak mau mengatakannya sejak awal? kau tau sendiri jika Yuki juga sangat mengagumimu sejak kecil. Jika kau menyatakannya kepada papa, sudah pasti papa sejak dulu melamarnya untukmu,"


"Tidak semudah itu, Pa! Yuki masih sangat muda, sedangkan mama sudah memaksaku menikah sejak lama. Mana mungkin dulu aku mengatakan jika aku ingin melamar anak sekolah," ucap Aldan terkekeh kecil.


"Bukankah sekarang kau juga akan menikahi anak kulihan?"


"Ia juga, Sih! tapi mungkin takdir kami di satukan sekarang, Pa."


"Kau benar juga! hidup memang memiliki jalan masing-masing. Kau sangat mencintai Yuki, tetapi mama terus memaksamu menikah dengan Gresia. Tapi akhirnya kau malah menikah dengan Yuki, tanpa menyakiti persaan mamamu. Memang lika-liku kehidupan ini sangat memusingkan," ucap Wijaya terkekeh kecil.


"Memang jodohku adalah Yuki, jadi walaupun mama menyuruhku untuk menikah dengan Gresia. Tetap saja aku akan menikah dengan Yuki, Pa. Karena setiap manusia yang telah di pilihkan oleh Allah, tidak akan bisa di pisahkan oleh manusia."


"Kau benar! Tumben anak papa pintar seperti ini."


"Memang anak papa pintar sejak lahir," ucap Aldan penuh kebangaan.


Mendengar tingkat kenarsisan putranya itu, Wijaya hanya terkekeh kecil. Ada rasa syukur di hatinya, karena akhirnya dia dan putranya bisa semakin akrab seperti ini. Dia sadar, bukan hanya sebagai seorang papa, dia juga harus bisa menjadi sosok sahabat untuk putranya itu. Karena keadaan rumah yang harmonis adalah surga untuk semua penghuninya.


...----------------...


Sama seperti Aldan, Yuki juga sedang menikmati keindahan rembulan malam dari balkon kamarnya. Namun, sangat berbeda dengan Aldan yang terlihat sangat bahagia menunggu hari H pernikahan mereka. Yuki malah sedang menghawatirkan keadaan sahabatnya Sania.


Dia takut setelah menikah dia tidak bisa lagi menjadi sahabat yang baik untuk gadis itu. Apalagi mengingat keadaan sahabatnya itu yang sedang berada di dalam fase keterpurukan. Dia takut jika sahabatnya itu jatuh kedalam lembah keterpurukan yang lebih dalam lagi.


"Calon manten sedang melamun rupanya? jangan terlalu sering melamun, nanti aura kecantikanmu menjadi terkubur," ucap Wildan mendekati putrinya itu.


"Papa!" ucap Yuki memayunkan bibirnya.


"Putri papa sedang memikirkan apaan, Sih? sepertinya sangat serius."


Mendengar pertanyaan sang papa, Yuki langsung membenarkan posisi duduknya. Dia membuang napasnya kasar lalu menyandarkan kepalanya di bahu kekar sang papa. Melihat itu, Wildan bisa menebak jika putrinya itu sedang ada masalah. Sebagai seorang papa, dia akan menjadi pendengar yang baik untuk putri kecilnya itu.


"Pa! setelah papa dan mama menikah, apa mama masih bisa berkumpul dengan sahabatnya?" tanya Yuki menatap lekat sang papa.


"Tentu saja! bahkan sampai sekarang mamamu masih berkumpul dengan para sahabatnya. Apa kau lupa, jika seorang sahabat adalah saudara untuk kita. Kau lihat saja papa dengan para pamanmu, kami bersahabat sejak lama. Bahkan sampai sekarang kami semua tetap bersahabat. Bahkan persahabatan kami semakin lama semakin erat. Kami semua sudah seperti saudara, yang selalu ada antara satu dengan yang lainnya."


"Aku menghawatirkan keadaan Sania, Pa. Aku takut dia semakin frustasi atas keadaannya. Walaupun aku tau dia adalah wanita kuat. Tapi tetap saja dia manusia biasa yang mempunyai sisi kelemahan dan juga rasa putus asa," ucap Yuki menunduk sedih.


Mendengar ucapan putrinya itu, Wildan langsung membuang napasnya kasar. Dia bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati pagar dan menatap rembulan yang sedang bersinar di depannya dengan tatapan kosong. Sama seperti Yuki, dia dan sahabatnya yang lain juga menghawatirkan keadaan Sania. Apalagi melihat sikap Sania yang menjadi sangat tertutup. Jadi mereka semakin sulit untuk menebak bagaimana suasana hati gadis itu.


"Setiap manusia memang di uji dengan masalah yang berbeda-beda. Ada yang di uji dengan harta, keluarga, pekerjaan, bahkan dengan cinta. Tapi percayalah, Allah tidak akan memberikan cobaan kepada pundak yang salah. Karena sebelum memberikan cobaan itu, dia telah mempertimbangkan apakah hambanya mampu untuk menghadapinya. Dan papa yakin Sania pasti bisa menghadapi semua ini," ucap Wildan dengan penuh keyakinan.


"Tapi, Pa!"


"Kau jangan terlalu memikirkan masalah ini. Kau cukup memberikan dukunganmu kepada Sania. Biarkan dia melakukan apa yang dia mau, kau cukup memperhatikannya dari kejauhan saja. Karena papa yakin, dia pasti mempunyai cara untuk menghadapi semua masalahnya. Papa mengenalnya sejak kecil, jadi papa yakin dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan menghancurkan kehidupannya," ucap Wildan dengan penuh keyakinan.


"Papa benar! Sania adalah gadis yang kuat. Pasti dia bisa menghadapi semua ini dengan baik. Hanya saja kita harus selalu mendukungnya dan memberikan perhatian kita kepadanya," ucap Yuki tersenyum.


"Anak pintar! sekarang kau istirahatlah. Besok kau harus kuliah. Jangan terlalu sering begadang, karena itu tidak akan baik untuk kesehatanmu," ucap Wildan mengacak-acak rambut putrinya itu.


"Siap, Pa! papa juga istirahatlah. Besok papa juga harus bekerja."


"Siap, Bos! ingat jaga kesehatanmu. Karena sebentar lagi kau harus bergadang untuk membuat cucu untuk papa,"


"Papa, mesum!"


"Ha... ha... sebelum itu terjadi, papa dan mama yang mewakilinya terlebih dulu ya,"


"Papa keluar!" Yuki langsung mendorong tubuh papanya itu keluar dari kamarnya.


Namun, saat dia ingin menutup pintu, papanya itu malah kembali lagi.


"Olahraga malam! pasti sangat nikmat,"


"Mama! suamimu ini belum di kasih obat,"


"Enak saja! kau kira papa gila, Apa?"


"Papa tidak gila. Tapi tidak waras!" ucap Yuki sambil membanting pintu.


"Enak saja, pria sekeren papa di bilang tidak waras," oceh Wildan mengomel seorang diri.


"Sayang! aku minta jatah malam," ocehnya kembali sambil berlari menuju kamarnya.


Bersambung.....