
"Maaf! tante lupa, siapa namamu?" tanya Bu Wijaya membuka suara di tengah-tengah kegugupan Aldan dan Yuki.
"Yuki, Nyonya," ucap Yuki menunduk.
"Yuki! nama yang cantik. Kau tidak perlu memamggilku dengan sebutan nyonya, kau pangil saja saya tante," ucap Bu Wijaya tersenyum kecil.
"Ia, Tante!" ucap Yuki mengangguk kecil.
Mendengar percakapan mereka, Aldan langsung menatap Bu Wijaya dengan aneh. Dia merasa jika ada sesuatu yang sedang direncanakan mamanya itu. Karena dia tau persis bagaimana wanita yang telah melahirkannya itu. Jika Bu Wijaya tidak suka kepada seseorang, maka dia akan mengatakannya secara langsung. Namun, sepertinya Aldan tidak melihat itu di wajah Bu Wijaya.
Tidak mau berpikir yang tidak-tidak, Aldan memilih untuk menepis semua pikirannya. Dia kembali mendengarkan pembicaraan kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya itu. Terlihat ada senyuman tipis di wajahnya ketika melihat Bu Wijaya berbincang dengan ramah bersama Yuki. Aldan berharap dengan ini mereka bisa semakin dekat, sehingga Aldan memiliki celah untuk membatalkan pertunangannya dan menyatakan cintanya kepada Yuki.
"Maaf tante menganggumu. Tante hanya ingin mengajakmu untuk kerumah tante," ucap Bu Wijaya tersenyum.
"Kerumah tante?" tanya Yuki mengerutkan keningnya binggung.
"Ia! besok tante ada acara arisan keluarga. kau datang ya. Bantuin tante, kau tau sendirikan jika tante tidak punya anak perempuan," ucap Bu Wijaya tersenyum penuh permohonan.
"Apa! kenapa tiba-tiba menyuruhku membantunya. Dia 'kan punya pembantu, dan si Gresier itu," batin Yuki bertanya pada dirinya sendiri.
"Eh! tapi jika aku membantunya, pasti aku bisa dekat dengannya. Jadi," batin Yuki tersenyum sambil melirik Aldan.
"Tentu saja, Tante! tapi," ucap Yuki menunduk.
"Tapi apa?" tanya Bu Wijaya binggung.
"Besok 'kan hari kerja, Tante," ucap Yuki mengingat jika besok masih hari selasa dan dia harus bekerja di kantor pada hari itu.
"Kau tenang saja, serahkan saja itu pada Tante. Pokoknya besok Aldan akan menjemputmu jam tujuh pagi," ucap Bu Wijaya tersenyum.
"Baik, Tante!" ucap Yuki tersenyum kecil.
Setelah mendapat persetujuan dari Yuki, Bu Wijaya langsung tersenyum kecil. Ntah apa yang sedang berada di pikirannya, tetapi sepertinya dia merencanakan sesuatu. Aldan dan Yuki hanya bisa berharap jika Bu Wijaya merencakan sesuatu yang baik untuk mereka. Karena mereka berdua tidak akan bisa di pisahkan begitu saja. Apalagi mengingat perjuangan Yuki yang harus merengek kepada Wildan untuk bisa magang di kantor Aldan.
Setelah menyampaikan keinginannya, Bu Wijaya langsung pamit untuk pulang. Aldan dengan penuh kasih sayang mengantarkan mamanya itu sampai ke mobilnya. Aldan dan Bu Wijaya memang sangat dekat, bahkan Bu Wijaya sangat memanjakan putranya itu. Begitu juga Aldan, dia sangat menyayangi wanita yang telah melahirkannya itu, bahkan dia rela bertunangan dengan Gresya hanya karena ingin membahagiakan Bu Wijaya.
"Tapi kenapa mama tiba-tiba mengajak Yuki untuk datang ke acara arisan keluarga? bahkan dia juga menyuruh Yuki untuk membantunya. Padahal dia tidak pernah mengajak Gresya seperti itu. Sebenarnya apa yang sedang di rencanakan mama ya?" batin Aldan bertanya pada dirinya sendiri.
Memikirkan rencana mamanya itu, Aldan menjadi puding sendiri. Dia menatap jam tangannya dan melihat jika jam makan siang telah tiba. Dari pada dia pusing memikirkan rencana yang telah disusun mamanya itu, lebih baik dia mengajak Yuki untuk makan malam bersama. Aldan melangkahkan kakinya kembali memasuki kantor dan melihat Yuki sedang temenung sendiri di meja kerjanya. Melihat itu, Aldan langsung mengerutkan keningnya binggung dan berjalan mendekati Yuki.
"Kau kenapa? sepertinya sedang hanya pikiran," ucap Aldan menatap lekat Yuki.
"Eh, Kak Aldan! tante tadi udah pulang?" tanya Yuki malah kembali bertanya.
"Ia! mama baru saja pulang," ucap Aldan tersenyum.
"Apa! kakak mengajakku makan siang bersama?" tanya Yuki membulatkan matanya terkejut.
"Ia! memangnya kenapa? kau tidak mau?" tanya Aldan mengerutkan keningnya.
"Tentu saja tidak! ayo," ucap Yuki dengan penuh semangat.
Melihat semangat Yuki, Aldan hanya bisa tersenyum kecil. Dia menatap gemas wajah imut Yuki, lalu melangkah kakinya menelusuri koridor kantornya. Melihat kedekatan Yuki dengan Aldan, para mahasiswa magang yang ada di sana hanya bisa menatap heran mereka. Apalagi Delia, dia menatap sahabat barunya itu dengan tatapan penuh tidak percaya.
"Gila! Yuki memang benar-benar berniat menjadi perebut tunangan orang. Anak itu memang gila," batin Delia menatap Yuki dengan tatapan penuh rasa tidak percaya.
Namun, Yuki tidak memperdulikan tatapan mereka, dia terus melangkahkan kakinya dengan santai sambil bercanda ria bersama Aldan. Sebelum melangkah, dia sudah tau konsekuensi apa yang akan dia dapat, jadi dia sudah menguatkan mentalnya menerima tatapan aneh dan juga sindiran dari orang-orang. Dia tidak perduli dengan pendapat orang, karena yang ada di pikirannya hanyalah cara untuk mendapatkan Aldan seutuhnya.
Sesampainya di mobil, Aldan langsung membukakan pintu untuk Yuki. Meliat perlakuan Aldan yang sangat sederhana, hati Yuki menjadi berbunga-bunga. Dia sangat bahagia mendapatkan perhatian-perhatian yang sangat kecil dari Aldan. Setelah melihat Yuki duduk dengan nyaman, Aldan langsung duduk di kursi pengemudi dan mengemudikan mobilnya.
Selama di perjalanan mereka hanya diam sendiri, Yuki sibuk dengan ponselnya untuk bertukar kabar dengan Sania. Tentu saja dia langsung memberitahukan ajakan Bu Wijaya yang mengajaknya untuk membantunya mempersiapkan acara arisan keluarganya besok.
"Kau sedang bertukar kabar dengan siapa? seperti sangat serius," tanya Aldan melirik Yuki yang terus sibuk dengan ponselnya.
"Eh! ini, aku bertukar kabar dengan Sania. Dia juga sedang makan siang di luar," ucap Yuki tersenyum.
"Kau mau makan siang bareng Sania?" tanya Aldan.
"Tidak! jika ada Sania tidak akan asik dong. Lagi pula aku bisa makan bareng Sania kapan saja, tapi baren kakak," ucap Yuki tersenyum kecil.
"Jadi kau mau makan berdua dengan kakak?" tanya Aldan mencoba mengoda Yuki.
"Tentu saja! mana tau nanti dengan makan siang berdua denganku, tiba-tibak kakak berubah pikiran," ucap Yuki tersenyum.
"Berubah pikiran?" tanya Aldan tidak mengerti.
"Ia! mana tau nanti kakak merasa nyaman denganku. Lalu kakak memilih untuk membatalkan pertunangan kakak dan menikah denganku," ucap Yuki tersenyum lebar.
Mendengar ucapan Yuki, Aldan hanya bisa mengelengkan kepalanya pelan sambil mengacak-acak rambut Yuki.
"Kau memang tidak pernah berubah," ucap Aldan terkekeh kecil.
"Memangnya kakak mau aku berubah menjadi apa? jadi spiderman atau porenjes?" tanya Yuki sambil menggerakkan tangannya meriru gaya porenjes ketika berubah.
Melihat tingkah Yuki, Aldan hanya bisa tersenyum kecil. Yuki memang sangat humoris, bahkan saat di samping Yuki dia selalu tersenyum lepas melihat tingkah Yuki yang sangat mengemaskan. Pokoknya setiap berada di samping Yuki, semua beban pikiran yang memenuhi otak Aldan langsung menghilang dengan seketika.
Bersambung......