Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 102


Hari demi hari berlalu, kehidupan Sania dan Yuki telah di penuhi dengan sejuta kebahagiaan. Kedua sahabat itu akhirnya menemukan kebahagiaan, di kehidupan baru mereka. Dimana mereka diperlakukan begitu istimewa oleh suami mereka masing-masing, sehingga membuat perjuangan mereka selama ini terasa tidak sia-sia.


"Aku tidak pernah menyangka jika kita bisa hidup bahagia bersama pria yang selama ini kita kagumi. Walaupun kita harus menghadapi begitu banyak cobaan, tapi akhirnya kita bisa melewati semuanya dengan mudah," ucap Sania tersenyum bahagia.


"Kamu benar, Sa! Setiap usaha pasti akan membuahkan hasil. Kamu ingat tidak? Dulu mama sangat menentang cintaku kepada Kak Aldan. Begitu juga dengan dirimu, dulu paman juga menentang hubunganmu dengan Kak Bisma. Tapi lihatlah! Semua usaha mereka sia-sia. Kita tetap di satukan dengan cinta kita, karena yang telah di takdirkan untuk kita akan selalu kembali kepada kita," ucap Yuki tersenyum.


"Walaupun pernikahan kami sedang di terpa cobaan yang begitu berat," ucap Yuki menunduk sambil mengelus perutnya yang sudah membesar.


Usia kehamilan Yuki saat ini telah memasuki sembilan bulan, dimana dia sedang menanti kehadiran buah hatinya yang tinggal menunggu hari. Tentu saja itu adalah saat yang sangat membahagiakan untuk seorang wanita. Sebentar lagi dia akan melihat buah hatinya akan terlahir ke dunia ini. Namun, itu semua hanya ada dalam bayangan Yuki, karena dia tidak akan bisa melihat tubuh mungil itu saat hadir ke dunia ini.


Sania yang tau bagaimana perasaan sahabatnya itu, langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang. Dia mengelus lembut rambut panjang Yuki sambil memberikan dukungan kepada sahabatnya itu. Jujur hati Sania juga sangat sakit melihat keadaan Yuki saat ini, tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kamu memang tidak bisa melihatnya dengan kedua matamu, tapi kamu bisa melihatnya dengan mata hatimu. Ingat, Ki! ikatan batin seorang ibu kepada anaknya sangatlah kuat. Jadi, walaupun kamu tidak bisa melihatnya, pasti kamu bisa melukis indah wajahnya di dalam hatimu," ucap Sania dengan lembut.


"Aku mohon jangan pernah patah semangat. Pasti ada alasan di balik ujian yang sedang menghampirimu. Berdoalah agar kita secepatnya mendapatkan pendonor mata untukmu," ucap Sania kembali.


Yuki hanya bisa tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Dia menggengam tangan sahabatnya itu dengan erat, sebagai kekuatan untuknya. Dia berusaha tersenyum agar sahabatnya itu tidak perlu mencemaskan keadaannya saat ini. Walaupun semua orang merawatnya dengan baik, bahkan mereka juga menunjukkan indahnya dunia kepada Yuki.


Namun, tetap saja Yuki ingin melihat dunia ini kembali. Dia ingin melihat senyuman suami, sahabat, beserta seluruh keluarga yang selalu memberikan dukungan kepadanya. Karena dia tau, setelah pengelihatannya menghilang, semua senyuman kebahagiaan seluruh keluarga dan juga sahabatnya saat melihatnya juga ikut menghilang.


...----------------...


"Apa! jadi semua saham milik papa yang tertinggal sudah terjual semua?" tanya Gresia menatap mamanya tidak percaya.


"Ia! kita sudah tidak memiliki apapun lagi. Semua tabungan mama sudah habis. Bahkan apartemen juga sudah mama jual. Kita tinggal memiliki rumah ini dan juga mobil. Jadi kita harus menjual mobilmu," ucap mama Gresia.


"Tidak! Aku tidak mau menjual mobilku. Lebih baik mama jual rumah ini saja."


"Jika kita menjual rumah ini, kita mau tinggal dimana? Perusahaan Alvando juga tidak memakai jasamu lagi sebagai model perusahaan mereka," ucap mama Gresia.


Setelah Mala kembali ke kediaman kedua orang tuanya, kontrak kerja Gresia dan perusahaan keluarga Alvando juga di putuskan. Sehingga membuat mereka harus hidup susah dan menjual aset mereka yang tertinggal untuk kebutuhan hidup mereka. Apalagi dengan gaya hidup mereka yang begitu mewah, membuat semua uang mereka cepat habis.


"Lagipula kamu juga sangat bodoh. Padahal kamu sudah lama menjadi model perusahaan mereka, tetapi kenapa bisa kamu tidak tau jika Mala dan adiknya itu adalah putra Alvando?"


"Mana aku tau, Ma! Aku memang tau jika Tuan Alvando memiliki dua orang anak. Tapi mana aku tau jika anaknya itu adalah Mala dan juga adiknya itu," ucap Gresia.


Selama Gresia melakukan pemotretan di perusahaan papa Mala, dia memang tidak pernah melihat Rifki di sana. Sehingga dia tidak tau jika orang yang selama ini dia hina adalah anak dari pemilik perusahaan itu.


"Sudahlah! tidak ada gunanya kita terus berdebat seperti ini. Lebih baik kita pikirkan bagaimana caranya agar kita bisa makan besok," ucap Gresia kembali.


"Bukankah keluarga Wijaya sedang mencari pendonor mata untuk Yuki? Mama dengar mereka akan memberikan berapapun untuk pendonor yang mau memberikan matanya untuk wanita itu," ucap mama Gresia.


"Apa mama mau mendonorkan mata mama?" tanya Gresia binggung.


"Enak saja! Jika mama buta pasti kamu tidak mau mengurus mama. Bisa-bisa kamu bawa kabur uang itu dan menelantarkan mama di jalanan. Tapi jika kau,"ucap mama Gresia menatap Gresia dengan intens.


" Enak saja! Aku tidak mau. Lebih baik aku jual diri saja daripada harus menjual mataku," ucap Gresia ketus.


"Mama punya ide! Sekarang kamu ikut aku," ucap mama Gresia menarik tangan putrinya itu.


"Kemana? Jangan bilang mama mau memaksaku untuk menjual mataku,"


"Tidak akan! Ada cara lain agar kita memiliki uang banyak. Kamu ikut mama saja," ucap mama Gresia melangkahkan kakinya.


"Mama bilang kemana dulu,"


Mama Gresia hanya bisa membuang napasnya kasar mendengar ucapan putrinya itu. Dia kembali mendekati Gresia sambil membisikkan sesuatu, sehingga membuat mata Gresia langsung membinar dalam seketika.


"Mama memang pintar! kenapa mama tidak kasih tau sejak awal," ucap Gresia tersenyum penuh kemenangan.


Bersambung.......