Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 74


Terlihat dua orang wanita sedang duduk termenung di atas sofa. Ntah apa yang ada di dalam pikiran mereka, tetapi yang pasti bukan pikiran yang baik. Melainkan pikiran licik yang akan menghancurkan kehidupan orang lain.


"Arghh!" teriak Mala frustasi.


Kejadian semalam sunguh membuatnya sadar siapa yang sedang dia hadapi saat ini. Ternyata Sania tidak seperti gadis yang dia bayangkan selama ini. Gadis itu jauh lebih licik dari yang dia perkirakan.


"Mama!" ucap Rizki menatap Mala dengan ketakutan.


Melihat putranya itu, Mala langsung tersenyum sinis. Walaupun telah gagal dalam rencana pertamanya, tetapi kini dia memiliki point emas untuk memisahkan Sania dengan Bisma. Melihat reaksi Bisma saat melihat putranya itu, Mala yakin jika Bisma memiliki ikatan batin yang kuat dengan Rizki. Tentu saja hal itu membuat Mala semakin mudah untuk mempermainkan perasaan Bisma.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Gresia menatap aneh Mala.


"Tidak ada! aku hanya merasa jika keputusanku untuk melahirkannya adalah keputusan yang tepat. Walaupun membuatku repot, tetapi akhirnya kehadirannya ada gunanya juga," ucap Mala santai sambil berjalan mendekati putranya.


"Bukannya selama ini kau sudah memanfaatkan kehadirannya saja."


"Benar! aku memang telah memanfaatkan kehadirannya untuk mengancam Bisma. Tapi kali ini, aku akan memanfaatkan kehadirannya untuk kesenanganku."


"Jangan bilang kau ingin memeras Bisma."


"Untuk apa hanya memeras jika kita bisa memiliki semuanya," ucap Mala tersenyum sinis, sehingga membuat Gresia menjadi kebingungan sendiri.


"Jadi kau ingin merebutnya dari Sania."


"Bukan hanya dari gadis itu. Tapi dari seluruh pecundang itu," ucap Mala penuh dengan kelicikan.


"Aku tau itu tidak mudah. Tapi aku akan mendukungmu. Bagaimanapun kita harus membalas semua perbuatan mereka. Karena mereka kita harus kehilangan orang yang kita sayangi, jadi mereka harus merasakan apa yang kita rasakan, " ucap Gresia menatap Rizki dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.


"Tumben kau pintar!" ucap Mala tersenyum kecil.


"Aku memang pintar sejak dulu. Hanya saja madumu itu lebih pintar sedikit dariku," ucap Gresia memelas.


"Dia bukan maduku,"


"Tapi dia calon istri dari papa putramu," ucap Gresia terkekeh kecil.


"Diam kau! aku tidak akan membiarkan itu," ucap Mala kesal lalu berjalan menghampiri putranya.


Melihat sang mama mendekatinya, Rizki langsung menunduk ketakutan. Dia takut jika mamanya itu kembali melakukan kekerasan kepadanya. Bukan hanya tidak memperdulikan Rizki, tetapi ternyata Mala juga sering melakukan kekerasan fisik kepadanya. Rizki sering di jadikan alat pelampiasan kekesalan oleh mamanya itu. Walaupun dia tidak melakukan kesalahan, tetapi Mala selalu memukul dan juga memarhinya tanpa alasan yang jelas.


"Maaf, Ma! Rizki tidak mendengar apapun," ucap Rizki tidak berani menatap mamanya itu.


"Tidak apa-apa, Sayang! mama tidak marah kok," ucap Mala tersenyum sambil membelai lembut rambut lebat putranya itu.


Melihat sikap sang mama yang berubah drastis, anak laki-laki itu hanya bisa menatap mamanya itu penuh kebingungan. Karena selama ini yang keluar dari mulut wanita itu hanyalah bentakan dan juga caci maki kepadanya. Bahkan dia tidak mengingat kapan mamanya itu bicara lembut seperti tadi kepadanya. Mungkin tidak pernah sama sekali.


"Mama tidak marah?" tanya Rizki dengan polosnya.


"Tidak! mama tidak marah kepadamu. Tapi kau harus melakukan sesuatu untuk mama,"


"Melakukan apa?"


"Kau mandilah dulu. Mama akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap Mala tersenyum.


"Baik, Ma!" ucap Rizki mengangguk kecil lalu berlari menuju kamarnya.


Rizki memang anak yang sangat penurut, bahkan di usianya yang masih balita dia sudah mandiri. Dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri, tanpa mengharapkan bantuan dari wanita yang telah melahirkannya itu. Mungkin karena keadaan yang begitu keras, sehingga membuat bocah itu tumbuh menjadi bocah yang pintar dan juga mandiri.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Gresia menatap Mala binggung.


Gresia hanya tersenyum licik mendengar ucapan temannya itu. Walaupun dia tidak tau apa yang sedang berada di pikiran wanita itu, tetapi dia yakin jika wanita itu memiliki rencana baru untuk menghancurkan persahabatan Bisma dengan para sahabatnya.


...----------------...


Gibran dan Bisma menuju kediaman Kinan secara bersama-sama. Bisma fokus menyetir, sedangkan Gibran duduk di sampingnya sambil menatap pria itu dengan tatapan aneh. Bisma yang sadar dengan tatapan adiknya itu langsung mengusap lehernya kasar. Dia mencoba menebak apa yang sedang di pikirkan bocah itu.


"Apa kau tidak bisa menatap ke arah yang lain?" tanya Bisma penuh kekesalan.


"Tidak!" ucap Gibran singkat, sehingga membuat emosi Bisma langsung meledak.


"Apa perlu aku memutar kepalamu itu terlebih dulu?" celetuk Bisma geram.


"He.. he... gitu saja marah," ucap Gibran terkekeh kecil.


Mendengar ucapan adiknya itu, Bisma hanya bisa membuang napasnya kasar. Dia berusaha untuk memperbanyak sabarnya selama berada di dekat bocil yang menyebalkan itu.


"Apa boleh aku pertanya kepadamu, Kak?" tanya Gibran kini beralih ke mode serius.


"Tanya apa?"


"Apa benar Rizki adalah putramu?"


Mendengar pertanyaan adiknya itu, Bisma langsung membuang napasnya kasar. Dia tidak tau harus mengatakan apa kepada adiknya itu. Namun, dia yakin jika adiknya itu sudah mengetahui sesuatu, karena dia melihat saat Rizki datang bersama Mala, adiknya itu terlihat biasa saja. Bahkan dia hanya melihat ekspresi terkejut dari para sahabatnya.


"Kakak tau kau mengetahui sesuatu! katakan, kau tau dari mana?" tanya Bisma malah balik bertanya.


"Kebiasaan buruk! ketika ditanya, bukanya menjawab. Tapi malah balik bertanya," oceh Gibran kesal.


"Kau juga di tanya itu menjawab! bukan mengoceh," ucap Bisma kesal.


"Huf! baiklah. Maaf!" ucap Gibran membuang napasnya kasar.


"Lalu?"


"Lalu apa?"


Ssttt....


bugh....


"Argh! kakak kalau ngerem bisa bilang-bilang gak?" oceh Gibran kesal karena kelakuan Bisma yang mengerem secara tiba-tiba. Sehingga membuat kepalanya terbentur.


"Kau juga kalau di tanya bisa menjawab atau tidak?" tanya Bisma menatap kesal adiknya itu.


Kedua pria itu kalau di satukan memang seperti tom and jerry, yang selalu bertengkar. Tetapi saat berjauhan mereka saling merindukan satu sama lain. Kelakuan Gibran yang super jahil, selalu menguji kesabaran kakaknya itu.


"Dia yang salah, kenapa malah dia yang marah? Seharusnya aku yang marah. Karenanya keningku jadi lecet," gumam Gibran mengoceh seorang diri.


Walaupun Gibran bicara dengan pelan, tetapi Bisma masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Katakan! apa yang kau ketahui tentang masa lalu kakak?" tanya Bisma menatap tajam sang adik.


"Bukan aku yang mengetahuinya. Tapi Sania," ucap Gibran datar.


"Apa!"


Bersambung.....