
Sesuai rencana papa Gresia, mereka akan membersihkan nama baik Gresia di depan keluarga Wijaya. Karena hal ini juga bersangkutan dengan nama baik Yuki, Wijaya bersedia mendengarkan penjelasan Gresia. Namun, dengan syarat Wildan juga ada di sana. Mau tidak mau, akhirnya papa Gresia setuju dengan itu. Lagi pula Raffi dan Wildan juga berpengaruh atas kelangsungan perusahaannya. Jadi, dia juga harus meyakinkan Raffi dan Wildan agar tetap mau bekerjasama dengan perusahaannya.
Mereka semua berkumpul di kediaman Wijaya, dan bersiap untuk mendengarkan penjelasan Gresia. Semua mata tertuju kepada Gresia yang sedang duduk menunduk di tengah-tengah kedua orang tuanya. Dia memasang wajah sedihnya agar semua orang merasa kasihan kepadanya. Tanpa dia ketahui, jika actingnya itu sudah terbaca oleh para papa narsis yang sudah biasa berhadapan dengan wanita seperti Gresia.
"Maafkan aku, Ma, Pa! aku tidak tau kenapa aku bisa bicara seperti semalam," ucap Gresia menatap Wijaya dan Bu Wijaya dengan tatapan penuh kesedihan.
"Maaf! kami tidak ada niat untuk merebut harta kalian. Tapi kalian tau sendiri jika perusahaanku sedang di ujung tanduk. Aku memang segaja membuat hubungan Aldan dan putriku untuk mempererat hubungan kita. Kau tau sendiri jika perusaanku sangat bergantung denganmu," ucap papa Gresia menatap lekat Wijaya.
"Untuk kelakuan Gresia semalam! dia sedang di jebak oleh seseorang," ucap papa Gresia menatap Wildan.
"Di jebak?" tanya Aldan pura-pura binggung. Padahal dia tau jika kejadian semalam adalah ulah Sania.
"Ia! ada seseorang yang segaja memberikan minuman kepada Gresia. Sehingga putriku hilang kesadaran dan bicara tidak jelas," ucap papa Gresia.
"Bukankah putrimu mengatakan jika dia ingin mempermalukan putriku? lalu siapa yang melakukan itu kepada putrimu. Yang ada dia terkena perangkapnya sendiri," ucap Wildan menatap tajam papa Gresia.
"Maaf! aku minta maaf, karena berencana untuk mempermalukan Yuki. Itu semua aku lakukan karena aku merasa cemburu kepadanya. Aku takut jika Aldan tergoda olehnya dan meninggalkanku," ucap Gresia menitikkan air matanya.
"Aku takut jika Yuki berebut hati Aldan dariku. Kalian tau sendiri jika Yuki sudah dekat dengan Aldan. Bahkan mama juga sangat dekat dengannya. Jadi sebagai tunangan Aldan aku merasa tidak di hargai. Apalagi setelah mengetahui jika Yuki sangat menyukai Aldan sejak kecil, sehingga membuat rasa khawatirku menjadi semakin besar. Aku minta maaf! aku minta maaf karena telah di butakan oleh rasa cemburu. Sebagai seorang wanita kalian pasti tau bagaimana perasaanku 'kan? Kalian pasti akan melakukan segala cara untuk mempertahankan hubungan kalian. Di tambah lagi Yuki yang secara terang-terangan mengibarkan bendera perang denganku," ucap Gresia menangis kesegukan sambil menangkupkaa kedua tangannya di wajah.
Melihat acting Gresia, Zhia dan yang lainya hanya tersenyum sinis. Mereka paham betul bagaimana otak gadis licik seperti Gresia. Jujur melihat cara bicara dan gaya Gresia yang sangat glamor mereka sudah tidak menyukai gadis itu. Apalagi Zhia, dia dapat menilai baik busuknya seseorang dari tatapan matanya. Dari tatapan mata Gresia, dia sudah bisa menebak jika gadis itu sedang bersandiwara.
"Jadi kau benar-benar mencintai Kak Aldan? kau tidak ada niat sedikitpun untuk merogoti hartanya?" tanya Yuki menatap lekat mata Gresia.
"Ia! aku mencintai Aldan dengan tulus. Aku tidak ada niat sama sekali untuk merogoti hartanya," ucap Gresia menatap Yuki dengan mata berkaca-kaca.
"Lalu kenapa kau ingin mempermalukanku? bahkan kau ingin memberikan minuman berdosa tinggi kepadaku," tanya Yuki menatap tajam Gresia.
"Sudah aku katakan! aku cemburu kepadamu. Karena kau telah merebut perhatian Aldan dariku. Bahkan kau juga mencoba mendekati mama. Aku tidak mau kau sampai merebut Aldan dariku. Bahkan selama ini aku selalu bersikap baik kepadamu. Aku membiarkanmu bekerja di kantor Aldan, walaupun aku tau niatmu bukan untuk bekerja. Tapi kau malah begitu tega denganku. Aku masih merencanakan memberikan minuman itu kepadamu, tapi aku langsung membatalkan niatku. Karena aku berpikir jika sampai itu terjadi bukan hanya dirimu, tapi juga keluargamu akan sangat malu. Tapi kau dan sahabatmu itu dengan tega memberikan minuman itu kepadamu. Ternyata kau tidak sepolos yang aku kira," ucap Gresia menatap Yuki dengan tatapan penuh kekecewaan.
Mendengar ucapan Gresia, semua orang langsung menatap ke arah Yuki. Bahkan Bu Wijaya melemparkan tatapan penuh pertanyaan kepada gadis itu. Mendengar ucapan Gresia, Yuki langsung terdiam sambil meremas tangannya. Karena dia tidak tau apapun, jadi dia binggung harus menjelaskan apa kepada semua orang.
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Sinta menatap tajam Gresia.
Tidak banyak tanya, Kinan langsung mengambil flashdisk itu dan memutarnya di leptopnya. Semua orang langsung membulatkan matanya melihat kelakuan Sania. Di sana terlihat dengan jelas Gresia langsung hilang kesadaran setelah meminum, minuman yang di berikan oleh pelayan yang di suruh Sania.
Brukkk....
Seorang pria yang berpakaian pelayan tiba-tiba terlempar ke depan mereka. Mereka semua langsung menatap pelayan itu dan menatap seorang gadis yang sedang berdiri sedikit sempoyongan di belakang pelayan itu.
"Sania! kau kenapa, Sayang," ucap Zhia langsung menghampiri Sania.
"Aku tidak apa-apa, Bi! aku hanya ingin menyelesaikan masalah ini," ucap Sania santai sambil melemparkan sebuah map, yang berisi beberapa potong kertas ke atas meja yang berada di tengah-tengah mereka semua.
"Ini apa, Sa?" tanya Rayyan mengambil map itu.
"Kalian baca saja! di situ tercatat dengan jelas semua kebusukan keluar ini. Di situ ada juga rekaman pembicaraan tua bangka itu dengan rekan bisnisnya," ucap Sania santai sambil mengambil minuman yang ada di meja dan meminumnya tanpa ada beban.
Mendengar ucapan Sania, Wildan dan Rafi langsung bergerak cepat. Mereka membaca satu persatu isi kertas itu dan menunjukkannya kepada Wijaya dan Aldan. Sedangkan Kinan hanya diam sambil menatap perubahan sikap putrinya dengan tatapan kosong. Sedangkan papa Gresia hanya bisa diam menunduk melihat semua rencananya akan gagal hanya karena bocah ingusan seperti Sania.
"Kau bicara apa? kau ingin mempermalukan kami?" tanya mama Gresia menatap tajam Sania.
"Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur dengan urusan kalian. Tapi sayang, kalian melibatkan kedua pamanku dalam rencana buruk kalian. Bahkan kalian dengan berani ingin mempermalukan sahabatku. Jadi jangan salahkan aku menjukkan jiwa iblisku di depan kalian," ucap Sania tersenyum sinis.
"Jelaskan! Minuman apa yang kau berikan kepada sahabatku?" ucap Sania sambil menginjak tangan pelayan yang duduk meringkuk di depannya.
"Aku tidak tau, Nona! Nona itu yang memberikan minuman itu kepadaku. Dia menyuruhku untuk memberikan minuman itu kepadanya," ucap pelayan itu menunjuk ke arah Yuki.
"Dia juga memberikan uang yang cukup banyak untukku," jelas pelayan itu.
"Sekarang kalian sudah tau apa alasanku mengembalikan minuman itu kepadanya. Jadi tugasku sudah selesai, aku mau pulang. Aku lelah. Selamat menikmati kehancuran kalian" ucap Sania menatap Gresia dan kedua orang tuanya sambil tersenyum sinis, lalu melangkahkan kakinya keluar sambil sempoyongan.
Bersambung.....