
Bisma duduk di depan penghulu dengan begitu gugup, apalagi melihat sahabat yang akan sebentar lagi menjadi papa mertuanya duduk di depan penghulu itu. Melihat kegugupan Bisma, Wildan hanya cengengesan kecil sambil berusaha mengoda kedua sahabatnya itu.
"Bis! kau tidak perlu cemas seperti itu," ucap Wildan tersenyum kecil.
"Sayang, diam!" ucap Sinta mencubit kecil lengan suaminya itu.
"Ia, Sayang!" ucap Wildan terkekeh kecil sambil menatap Kinan yang sedang menghadap ke arahnya.
"Nan! kau jangan terlalu galak ya sama menantu kita, ingat dia juga sahabat kita lho," ucap Wildan terus mengoda kedua sahabatnya itu.
Melihat Wildan yang terus menggoda kedua sahabatnya itu, semua orang yang ada di sana hanya bisa terkekeh kecil. Wildan memang tidak pernah bisa menjaga mulutnya, dia selalu mengucapkan apa yang ada di pikirannya tanpa tau tempat dan juga waktunya.
"Bis! padahal kami sempat mengira jika kau itu punya kelainan. Tapi ternyata kau menunggu anak sahabatmu dewasa," ucap Wildan terus mengoceh, sehingga membuat wajah Kinan dan Bisma memerah.
"Kakak kenapa tertawa?" tanya Yuki mendengar suaminya sedang tertawa kecil.
"Bisa sayang! papa sedang mengoda Paman Kinan dan juga Bisma," jelas Aldan tersenyum kecil.
"Papa memang selalu seperti itu, sejak dulu dia sangat suka menggoda paman dan juga Kak Bisma," ucap Yuki mengingat kejahilan sang papa.
"Apa Sania sudah datang?" tanya Yuki kembali.
"Belum, Sayang. Gibran sedang menjemputnya," jelas Aldan.
"Apakah Kak Gibran yang akan mengantarkan Sania ke kursi akad?"
"Ia, Sayang. Gibran dan Erlan yang akan mengantarkan Sania ke meja akad!"
"Kak Gibran memanf sangat menyayangi Sania. Bukan hanya Sania, tapi dia adalah kakak terbaik untuk kami semua," puji Yuki mengingat kasih sayang Gibran kepada mereka semua.
"Itu mereka sudah datang, Sayang. Sania berjalan di tengah, dan di apit kedua pangeran yang tampan," ucap Aldan melihat Sania yang telah memasuki gedung itu sambil merangkul tangan Erlan dan juga Gibran.
Mendengar ucapan suaminya, Yuki hanya bisa meneteskan air matanya. Dia merasa sangat bahagia karena sebentar lagi sahabatnya itu akan berubah status menjadi seorang istri. Tidak lupa dia berdoa untuk kebahagiaan rumah tangga sahabatnya itu.
Melihat kedatangan calon istrinya, Bisma langsung menitikkan air matanya. Dia tidak menyangka jika akhirnya dia bisa duduk di kursi akad ini bersama gadis yang dia jaga sejak kecil itu. Walaupun begitu banyak rintangan yang mereka hadapi, tetapi akhirnya mereka bisa menyatukan cinta mereka kedalam ikatan suci pernikahan.
"Kak! aku serahkan adikku kepada kakak. Aku harap kakak bisa menjaganya dengan baik. Seperti kami menjaganya selama ini," ucap Gibran mendudukkan Sania di kursi yang berada di samping Bisma.
"Kau tenang saja! aku akan menjadikan adikmu sebagai ratu dalam kehidupanku," ucap Bisma tersenyum lalu memeluk Gibran.
"Kak! aku titipkan sahabatku kepada kakak ya. Walaupun dia sangat keras kepala dan menyebalkan, tetapi dia adalah gadis yang baik. Tolong jaga dia ya, jangan sampai kakak menyakitinya walaupun hanya sedikit saja," ucap Erlan.
"Baiklah! aku akan menggantikan posisimu menjadi sahabatnya saat dia bersamaku. Terima kasih karena selama ini kau selalu menghiburnya dengan baik. Kakak doakan agar kalian bisa secepatnya menyusul ya," ucap Bisma memeluk kedua adiknya itu secara bersamaan.
"Maaf, Kak! doamu tidak akan terkabul secepat itu. Karena kami tidak akan menikah sebelum para penggila pria itu menikah," ucap Gibran menunjuk Aulia, Fiona, Cheesy dan juga Chelsea yang sibuk memperhatikan para tamu pria yang datang.
"Ha.. ha.. mengawasi mereka lebih sulit daripada mengawasi empat ribu ekor kambing," ucap Bisma mengingat kenakalan keempat gadis itu.
"Kalian mengosipkan kami ya?" tanya Fiona menyadari percakapan ketiga pria itu.
"Pede amat, lo!" ucap Erlan memasang wajah tanpa salah lalu duduk bergabung dengan tamu lainnya.
"Pengantin wanitanya telah tiba. Sekarang kita mulai acaranya ya," ucap Pak Penghulu membuka suara.
"Baik, Pak!" ucap Kinan menjabat tangan Bisma.
"Lihatlah! kedua sahabat kita saling berjabat tangan," bisik Wildan kepada para sahabatnya.
"Diamlah!" ucap Rayyan mengelengkan kepalanya pelan melihat tingkah sahabatnya yang satu itu.
"Bis! sebelum aku menyerah putriku kepadamu, maukah kau berjanji kepadaku terlebih dulu?" tanya Kinan menatap tajam Bisma.
"Apapun itu akan aku lakukan," ucap Bisma dengan tegas.
"Berjanjilah untuk selalu membahagiakan putriku. Jadikanlah dia sebagai istri yang sebenarnya. Jadikanlah dia menjadi wanita yang istimewa, agar suatu saat nanti tidak ada penyesalan dalam hidupnya, karena memilihmu sebagai pendampingnya," ucap Kinan dengan mata berkaca-kaca.
"Aku akan melakukan kewajibanku sebagai seorang suami. Aku akan menjadi, ayah, suami, sahabat dan kakak laki-laki untuknya. Agar dia tidak merasakan kekurangan saat berada di sampingmu. Aku akan menyayanginya melebihi kasih sayang kalian semua. Aku berjanji, aku berjanji akan menjadikan putrimu sebagai wanita satu-satunya dalam hidupku," ucap Bisma dengan tegas.
Setelah menyampaikan pesannya, Kinan langsung menyerahkan putrinya kepada Bisma. Dia menyerahkan semua tanggung jawabnya keoada putrinya itu kepada pria yang ada didepannya. Bisma juga mengucapkan ijab kabul dengan begitu lancangnya. Sehingga membuat air mata penuh kebahagiaan menghiasi acara yang paling bahagia itu.
"Bagaimana para saksi?"
"Sah?"
"SAH!"
"Alhamdulillah!"
Lantunan ayat suci Al-Quran langsung menggema dia aula pernikahan itu. Tidak lupa dengan air mata yang menuntun doa untuk pernikahan kedua insan itu. Sania langsung memeluk kedua orang tuanya sambil meminta doa mereka untuk masa depan pernikahannya. Di ikuti oleh Bisma yang juga memeluk kedua sahabat yang kini telah menjadi mertuanya itu.
"Kamu sekarang telah menjadi suami putriku. Aku mohon bahagiakanlah dia, sayangi dia seperti kami menyayanginya," ucap Rissa menitikkan air matanya sambil mengenggam tangan Bisma.
"Aku berjanji akan selalu membahagiakan putri mama," ucap Bisma tersenyum.
"Dari Rissa menjadi mama! memang dunia ini sangat membingungkan," ucap Wildan terkekeh kecil.
"Diam!" ucap semuanya serentak sehingga membuat Wildan langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"Apa salahku? aku hanya mengatakan yang sebenarnya," gumam Wildan menggaruk kepalanya sambil menunjukkan wajah cemberutnya.
Bersambung.....