
Yuki duduk bergabung dengan para tamu Bu Wijaya. Ada yang menatap kagum kecantikannya, ada juga yang nyinyir kerena kehadirannya di sana. Melihat reaksi mereka, Yuki hanya membalas dengan senyuman kecil yang melingkar di wajahnya. Sedangkan Aldan hanya diam tidak berani menjawab ucapan para keluarganya itu. Karena dia takut hanya akan menjadi masalah di kemudian hari.
"Kenalkan dia Yuki! karyawan terbaik di kantor kami," ucap Bu Wijaya memperkenalkan Yuki.
"Kenapa gadis itu hadir di acara arisan keluarga kita? lalu mana calon menantumu? masa kau mengundang wanita lain, sedangkan calon menantumu tidak ada di sini," ucap seorang wanita paruh baya yang bersetatus sebagai kakak sepupu Bu Wijaya yang bernama Tina.
Mendengar pertanyaan kakak sepupunya itu, Bu Wijaya hanya tersenyum kecil. Dia memang sengaja tidak mengundang Gresya, karena takut calon menantu nya itu akan membuat keributan karena kehadiran Yuki. Sedangkan Yuki baru sadar, padahal sejak menginjakkan kakinya di rumah mewah itu, dia merasa jika ada sesuatu yang kurang. Dia merasa jika keluarga itu seperti tidak lengkap. Ternyata si nenek rempong gresier tidak ada di sana.
"Gresya sedang liburan ke luar kota. Kalian tau sendirikan jika dia suka liburan. Jadi aku sengaja menyuruh Yuki datang untuk membantuku," ucap Bu Wijaya tersenyum.
"Tapi aku rasa Kak Aldan lebih cocok dengan Kak Yuki. Di banding dengan kakak yang judes itu," ucap seorang gadis tanggung menatap Yuki tersenyum.
"Eh! kau tidak boleh bicara seperti itu. Kamu lupa jika kakakmu sudah tunangan," ucap mereka langsung menepis ucapan gadis itu.
"Aku bicara apa adanya. Kakak ini terlihat sangat baik dan juga ramah. Tidak seperti Kak Gresya yang judes dan juga selalu pamer barang mewah," ucap gadis itu lagi.
Mendengar ucapan sepupu jauhnya itu, Aldan hanya tersenyum kecil sambil menatap Yuki. Memang bagaikan langit dan bumi, yang sangat jauh berbeda. Itulah perbandingan Yuki dengan Gresya. Yuki adalah gadis yang ramah dan juga berpenampilan apa adanya. Sedangkan Gresya gadis sombong yang selalu tampil glamor di manapun dia berada.
"Sudahlah! ayo kita mulai saja acaranya," ucap Bu Wijaya tersenyum.
Sedangkan Bu Wijaya terus menyakinkan saudaranya yang tidak menyukai Yuki. Sebagai kepala acara itu, Bu Wijaya merasa tidak enak kepada Yuki. Karena dialah yang mengundang Yuki untuk dagangan ke acara itu. Walaupun mendapatkan keritik yang begitu pedas dari saudaranya, Bu Wijaya hanya berusaha diam menenangkan hatinya. Karena di sini dia lah yang salah, bukan Yuki.
"Maaf! aku memang sengaja mengajak Yuki datang ke acara ini. Tapi kalian tidak boleh menyindirnya seperti itu. Kalian tidak tau siapa Yuki, jadi lebih baik kalian tidak perlu mengkritiknya terlalu jauh," ucap Bu Wijaya meresa tidak enak kepada Yuki.
"Kau itu tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kau sedang mengundang wanita lain ke tengah-tengah Gresya dan Aldan secara terang-terangan. Kau itu seharusnya bersyukur memiliki menantu seperti Gresya. Gadis yang cantik dan juga berpendidikan tinggi, bahkan dia berasal dari keluarga yang sederajat dengan kita. Sedangkan gadis itu," ucap Tina kembali sambil melirik penampilan Yuki yang terlihat biasa saja.
"Maaf! jika aku bicara lancang. Tapi kalian memang tidak tau siapa Yuki yang sebenarnya. Jika kalian tau kalian tidak akan bisa membuka mulut kalian lagi," ucap Aldan merasa geram mendengar ucapan tantenya itu.
Tina memang selalu memperhatikan orang dari penampilannya. Dia memang menyukai Gresya karena Gresya itu sefrekuensi dengannya. Sama-sama hobi berbelanja dan pamer barang branded.
"Memangnya dia siapa? paling gadis miskin yang sedang bermimpi menjadi seorang putri," ucap Tini tersenyum sinis.
"Dia adalah putri dari Tuan Wildan. Keponakan dari Tuan Kinan Wirawan, Raffi Alexander, dan juga Rayyan Ardinata," ucap Wijaya dengan tegas dan penuh penekanan.
"Apa!"
Bersambung......