Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 106


"Yuki! selamat, Sayang," ucap Randy masuk kedalam ruangan Yuki lalu memeluk wanita itu dengan erat.


Melihat kedatangan Randy yang tiba-tiba, semua orang yang ada di sana langsung menatapnya dengan tatapan penuh kebingungan. Apalagi melihat senyuman kebahagiaan yang terpancar di matanya. Membuat semua orang yang ada di sana langsung bertanya-tanya.


"Kenapa kamu sangat bahagia seperti itu? bukannya tadi kamu yang pertama melihat cucuku?" tanya Wildan menatap Randy bingung.


"Ini bukan tentang cucu kita," ucap Randy menatap para sahabatnya.


"Jadi?"


"Yuki sudah mendapatkan pendonor. Jadi dia bisa melakukan operasi besok," ucap Randy tersenyum penuh kebahagiaan.


"Apa!"


Semua orang yang di sana langsung terkejut bercampur bahagia mendengar ucapan Randy. Mereka semua menatap Randy dengan begitu tajam untuk memastikan jika mereka tidak salah dengar.


"Yuki mendapatkan pendonor mata?" tanya Shinta memegang lengan Randy sambil menatap sahabatnya itu dengan lekat.


"Ia, Sin! Yuki sudah mendapatkan pendonor mata. Karena keadaannya yang masih lemah, aku sudah mengatur jadwal oprasinya besok. Kita berdoa saja semoga operasinya berjalan dengan lancar,"


"Alhamdulillah! Yuki," ucapan syukur dan rasa hari langsung menggema di ruangan itu.


Hari ini adalah hari paling bahagia untuk para sahabat itu. Dimana hari ini mereka mendapatkan hadiah yang luar biasa, mulai hari ini status mereka yang dulu adalah para papa dan mama kece, kini berusaha menjadi para oppa dan omah kece, narsis dan juga terheboh, paket komplit tentunya.


"Jadi aku akan bisa melihat lagi, Paman?" tanya Yuki dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan terlalu berharap, Sayang. Kamu tau sendiri jika sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Lebih baik kita berdoa saja, agar Allah memberikan kelancaran untuk oprasimu besok. Karena kita hanya merencanakan dan menjalankan, sedangkan yang menentukannya hanyalah dia," ucap Randy tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepala Yuki.


"Apakah Yuki boleh tau siapa pendonornya?" mendengar pertanyaan Yuki, Randy hanya terdiam sambil menatap para sahabat dan juga keponakannya.


"Benar, Paman! siapa yang telah mendonorkan matanya untuk Yuki?" tanya Sania penasaran, sudah sejak lama mereka mencari pendonor mata untuk Yuki, tetapi mereka tidak mendapatkannya. Namun, kenapa hari ini tiba-tiba ada orang yang suka rela memberikan matanya untuk Yuki.


"Kalian akan mengetahuinya besok. Tapi yang pasti dia tidak meminta imbalan apapun. Dia hanya meminta agar kalian mau memaafkan sekua kesalahannya. Termasuk Yuki dan Aldan, dia ingin kalian mau memaafkan semua kesalahannya," ucap Randy menatap Yuki dan Aldan secara bergantian.


"Sudahlah! yang penting semua masalah kita sudah terselesaikan dengan baik. Yuki mendapatkan pendonor mata, dan kita telah di anugerahkan kehadiran bayi mungil dan tampan ini," ucap Randy mengalihkan pembicaraan.


"Kalau boleh tau siapa nama pangeran kecil ini?" tanya Randy sambil mengambil babby boy itu dari gendongan Sania.


"Papa! kami sejak tadi mengantri untuk menggendongnya. Tapi papa main serodok saja, papa gak adil," ucap Chelsea memanyunkan bibirnya kesal.


"He... he... yang muda harus mengalah dengan yang tua," ucap Randy cengengesan tanpa dosa.


"Arya Adyatama Wijaya artinya anak lelaki mulia yang menjadi anugrah hidup. Dimana di hari kelahirannya dia memberikan anugrah yang terindah untuk kita semua. Dia adalah cucu pertama di kelurga besar kita, dan di hari kelahirannya kita mendapatkan kabar yang begitu mulia. Akhirnya kita mendapatkan pendonor untuk mamanya," ucap Aldan memeluk istrinya dengan penuh kebahagiaan.


"Arghh! babby Arya. Aku berdoa semoga aku secepatnya hamil, dan anakku perempuan. Agar bisa aku jodohkan dengan Arya," ucap Sania bersorak gembira.


"Sudahlah! ini tiket kalian. Kalian pergi sekarang juga. Ingat! jangan pulang sebelum bawa kabar baik. Biar Rizki tinggal bersama paman. Paman yang akan mengurusnya," ucap Rayyan memberikan dua tiket untuk Sania dan Bisma.


"Paman! paman mengusirku?" tanya Sania menatap dua tiket yang ada di tangannya.


"Anggap saja seperti itu," ucap Rayyan terkekeh tanpa dosa.


"Sayang! kamu tidak boleh begitu," ucap Zhia tidak Terima keponakan kesayangannya di permainkan oleh suaminya itu.


...----------------...


Sesuai perintah Rayyan, sore itu juga Sania dan Bisma mengemasi pakaian mereka untuk melakukan bulan madu. Tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaan sang paman yang sangat menyebalkan itu. Padahal dia sangat ingin menemani Yuki sahabatnya untuk melakukan operasi besok sore. Dia ingin melihat kebahagiaan sahabatnya itu saat bisa melihat kembali. Namun, apalah dayanya, membantah juga tidak ada gunanya.


Melihat wajah sang istri yang terlihat sangat murung, Bisma hanya bisa membuang napasnya pelan. Dia duduk di tepi ranjang lalu mendudukkan tubuh mungil istrinya itu di dalam pangkuannya. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Sania lalu menatap wajah cemberut itu sambil tersenyum kecil.


"Oprasi Yuki pasti berjalan dengan lancar. Kamu tidak boleh cemberut seperti itu," ucap Bisma menoel bibir Sania yang terus maju kedepan.


"Tapi, Kak! aku ingin berada di sisi Yuki. Tapi mereka semua tidak mau mendengarkan ucapanku. Mereka hanya memikirkan cucu dan cucu, tanpa mau memikirkan perasaanku. Lagi pula aku masih kuliah, jadi jika belum di beri keturunan juga apa masalahnya? aku juga masih muda," oceh Sania kesal.


"Kamu memang masih muda, Sayang. Tapi apa kamu tidak memikirkan suamimu ini yang udah kepala tiga," ucap Bisma membuang napasnya pelan.


Mendengar ucapan suaminya itu, Sania langsung membulatka matanya. Dia sadar jika selama ini dia tidak memikirkan usia sang suami yang jauh lebih tua darinya. Dai hanya mengingat jika dirinya masih muda, jadi tida masalah memiliki anak beberapa tahun lagi. Lagi pula wajah suaminya itu sangat tampan dan cool, jadi jika orang hanya melihatnya sekilas tidak akan kelihatan tuanya.


"Upps! maaf, Sayang. Aku lupa jika aku menikah dengan sugar daddy," ucap Sania terkekeh kecil.


"Apa! tapi walaupun tua tenagaku masih cukup kuat. Apa kamu lupa jika pria itu seperti kelapa. Semakin tua semakin jadi," ucap Bisma dengan pedenya.


"Apa kamu mau membuktikannya?" tanya Bisma menatap tubuh istrinya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Tapi, Kak!"


"Tidak ada tapi-tapian,"


"Arghh!"


Bersambung........