
Mendengar kecelakaan Yuki dan Mala, Gresia langsung merasa bahagia, bahkan tidak ada sedikitpun rasa sedih si hatinya. Padahal salah satu dari korban itu adalah temannya sendiri. Namun, dia tidak perduli dengan keadaan Mala saat ini, yang dia perdulikan hanyalah balas dendamnya. Walaupun dia tidak bisa mendapatkan Aldan kembali, setidaknya Yuki dan Aldan juga tidak bisa bahagia dengan pernikahan mereka. Padahal pernikahan mereka baru beberapa minggu, tetapi mereka sudah mendapat cobaan yang begitu berat.
"Ehem! kenapa putri mama terlihat sangat bahagia hari ini? apa ada kabar bagus?" tanya Bu Erwan melihat putri kesayangannya itu tersenyum sendiri.
"Tentu saja, Ma! aku sangat bahagia hari ini. Semua rasa sakit hatiku telah terbalas dengan setimpal," ucap Gresia tersenyum puas.
Mendengar ucapan putrinya, Bu Erwan langsung mengerutkan keningnya binggung. Tidak mau banyak berpikir, dia duduk di samping putrinya, sambil menatap gadis itu dengan tatapan meminta penjelasan. Tentu saja dia juga ingin mendengar kabar baik yang membuat putrinya itu bisa sebahagia ini.
"Coba ceritakan kepada mama. Mama juga ingin mendengar kabar baik itu," ucap Bu Erwan duduk di samping Gresia.
Dengan penuh semangat Gresia menceritakan semua yang telah terjadi kepada Yuki kepada sang mama. Mendengar cerita putrinya itu, tentu saja Bu Erwan merasa bahagia. Dia tertawa lepas di bawah penderitaan Yuki saat ini. Bahkan dia sama sekali tidak memperdulikan keadaan Mala yang kini harus kehilangan kedua kakinya.
Padahal Mala telah membantu mereka untuk balas dendam, karena bagi mereka di saat mereka membutuhkan seseorang di situlah orang itu terlihat berharga. Namun, di saat mereka tidak membutuhkan orang itu lagi, maka mereka akan menganggapnya seperti sampah yang tidak ada gunanya lagi.
"Wah! ternyata pembalasan kita berhasil juga. Tentunya tanpa harus mengotori tangan kita," ucap Bu Erwan tersenyum bahagia.
"Mama benar! akhirnya wanita itu mendapatkan karmanya. Dia memang berhasil mengalahkan kita, dan menikah dengan Aldan. Tapi kini semua tidak ada gunanya, karena dia akan selalu berada di dalam keterpurukan atas keadaannya saat ini," ucap Gresia tersenyum sinis.
"Tapi lebih asik jika kita menjatuhkan mentalnya secara langsung," ucap Gresia penuh kelicikan.
"Maksudmu?" tanya Bu Erwan tidak mengerti.
"Mama pasti tau nanti. Sekarang mama siap-siap dulu, kita akan melakukan permainan berikutnya," ucap Gresia bangkit dari duduknya.
Mendengar ucapa putrinya itu, Bu Erwan hanya mengangguk patuh lalu pergi ke kamarnya. Setelah memastikan penampilannya telah rapi, Gresia dan mamanya langsung pergi ke rumah sakit. Tidak lupa mereka membeli beberapa buah-buahan terlebih dulu. Melihat Gresia yang membawa dua buah hampers yang berisi buah-buahan, Bu Erwan langsung menatapnya bingung.
"Kenapa ada dua?" tanya Bu Erwan bingung.
"Apa mama lupa jika ada dua pasien yang harus kita jenguk," ucap Gresia tersenyum kecil.
"Dia tidak ada gunanya lagi. Untuk apa kita memperdulikannya."
"Mama tidak boleh seperti itu. Bagaimanapun dia yang telah menghancurkan musuh kita. Jadi apa salahnya kita mengucapkan salam perpisahan yang terakhir," ucap Gresia tersenyum sinis.
Mendengar ucapan putrinya itu, Bu Erwan langsung mengerti. Tujuan mereka bukan untuk menjenguk, akan tetapi menghancurkan mental kedua wanita itu secara perlahan.
"Baiklah! mama mengerti," ucap Bu Erwan tersenyum.
...----------------...
Di rumah sakit.
Mala duduk termenung seorang diri di atas bangsalnya. Sudah tiga hari dia di tawat, akan tetapi tidak seorangpun yang datang untuk melihat keadaannya. Hanya Rifki yang selalu menyempatkan diri untuk melihat kondisi kakaknya itu. Sedangkan keluarganya tetap tidak sudi untuk melihat keadaan wanita itu. Apalagi setelah mengetahui jika penyebab kecelakaan itu adalah ulahnya sendiri, karena ingin melenyapkan Yuki dia harus mengalami kejadian tragis yang menyebabkan dia harus kehilangan kedua kakinya.
"Apa aku sejahat itu? apa aku sehina itu? sehingga papa dan mama tidak sudi untuk melihatku. Kenapa takdirku seperti ini? hidupku hancur, sedangkan kedua orang tuaku tidak perduli sama sekali. Kenapa kau tidak mengambil nyawaku pada saat kecelakaan itu? kenapa kau harus menyiksaku seperti ini?" batin Mala menatap ke arah jendela sambil menitikkan air matanya.
Mendengar suara putranya itu, Mala langsung menghapus air matanya. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh di depan bocah itu. Jujur dia merasa sangat malu, dia merasa malu pada dirinya sendiri. Dia telah begitu jahat kepada putranya sendiri, sehingga kini dia harus menerima balasan atas semua perbuatannya.
"Untuk apa kau kesini?" tanya Mala tanpa menatap kearah putranya itu.
"Dia menghawatirkanmu," ucap Sania menatap tajam wanita itu.
Mendengar ucapan Sania, Mala hanya tersenyum kecil. Dia menghapus air matanya lalu menatap wanita itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Apa kau ingin menertawakan keadaanku?"
"Menertawakan!" ucap Sania tersenyum kecil lalu membawa Rizki mendekati Mala.
"Maaf! aku tidak ada waktu menertawakan orang lain," ucap Sania sambil menatap lekat Mala.
"Putramu menghawatirkan keadaanmu. Jadi aku terpaksa mengantarkannya untuk menemuimu. Lagi pula adikmu adalah sahabatku, jadi wajar saja aku ingin melihat keadaan kakak sahabatku sendiri," ucap Sania mendudukkan Rizki di kursi yang ada di samping bangsal Mala.
"Aku membawakan sup dan bubur untukmu. Kata Rifki kau tidak nafsu makan. Jadi makanlah sekarang," ucap Sania membuka bekal yang telah dia siapkan untuk Mala.
"Untuk apa kau perduli denganku?" tanya Mala menatap tajam Sania.
"Aku tidak perduli denganmu. Aku hanya memperdulikan wanita yang telah melahirkan putraku, dan juga kakak sahabatku. Aku tidak mau mereka jatuh sakit karena menghawatirkan keadaanmu. Jadi makanlah, sebelum aku yang akan memindahkannya ke mulutmu," ucap Sania tegas sambil menyodorkan bekal yang dia bawa kepada Mala.
"Makanlah!" ucap Sania menatap lekat Mala yang tetap diam.
Mendengar ucapan Sania, Mala akhirnya mau mengalah. Dia menerima bekal pemberian Sania dan melahapnya secara perlahan. Melihat Mala yang mau makan bekal darinya, Sania hanya tersenyum kecil. Dia langsung duduk di sofa sambil menatap wanita itu sambil tersenyum kecil.
"Apa kau tau, aku merasa sangat iri denganmu," ucap Sania menatap Mala.
"Iri!" ucap Mala menatap bingung gadis itu.
"Ia! aku merasa sangat iri kepadamu. Kau begitu sempurna, kau memiliki putra yang tampan dan jiga pintar. Bahkan kau memiliki adik yang sangat menyayangimu. Sedangkan aku hanyalah putri tunggal," jelas Sania.
"Tapi kau memiliki keluarga dan juga sahabat yang sangat menyayangimu."
"Kau juga memiliki itu! hanya saja kau tidak menyadarinya. Kau lebih fokus pada kesenanganmu sendiri," ucap Sania.
"Dunia ini adalah tempat yang paling membingungkan. Di mana kita sibuk untuk melihat kebahagiaan orang lain, tapi kita tidak bisa melihat kebahagiaan kita sendiri. Dimana kebenaran akan selalu tertutup, karena pemikiran kita yang selalu mengambil kesimpulan sendiri. Tanpa mau menyelidiki apa sebenarnya yang telah terjadi. Begitu juga dengan dendammu," ucap Sania tersenyum kecil.
"Aku tau! kau ingin membalas kematian kakak sepupumu. Tapi kau tidak pernah mau mencari tau kenapa kami melakukan itu kepadanya. Asal kau tau, bukan kami yang membunuhnya, tapi obsesinya,"
Bersambung.....