Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 96


Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Yuki telah di perbolehkan pulang. Karena keadaan Yuki yang tidak bisa melihat, Aldan akhirnya membawa Yuki kembali ke kediaman orang tuanya. Agar sang mama bisa menemani istrinya itu saat dia bekerja di kantor. Bahkan Aldan juga mengkhususkan satu pelayan untuk melayani Yuki selama dia tidak ada.


"Kamu sedang apa, Nak?" tanya Bu Wijaya melihat Yuki yang sedang duduk termenung seorang diri di balkon kamarnya.


"Mama!" ucap Yuki tersenyum sambil mencari tongkatnya.


"Kamu duduk saja! mama bawakan teh hangat dan juga cemilan untukmu," ucap Bu Wijaya tersenyum sambil meletakkan mampan yang dia bawa diatas meja.


"Ini minumlah," ucap Bu Wijaya memberikan teh itu kepada Yuki.


"Terima kasih, Ma!" ucap Yuki menitikkan air matanya sambil meminum teh pemberian mertuanya itu.


Dia merasa sangat beruntung karena memiliki suami dan mertua yang sangat menyayanginya. Bahkan mereka menerima keadaannya saat ini dengan lapang dada. Mereka sama sekali tidak pernah mengeluh ataupun merasa keberatan dengan keadaan Yuki saat ini. Mereka malah merawat Yuki dengan begitu baik dan semakin memanjakan wanita itu.


"Kenapa kamu menangis, Sayang? teh buatan mama nggak enak ya?" tanya Bu Wijaya sedikit bingung.


"Tidak, Ma! teh buatan mama sangat enak. Yuki sangat menyukainya," ucap Yuki tersenyum.


"Lalu kenapa kamu menangis?"


"Aku menangis bukan karena sedih, Ma! tapi aku memang karena aku bahagia. Aku merasa sangat beruntung memiliki keluarga baru yang sangat menyayangiku. Bahkan kalian mau menerima keadaanku dengan begitu baik, maafkan Yuki ya, Ma. Maaf karena Yuki belum bisa menjadi menantu yang baik untuk mama," ucap Yuki menyeka air matanya.


"Siapa bilang kamu bukan menantu yang baik untuk mama? kamu itu menantu kesayangan mama," ucap Bu Wijaya tersenyum sambil menghapus air mata Yuki.


"Walaupun kamu tidak bisa melihat lagi, tapi kamu masih punya mata hati yang begitu indah. Kamu adalah wanita yang sangat baik, Aldan sangat beruntung memiliki istri sepertimu. Jadi tidak ada alasan bagi mama untuk tidak menyukaimu," ucap Bu Wijaya kembali.


"Mama!" ucap Yuki terharu lalu memeluk mama mertuanya itu dengan penuh kehangatan.


"Kamu adalah putri mama, jadi jangan sungkan-sungkan kepada mama ya. Anggap saja mama adalah mama Sinta, kamu bisa bermanja-manja kepada mama seperti kamu bermanja-manja kepadanya. Sekarang coba cemilan ini. Mama yang membuatnya sendiri lho," ucap Bu Wijaya mengambil cemilan yang dia bawa dan memberikannya kepada Yuki.


Dengan senang hati Yuki menerima cemilan itu lalu mencobanya. Namun, saat gigitan pertama, tiba-tiba perut Yuki terasa sangat mual. Dengan cepat dia berdiri lalu mengambil tongkatnya dan berjalan secara perlahan menuju kamar mandi. Yuki yang sudah hapal dengan keadaan kamar itu akhirnya sampai juga ke kamar mandi dengan bantuan tongkatnya.


Huek.... huek......


Yuki langsung memuntahkan semua isi perutnya. Melihat itu, Bu Wijaya langsung mengambil air hangat sambil memijit leher menantunya itu.


"Kamu tidak suka, Sayang?" tanya Bu Wijaya.


"Tidak, Ma! tapi tiba-tiba saja Yuki merasa mual pada perut Yuki. Ini bukan yang pertama, Ma. Yuki memang merasa mual sejak pagi, setiap makanan yang Yuki makan pasti langsung keluar," ucap Yuki merasa tidak enak.


"Apa Aldan tau?"


"Tidak, Ma!" ucap Yuki mengelengkan kepalanya pelan.


"Ya, sudah! mama akan panggilkan dokter. Sekarang kamu istirahat saja ya," ucap Bu Wijaya tersenyum, lalu membantu Yuki menuju ke ranjangnya.


Dengan penuh kelembutan Bu Wijaya membaringkan Yuki di atas ranjang. Dia menyelimuti tubuh menantunya itu mengunakan selimut, lalu mengusap puncak kepalanya dengan lembut.


"Kamu jangan terlalu banyak pikiran ya, Sayang. Jika kamu butuh apa-apa panggil saja bibi. Dia bertugas untuk menjagamu, jika terjadi sesuatu kepadamu, mama yakin Aldan akan memarahinya," ucap Bu Wijaya terkekeh kecil mengingat tingkat kebucinan Aldan kepada Yuki yang begitu tinggi.


"Ia, Ma! sekali lagi terima kasih ya, Ma," ucap Yuki tersenyum.


"Sama-sama, Sayang. Mama juga ada kabar bagus untukmu,"


"Minggu depan Sania dan Bisma akan melangsungkan pernikahan mereka. Jadi kamu harus jaga kesehatan kamu ya. Mama yakin Sania akan sangat bahagia jika kamu datang ke hari spesialnya," ucap Bu Wijaya.


"Ia, Ma! Yuki pasti datang ke acara pernikahan sahabat Yuki. Akhirnya mereka bisa bersatu juga ya, Ma," ucap Yuki ikut bahagia.


"Ia, Sayang. Sekarang kamu istirahatlah. Sebentar lagi dokternya aka datang. Mama keluar sebentar ya,"


"Ia, Ma!"


Setelah mendapatkan izin dari menantunya itu, Bu Wijaya langsung keluar dari kamar Yuki. Dia langsung menghubungi dokter keluarga mereka. Sebagai seorang wanita, dia tau apa penyebab Yuki mengalami mual seperti itu. Tentu saja dia tidak mau mendengar kabar bahagia itu seorang diri, dia langsung menghubungi Aldan dan juga Wijaya agar lekas kembali.


Mendengar sang istri yang sedang sakit, Aldan langsung kembali dengan tergesa-gesa. Tentu saja dia takut terjadi sesuatu kepada istrinya itu. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sambil terus berdoa agar istrinya itu baik-baik saja. Sesampainya di rumah dia langsung turun dari mobil dan berlari memasuki rumah itu.


"Ma! mama," teriak Aldan sehingga membuat Bu Wijaya yang sedang duduk santai di sofa langsung terkejut.


"Astaghfirullah, Aldan. Ini bukan pasar malam, jadi kamu tidak perlu teriak-teriak seperti itu," ucap Bu Wijaya membuang napasnya kesal.


Melihat sang mama yang terlihat biasa saja, Aldan langsung mengerutkan keningnya binggung. Dia berpikir, apakah dia sedang di kerjai oleh mamanya sendiri?


"Mama bilang Yuki sakit? tapi kenapa mama terlihat biasa saja?" tanya Aldan binggung.


"Ma! mama!" teriak Wijaya yang juga berlari memasuki ruang utama.


"Ini juga! kenapa harus teriak-teriak? lagi pula mama tidak tuli. Papa sama anak sama saja," omel Bu Wijaya melihat suaminya juga berteriak memanggilnya.


"Mama bilang menantu kita sedang sakit. Dimana dia sekarang?" tanya Wijaya panik.


"Menantu kita baik-baik saja. Dia sedang di periksa oleh Dokter Ela di kamarnya," ucap Bu Wijaya tersenyum.


"Nah! itu dokter Ela sudah keluar," ucap Bu Wijaya menujuk kearah Dokter Ela yang baru keluar dari kamar Yuki.


Tanpa banyak bicara, Aldan langsung berlari mendekati Dokter itu. Melihat kecemasan putranya, Bu Wijaya hanya bisa tersenyum kecil. Memang Aldan sama persis seperti papanya yang selalu memperatukan istrinya.


"Lihat putra kita. Dia sama sepertimu," ucap Bu Wijaya tersenyum, lalu melangkahkan kakinya mengikuti Aldan.


"Bagaimana kedaan istri saya, Dok?" tanya Aldan begitu cemas.


"Tuan tidak perlu cemas seperti itu. Nyonya muda baik-baik saja. Hanya saja dia sedikit lemas, karena tubuhnya yang kekurangan nutrisi," ucap Dokter itu tersenyum.


"Aku sudah memberinya infus agar tenaganya cepat pulih. Jika nyonya tidak mau makan, berikan saja dia buah, susu atau cemilan yang bergizi yang lainnya," ucap dokter itu tersenyum.


"Baik, Dok!" ucap Aldan menghela napasnya lega.


"Jika bisa, kalian harus selalu menemani nyonya muda. Karena di usia kehamilan yang masih rentan, dia tidak boleh terlalu banyak bergerak. Apalagi dengan keadaannya yang seperti sekarang," ucap Dokter itu kembali.


"Apa, Dok? istri saya sedang hamil?"


"Ia, Tuan. Istri anda saat ini sedang mengandung. Saya harap anda menetapkan satu orang untuk selalu bersama nyonya sementara ini,"


Bersambung......