Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 61


"Sa! kau ikut ke lapangan gak?" tanya Erlan berlari kecil mendekati Sania dan Yuki.


"Bukannya kita ada rapat?" tanya Sania mengerutkan keningnya binggung.


"Rapatnya di tunda! kata paman kita ke lapangan dulu,"


"Ya sudah! Ki, aku dan Erlan pergi dulu ya. Sampai jumpa besok," ucap Sania melambaikan tangannya.


"Ok! Lan titip sahabatku ya. Ingat jangan di apa-apain," ucap Yuki menunjuk wajah Erlan.


"Kau pikir aku gila, apa! lagipula aku masih ingin hidup," ucap Erlan ketus sambil menjitak kecil kening Yuki.


"Mana tau otakmu lagi sedeng," ucap Yuki terkekeh kecil.


"Hai, Ki! kau pulang dengan siapa?" tanya Delia menghampiri ketiga sahabat itu.


"Kebetulan aku pulang sendiri. Kau ikut denganku ya," ucap Yuki tersenyum.


Melihat kedatangan Delia, terlihat aura kebahagiaan terpancar di wajah Erlan. Sania dan Yuki yang melihat itu, langsung menatap aneh perubahan sikap sahabatnya itu.


"Ehem! sepertinya ada yang sedang kasmaran ni," ucap Sania mencolek lengan Yuki.


"Kau benar! apa lebih baik kita pergi saja ya? soalnya aku tidak mau jadi obat nyamuk," ucap Yuki ikut-ikutan.


"Ngomong apaan, Sih?" ucap Erlan menatap geram kedua sahabatnya itu.


"Sudahlah! ayo kita berangkat. Nanti paman marah," ucap Erlan menarik tangan Sania.


Sebelum pergi tidak lupa dia melayangkan senyumannya kepada gadis yang telah memikat hatinya itu. Delia yang melihat senyuman Erlan hanya bisa tersipu malu. Siapa yang tidak ketar-ketir di senyumi oleh pria setampan Erlan. Bahkan begitu banyak gadis yang rela mengantri untuk mendapatkan hati pemuda itu.


"Cie... ada yang di senyumin pangeran kampus nie," ucap Yuki mengoda Delia.


"Kau apaan sih, Ki! ayo kita pulang," ucap Delia gerogi.


Sedangkan Erlan dan Sania langsung menuju ke proyek mengunakan mobil Sania. Erlan fokus menyetir, sedangkan Sania hanya diam sambil menatap kearah kaca jendela mobil. Dia menatap keadaan kota yang begitu padat dengan kendaraan yang berlalu lalang. Hingga akhirnya matanya tertuju kepada bocah yang sedang duduk di tepi toko seorang diri. Kebetulan lampu lampu merah menyala, sehingga Erlan langsung menghentikan mobilnya.


"Kau melihat apa?" tanya Erlan melihat Sania yang tersenyum seorang diri.


"Kau lihat anak kecil itu? dia sangat lucu dan mengemaskan," ucap Sania menujuk ke arah bocah laki-laki itu.


"Kau benar! tapi sedang apa dia sendiri di sana?" tanya Erlan binggung.


"Kau tunggu sebentar ya. Aku mau menemuinya dulu," ucap Sania tersenyum lalu turun dari mobil dengan penuh semangat.


"Tapi, Sa!" ucap Erlan melihat rambu lalu lintas yang telah berubah menjadi hijau.


Tidak mau membuat keributan, Erlan langsung menepikan mobilnya agar tidak menghalagi pengendara lain. Erlan menatap Sania yang terlihat sangat bahagia berbicara dengan bocah itu. Melihat senyuman yang melingkar di wajah sahabatnya itu, ada rasa bahagia yang terungkir di hati. Karena setelah sekian lama baru kali ini dia melihat senyuman yang begitu lepas terungkir kembalikan di wajah Sania.


"Hai! boleh aku duduk di sini?" tanya Sania menghampiri bocah laki-laki yang sedang bermain balon seorang diri.


Mendengar pertanyaan Sania, bocah itu langsung menatap penampilan Sania dari atas sampai ke bawah. Tatapannya di penuhi dengan tatapan penuh selidik. Tanpa dia sadari sikapnya itu membuat gadis di depannya semakin gemas melihat tingkahnya itu.


"Kau bukan orang jahat 'kan?" tanya bocah itu menatap tajam Sania.


"Tentu saja tidak! aku hanya ingin membeli es krim," ucap Sania menatap penjual es krim yang ada di depannya.


"Pak, minta es krimnya dua ya," ucap Sania kepada penjual es krim itu.


"Jadi aku boleh duduk ya," ucap Sania kembali membujuk bocah itu.


"Baiklah! lagi pula kakak seperti orang baik. Jadi tidak mungkin kakak penculik," ucap bocah itu akhirnya setuju.


"Ini es krim, Non!" ucap penjual es krim itu mengalihkan perhatian Sania.


"Terima kasih," ucap Sania tersenyum.


"Kau mau?" tawar Sania.


Bocah itu hanya tersenyum mengangguk lalu menerima es krim pemberian Sania. Bocah itu melahap es krim itu dengan begitu lahapnya. Seakan dia tidak pernah memakan es krim itu.


"Kau suka?" tanya Sania mengelap mulu bocah itu yang berselemotan.


"Ia! Kakak pasti punya banyak uang ya. Jadi kakak boleh membeli apa saja yang kakak mau. Jika aku besar, aku juga ingin mempunyai banyak uang. Agar mama tidak memarahiku lagi jika ingin membeli sesuatu," ucap bocah itu dengan penuh semangat.


Mendengar ucapan bocah itu Sania langsung tersenyum penuh haru. Dia merasa beruntung terlahir dari keluarga yang serba berkecukupan. Bahkan dia bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan. Beda dengan orang yang kurang beruntung seperti bocah itu. Di usianya yang masih sangat kecil, dia sudah memikirkan soal uang.


"Kau sedang apa sendirian di sini?" tanya Sania.


"Aku sedang menunggu mama," ucap bocah laki-laki itu tersenyum, sehingga membuat Sania semakin gemas.


"Mama!" tanya Sania menatap ke kanan dan kiri, tetapi dia tidak melihat sosok yang di sebutkan bocah itu.


"Mama, ada di dalam. Dia sedang bekerja, jadi aku tidak boleh menganggunya," jelas bocah itu.


"Mamamu pemilik toko ini?"


"Bukan!"


"Jadi?"


"Aku juga tidak tau apa pekerjaan mama. Tapi mama selalu pergi dan meninggalkan aku sendiri di rumah. Ini saja aku di perbolehkan ikut asalkan aku tidak boleh nakal dan tidak bisa meminta apapun," ucap bocah itu bersedih.


"Memangnya mamamu di mana?" tanya Sania menatap iba bocah malang itu.


"Itu! dia sedang makan dengan seorang pria,"


Sania langsung menatap cafe yang ada di samping toko itu. Dia melihat sepasang kekasih yang sedang makan dengan begitu romantisnya. Kebetulan pria itu menghalangi tatapan Sania, sehingga Sania tidak bisa melihat wajah wanita itu.


"Ibu macam apa dia? enak-enakan makan dengan pria, sedangkan putranya," batin Sania geram.


"Kau sudah makan?" tanya Sania, tetapi bocah itu hanya menggeleng kecil.


"Kalau begitu kau tunggu di sini ya," ucap Sania membuang napasnya pelan.


Dia dengan langsung mencari makanan untuk bocah itu. Dengan harapan bocah itu bisa makan enak walaupun hanya sekali. Melihat penampilan bocah itu yang seperti tidak terurus, ada gejolak yang berbeda muncul di hati Sania. Dia ingin sekali menolong bocah itu dan membuatnya bahagia.


"Pasti dia sangat senang melihat makanan ini," ucap Sania tersenyum sambil menatap beberapa makanan mahal yang dia beli untuk bocah laki-laki yang berhasil memikat hatinya.


Namun, saat menuju ke toko itu, Sania tidak melihat sosok bocah itu lagi. Dengan cepat Sania berlari menuju depan toko itu dengan harapan dia masih bisa melihat bocah itu lagi. Namun, Sania malah melihat bocah itu telah dibawa pergi oleh seorang wanita. Wanita itu berjalan begitu anggun, sedangkan bocah itu berlari kecil untuk mengikuti langkah wanita itu.


"Sa, kau mencari siapa?" tanya Erlan melihat Sania yang ingin mengejar bocah itu.


"Itu, Lan,"


"Sudah ayo! nanti kita terlambat. Ingat kita harus ke kantor lagi," ucap Erlan menarik tangan Sania.


Sania hanya mampu terdiam sambil menatap bocah itu. Hingga akhirnya bocah itu menoleh ke belakang, sehingga netra mata mereka bertemu. Bocah itu langsung melayangkan senyumannya dan melambaikan tangannya kepada Sania.


"Semoga kita bertemu lagi. Kakak berjanji akan memberikan yang terbaik untukmu," batin Sania tersenyum.


Bersambung......