Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 86


"Kak! cepat bangun. Aku ingin menjenguk Rizki," ucap Yuki melihat Aldan yang masih betah bergulung di bawah selimutnya.


"Sayang! aku masih ngantuk," regek Aldan menarik selimutnya kembali.


"Baiklah! kakak lanjutkan saja tidurnya. Biar aku pergi sendiri saja," ucap Yuki mode ngambek sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Ia! kakak bangun. Kakak akan segera mengantarmu," ucap Aldan melompat dari tempat tidurnya lalu berlari menuju kamar mandi mengejar istrinya itu.


"Katanya masih ngantuk! ya sudah, tidur saja sana."


"Gitu saja ngambek! nanti jelek lho," ucap Aldan memeluk tubuh istrinya itu sambil mencium bibir manyun wanita itu.


"Biarin!"


"Nanti kalau jelek, kakak cari istri baru lagi gimana?"


"Apa! ya sudah kakak cari saja. Ngak usah nunggu Yuki jelek, sekarang saja tidak apa-apa. Yuki juga masih bisa cari suami baru yang jauh lebih tampan dari kakak," oceh Yuki dengan emosi yang meledak.


"Tidak akan bisa,"


"Kenapa tidak bisa?"


"Karena aku tidak akan pernah membiarkannya. Kamu adalah milikku, jadi sampai kapanpun akan menjadi milikku," ucap Aldan memeluk erat istrinya itu.


Dia menenggelamkan wajahnya di leher jenjang sang istri sambil menghirup aroma tubuh istrinya itu. Dia terus memeluk istrinya itu dengan erat, seakan dia tidak rela melepaskan pelukannya walaupun hanya sedetik saja. Ntah mengapa sejak semalam dia terus ingin menempel dengan istrinya itu. Bahkan dia terus bergelut manja, seakan sesuatu akan terjadi kepada sang istri yang sangat dia cintai itu.


"Kak! lepaskan. Dari semalam kakak terus memelukku seperti ini," ucap Yuki melepaskan pelukan Aldan.


"Aku juga tidak tau, Sayang. Tapi jujur, aku sangat takut kehilanganmu. Aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Tapi aku tidak tau kejadian apa itu," ucap Aldan menatap lekat wajah istrinya.


Mendengar ucapan Aldan, Yuki hanya tersenyum kecil. Dia menangkupkan kedua tangannya di wajah Aldan sambil menatapnya dengan lekat.


"Kakak tidak perlu khawatir seperti itu. Aku akan baik-baik saja. Karena ada pangeran gagah yang selalu ada di sampingku, dia akan selalu melindungiku dari segala mara bahaya yang datang mendekat," ucap Yuki tersenyum.


"Kalau boleh kakak tau, siapa pangeran itu?" tanya Aldan mengenggam tangan wanita itu, lalu menciumnya dengan lembut.


"Aldan Arya Wijaya, musuh bebuyutan mamaku," ucap Yuki terkekeh kecil.


"Sayang! jangan ungkit masalah itu lagi. Aku tidak suka," ucap Aldan membuang napasnya kasar, ketika mengingat pertemuan pertamanya dengan Shinta yang kini menjadi mama mertuanya.


"Kenapa? aku akan selalu mengingatnya. Karena itu adalah pertemuan pertama kita," ucap Yuki tersenyum.


"Sudahlah! lebih baik kita mandi. Tapi sebelum mandi," ucap Aldan menatap tubuh Yuki dengan lekat.


"Tapi apa?" tanya Yuki refleks menutup tubuhnya.


Namun, sayangnya dia sudah terlambat. Aldan terlebih dulu menjajah tubunnya dengan lembut, sehingga mereka menunda ritual mandi mereka.


...----------------...


Aldan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tangannya yang satu fokus memutar pengemudi, sedangkan yang satu lagi terus mengenggam tangan Yuki. Dia terus melirik wanita itu sambil tersenyum kecil. Bayangan aksi mereka di dalam kamar mandi tadi terus terbayang di dalam pikirannya. Sehingga membuatnya terus tersenyum nakal menatap wanita yang ada di sampingnya itu.


"Kakak tidak perlu melihatku seperti itu. Lebih baik kakak fokus mengemudi saja," ucap Yuki ketus.


"Jadi istri nggak boleh ketus gitu. Ingat ridho suami adalah ridho Allah juga," ucap Aldan mencubit kecil hidung Yuki.


Setelah sampai di rumah sakit, Aldan langsung memasuki perkarangan rumah sakit tempat Rizki di rawat. Namun, saat turun dari mobil, Yuki melihat sebuah penjual kaki lima di seberang jalan.


"Kak! kakak tunggu sebentar ya. Aku mau ke sana dulu," ucap Yuki berlari menyebrangi jalan.


Tinnn....


Bruk.....


Argh.....


Yuki....


Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arah Yuki. Namun, sebelum mendekat, tiba-tiba truk besar muncul dari persimpangan jalan yang tidak jauh dari keberadaan Yuki. Sehingga mobil itu menabrak truk itu dan terguling di pasar tepat di depan Yuki.


Aldan langsung berlari mengejar istrinya itu. Kejadian tadi begitu cepat, sehingga dia tidak bisa melihat kejadian itu dengan jelas. Dia hanya melihat istrinya sudah tergeletak di tengah jalan dengan tidak sadarkan diri. Melihat itu, semua orang yang ada di sana langsung berlarian menuju tempat kecelakaan itu. Mereka langsung mengevakuasi semua korban kecelakaan itu.


"Dokter! tolong," teriak Aldan berlari ke rumah sakit sambil menggendong tubuh Yuki.


Mendengar itu, para suster dan dokter langsung berhamburan keluar. Mereka langsung memberi pertolongan kepada Yuki dan juga para korban kecelakaan itu. Mendengar ada kecelakaan di depan rumah sakit itu, Bisma yang penasaran langsung keluar untuk melihatnya. Namun, tiba-tiba dia terkejut ketika melihat Yuki tergeletak di brankar dorong, di ikuti oleh Aldan dan juga beberapa suster.


"Yuki!" teriak Bisma langsung menghampiri putri sahabatnya itu. Dia menatap lekat tubuh Yuki, sambil mendorong brankarnya membantu para suster itu.


"Maaf! kalian tunggu di luar ya," ucap Dokter membawa Yuki ke ruang UGD.


Bisma dan Aldan hanya mengangguk lalu memilih untuk menunggu di luar. Bisma menatap Aldan yang terlihat begitu cemas, dia mendekati pria itu dan berusaha untuk memenangkannya.


"Kau tenanglah! Yuki pasti baik-baik saja," ucap Bisma mengusap punggung pria itu.


Dia melihat tidak ada luka di tubuh Yuki, jadi dia bisa menyimpulkan jika wanita itu baik-baik saja. Mungkin dia hanya syok berat, sehingga membuatnya menjadi tidak sadarkan diri.


"Tidak! aku merasakan jika ada sesuatu yang terjadi kepadanya. Aku tidak tau apa itu, tapi!" ucap Aldan frustasi.


Dia duduk di kursi sambil menangis kesegukan. Dia menyatukan kedua tangannya sambil menitikkan air matanya. Dia sangat menghawatirkan keadaan istrinya itu. Walaupun dia tidak melihat luka pada istrinya, akan tetapi dia bisa merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi kepada istrinya itu.


"Kau tenanglah! tenangkan dirimu. Berdoalah agar Yuki baik-baik saja," ucap Bisma berusaha menenangkan Aldan.


"Kak Aldan! bagaimana keadaan Yuki?" tanya Sanja berlari mendekati kedua pria itu.


Saat mendengar ada kecelakaan di luar, Sania tiba-tiba merasakan sesuatu yang terjadi kepada Yuki. Sehingga dia langsung keluar untuk melihat kejadian itu. Namun, salah seorang suster mengatakan jika salah satu korban dari kecelakaan itu adalah sahabatnya. Sehingga membuat Sania semakin cemas lalu berlari menuju ruang rawat Yuki yang di katakan suster itu.


"Dia masih di dalam. Kita tunggu saja," ucap Bisma menenangkan Sania.


Sania hanya mengangguk kecil lalu duduk di samping Aldan. Dia menatap pria itu terlihat sangat cemas. Bahkan air matanya terus menetes membasahi wajah tampannya. Melihat itu, Sania tau jika pria itu sangat mencintai sahabatnya.


"Bagaimana keadaan Yuki, Dok?" tanya Bisma ketika melihat dokter yang memeriksa Yuki keluar.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Aldan langsung mendekati dokter itu.


Melihat kecemasan yang terpancar dari mata Aldan, Dokter itu hanya terdiam. Dia menarik napasnya dalam-dalam lalu menatap ketiganya secara bergantian.


"Mohon maaf! kami sudah berjuang semampu kami. Tapi, sangat di sayangkan. Kedua mata saudari Yuki mengalami kebutaan, karena bening pecahan kaca yang masuk kedalam kedua kelopak matanya,"


Bersambung.....