
"Cie! calon manten ceria amat," ucap Sania melihat Yuki yang memasuki kelas dengan senyuman yang terus melingkar di wajahnya.
"Tentu, dong!" ucap Yuki tersenyum lalu duduk di meja yang ada di depan Sania.
"Sa! kau nanti ikut menemaniku untuk fitting baju pengantin 'kan?" tanya Yuki penuh antusias.
Karena setelah kepergian Bisma, sahabatnya itu menjadi lebih tertutup. Bahkan mereka tidak pernah lagi berkumpul bersama. Sania lebih memilih untuk menyibukkan dirinya membantu Rafi di kantor. Bahkan setelah magang selesai, dia memilih untuk tetap bekerja di kantor Rafi.
"Maaf, Ki! Pulang kuliah aku harus ke kantor,"
"Sa! masa kau tidak mau menemaniku, sih?" tanya Yuki dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa kau bersedih seperti itu. Lagipula ada Aulya yang akan menemanimu. Calon manten gak boleh cemberut seperti itu, lho. Nanti aura pengantinnya hilang," ucap Sania terkekeh kecil.
Yuki hanya terdiam sambil menatap sahabatnya itu. Walaupun terlihat bahagia, tetapi dia bisa melihat kesedihan yang terpancar di mata sahabatnya itu. Memang diantara mereka semua hanya Sania lah yang paling tangguh. Bahkan dia bisa menyembunyikan kesedihannya seorang diri tanpa ada yang menyadarinya.
"Baiklah! aku mengerti. Aku harap kau juga bisa mendapatkan cinta sejatimu ya," ucap Yuki tersenyum sambil mengengam tangan Sania.
"Aku akan selalu menunggu waktu itu tiba, Ki. Walaupun aku belum yakin jika aku bisa mendapatkan cintaku," ucap Sania menunduk sedih.
"Percayalah! takdir tidak akan pernah salah. Mungkin kalian di uji untuk membuktikan bagaimana besarnya cinta kalian," ucap Yuki tersenyum.
"Mudah-mudahan saja," ucap Sania tersenyum.
"Dosen datang!" ucap Erlan masuk ke kelas.
Melihat dosen telah datang, Yuki dan Sania langsung membenar posisi duduk mereka. Ketiga sahabat itu pokus untuk belajar dan mendengarkan dosen.
Setelah mata pelajaran selesai, seperti biasa ketiga sahabat itu akan pergi ke kantin secara bersama-sama. Mereka bertiga berjalan menuju kantin sambil bercanda ria bersama. Yuki dan Erlan berjalan dengan senyuman yang terus melingkar di wajah mereka. Lain dengan Sania, dia hanya diam memperhatikan kedua sahabatnya itu dengan senyuman tipis ketika kedua sahabatnya itu membicarakan hal lucu.
"Hai, Ki!" ucap Delia menghampiri mereka.
"Hai," ucap Erlan tersenyum melihat kedatangan Delia.
Melihat senyuman Erlan, Yuki langsung menatap Sania binggung. Karena tidak fokus Sania tidak mengerti apa yang di maksud sahabatnya itu menatapnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Sania polos.
"Sial! gara-gara patah hati bukan hanya berubah sifat. Tapi ternyata dia jadi lola juga," batin Yuki memukul keningnya pelan mendengar pertanyaan polos Sania.
"Tidak ada! itu ada meja kosong. Ayo kita duduk di sana," ucap Yuki menarik tangan Sania.
"Ayo duduk," ucap Erlan mempersilahkan Delia untuk duduk.
"Ehem! ada badai apa ni?" tanya Yuki menatap Erlan sambil tersenyum kecil.
"Bocil diam," ucap Erlan santai lalu duduk di samping Delia.
"Enak saja aku di bilang bocil. Apa kau lupa di antara kita bertiga kau yang paling bocil," ucap Yuki tidak terima.
"Kalian mau ribut atau mau makan. Cepat pesan makanan kalian, aku sudah lapar," ucap Sania membuang napasnya kasar.
"Ia... ia! judes amat sih," ucap Yuki lalu memesan makanannya.
"Hai, Sa! boleh gabung, gak?" tanya Rifki mendekati Sania.
"Silahkan saja," ucap Sania menunjukan bangku yang masih kosong yang ada di sebelahnya.
Melihat kedatangan Rifki, Yuki langsung mengerutkan keningnya binggung. Dia memperhatikan pria itu dengan teliti. Ntah mengapa dia merasa tidak suka dengan sikap pria itu yang sok akrab dengan sahabatnya. Apalagi melihat tatapan Rifki kepada Sania, membuat berbagai pertanyaan langsung melintas di pikirannya.
"Kau siapa?" tanya Yuki menatap tajam Rifki.
"Hai! kenalkan aku Rifki," ucap Rifki memperkenalkan diri.
"Kami magang di kantor yang sama. Lagipula kita satu kampus, jadi wajar saja aku mengenalnya," ucap Rifki tersenyum.
"Aku hanya ingin memperingatkanmu, Sania sudah memiliki calon suami. Jadi kau jangan mengharapkan yang lebih darinya," ucap Yuki dengan tegas.
Mendengar ucapan sahabatnya itu, Sania langsung melemparkan tatapan penuh kebingungannya. Dia menatap heran sahabatnya itu, karena tidak biasanya Yuki bersikap seperti itu.
"Maksudmu apa bicara seperti itu?" bisik Sania sambil mencubil lengan Yuki pelan.
"Kau diam saja. Aku tau apa yang harus aku lalukan," ucap Yuki tidak perduli.
"Aku tau! tapi selagi belum ada cincin yang melingkar di jarinya, aku masih bebas untuk berjuang," ucap Rifki menatap jari polos Sania.
Mendengar ucapan Rifki, Yuki langsung merasa tertantang. Dia menatap geram pria itu dan ingin memberi pelajaran kepadanya. Melihat suasana yang semakin memanas, Sania hanya bisa membuang napasnya kasar. Dia menatap kedua manusia yang sama-sama keras kepala itu dengan tatapan memelas.
"Makanannya sudah datang. Ayo kita makan, aku sudah sangat lapar," ucap Sania kebetulan makanan yang mereka pesan telah datang.
"Kau benar! dari pada sibuk beradu argumen lebih baik kita mengenyangkan perut kita masing-masing," ucap Erlan setuju lalu menyantap makanannya.
Tidak mau membuat suasana menjadi berantakan, Yuki akhirnya memilih untuk mengalah. Dia ikut menyantap makanannya sambil terus melirik kearah Rifki. Rifki yang sadar dengan tatapan gadis galak itu, malah semakin memanasi suasana. Dia sengaja mengoda Sania dan memberikan perhatiannya kepada Sania agar Yuki semakin marah.
"Sa! lihat bibirmu jadi kotor. Kalau makan itu pelan-pelan dong," ucap Rifki mengambil tissu dan mengelap bibir Sania.
"Dasar ini cowok! maunya apaan sih," batin Yuki geram.
"Sini biar aku saja. Kau dan Sanja tidak muhrim, jadi tidak pantas untuk bersentuhan," ucap Yuki merampas tissu yang ada di tangan Rifki dan membersihkan bibir sahabatnya itu.
"Sejak kapan kau tau soal muhrim," ucap Erlan tersenyum kecil.
"Diam! gini-gini aku juga tau dosa," ucap Yuki ketus sambil menendang betis Erlan.
"Gila! ini anak lagi PMS kali ya, galak amat," batin Erlan mengelus betisnya yang memanas karena ulah Yuki.
"Aku sudah selesai! ayo kita kembali ke kelas," ucap Sania sudah tidak dengan cepat menghabiskan makanannya.
"Ayo! kalian di sini saja. Silahkan gunakan waktu kalian dengan baik. Karena setelah pulang kampus Erlan akan menjadi milik kami lagi," ucap Yuki menatap Delia sambil tersenyum.
"Ayo, Sa! jangan lama-lama di sini. Udaranya begitu panas, nanti kulit kita rusak," ucap Yuki menarik tangan Sania sambil melirik sinis Rifki.
"Sa! nanti pulang kampus kita ngopi bareng ya," ucap Rifki tidak memperdulikan ucapan Yuki.
"Maaf, Ki! aku masih harus ke kantor siang ini," ucap Sania tidak enak.
"Bukannya magang sudah selesai?"
"Ia! tapi pekerjaanku di kantor belum selesai. Jadi aku harus menyelesaikannya terlebih dulu. Lumayan untuk nambah uang saku," ucap Sania tersenyum kecil.
"Ayo, Sa! kakiku sudah pegal ini," ucap Yuki menarik tangan Sania.
"Tapi, Sa!" ucap Rifki menarik tangan Sania.
"Ngapain kau megang tangan sahabatku? apa kau tidak dengar apa yang dia bilang? apa jangan-jangan kau itu tuli ya?" ucap Yuki menepis tangan Rifki.
"Maaf, Ki! aku permisi dulu," ucap Sania tidak mau membuat keributan di kantin itu.
"Dasar mbah priuk! ganggu kesenangan orang saja. Lihat saja kau nanti ya," gumam Rifki menatap kesal kepergian Sania dan Yuki.
Bukannya merasa bersalah, Yuki malah menjulurkan lidahnya untuk mengejek Rifki. Melihat kelakuan Yuki, Rifki hanya bisa menatap kesal kelakuan mbak priuk itu.
Bersambung.......