
Sania menatap pantulan dirinya di cermin toilet. Bayangan kejadian di aula pernikahan tadi terus melintas di pikirannya, sehingga membuat air matanya mengalir deras membasahi wajahnya. Sakit sungguh sakit, ketika mengetahui kebenaran ini. Namun, dia harus menerimanya dan berusaha untuk tetap terlihat kuat.
Walaupun dia terlihat sedang baik-baik saja, tetapi perasaannya saat ini sangatlah hancur. Bagaimana tidak! pria yang selama ini di puja, ternyata telah memiliki putra dari wanita lain. Walaupun dia tau jika itu terjadi bukan karena keinginan Bisma, tetapi tetap saja hatinya sangat terluka.
"Sudah Sania! kau harus kuat. Kau harus menerima takdirmu dengan lapang dada. Kau tidak boleh cengeng seperti ini," ucap Sania berbicara seorang diri.
Dia berusaha menguatkan hatinya, walaupun itu terasa sangat berat. Walaupun dia tetap berusaha untuk tersenyum, tetapi air matanya terus mengalir dengan derasnya. Bahkan bibirnya sampai bergetar karena terus berusaha menahan tangisnya.
Zhia yang melihat itu hanya bisa terdiam sambil memperhatikan keponakannya itu. Sebagai sesama wanita, dia tau persis apa yang di rasakan Sania saat ini. Bagaimanapun cara untuk membuat dirinya terlihat tegar, tetap saja dia tidak akan bisa menyembunyikan kesedihannya terlalu lama.
Zhia memilih untuk diam dan memperhatikan Sania dari pintu. Seakan dia memberikan ruang untuk wanita itu sendiri, dan menenangkan pikirannya. Ingin sekali Zhia memeluk keponakannya itu dengan erat, tetapi dia sadar, jika yang di butuhkan Sania saat ini hanyalah kesendirian.
Setelah melihat Sania sedikit tenang, Zhia mencoba untuk melangkahkan kakinya. Dia berjalan mendekati gadis itu lalu membelai rambut Sania dengan lembut. Sadar dengan kehadiran sang bibi, Sania langsung membalikkan tubuhnya, sehingga kini dirinya dan Zhia saling bertatapan.
Dia menatap sang bibi dengan mata yang berkaca-kaca, sebagai tanda bagaiamana hancurnya perasaannya saat ini. Bibirnya tertutup rapat seakan terkunci. Walaupun gadis itu tidak berkata apapun, tetapi Zhia tau bagaimana persaan gadis itu saat ini.
"Menangislah, Sayang! menangislah sepuasmu. Lepaskan semua kesedihanmu, agar kau bisa kembali kuat dan menjadi Sania bibi lagi. Ingat, jalan yang kau hadapi masih panjang. Bahkan kau kini telah berada di jalan yang paling sulit. Jadi, jangan sampai kau berhenti ataupun menyerah. Teruslah melangkah, dan kejar cintamu. Jangan biarkan wanita itu menang dalam permainan ini," ucap Zhia menghapus air mata Sania dan menatap keponakannya itu dengan penuh kesedihan.
"Sebagai orang tua, bibi ingin yang terbaik untukmu. Dan itu adalah Bisma. Dia pria yang baik, bahkan dia juga sangat mencintaimu," ucap Zhia dengan penuh keyakinan.
Sebagai sahabat Bisma, tentu saja Zhia mengenal dengan jelas bagaimana sifat pria itu. Walaupun dulu dia adalah seorang pria brengsek, tetapi kini dia telah berubah. Bahkan Zhia dapat melihat cinta yang begitu besar yang terpancar dari mata Bisma untuk keponakannya itu.
"Sania tau, Bi! Kak Bisma tidak mungkin melakukan hal itu secara segaja. Sania yakin jika wanita itu ada niat buruk untuk keluarga kita. Sania tidak akan pernah membiarkan wanita itu menang, Bi. Sania akan terus berjuang untuk keluarga kita. Demi Kak Bisma dan juga Rizki," ucap Sania dengan penuh keyakinan.
Setelah melihat bagaimana perlakuan Mala kepada Rizki, Sania menjadi ingin merebut anak itu dari tangan manusia berhati iblis itu. Dia yakin, jika Mala hanya memanfaatkan kehadiran anak itu, tanpa ada niat sedikitpun untuk memberikan kasih sayangnya. Dia bersumpah akan melakukan apapun untuk mendapatkan gak asuh Rizki.
"Kau adalah wanita yang berhati mulia, Sayang. Bibi bangga kepadamu," ucap Zhia menatap bangga ketulusan Sania.
Gadis itu memang memiliki hati yang sangat luas. Bahkan dia bisa menerima kehadiran anak itu dengan lapang dada. Tidak ada sedikitpun rasa benci di hatinya untuk Rizki, walaupun anak itu terlahir bukan dari rahimnya.
"Bukankah ini semua ajaran dari bibi dan juga mama? kalian yang mengajarkanku untuk tumbuh menjadi wanita yang kuat. Kalian juga mengajarkanku untuk menyayangi, dan membantu sesama manusia. Kalian mengajarkanku untuk memiliki nilai toleransi yang kuat," ucap Sania tersenyum.
...----------------...
Di sudut gedung, Bisma nampak termenung seorang diri. Pikirannya sangat kacau, sehingga membuatnya menjadi sedikit frustasi. Pikirannya terus tertuju dengan keadaan Sania saat ini. Dia tau walaupun terlihat sedang baik-baik saja, tetapi sebenarnya hati gadis itu sedang sangat hancur.
Berlahan rasa cemas menghampiri dirinya, dia takut jika gadis itu tidak bisa menerima masa lalunya. Dia takut jika gadis itu memilih untuk meninggalkannya. Jika sampai itu terjadi, dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nantinya.
"Kakak sedang apa?" tanya Gibran memecahkan lamunan pria itu.
"Kau ini," ucap Bisma menatap kesal kelakuan Gibran yang telah mengejutkannya.
"Apa kau melihat Sania?"
"Dia sedang ada di toilet dengan mama."
Mendengar Sania sedang bersama Zhia, Bisma langsung merasa tenang. Setidaknya gadis itu sedang tidak sendiri saat ini.
"Kakak tidak perlu cemas seperti itu. Aku yakin Sania akan menerima masa lalu kakak dengan baik. Apa kakak lupa jika adikku itu memiliki otak yang sangat pintar. Jadi dia akan tau siapa yang salah dan siapa yang benar. Lagi pula aku percaya dengan kakak. Jadi kakak tidak perlu khawatir. Aku akan membantu kakak untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi kakak harus janji terlebih dulu. Kakak tidak akan menyembunyikan masalah kakak seperti ini lagi. Apa kakak lupa jika kita semua adalah saudara? jadi kita harus mendukung satu sama lain. Ingat, Kak. Kakak tidak sendiri di dunia ini. Ada kami yang selalu ada di samping kakak," ucap Gibran tersenyum.
"Terima kasih! kau memang putra Rayyan dan Zhia. Kakak bangga kepadamu," ucap Bisma tersenyum.
"Tapi itu semua tidak gratis!" ucap Gibran terkekeh kecil.
"Aku harus membayarnya pakai apa? apa kau lupa jika kau jauh lebih kaya dariku," ucap Bisma kesal.
"Siapa yang mau harta kakak. Aku hanya ingin bermain dengan kakak saja,"
Berlahan perasaan Bisma menjadi tidak enak. Pemuda yang di sampingnya memang sangat baik, tetapi sayangnya dia memiliki tingkat kejahilan yang sangat tinggi.
"Kenapa tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak ya?" gumam Bisma mengusap lehernya kasar.
"Sudah, ayo cepat! kakak mau menikah dengan adikku atau tidak?" tanya Gibaran sambil menarik tangan Bisma.
"Kakak mau kemana?" tanya Aulia menatap binggung Gibran dan Bisma yang ingin meningalkan gedung itu.
"Kakak ada pekerjaan sebentar. Jika papa dan mama mencari kakak, katakan saja kakak ada urusan dengan Kak Bisma," ucap Gibran santai sambil terus melangkahkan kakinya.
"Pekerjaan apa?"
"Kau tidak perlu ikut campur. Ini urusan orang dewasa, bukan bocil sepertimu," ucap Gibran terkekeh kecil sambil mengacak-acak rambut adik perempuannya itu.
"Aku bukan bocil," ucap Aulia tidak Terima.
"Terserah! tetapi kakak selalu menganggapmu bocil. Bocah cilik," ucap Gibran tersenyum mengejek lalu melangkahkan kakinya menjauhi adiknya itu.
"Kakak!" teriak Aulia kesal.
"Ya Tuhan! tolonglah aku," batin Bisma tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya setelah ini.
Bersambung.....