Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 64


Tidak terasa hari demi hari berlalu, akhirnya hari pernikahan Yuki dan Aldan telah tiba. Gadis cantik itu sedang duduk di ruang rias sambil meremas kedua tangannya. Dia tidak menyangka jika tinggal menunggu menit lagi dia akan segera melepas masa lajangnya.


Dengan balutan gaun putih yang sangat mewah, dan juga di hiasi butiran berlian, membuat kecantikan gadis itu semakin terpancar. Di tambah lagi dengan make-up tipis yang menghiasi wajahnya, sehingga membuat setiap orang yang melihatnya akan langsung terpana.


"Wah! kakak cantik sekali," ucap Fiona dan Aulia langsung masuk kedalam ruangan itu.


"Terima kasih! Sania mana?" Yuki langsung menatap ke arah pintu, tetapi tidak melihat sosok yang dia cari muncul dari sana.


"Kak Sania sedang ada urusan sebentar. Katanya dia akan segera kesini." jelas Aulia.


Yuki langsung terdiam mendengar ucapan sahabat sekaligus adik sepupunya itu. Dia berpikir urusan apa yang membuat sahabatnya itu sampai tidak sempat menyaksikan pernikahannya.


"Apa itu sangat penting? padahal ini adalah hari yang sangat spesial untukku. Apa Sania tidak mau menyaksikan kebahagiaanku," ucap Yuki menunduk dengan mata berkaca-kaca.


"Kakak kenapa bicara seperti itu? Kak Sania pasti datang. Dia pasti tidak mau kehilangan kesempatan untuk menyaksikan moment spesial ini. Kaka Sania pasti datang tepat waktu," ucap Fiona mencoba meyakinkan Yuki.


"Wah! pengantinnya cantik sekali. Tapi kenapa wajahnya terlihat murung?" tanya Nur dan Sinta menghampiri para gadis itu.


"Kak Yuki sedih karena Kak Sania belum datang, Tante," jelas Aulya.


Sinta hanya tersenyum kecil lalu menghampiri putrinya itu. Dia tau persahabatan Sania dan Yuki sangat erat, jadi wajar saja Yuki ingin sahabatnya itu menyaksikan kebahagiaannya. Namun, semua tidak bisa sesuai keinginannya. Karena Sania juga memiliki masalah yang dia harus selesaikan seorang diri.


"Sania pasti datang! Dia akan meyaksikan Aldan mengucapkan ijab kabul di depan papa," ucap Sinta meyakinkan putrinya.


"Mamamu benar! kau jangan bersedih lagi ya. Sekarang ayo kita turun. Calon suamimu sudah menunggu kedatanganmu," ucap Nur menggandeng tangan Yuki.


"Ayo kita turun. Jangan biarkan calon menantu mama menunggu terlalu lama," ucap Sinta ikut menggandeng tangan Yuki dan menuntunnya keluar dari ruangan itu.


Aulya dan Fiona berjalan mengikuti mereka dari belakang. Terlihat kedua gadis itu juga ikut bahagia melihat kebahagiaan kakak mereka itu. Walaupun mereka juga menghawatirkan keadaan Sania. Namun, mereka percaya jika Sania tidak akan mengecewakan mereka semua. Dia pasti datang dan meyaksikan sahabatnya itu melepaskan masa lajangnya.


Sedangkan di aula pernikahan, Aldan terlihat sangat gugup. Dia duduk di depan penghulu sambil menanti wanita yang begitu spesial di hatinya datang. Melihat kegugupan putranya itu, Wijaya langsung mendekat dan memberikan dukungannya.


"Kenapa kau gugup seperti itu? bukankah ini yang kau tunggu-tunggu selama ini," bisik Wijaya.


"Aku tidak gugup," ucap Aldan mencoba menunjukkan gaya coolnya.


"Katakan saja kau gugup. Ingat malam pertama, jadi kau harus semangat," bisik Wijaya nakal.


"Papa! Aldan aduin ke mama ya," ucap Aldan mengendus kesal, tidak lupa dengan wajah memerahnya.


Di saat sedang sibuk dengan perdebatan mereka, tiba-tiba mereka terdiam ketika melihat sosok bidadari yang nyasar ke aula pernikahan itu. Aldan menatap sosok wanita yang mengenakan gaun putih itu dengan tatapan penuh tidak percaya. Dia tidak menyangka jika calon istrinya itu terlihat sangat cantik hati ini.


"Eh! ia, Pak," ucap Aldan tersadar dari kekagumannya.


Namun, matanya tetap tidak bisa teralihkan dari Yuki. Dia terus melirik gadis itu sambil menelan ludahnya kasar. Kecantikan gadis itu membuat jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Untung saja dia masih tau batasannya, jika tidak! sudah di pastikan dia sudah langsung menyeret wanita itu kedalam kamar.


"Kamu cantik sekali, Sayang," bisik Aldan sehingga membuat wajah Yuki menjadi merona malu.


Melihat pengantin wanita sudah datang, Pak Penghulu langsung memulai acaranya. Setelah acara di mulai, Wildan langsung mengambil posisinya. Dia ingin menyerahkan putrinya kepada calon menantunya itu dengan tangannya sendiri.


Dia mengengam tangan pria itu dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Sejujurnya sangat berat melepaskan tanggung jawabnya kepada pria lain secepat ini. Namun, ini juga demi kebahagiaan putri kesayangannya. Jadi dia harus kuat walaupun sebenarnya dia belum siap.


"Aldan! aku titipkan putriku kepadamu. Tolong kau jaga dia melebihi aku menjaganya selama ini. Kau didiklah dia dengan penuh kasih sayang dan juga kesabaran. Jangan sesekali kau meningikan suaramu di depannya, karena itu sama saja kau mengoreskan luka di dalam hatiku. Jika suatu saat kau sudah bosan kepadanya, maka hanya satu pesanku. Pulangkanlah di kepadaku secara baik-baik, tanpa harus menyakitinya," ucap Wildan sambil menitikkan air matanya.


"Aku berjanji akan menjaga putri papa seperti aku menjaga diriku dan juga kedua orang tuaku. Aku akan menempatkan dia sebagai satu-satunya wanita di hatiku setelah ibuku," ucap Aldan dengan penuh keyakinan.


Melihat kasih sayang papanya yang begitu tulus, Yuki hanya bisa menunduk sambil menitikkan air matanya. Memang benar, seorang ayah adalah cinta pertama untuk para putrinya. Jadi, ikatan batin keduanya menjadi sangat begitu erat. Waktu yang tepat, di saat ijab kabul akan di mulai, Sania tiba-tiba datang dan ikut bergabung dengan tamu yang lainnya. Melihat kedatangan sahabatnya itu, Yuki langsung melayangkan senyuman penuh kebahagiaan.


Setelah menyampaikan pesannya, Wildan langsung menjadi wali untuk Yuki. Aldan dengan begitu lantangnya mengucapkan ijab kabul di depan para tamu.


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"Sah!"


"Alhamdulillah,"


Semua orang langsung berdoa untuk kebahagiaan rumah tangga Aldan dan Yuki. Begitu juga dengan pasangan pengantin baru itu. Mereka berdoa dan meminta kepada yang maha Kuasa semoga rumah tangga mereka di penuhi dengan kebahagiaan, dan menjalankan sunnah rosul itu dengan baik.


Yuki berlahan mengambil tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya itu dengan penuh kelembutan. Aldan dengan penuh kebahagiaan mengelus rambut wanita yang baru dia nikahi itu dan mencium keningnya dengan penuh kelembutan.


"Ya Allah! tuntunlah aku agar bisa menjadi imam yang baik untuk anak dan istriku," batin Aldan sambil memejamkan matanya.


Setelah itu, Yuki dan Aldan menghampiri para keluarga mereka. Terutama kedua orang tua mereka terlebih dahulu untuk melakukan sungkeman. Wildan langsung memeluk putrinya itu dan mencium keningnya dengan penuh haru. Dia meneteskan air matanya seakan tidak mau melepaskan putrinya secepat ini.


"Papa jangan menagis seperti ini. Yuki tetap menjadi putri kesayangan papa. Walaupun nanti Yuki sudah menjadi ibu, Yuki akan tetap menjadi putri kecil papa yang selalu merepotkan papa dan mama," ucap Yuki tersenyum sambil menghapus air mata papanya itu.


"Yuki benar, Pa! aku tidak akan merebutnya dari papa. Aku hanya mengantikan peran papa untuk bertanggung jawab kepadanya. Istriku akan tetap menjadi putri kecil papa,"


Bersambung......