
Sudah beberapa hari Rizki di rawat di ruang ICU, tetapi sampai sekarang bocah itu belum sadar juga. Dia masih betah dengan tidurnya dan seakan merasa enggan untuk bangun. Sania yang selalu menemani bocah itu hanya bisa terdiam penuh kesedihan sambil menatapnya dari balik kaca. Selama Rizki di rawat, gadis itu hanya meninggalkan tempat itu saat makan dan juga mandi saja. Setelah itu dia akan kembali lagi untuk melihat keadaan bocah yang sudah dia anggap seperti putranya sendiri.
Alangkah berutungnya Rizki memiliki calon ibu sambung yang sangat menyayanginya dengan tulus, padahal ibu kandungnya sendiri tidak pernah memperdulikan keadaannya. Bahkan selama di rawat di rumah sakit, Mala sama sekali tidak pernah memperlihatkan batang hidungnya untuk melihat keadaan putranya itu.
"Sayang! kau harus makan. Aku sudah belikan makanan untukmu," ucap Bisma membawa dua kantong plastik yang berisi makanan untuknya dan juga Sania.
Kinan telah menyewa sebuah ruangan yang ada di samping ruangan Rizki. Bahkan dia juga meletakkan kasur disana agar putrinya itu bisa istirahat dengan tenang. Ruangan mereka hanya di batasi dengan dingin kaca, sehingga mereka bisa terus memantau keadaan Rizki dari sana. Jika jam besuk tiba, mereka akan secara bergantian melihat keadaan Rizki dan mengajak bocah itu berbicara.
"Kapan putra kita akan sadar?" hanya pertanyaan itu yang terus muncul di mulut gadis itu.
Bisma hanya bisa membuang napasnya kasar, karena dia juga harus menjawab apa. Dia hanya bisa mengengam tangan mungil gadis itu sambil menatap wajahnya dengan lekat.
"Walaupun aku tidak tau kapan itu terjadi, tapi aku yakin. Aku yakin putra kita akan kembali sadar. Dia akan segera berkumpul dengan kita lagi. Bahkan untuk selamanya," ucap Bisma tersenyum.
"Maksud kakak?" tanya Sania tidak mengerti dengan ucapan pria itu.
"Aku sudah mengatur hak asuh Rizki, Rifki juga membantuku dengan memberikan bukti tentang perlakuan Mala kepada putra kita selama ini."
"Lalu bagaimana hasilnya?" tanya Sania tersenyum penuh harapan.
"Aku akan memberitahunya, tapi kamu harus makan dulu," ucap Bisma mengusap lembut puncak kepala gadis itu.
"Aku harap ini berita bagus! aku akan makan makanan ini sampai habis," ucap Sania penuh semangat, dia tidak sabar menunggu hasil hal asuh Rizki.
Melihat senyuman yang melingkar di wajah gadis itu, Bisma hanya tersenyum kecil. Dia menatap kearah putranya itu dan menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Dulu aku berpikir jika mamamu hanya akan bahagia ketika berada di samping papa. Tapi ternyata papa salah. Kamu telah berhasil merebut cinta mamamu dari papa, kamu adalah saingan terberat papa saat ini," batin Bisma terkekeh kecil ketika menyadari jika saingan terberatnya untuk saat ini adalah putranya sendiri.
...----------------...
Arghh....
"Sial! kenapa aku bisa kalah? padahal aku yang telah melahirkan dan juga membesarkan bocah itu," teriak Mala frustasi ketika mengetahui jika tak asuh Rizki telah di menangkan oleh Bisma.
"Kenapa kau bisa sebodoh ini? sekarang kunci emas kita untuk menghancurkan Sania telah terlepas begitu saja," ucap Gresia menyalahkan Mala.
"Kau kira aku juga mau. Aku sudah melakukan banyak cara, tapi hasilnya tetap gagal. Bukti mereka cukup banyak. Untung saja aku tidak di cebloskan ke penjara, atas alasan perlindungan anak," ucap Mala mengingat semua kejahatannya kepada Rizki.
"Seharusnya kau di penjara saja," ucap Gresia kesal.
"Apa! kau mengatakan apa tadi?" tanya Mala menatap tajam Gresia.
"Seharusnya kau di cebloskan kedalam penjara saja. Karena sekarang kau tidak ada gunanya," ucap Gresia menatap kesal Mala.
"Jadi selama ini kau hanya memanfaatkanku? kau tidak benar-benar merasa kasihan kepadaku?" tanya Mala sadar jika selama ini dia hanya di manfaatkan oleh Gresia.
Padahal dia hanya memanfaatkan dendam wanita itu untuk membalaskan dendamnya. Bahkan dia memberikan apartemennya untuk di tempati oleh Mala, karena dulu Mala hanya tinggal di kontrakan sempit dan bekerja sebagai wanita malam untuk menyambung hidupnya. Memang Rifki selalu membantunya, tetapi karena sifatnya yang sangat boros bantuan Rifki tidak akan pernah cukup untuknya.
"Jadi kau pikir aku membantumu dengan tulus gitu? maaf ya, di dunia ini tidak ada yang gratis. Sekarang kau sudah tidak ada gunanya lagi, jadi bereskan barang-barangmu dan pergi dari sini," ucap Gresia dengan tegas.
Mendengar ucapan wanita itu, Mala hanya bisa mengepalkan tangannya geram. Dia melihat kunci mobil Gresia yang tergeletak di atas meja. Dengan cepat dia mengambil kunci mobil itu secara diam-diam dan pergi meninggalkan wanita itu.
"Baiklah! aku akan pergi. Tapi asal kau tau, aku akan membalaskan semua perbuatanmu kepadaku," ucap Mala menatap geram Gresia dan melangkahkan kakinya keluar.
Namun, saat Mala telah melangkah jauh, Gresia sadar jika kunci mobilnya tidak ada lagi di sana. Menyadari itu, Gresia langsung panik dan mengejar wanita itu sebelum pergi jauh.
"Woi! kunci mobilku," teriak Gresia berusaha mengejar Mala.
"Kau mau ini? silahkan kejar aku," ucap Mala menekan tombol lift, sehingga pintu lift itu langsung tertutup.
"Sialan! kau pikir kau bisa membawa mobilku begitu saja," ucap Gresia kesal lalu berlari menuruni tangga darurat.
Setelah sampai ke lantai dasar, Mala langsung berlari menuju parkiran, tidak lama Mala keluar dari lift, Gresia juga telah berhasil menuruni tangga darurat dengan keadaan ngos-ngosan.
"Woi! berhenti," teriak Gresia berusaha menarik napasnya.
Melihat itu, Mala langsung mengambil langkah seribu. Karena tenanganya yang masih kuat, dia bisa berlari dengan cepat. Sedangkan Gresia harus mengejar Mala dengan tertatih karena sudah merasa lelah.
"Woi berhenti! itu mobilku," teriak Gresia setelah melihat Mala berhasil naik kedalam mobilnya.
Bukannya berhenti, Mala malah semakin meninggikan laju mobiln itu, sehingga membuat Gresia kehilangan jejaknya.
"Ha... ha... kau kira kau lebih licik dariku? maaf, sayang. Aku ini rajanya iblis," ucap Mala tersenyum sambil menatap dompet Gresia yang berhasil dia curi.
Tentu saja dia tidak mau di manfaatkan begitu saja. Karena pemikirannya sama seperti Gresia, tidak ada yang gratis di dunia ini. Jika Gresia bisa memanfaatkannya dengan kelicikan, maka dia juga bisa mengambil keuntungan dari kelicikan Gresia.
Dia melajukan mobilnya menuju rumah sakit, suatu kebetulan. Saat sampai di rumah sakit, dia melihat Yuki sedang menyebrang seorang diri. Melihat itu, Mala tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Yuki.
"Jika aku tidak bisa menghancurkanmu, maka aku bisa menghancurkan kekuatanmu," batin Mala tersenyum sinis.
Tin.....
Burghhh.....
Arghh...
Bersambung....