
Mala terdiam melihat keadaan Yuki yang sedang duduk di atas bangsalnya. Sungguh kejam, dia benar-benar kejam, dia telah menghilangkan hal yang paling berharga dalam hidup wanita itu. Di mana, dia telah menciptakan penderitaan yang sangat besar kepada wanita yang tidak bersalah karena kebodohannya. Kini Yuki tidak bisa lagi melihat indahnya dunia ini, karena ulahnya.
Menyadari kebodohan yang telah dia buat, Mala hanya bisa meneteskan air matanya penuh penyesalan. Dia benar-benar menyesal karena telalu mempercayai apa yang dia pikirkan, tanpa mau mendengarkan ucapan kedua orang tua dan juga adiknya. Kata maaf! rasanya tidak cukup atas semua kesalahan yang dia buat selama ini.
"Tuan Wildan! atas nama putriku, aku minta maaf sebesar-besarnya. Aku minta maaf! aku minta maaf, karena aku tidak bisa mendidik putriku dengan baik. Sehingga dia tumbuh menjadi wanita...," ucap Alvando menitikkan air matanya tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi.
Melihat sang papa yang menangis di depan semua orang, Mala langsung menatap papanya itu dengan tatapan tidak percaya. Dia tidak menyangka jika papa yang dia kenal begitu kejam dan tegas, ternyata bisa menangis di depan semua orang. Bahkan itu karena dirinya.
"Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Kita semua pasti memiliki kesalahan, tapi yang membedakannya hanya dua yaitu penyesalan dan keangkuhan. Ada yang menyesal karena kesalahan yang dia buat, ada juga yang merasa menang setelah dia berhasil melakukan kesalahannya. Hingga akhirnya dia tidak pernah sadar sampai ajal menjemputnya," ucap Wildan tersenyum.
"Tapi putri anda adalah salah satu manusia yang beruntung. Dia telah di berikan kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya, dan dia mengunakan kesempatan itu dengan baik. Aku bangga kepadanya," ucap Wildan tersenyum sambil menatap bangga Mala.
Mendengar ucapan Wildan, Mala langsung menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya. Apa yang dikatakan semua orang benar, mereka adalah orang baik. Mereka tidak akan berbuat jauh jika orang itu yang memancingnya terlebih dulu. Jujur! jujur dia merasa sangat malu, bahkan dia tidak tau dimana harus meletakkan wajahnya saat ini.
"Apa yang di katakan Kak Randy benar. Kalian tidak bersalah. Maafkan aku, maafkan aku yang tidak bisa mengontrol pikiranku. A... aku terlalu di butakan oleh dendam. Sehingga aku tidak bisa melihat kebenaran," ucap Mala menangis kesegukan.
"Randy?" tanya Nyonya Alvando ibu Mala.
Satu hari yang lalu;
Mala duduk terdiam di dalam kamarnya, dia menatap ke arah kaca jendela dengan tatapan kosong. Ntah apa yang sedang berada di dalam pikiranya, tetapi pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Namun, tiba-tiba lamunannya di sadarkan karena mendengar suara pintu yang terbuka. Dia melihat seorang pria berjalan memasuki ruangannya di ikuti oleh anak perempuan yang cantik, Kira-kira umurnya dua belas tahun.
"Kak Randy!" ucap Mala menitikkan air matanya melihat kedatangan pria itu.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Randy tersenyum lalu duduk di tepi bangsal Mala. Dia menatap keadaan wanita itu dengan tatapan penuh kasihan.
"Sayang! kenalkan ini Tante Mala, teman papa sewaktu remaja," ucap Randy menatap Cheesy putrinya.
"Tante!" ucap Cheesy tersenyum sambil mencium punggung tangan Mala.
Jujur dia tidak mau lagi mengingat kenangan yang begitu menyakitkan untuknya dan juga putrinya itu. Namun, dia harus mengingatnya kembali agar Mala bisa tau kejadian yang sebenarnya. Dia tidak mau wanita itu terus menerus di hantui rasa dendam yang akan menghancurkan hidupnya sendiri.
"Maaf karena aku terlalu lama menemuimu, karena aku juga baru kembali ke kota ini. Aku ada tugas di luar kota, sehingga aku tidak bisa langsung menemuimu saat kau menujukkan dirimu di depan para sahabatku," ucap Randy menatap kaki Mala yang telah cacat.
"Kamu ingin mengetahui yang sebenarnya 'kan? aku akan menceritakannya. Walaupun aku harus menyakiti perasaanku dan juga putriku, tapi ini demi kebaikan kita semua," ucap Randy menatap lekat putrinya yang kini telah tumbuh remaja.
Belum menceritakannya, mengingatnya saja air mata Randy langsung mengalir dengan deras. Melihat itu, Mala hanya bisa terdiam sambil menatap Randy. Dia tau ini sangat berat untuk pria itu, tetapi dia juga ingin tau kejadian yang sebenarnya. Dia tidak tau harus mempercayai siapa saat ini.
"Dua belas tahun lalu, aku dan mendiang istriku sangat bahagia, karena tingal menghitung hari lagi kami akan melihat putri kami lahir kedunia ini. Bahkan kami sudah mempersiapkan semua perlengkapan untuknya. Semuanya, tidak ada yang tertinggal satupun. Tapi! pada hari itu, mimpi yang telah kami bangun selama ini hancur dalam sekejap. Istriku meninggal, dia meninggalkan putri kami yang terpaksa di angkat dari rahimnya sebelum waktunya. Kamu tau kenapa putriku terpaksa di lahirkan sebelum waktunya?" tanya Randy menatap Mala dengan mata memerah.
"Tidak!" ucap Mala menggeleng pelan.
"Karena kecelakaan yang di ciptakan oleh Mila, kakak sepupumu.Dia ingin membunuh istri dan anakku hanya untuk mendapatkan diriku. Dia rela melakukan apapun agar bisa mendapatkanku, bahkan menyingkirkan siapapun yang ada di dekatku," ucap Randy mengepalkan tangannya geram.
"Apa kamu tau? setelah membunuh istriku, dia tidak berhenti begitu saja. Dia juga ingin menghancurkan istriku Rania, wanita yang telah di percayakan Tika untuk menjagaku dan juga putriku. Apa kami harus diam setelah semua yang dia lakukan?" tanya Randy menatap Mala dengan tajam.
"Papa!" ucap Cheesy mencoba memenangkan Randy.
"Papa baik-baik saja. Kamu tidak perlu menagis seperti itu," ucap Randy tersenyum sambil menghapus air mata putrinya. Dia tau perasaan putrinya juga sangat hancur mendengar apa yang telah terjadi kepada ibu kandungnya. Namun, dia tidak punya pilihan lain, dia tidak mau ada korban lagi atas masa lalu mereka.
"Kamu lihat putriku? dia harus tumbuh tanpa belaian kasih sayang dari ibu kandungnya? itu karena siapa? karena kakakmu," ucap Randy mengeraskan rahangnya.
"Sekarang terserah kepadamu. Kamu mau terus membalaskan dendammu itu, atau berhenti di sini. Tapi asal kamu tau, kami tidak pernah membunuh kakakmu. Kami hanya memberikan hukuman atas semua perbuatannya selama ini. Jika kami mau, kami bisa menyiksanya terlebih dulu dan membunuhnya dengan tangan kami sendiri. Tapi sayang, kami tidak sama sepertinya. Kami masih punya hati nurani, sehingga kami hanya menceploskannya kedalam penjara. Jadi! jika kamu bertanya kami bersalah atau tidak, maka jawabannya adalah tidak. Kami hanya menuntut keadilan untuk mendiang istriku Tika, dan juga putriku yang sekarang berdiri di hadapanmu," ucap Randy dengan tegas lalu membawa Cheesy keluar dari sana, sebelum dia tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
Kembali ke hari ini.
"Bersambung.......