
Aldan duduk di samping Yuki sambil terus mengenggam tangan wanita itu. Dia terus menatap wajah sang istri dengan tatapan penuh kesedihan. Dia tidak tau harus mengatakan apa kepada istrinya itu saat sadar nanti.
"Sayang! kamu makan dulu ya. Sejak semalam kamu tidak ada makan sama sekali," ucap Bu Wijaya mengusap punggung putranya itu.
"Tidak, Ma! Aldan tidak lapar," ucap Aldan tanpa menatap ke arah sang mama.
"Sayang! kamu tidak boleh seperti ini terus. Ingat, kamu juga harus jaga kesehatanmu. Jika istrimu tau kamu tidak makan sama sekali, pasti dia akan merasa bersalah. Karena dirinya kamu menyakiti dirimu sendiri," ucap Bu Wijaya mencoba menahan air matanya.
Dia tau jika putranya itu sangat mencintai Yuki. Pasti saat ini perasaannya sangat hancur melihat keadaan Yuki yang begitu menyedihkan. Namun, dia juga tidak boleh terus terpuruk seperti ini. Dia harus bangkit dan memberikan semangatnya untuk Yuki saat sadar nanti.
"Sayang! coba katakan kepada mama. Apa kau mencintai istrimu?" tanya Bu Wijaya membuang napasnya kasar.
"Kenapa mama bertanya seperti itu? aku sangat mencintai istriku, Ma," ucap Aldan tidak percaya mendengar pertanyaan sang mama.
"Lau kenapa kau seperti ini? kenapa kamu malah menyiksa dirimu sendiri. Lihat keadaan istrimu, dia membutuhkan dukungan kita saat ini. Tapi kamu malah terus-menerus seperti ini. Coba kamu bayangkan jika kamu sakit, siapa yang akan mendukung Yuki? siapa yang akan menemani dan juga merawatnya?" tanya Bu Wijaya menatap kesal putranya itu.
"Mamamu benar, Nak! makanlah, walaupun hanya sedikit. Karena sebentar lagi kamu membutuhkan tenaga yang banyak untuk mendukung Yuki. Jika kamu sakit, siapa yang akan mendukungnya. Memang kami semua ada di sampingnya. Tapi hanya kamu yang bisa mengerti dia. Karena di saat istri sedang sakit, peran suamilah yang paling penting untuk menyembuhkannya," ucap Shinta mendekati menantunya itu.
"Tapi, Ma!"
"Lihatlah istrimu. Dia membutuhkanmu, sekarang kamu makan ya," ucap Shinta mengambil piring yang ada di tangan besannya.
Dia menyuapi Aldan dengan begitu lembut, karena sekarang mama mertuanya yang menyuapinya Aldan tidak berani untuk membantah lagi. Dia menerima setiap suapan yang di berikan Shinta dengan begitu lahapnya. Melihat itu, Bu Wijaya hanya bisa tersenyum hari, dia merasa bahagia karena Shinta bisa menyayangi putranya seperti putra kandungnya sendiri.
Namun, tiba-tiba dia merasakan jika tangan Yuki yang dia pegang mulai bergerak. Melihat itu, Bu Wijaya langsung berlari keluar untuk memanggil dokter. Mendengar Bu Wijaya yang memanggil dokter, Wildan dan Wijaya yang sedang menunggu di luar langsung berlari memasuki ruangan Yuki.
"Maaf! biar saya periksa dulu," ucap dokter mendekati Yuki.
"Anda sedang di rumah sakit, Nyonya. Anda yang tenang dulu ya," ucap dokter mencoba menenangkan Yuki.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Aldan sambil terus mengenggam tangan Yuki.
"Keadaan nyonya baik-baik saja. Perban di matanya juga sudah bisa di buka. Apa kita akan membukanya sekarang?" tanya Dokter itu meminta izin.
Mendengar itu, semuanya langsung saling lempar tatapan. Mereka takut jika mental Yuki akan hancur setelah mengetahui semua ini. Sedangkan Aldan hanya bisa membuang napasnya kasar sambil terus mengenggam tangan istrinya itu. Dia perlahan menganggukkan kepalanya menandakan jika dia setuju.
Melihat persetujuan dari Aldan, Dokter itu langsung bersiap untuk membuka perban di yang menutupi mata Yuki. Melihat itu, semuanya hanya diam sambim terus berdoa agar Yuki bisa menerima kenyataan ini. Setelah membuka perban, dokter memberikan aba-aba agar Yuki membuka matanya secara perlahan. Namun, hasilnya sama saja, wanita itu tidak melihat apa-apa. Semua yang di depannya terlihat gelap.
"Kak! kenapa semuanya terlihat gelap?" tanya Yuki mencoba mencari keberadaan suaminya dengan menggerakkan tangannya.
Melihat itu, Aldan hanya bisa menahan tangisnya. Dia meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya dengan erat. Dia mencoba menarik napasnya pelan dan mengumpulkan semua keberaniannya untuk mengatakan yang sebenarnya kepada wanita itu.
"Sayang! kamu ingatkan kecelakaan yang menimpamu?" tanya Aldan menatap lekat wajah istrinya itu.
"Ia! aku ingat. Ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahku. Tapi tiba-tiba sebuah truk besar keluar dari rumah sakit, sehingga mobil itu menabrak truk itu," jelas Yuki masih mengingat dengan jelas kejadian itu.
"Lalu mobil itu terguling ke arahku, dan serpihan kacanya mengenai matamu," ucap Aldan tidak sanggup lagi membendung air matanya.
Mendengar ucapan suaminya itu, Yuki hanya terdiam dengan air mata yang menetes membasahi wajahnya. Melihat itu, Wildan hanya bisa mengusap wajahnya frustasi. Dia berjalan mendekati putrinya itu lalu memeluknya dengan erat.
"Sehingga aku harus kehilangan pengelihatanku," ucap Yuki lirih dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajahnya.
Bersambung.......