Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 22


Sania menatap Bisma yang sedang fokus memeriksa dokumen di depannya. Bisma nampak jauh lebih tampan ketika sedang fokus seperti ini. Bahkan karena terlalu asik menikmati ketampanan Bisma, dia malah menjadi lupa jika dia sedang bekerja.


"Kau mau terus menatapku atau menyelesaikan tumpukan dokumen ini?" tanya Bisma sambil terus menatap dokumen yanga ada di depannya.


"Kak Bisma judes amat, Sih! apa gak takut wajahnya jadi semakin tua apa," ucap Sania ketus sambil mengalihkan pandangannya ke dokumen yang ada di depannya.


"Memang aku sudah tua," ucap Bisma sadar diri.


Bisma berlahan menatap Sania yang nampak kelelahan. Dia melirik jam tangannya yang kini telah menunjuk ke pukul delapan malam. Dia baru sadar jika mereka belum makan malam sampai saat ini.


"Kau lapar?" tanya Bisma mendengar perut Sania yang berbunyi.


"Em!" dehem Sania mengangguk kecil.


"Kalau begitu kau istirahatlah terlebih dulu. Aku akan memesan makanan melalui gojek untuk kita," ucap Bisma mengambil ponselnya lalu memesan makanan untuk mereka.


"Tapi tadi kakak bilang tidak boleh makan atau minum selama bekerja," tanya Sania dengan polosnya.


Mendengar ucapan Sania, Bisma langsung terdiam sambil menatap lekat Sania. Dia tidak menyangka jika gadis yang sangat menyebalkan di depannya itu ternyata sangatlah polos. Bahkan Sania tidak peka sama sekali jika Bisma tadi sedang cemburu melihat dia dekat dengan Rifki.


"Oh! itu tadi. Tapi sekarang tidak lagi," ucap Bisma asal dan berusaha menyembunyikan kecemburuannya kepada Rifki.


"Oh gitu! pasti kakak lapar juga," ucap Sania sambil menunjuk wajah Bisma.


"Tentu saja! Karena kakak juga manusia sepertimu. Jadi butuh makan untuk sumber tenaga," ucap Bisma ketus.


"Ternyata kakak manusia juga ya. Aku kira tadi alien yang tersasar," gumam Sania terkekeh kecil, tetapi masih terdengar dengan jelas oleh Bisma.


"Kau bilang apa?" tanya Bisma menatap tajam Sania.


"He.. he... tidak ada!" ucap Sania cengengesan sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kau kira kakak tuli? kakak bisa mendengar dengan jelas ucapanmu tadi," ucap Bisma bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Sania.


Melihat itu, Sania langsung gugup dan ingin bangkit dari duduknya. Namun, Bisma terlebih dulu berdiri di depannya dan meletakkan kedua tangannya di handle kursi, sehingga membuat Sania tidak bisa lagi berkutik. Wajahnya yang begitu dekat membuat Sania dapat merasakan deru napas Bisma yang menerpa kulit mulusnya.


"Gila! Kak Bisma ternyata sangat menyeramkan. Apa karena dia sudah sangat matang ya" batin Sania menatap lekat Bisma yang kini berada tepat di depannya.


Jantung Sania berdegup dengan begitu kencang. Bahkan mulutnya rasanya terkunci dengan rapat, sehingga dia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya bisa menatap Bisma dan berusaha menahan jantungnya agar tidak copot dari tempatnya.


"Istirahatlah! biar aku yang memeriksa dokumen ini," ucap Bisma tersenyum kecil lalu kembali duduk di kursinya.


Setelah berhasil membuat jantung Sania hampir copot dari tempatnya. Bisma malah kembali memeriksa dokumen yang ada di depannya dengan sangat santai seperti tidak terjadi apapun. Sedangkan Sania hanya bisa menatap kesal kulkas dua belas pintu di depannya sambil berusaha mengatur detak jantungnya.


Karena tubuhnya yang terasa sangat lelah, Sania akhirnya memilih untuk membaringkan tubuhnya di sofa sambil menunggu makanan mereka datang. Melihat itu, Bisma hanya diam dan membiarkan Sania mengistirahatkan tubuhnya sebentar. Lagi pula dokumen yang harus dia periksa tidak banyak lagi, jadi dia bisa mengerjakannya seorang diri.


Setelah beberapa menit membaringkan tubuhnya, akhirnya makanan mereka datang juga. Dengan cepat Bisma mengambil pesanan itu dan membayarnya. Dia membawa beberapa bungkus makanan itu dan meletakkannya di meja dan merapikan dokumen yang ada di atasnya agar tidak terkena makanan mereka.


"Ayo makan! jangan sampai aku di salahkan Kinan karena tidak memberimu makan," ucap Bisma sambil menata makanan itu di atas meja.


"Biar aja! paling nanti papa memaksa kakak untuk bertanggung jawab," ucap Sania ketus lalu duduk di samping Bisma.


"Memangnya kau mau aku tanggung jawab?" tanya Bisma menatap lekat bibir manis Sania yang kini telah menjadi candu untuknya.


"Kakak mau apa? jangan bilang kakak mau yang macam-macam. Ingat ya kak! aku memang sangat mencintai kakak. Tapi bukan berarti aku mau melakukan apapun untuk kakak," ucap Sania menutup tubuhnya mengunakan kedua tangannya.


Melihat tingkah Sania, Bisma langsung terkekeh kecil lalu menjitak pelan kening Sania.


"Kau kira kakak ini om-om mesum apa. Walaupun sudah matang, tapi kakak tidak pernah mau merusak anak gadis orang. Apalagi dirimu putri dari sahabat kakak sendiri. Lagi pula kakak masih sayang sama nyawa kakak," ucap Bisma mengidik ngeri membayangkan sisi kejam Kinan dan juga kelima sahabatnya.


"Sudahlah! kau habiskan makananmu. Setelah itu istirahatlah, biar kakak yang menyelesaikan tugasmu," ucap Bisma menyantap makannya.


Sania hanya mengangguk kecil lalu menyantap makannya dengan begitu layapnya. Ntah karena kelaparan atau makannya yang enak, sehingga Sania menghabiskan makananya tanpa sisa. Bisma yang melihat mulut Sania yang berselemotan hanya bisa tersenyum kecil dan mengambil tissu untuk membersihkan mulut Sania.


Melihat perhatian Bisma, Sania langsung merasa tersentuh. Walaupun selalu terlihat seperti kulkas dua belas pintu, akan tetapi Bisma selalu memperlihatkan perhatiannya kepada Sania. Walaupun Sania tidak tau itu perhatian karena cinta atau karena Bisma yang menyayanginya sebagai putri sahabatnya. Namun, yang pasti Sania merasa sangat bahagia saat mendapatkan perhatian-perhatian kecil dari Bisma.


Bersambung.......