
"Ayo, Sayang! kamu harus kuat. Demi buah hati kita." Aldan terus mengenggam tangan istrinya sambil memberikan dukungan.
"Sakit, Sayang!" ucap Yuki lirih karena merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.
Melihat sang istri yang terus merintih kesakitan, Aldan hanya bisa menatap istrinya itu dengan mata berkaca-kaca. Sesekali dia menyeka air matanya yang sudah tidak tebendung lagi. Melihat wanita yang sangat dia cintai sedang berjuang menahan sakit yang luar biasa untuk memberikan keturunan untuknya, membuat hati pria itu terasa hancur. Andai saja rasa sakit itu bisa di pindahkan kepadanya, mungkin tidak perlu berpikir panjang dia akan melakukan itu agar istrinya tidak merasakan sakit lagi.
"Dok! apakah rasa sakit ini bisa di pindahkan? jika bisa, pindahkan saja kepada saya, Dok. Saya tidak bisa melihat istri saya kesakitan seperti ini," ucap Aldan sambil terus menatap Yuki yang meringis kesakitan.
"Anda memang sangat mencintai istri anda, Tuan. Tapi sayang, itu tidak bisa kami lakukan. Anda cukup berikan dukungan kepada istri anda. Saya yakin, dengan dukungan anda rasa sakitnya akan bisa berkurang," ucap Dokter yang menangani Yuki tersenyum.
Mendengar ucapan dokter, Aldan hanya bisa diam sambil membisikkan kata-kata lembut di telinga Yuki. Tidak lupa dia berdoa untuk kelancaran persalinan istrinya. Dia berharap Yuki bisa melewati perjuangannya untuk melahirkan buah hati mereka. Sebagai seorang suami, Aldan terus mendampingi sang istri untuk melakukan persalinan. Tidak sedetikpun dia beranjak dari samping Yuki, dia terus berada di samping istrinya itu untuk memberikan dukungannya.
"Jalannya sudah terbuka semua! nyonya siap-siap ya. Kita akan mulai persalinannya," ucap Dokter memeriksa mis V Yuki.
"Ayo, Sayang! kamu pasti bisa. Kamu wanita yang kuat," ucap Aldan sambil terus menggenggam tangan Yuki.
"Arghhh!" teriak Yuki merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.
"Nyonya ikuti aba-aba dari saya ya."
"Tarik napas! buang peluang, tarik lagi buang."
"Argghhh!"
Oe! Oe!
Alhamdulillah.....
"Terima kasih, Sayang! Terima kasih," ucap Aldan menciumi seluruh wajah Yuki sambil menangis penuh kebahagiaan.
"Selamat ya, Tuan! putra anda sangat tampan," ucap dokter memperlihatkan putra kecil mereka.
"Bagaimana wajahnya, Sayang?" tanya Yuki menitikkan air matanya karena tidak bisa melihat bayi mungil mereka yang baru dia lahirkan.
"Dia sangat tampan, Sayang! mata dan juga bibirnya mirip Mama Shinta. Sedangkan wajahnya mirip kamu," ucap Aldan menggambarkan putranya agar Yuki bisa membayangkannya.
"Maaf, Tuan! bayinya di bersihkan dulu ya," ucap suster membawa putra mereka untuk di bersihkan.
"Baik, Dok!" ucap Aldan tersenyum sambil mengenggam tangan Yuki.
"Terima kasih, Sayang! kamu memang ibu yang sangat hebat," ucap Aldan tersenyum membayangkan perjuangan istrinya.
"Ini semua juga karena dukungan kakak," ucap Yuki tersenyum.
"Kak Sania! sini giliran Aulia lagi, kakak sudah dadi tadi mengendong babbynya," rengek Aulia karena Sania terus mengendong babby tampan itu.
"Kakak juga baru sebentar mengendongnya. Sabar dulu dong," ucap Sania terus mengendong babby itu sambil sesekali menciuminya.
"Kakak! Cheesy juga mau mengendongnya," rengek Cheesy ikut-ikutan.
"Ia, Nih! Fiona juga mau mengendongnya, Kak Sania serakah. Nggak mau bergantian," oceh Fiona kesal.
"Chelsea juga," oceh Chelsea.
Melihat para anak perempuan mereka yang sedang bertengkar untuk memperebutkan bayi tampan itu, para oppa dan omah narcis hanya bisa menggelengkan kepalan mereka pelan.
"Sania! adik-adikmu juga mau melihat. Kamu tidak boleh begitu," ucap Rissa menggeleng pelan melihat kelakuan putrinya itu.
"Sa! kamu mau tidak mengendong bayi setiap waktu?" tanya Wildan menatap Sania dengan tatapan serius.
"Memangnya kenapa, Paman? Paman mau memberikan babby tampan ini kepadaku?" tanya Sania penuh semangat.
"Enak saja! Yuki sudah berjuang melahirkannya kamu enak saja mau ngambil gitu saja. Kalau kamu mau mengendong bayi kamu suruh tuh Bisma kerja keras setiap malam. Agar kami punya cucu lagi. Jangan-jangan tenaga Bisma sudah ngak ada lagi ya?" oceh Wildan tanpa rem sedikitpun.
"Enak saja! Paman kira aku ini udah tua apa. Gini-gini tenagaku masih sangat matang," ucap Bisma tidak terima.
"Sudah! dari pada kalian bertengkar seperti ini lebih baik kau kerjakan tugasmu, Bis!" ucap Rafi membuang napasnya kesal melihat pertengkaran kedua sahabatnya itu.
"Tugas apa?" tanya Bisma bingung, karena seingatnya dia tidak ada tugas apapun lagi.
"Tugas untuk memperbanyak cucu untuk kami," ucap Rafi tertawa lepas melihat ekspresi wajah Bisma yang serius.
"Paman sudah pesan tiket bulan madu untuk kalian. Jadi kalian pergi besok, ingat! tidak boleh pulang sebelum membawa kabar baik," ucap Rayyan menatap tajam Sania dan Bisma.
Sania dan Bisma memang sudah hampir enam bulan menikah. Namun, Sania belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan, sehingga membuat para oppa dan oma muda itu sangat sibuk tidak jelas.
"Mama setuju! kalian sepertinya membutuhkan tempat yang nyaman tanpa ada gangguan. Jadi kalian besok harus pergi. Ingat kata paman kalian," ucap Rissa setuju dengan ucapan Rayyan.
"Tapi, Ma!"
"Tidak ada tapi-tapian. Pantang pulang sebelum bawa cucu!" ucap semuanya serentak.
"Dasar! Nasib jika sudah menikah. Anak langsung di abaikan demi cucu," oceh Sania memanyunkan bibirnya menatap kedua orang tua beserta para paman dan juga tentenya.
Bersambung.........