Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 95


"Anda memang bijaksana, Tuan. Saya harap setelah permasalahan ini hubungan kita tetap berjalan seperti biasa. Begitu juga dengan para sahabat anda. Saya harap mereka juga mau memaafkan putri saya," ucap Alvando penuh permohonan.


"Ini adalah permasalahan di antara putri kita. Jadi biarkan ini menjadi urusan mereka. Bagiku siapa yang bersalah dialah yang pantas mendapatkan hukumannya. Jadi masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan kita. Tapi," ucap Wildan menatap putrinya.


"Tapi apa, Tuan?"


"Saya ingin putri anda mendapatkan hukuman atas apa yang dia lakukan," ucap Wildan menatap Mala.


"Tidak!" ucap Yuki seketika, sehingga semua orang langsung menatap kearahnya.


"Tidak, Pa! Mala tidak bersalah. Dia juga korban dari kecelakaan itu," ucap Yuki yang telah mengetahui bagaimana keadaan Mala saat ini.


"Aku bukan korban, Ki! aku adalah dalang di balik kecelakaan itu. Aku berencana untuk membunuhmu," ucap Mala menatap bingung Yuki.


"Aku tau! tapi kamu gagal bukan? karena Allah melindungiku dan menghalangimu untuk berbuat dosa," ucap Yuki tersenyum.


"Maaf, Mal. Aku bukan sok suci, tapi aku percaya kuasa Allah. Kamu memang berencana, tapi Allahlah yang menentukannya. Jadi hilangnya penglihatanku bukan karenamu, begitu juga dengan dirimu," ucap Yuki tersenyum, sehingga membuat hati Mala langsung tertampar.


Pembalasan atas kejahatan seseorang bukan hanya memberikan dia hukuman. Karena, hukuman yang di berikan manusia tidak ada apa-apanya dibandingkan hukuman yang di berikan oleh manusia. Lebih baik memaafkan dan membuatnya menyadari kesalahannya, dari pada harus menanam dendam yang hanya akan membuat hidup kita menjadi hancur.


"Aku memaafkanmu. Aku juga tidak akan memenjarakanmu, tapi aku punya satu permintaan," ucap Yuki.


"Apa?" tanya Mala mengerutkan keningnya bingung.


"Aku mohon lupakan dendammu. Hiduplah dengan damai tanpa ada dendam yang menghantuimu," ucap Yuki tersenyum, sehingga membuat air mata Mala langsung lolos dari matanya. Dia tidak menyangka jika wanita yang ingin dia bunuh ternyata adalah wanita yang berhati mulia. Bahkan dia dengan mudah memaafkan semua kesalahannya, padahal Mala telah membuat hidup Yuki menjadi sangat menyedihkan seperti ini.


"Aku juga memohon agar kamu menjauhi Kak Bisma dan sahabatku Sania. Biarkan mereka bahagia, karena mereka sudah melewati cobaan yang begitu berat dalam hubungan mereka. Aku tidak apa-apa kehilangan penglihatanku, asalkan sahabatku mendapatkan kebahagiaannya. Kamu pasti bingung 'kan? kamu pasti bingung kenapa aku begitu mudah memaafkanmu. Padahal kamu telah membuatku buta untuk selamanya. Tapi kamu tidak tau jika di balik cobaan ini, Allah telah menyiapkan kejutan yang sangat istimewa untukku. Karena cobaan ini aku menjadi semakin kuat, sama seperti sahabatku Sania yang kini telah berubah menjadi wanita yang kuat dan juga tegar. Kamu tau, karena cobaan ini juga membuat cintaku dan suamiku semakin erat. Aku menjadi sadar jika cinta suamiku begitu tulus untukku. Bahkan dia dengan lapang dada menerima kekuranganku, bahkan dia juga semakin perhatian dan juga memanjakanku," ucap Yuki tersenyum, sehingga membuat Aldan langsung terharu.


Aldan langsung memeluk istrinya itu dan mencium keningnya dengan lembut. Memang tidak ada yang kekal di dunia ini. Pasti suatu saat Allah akan mengambil satu persatu yang berharga dalam hidup kita. Namun, tanpa kita sadari, Allah juga mengantinya dengan yang jauh lebih baik lagi. Sekarang Yuki memang telah kehilangan penglihatannya, tetapi dia memiliki suami dan keluarga beserta para sahabat yang sangat menyayanginya. Bahkan mereka dengan begitu tulus kembeeikan dukungan dan juga perhatian untuk Yuki.


"Baiklah! aku akan pergi dari kehidupan kalian. Aku akan membuang semua dendamku dan melupakan semuanya. Untuk Rizki, aku mohon kalian jaga dia ya. Berikan dia kasih sayang, karena selama ini dia hidup begitu menderita," ucap Mala menitikkan air matanya mengingat penderitaan putranya selama ini.


Dia merasa gagal menjadi seorang ibu, bahkan dia merasa tidak pantas disebut sebagai seorang ibu. Karena dia adalah ibu yang begitu kejam, dia tega menyiksa putranya sendiri, bahkan menjadikannya alat untuk membalas dendam. Jadi, sudah saatnya putranya itu bahagia. Bahagia bersama keluarga barunya. Tanpa ada lagi hinaan, pukulan dan juga suara bentakan yang harus dia terima setiap harinya.


"Kamu tenang saja! kami akan menjaga Rizki dengan baik," ucap Shinta tersenyum.


"Tapi!" ucap Nyonya Alvando.


"Tapi apa?" tanya Wildan menatap istri rekan kerjanya itu.


"Apakah kami masih bisa bertemu dengan cucu kami?" tanya Nyonya Alvando yang memang belum pernah melihat wajah Rizki secara langsung.


Dia hanya melihat foto Rizki yang dikirimkan oleh Rifki, karena sejak Rizki dalam kandungan mereka sudah tidak lagi berhubungan dengan Mala. Bahkan setelah mengusir Mala dari rumah mereka, mereka langsung pindah ke luar kota untuk mencari ketenangan.


"Tentu saja! aku kenal bagaimana Sania dan Bisma. Mereka tidak akan pernah memisahkan Rizki dengan kalian. Lagipula, Sania adalah sahabat putra kalian," ucap Wildan tersenyum.


"Sahabat tapi jatuh cinta!" ucap Aldan tersenyum kecil.


"Kakak apaan, sih!" ucap Rifki malu-malu, sehingga membuat semua orang yang ada di sana langsung tersenyum.


"Rif! semoga kamu juga segera menemukan kebahagiaanmu ya," ucap Yuki tersenyum.


"Tentu saja! aku akan mencari kebahagiaanku. Kalian tenang saja, aku yakin aku akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Sania. Karena dia memang jodohnya Kak Bisma. Tapi aku yakin, Allah juga sudah menyiapkan jodoh untukku," ucap Rifki tersenyum bahagia.


"Aamiin!"


Bersambung.......