
Cahaya matahari berhasil masuk melalui celah-celah ventilasi, sehingga membuat seorang pemuda tampan terusik dari tidurnya. Dia mencoba membuka matanya secara berlahan, hingga dia melihat suatu pemandangan yang sangat indah. Istrinya yang sangat dia cinta masih terlelap dalam tidurnya.
Kejadian semalam yang sangat menguras tenaga membuat wanita cantik itu enggan untuk membuka matanya. Tubuhnya terasa remuk, tenanganya di kuras habis dalam semalam oleh suaminya itu. Bahkan tubuh polosnya terpang-pang jelas di bawah selimut.
"Kamu pasti sangat lelah ya, Sayang? maaf, karena karena aku terlalu menguras tenagamu semalam. Habisnya kami sangat nikmat, sehingga membuatku gila," gumam Wildan sambil menyingkirkan rambut Yuki yang menutupi wajah cantiknya.
Tanpa dia sadari, ternyata kelakuannya itu telah mengusik tidur sang istri. Wanita itu berlaha membuka matanya dan langsung di hadapkan dengan penampakan pria tampan yang sedang berbaring di depannya. Melihat pria itu sedang menatapnya, Yuki langsung menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Jujur dia sangat masih sangat malu jika mengingat kejadian semalam.
"Kenapa kamu bersembunyi, Sayang? apa kamu mau lagi?" tanya Aldan menarik selimut Yuki sambil tersenyum nakal.
"Kakak apaan, Sih? pinggang Yuki sudah sakit," ucap Yuki kesal sambil memayunkan bibirnya.
"Maaf, Sayang! habisnya kamu sangat nikmat," bisik Aldan di telinga Yuki sambil membawa tubuh polos sang istri kedalam pelukannya.
"Ternyata tubuhmu banyak tatonya juga ya," ucap Aldan menatap dada Yuki yang di penuhi tato merah.
"Kakak!" pekik Yuki gemas sambil melayangkan cubitan kecil ke perut suaminya itu.
"He... he... maaf! kakak lupa jika yang menciptakan tato itu kakak," ucap Aldan terkekeh tanpa dosa.
"Kita mandi bareng yuk," ucap Aldan bangkit dari tidurnya, lalu membawa tubub polos Yuki kedalam gendongannya.
Wanita itu hanya menurut, dia melingkarkan kedua tangannya di leher jenjang suaminya itu, sambil menatap wajah tampan sang suami dengan penuh kekaguman. Tidak henti-hentinya dia mengucapkan syukur, karena akhirnya dia berhasil menikah dengan pria yang sangat dia kagumi selama ini. Walaupun harus menghadapi berbagai macam ujian, tetapi akhirnya mereka bisa bersatu juga.
Memang benar, apa yang di takdirkan untuk kita akan kembali kepada kita. Walaupun pernah singgah ke tangan orang lain, tetapi dia akan tetap kembali kepada pemilik aslinya. Seperti Yuki dan Aldan, walaupun Aldan sempat bertungan dengan Gresia, tetapi akhirnya dia kembali juga kepada Yuki. Karena memang takdir mereka bersama.
Aldan mencoba meletakkan tubuh istrinya itu kedalam bathtub, kemudian dia juga ikut masuk ke dalam sana. Dia membaringkan tubuhnya di samping istrinya itu, dan merendam diri untuk merilekskan tubuh mereka yang terasa lelah karena pergulatan panas semalam. Yuki terus menatap suaminya itu lalu menyandarkan kepalanya di bahu kekar sang suami. Melihat itu, Aldan langsung tersenyum dan mencium puncak kepala sang istri.
"Terima kasih ya, Sayang!" ucap Aldan sambil terus mencium kening Yuki.
"Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih karena kamu telah menjadi bagian dari hidupku. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu dan menjadikanmu sebagai prioritas utamaku."
"Aku tidak butuh janji, Kak! yang aku butuhkan hanyalah bukti. Walaupun kakak tidak berjanji, aku yakin jika aku akan hidup bahagia dengan kakak. Karena kakak adalah sosok pria yang baik," ucap Yuki tersenyum.
Mendengar ucapan istrinya itu, Aldan hanya tersenyum kecil. Dia membelai lembut rambut panjang wanita itu sambil terus mencium keningnya dengan lembut. Dia merasa sangat bersyukur karena akhirnya bisa bersatu dengan gadis yang dia cintai sejak lama. Begitu banyak cobaan yang mereka tempuh agar bisa bersatu seperti sekarang ini. Jadi, Aldan tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini dan akan selalu menghujani istrinya itu dengan kasih sayangnya.
...----------------...
Sedangkan di kamar yang lainnya, terlihat dua orang pria sedang tertidur lelap di atas ranjang dengan posisi yang tidak teratur. Kaki yang satu berada di perut pria yang satunya lagi. Sedangkan pria yang satunya tidur terlentang dengan kepada berada di tepi ranjang. Tinggal sedikit lagi kepala pria itu akan terjatuh dari ranjang itu.
Sedangkan di sofa, terlihat seorang gadis cantik tertidur lelap di bawah selimut tebal. Kejadian semalam memang membuat mereka bertiga sangat kelelahan, sehingga tidak ada satupun dari mereka yang ingin bangkit dari tidurnya. Karena hari matahari yang telah menjulang tinggi, para papa narsis berserta anak istrinya berkumpul untuk bersiap kembali ke kediaman mereka masing-masing. Namun, mereka tidak melihat tiga sosok ada di dekat mereka.
"Mungkin belum bangun, Paman. Semalam aku melihat Kak Gibran dan Kak Bisma pergi. Tapi aku tidak melihat mereka kembali," ucap Aulia.
"Lebih baik kita lihat saja di kamar mereka," ucap Kinan.
"Ya, sudah! Aku dan Kinan akan memeriksa kamar Gibran dan Bisma. Ris, kamu periksa kamar Sania ya," ucap Rayyan membagi tugas.
"Baiklah! Ayo Zhi," ucap Rissa menarik tangan Zhia menuju kamar putrinya.
"Masih di kunci! apa dia belum bangun? tapi sudah jam berapa ini?" gumam Rissa melihat pintu kamar Sania yang masih tertutup rapat.
"Bagaimana? apa Sania sudah bangun?" tanya Rayyan dan Kinan, kebetulan mereka memesan kamar di lorong yang sama, sehingga mereka tidak perlu berjauhan satu sama lain.
"Pintunya masih di kunci," ucap Rissa.
"Bagaimana dengan Bisma dan Gibran?" tanya Zhia yang melihat kakak dan suaminya itu begitu cepat.
"Mereka tidak ada di kamar. Mungkin mereka semalam tidak kembali lagi ke hotel, " jelas Rayyan.
"Itu ada petugas kebersihan, aku akan meminta kunci cadangan kepadanya," ucap Kinan melihat petugas kebersihan yang sedang bersih-bersih.
Dia langsung menghampiri petugas itu lalu meminta kunci cadangan. Karena petugas itu mengenali Kinan, dia langsung memberinya tanpa banyak tanya. Karena dia tau berurusan dengan pria itu hanya akan menambah masalah untuknya. Setelah petugas kebersihan itu berhasil membuka pintu, mereka langsung masuk ke dalam kamar Sania.
Alangkah terkejutnya mereka melihat pemandangan di dalam kamar gadis itu. Terlihat dua pasang sepatu kulit berserakan di lantai, di ikuti dengan dua jas yang sangat mereka kenal. Hingga akhirnya mata mereka tertuju ke arah dua pria yang masih tertidur pulas di atas ranjang. Kini posisi mereka berubah menjadi salin berpelukan, dengan keadaan kemeja mereka yang telah berantakan, bahkan sebagian kancingnya terbuka.
"Gibran, bangun!" ucap Zhia mengoyangkan tubuh putranya itu.
Merasa terusik dengan kelakuan sang mama, Gibran berlahan membuka matanya. Dia langsung membulatkan matanya terkejut ketika melihat seorang pria yang sedang memeluknya dengan erat. Dia langsung mengingat kejadian semalam dan langsung berteriak seperti anak gadis yang telah di perkosa.
"Akhh.... "
Bugh....
Gibran langsung berteriak dan menendang tubuh Bisma, sehingga pria itu langsung terjatuh seketika.
"Aw! pungungku," pekik Bisma memegang punggungnya yang terasa sakit karena ulah Gibran.
"Kakak telah memperkosaku. Aku tidak terima,"
Bersambung.....