
Hari terus berlalu, akhirnya waktu Yuki magang di kantor Aldan telah selesai. Dengan berat hati Yuki menyimpan semua barang-barangnya, dan bersiap untuk menjalani hari-harinya di kampus seperti biasa lagi. Mengingat jika dia tidak akan bekerja lagi di kantor Aldan, tiba-tiba semangatnya langsung hilang begitu saja. Dia menatap setiap sudut ruangan itu dengan wajah memelas.
"Kenapa waktu cepat sekali berlalu? aku masih ingin di sini," gumam Yuki menelungkupkan wajah di atas meja.
Aldan yang melihat itu hanya bisa diam dan menatap punggung Yuki dari belakang. Kebetulan ruangan Yuki ada di depan ruangan Aldan. Jadi, di saat Aldan keluar dari ruangannya orang yang dia lihat adalah gadis kecil yang sangat mengemaskan itu.
"Kau sudah selesai?" tanya Aldan membuka suara.
Mendengar ucapan Aldan, Yuki langsung mengangkat kepalanya dan menatap ke arah sumber suara itu. Dia menatap wajah tampan yang selama ini menjadi penyemangatnya dengan lekat.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? aku tau aku tampan. Jadi kau tidak perlu mengatakannya," ucap Aldan dengan penuh kepedean berjalan mendekati Yuki.
"Pede amat," ucap Yuki memanyunkan bibirnya
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Memang aku tampan, aku tau kau juga memuja ketampananku," ucap Aldan tersenyum sambil mengacak-acak rambut Yuki.
Semenjak pertunangannya dan Gresia di batalkan, Aldan menjadi berubah drastis. Bahkan dia sering mengoda Yuki dengan rayuan mautnya, sehingga membuat gadis itu langsung merona seketika. Bahkan tingkat kepedeannya menjadi meningkat seratus derajat.
"Ok! aku mengalah. Kakak memang sangat tampan. Bahkan ketempat kakak dapat menghipnotis setiap gadis yang melihatnya," ucap Yuki mengalah. Karena dia tau, jika dia tidak mengakui ketampanan pria itu, pasti Aldan akan terus mengoceh tiada henti.
"Apa? aku tidak mendengarnya," tanya Aldan duduk di atas meja Yuki dan menatap gadis itu dengan lekat.
"Kakak sangat tampan!" ucap Yuki menunduk tidak berani manatap wajah Aldan.
Melihat Yuki yang gugup, Aldan langsung tersenyum tipis. Dia tidak menyangka jika gadis tidak seberani yang dia kira. Sehingga membuat pria itu semakin senang untuk mengoda gadis itu. Aldan mencoba mendekatkan tubuhnyatubuhnya. Dia meletakkan kedua tangan kelarnya di handle kursi, dan menatap bibir manis Yuki.
"Katakan sekali lagi!" ucap Aldan memegang dagu Yuki, sehingga wajah gadis itu kini terlihat dengan jelas di depannya. Bahkan jarak mereka cukup dekat, sehingga deru napas Aldan menembus kulit wajah gadis itu.
"Ka... kakak memang tampan!" ucap Yuki mengingit bibirnya kecil sambil berusaha mengatur jantungnya yang berdetak tidak karuan.
"Kau juga sangat cantik, Sayang!" ucap Aldan mencoba mengelus wajah Yuki mengunakan jari telunjuknya.
Melihat Aldan yang menyentuh wajahnya, Yuki langsung membulatkan matanya terkejut. Dia menatap pria di depannya dengan tatapan penuh rasa tidak percaya. Dia memang sangat mengagumi sosok pria di depannya, bahkan dia selalu memimpikan agar pria itu yang akan menjadi pendampingnya suatu saat nanti.
Namun, dia juga harus menjaga harga dirinya sebagai wanita. Dia tidak akan membiarkan satu pun pria yang menyentuhnya begitu saja. Karena baginya yang berhak menyentuhnya hanya pria yang akan menjadi suaminya nantinya. Dia tidak akan membiarkan satu pria pun yang akan mengambil gak suaminya nantinya.
"Kakak! jaga batasan kakak," ucap Yuki menepis tangan Aldan.
"Kenapa aku tidak bisa menyentuhmu? padahal aku hanya ingin menyentuh wajahmu. Tidak ada yang lain, karena aku juga tau batasanku," tanya Aldan menatap gadis itu.
"Jika kakak ingin menyentuhku. Maka, kakak halalkan aku dulu. Aku tidak mau memberikan hak suamiku, kepada pria yang belum tentu menjadi milikku. Aku memang mencintai kakak, bahkan aku rela melakukan apapun untuk mendapatkan kakak. Tapi tidak dengan tubuhku," ucap Yuki dengan tegas.
"Baiklah! cepat pulang. Karena dua jam lagi hantaran lamaran akan sampai ke rumahmu," ucap Aldan tersenyum kecil lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Yuki.
Mendengar ucapan Aldan, Yuki hanya diam melogo sambil menatap kepergian pria itu. Dia mencoba mencerna ucapan pria itu dengan baik-baik. Namun, dia tetap saja tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan pria itu. Dia tidak percaya jika Aldan akan benar-benar membawa hantaran lamaran dua jam lagi ke kediamannya. Karena baginya itu tidak akan mungkin. Menyiapkan acara lamaran dalam dua jam, tidak akan semudah itu. Itulah yang ada di pikiran Yuki saat ini.
"Kakak kira aku Yuki polos dan imut seperti kakak tinggalkan dulu. Sekarang aku ini adalah Yuki Yuspika, gadis cantik dan juga pintar. Jadi kakak tidak akan bisa membodohiku begitu saja," gumam Yuki masa bodoh dengan ucapan Aldan lalu kembali mengerjakan tugasnya.
Setelah menyimpan semua barang-barangnya. Dia langsung membawa semua barang-barangnya menuju mobil. Saat melintasi koridor kantor, dia melihat Delia yang berjalan di depannya.
"Delia!" teriak Yuki sedikit berlari mengejar sahabat kerjanya itu.
"Hai, Ki! kau sudah selesai. Tadi aku mau menemuimu, tapi aku lihat kau sedang asik dengan bos tampan. Jadi aku tidak mau menganggumu," ucap Delia tersenyum kecil mengingat kedekatan Aldan dan Yuki saat di ruangan tadi.
"Kau melihatnya?" tanya Yuki merona malu.
"He.. he... maaf! aku tidak sengaja," ucap Delia terkekeh kecil.
"Tapi sekarang halanganmu telah sirna. Jadi kau bebas mendekati Tuan Aldan. Aku perhatikan sepertinya dia juga menyukaimu, aku sering memergokinya sedang memperhatikanmu," ucap Delia menggoda Yuki.
"Sudahlah! aku tidak terlalu memikirkannya. Karena aku percaya jodoh itu tidak akan kemana," ucap Yuki tersenyum.
"Tumben otakmu gak sengklek!"
"Ha.. ha... abis di benerin sama kenyataan. Jadi sengkleknya langsung menghilang,"
"Ha.. ha.. nyadar juga jika kau itu sengklek, alias miring," ucap Delia memiringkan jari telunjuknya di keningnya.
"Tapi kau lebih sengklek! karena kau mau berteman dengan cewek gila sepertiku," ucap Yuki terkekeh kecil.
Kedua gadis itu terus berbicara gaur sambil tertawa bahagia menelusuri koridor kantor. Sebelum pulang, mereka memilih untuk bersenang-senang. Mereka pergi shopping dan juga makan bersama, sebagai perpisahan mereka. Karena setelah ini, mereka akan kembali melakukan aktivitas mereka di kampus seperti biasa lagi.
Bersambung......