Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 54


"Tumben papa jam segini sudah pulang," gumam Yuki melihat mobil Wildan yang sudah terparkir di halaman rumah.


"Ini mobil siapa? sepertinya bukan mobil para paman kece," gumam Yuki kembali sambil menatap mobil yang terparkir di samping mobil Wildan.


"Non, sudah pulang. Ayo masuk, sudah di tunggu sejak tadi," ucap pak satpam berjalan mendekati Yuki.


"Ini mobil siapa, Paman? apa papa sedang kedatangan tamu?" tanya Yuki.


"Bukan tamu Tuan, Non! tapi tamu, Non Yuki" ucap satpam itu terkekeh kecil.


"Tamuku?" tanya Yuki mengerutkan keningnya binggung.


"Non, tidak usah banya tanya. Lebih baik nona masuk saja, nanti nona juga tau,"


Mendengar ucapan satpam itu, Yuki hanya memutar bola matanya memelas. Dia langsung mengingat ucapan Aldan yang mengatakan jika dia akan datang melamarnya dalam waktu dua jam.


"Tidak mungkin! dua jam untuk menyiapkan acara lamaran. Tidak masuk akal," gumam Yuki menepis pikirannya.


"Apa, Non?" tanya satpam yang mendengar ocehan Yuki.


"Tidak ada, Paman. Paman tolong bawa barang-barang Yuki ya," ucap Yuki tersenyum lalu membawa barang belanjaannya.


"Tumben nona belanja banyak. Lagi banyak duit ya,"


"Yuki baru dapat gaji dari hasil magang, Paman. Hasilnya lumayan besar, jadi Yuki beli hadiah untuk mama dan papa. Lagian Yuki belum pernah membelikan mereka hadiah dari hasil kerja Yuki sendiri," ucap Yuki tersenyum.


"Paman tenang saja. Aku juga beli hadiah untuk paman dan bibi," ucap Yuki kembali.


"Wah! Terima kasih, Non. Non Yuki memang sangat baik. Jadi wajar jika pria tampan itu datang melamar, Non!" ucap pak satpam tersenyum.


"Apa! ngelamar?" tanya Yuki membulatkan matanya terkejut.


"Sudahlah! nona masuk saja dulu," ucap pak satpam membawa barang-barang Yuki dan masuk kedalam rumah.


"Jadi Kak Aldan serius mau ngelamar aku. Mana mungkin dalam waktu dua jam dia bisa menyiapkan semuanya," gumam Yuki panik lalu berlari kecil kedalam rumah.


Dia sudah tidak sabar memastikan apa benar tamu papanya adalah Aldan dan keluarganya yang ingin melamar dirinya. Benar saja! saat memasuki ruang tamu, dia langsung melihat Aldan yang sedang duduk bersama kedua orang tuanya. Tidak lupa dengan beberapa hantaran yang tersusun di atas meja yang akan mereka berikan untuk Yuki.


"Ka... Kak Aldan!" ucap Yuki menatap Aldan dengan tatapan penuh rasa tidak percaya.


"Ayo duduk, Sayang!" ucap Bu Wijaya mendekati Yuki dan mendudukannya di samping Aldan.


"Kalian sangat serasi. Memang jodoh tidak akan ke mana ya, Tuan Wildan?" ucap Wijaya menatap Yuki dan Aldan sambil tersenyum kecil.


"Ha.... ha... ternyata sekarang musuhmu jadi calon menantumu juga ya," ucap Rissa terkekeh kecil lalu bergabung diikuti oleh para papa dan mama kece yang lainnya.


Melihat kedatangan para sahabatnya, Wildan langsung menyambut mereka dengan baik. Beda dengan Sinta yang hanya bisa tersenyum malu mendengar ejekan para sahabatnya. Memang pertemuannya dengan Aldan memang sangat lucu. Bahkan di pertemuan pertama mereka Yuki langsung jatuh cinta kepada Aldan.


"Kalian diamlah! itu semua adalah masa lalu," ucap Sinta memanyunkan bibirnya.


" Ok! kami akan diam. Lagi pula ini adalah hari bahagia. Jadi kita tidak perlu tidak perlu mengungkit masa lalu. Yang penting Yuki dan Aldan bisa bersatu mempererat cinta mereka," ucap Zhia tersenyum.


"Sayangku memang paling pintar," ucap Rayyan mencubit gemas wajah Zhia.


"Ehem! nanti mesra-mesraannya. Ada calon besan," ucap Wildan berdehem kecil melihat kelakuan Rayyan yang tidak pernah melihat tempat.


Melihat keakraban para sahabat itu, Wijaya dan istrinya hanya bisa tersenyum kecil. Wildan memang segaja mengundang para sahabatnya untuk hadir di acara lamaran Yuki. Karena dia tau, jika dia tidak memberitahu mereka, sudah di pastikan mereka semua akan merajuk bagaikan anak kecil.


Acaranya memang di adakan dengan begitu cepat, karena keluarga Wijaya yang menghubunginya secara tiba-tiba. Sehingga Wildan tidak ada persiapan apapun. Untuk saja dia memiliki sahabat yang cepat sigap, jadi mereka bisa berkumpul seperti sekarang ini. Bahkan Rayyan juga langsung memesan makanan dari restoran ternama agar mereka bisa makan bersama setelah acara lamaran selesai.


"Mohon maaf, karena kami memberitahu kalian secara mendadak. Seperti yang kalian tau, aturan kami akan datang besok pagi. Tapi karena putra kami sudah tidak tahan lagi, akhirnya kami memilih untuk melakukannya sekarang juga. Kalian tau sendiri 'kan bagaiamana anak muda jika jatuh cinta," ucap Wijaya tersenyum kecil.


"Tidak masalah Tuan Wijaya! kami tau putri kami sangat cantik. Pasti Nak Aldan takut di tikung 'kan?" ucap Raffi mengoda Aldan.


"Paman benar! putri paman sangat cantik. Jadi jangan sampai telat sedikit, nanti keduluan orang lain," ucap Aldan tersenyum.


"Bagaimana, Nak? semua ada di tanganmu," ucap Sinta bertanya kepada Yuki yang sejak tadi diam menunduk di samping Aldan.


Mendengar pertayaan Sinta, Aldan langsung menatap Yuki yang ada di sampingnya. Dia berharap Yuki akan menerima lamarannya, dan mau membangun masa depan bersamanya. Memang ini terlalu cepat untuk Yuki, apalagi mengingat Yuki yang masih kuliah. Namun, Aldan tidak mau menunda-nunda hal baik seperti ini. Lagi pula dia sudah tau jika Yuki mencintainya, jadi Aldan sudah sangat yakin untuk membangun rumah tangga bersama Yuki.


"Tentu saja aku menerimanya! kakak adalah pria idamanku. Jadi aku akan menerima lamaran kakak dengan senang hati,"


"Yang di tanya bukan kau, tapi Yuki," ucap semua orang serentak.


"Oh gitu ya! maaf," ucap Rayyan terkekeh tanpa dosa.


Bersambung.....