
Sania menghampaskan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Kepalanya yang sedikit pusing karena kebanyakan minum, sehingga membuatnya ingin memejamkan matanya. Di tambah lagi pekerjaannya yang mengumpulkan semua bukti kejahatan keluarga Gresia dalam satu malam. Membuat tubuh Sania terasa begitu lelah.
Sebenarnya setelah berhasil memberikan minuman itu kepada Gresia, Sania segaja meninggalkan lokasi pesta secara diam-diam. Dia tidak mau Yuki mengalami nasib percintaan yang sama sepertinya. Dia ingin Yuki bisa mendapatkan cinta sejatinya tanpa ada halangan apapun lagi. Sehingga dia berencana membongkar semua kebusukan keluarga Gresia malam itu juga.
Sebenarnya Sania sudah tau tentang rencana papa Gresia. Karena dia pernah melihat gerak gerik papa Gresia yang relihat mencurigakan saat mereka melakukan rapat di kantor Raffi. Bahkan Sania menemukan sebuah kejangalan dari laporan keuangan dari perusahaan papa Gresia. Sania yakin jika papa Gresia melakuan sebuah kecurangan yang akan menghancurkan perusahaan Rafi dan Wildan. Sehingga Sania selalu mengawasi gerak gerik papa Gresia.
Saat melakukan kunjungan di kantor papa Gresia, Sania secara diam-diam menyusup ke ruangannya. Dia meletakkan alat penyadap suara di bawah meja kerja papa Gresia yang telah di hubungkan ke ponselnya. Sehingga Sania bisa mendengar setiap ucapan papa Gresia saat berada di ruangannya. Dari sanalah Sania tau jika papa Gresia memanfaatkan pertunangan Gresia dengan Aldan untuk menguras harta keluarga Wijaya.
Namun, saat itu Sania belum mengumpulkan semua bukti. Sehingga dia memilih untuk diam dan mengikuti permainan mereka. Hingga akhirnya melihat kelakuan, Gresia yang ingin mempermalukan Yuki, membuatnya tidak bisa diam lagi. Malam itu juga dia menyusup ke rumah Gresia. Kebetulan Gresia dan papanya masih ada di pesta, sehingga membuatnya lebih bebas untuk mencari apa yang dia inginkan.
Setelah mengumpulkan semua bukti, Sania langsung pergi ke club malam. Dia minum sampai pagi sambil menunggu mangsanya berikutnya. Dia mendapatkan informasi jika pelayan itu sering lewat di dekat club yang dia kunjungi. Dia mencari celah yang tepat agar bisa membawa pelayan itu ke hadapan keluarganya. Karena dia tau, jika Gresia akan memojokkannya dan Yuki karena telah mengembalikan minuman itu kepadanya.
Setelah puas minum, dan merasakan jika dirinya mulai mabuk, Sania langsung keluar dari club itu. Dia pergi ke jalanan yang selalu pelayan itu lewati saat pergi bekerja. Tentu saja Sania menunggu di tepat sepi agar rencananya bisa berjalan dengan lancar. Saat melihat pelayan itu mengendarai sepeda motor mendekatinya. Sania langsung menghentikannya lalu, memukul punggung pria itu. Walaupun pria itu sempat melawan, tetapi dengan keahlian Sania dalam ilmu bela diri, dia akhirnya bisa menjatuhkan pria itu dan memasukkannya kedalam bagasi mobilnya agar tidak bisa kabur.
"Kepalaku sangat pusing! lebih baik aku mandi dulu. Agar aku bisa tidur dengan nyenyak. Aku ingin tidur satu hari penuh," ucap Sania bangkit dari tidurnya lalu berjalan menuju kamarny mandi dengan sedikit sempoyongan.
Dia merendam tubuhnya di bathtub, dan memejamkan matanya sejenak. Cukup lama gadis itu merendam dirinya, bahkan dia sempat tertidur di dalam kamar mandi. Setelah dua jam akhirnya gadis itu keluar dengan mengunakan bathrobe dan handuk yang melilit di kepalanya.
Dia berjalan menuju meja belajarnya dan menatap foto kebersamaannya dengan Bisma saat berada di bandar. Dia menarik kursi dan duduk sambil menatap foto pria yang sangat dia rindukan. Dia mengelus foto Bisma mengunakan jarinya sambil menitikkan air matanya. Dia tidak tau harus meluapkan kerinduannya seperti apa. Hanya air mata yang bisa mewakili bagaimana perasaannya saat ini.
"Kak! bagaimana kabarmu? apa kau sudah menemukan cintamu saat ini? pasti kau di sana sedang bahagia sekarang. Aku harap kau bisa bahagia, karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Tapi maaf! aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Aku akan menunggumu sampai akhir hayatku. Karena bagiku, hanya kau pria yang pantas untuk mengisi hatiku," ucap Sania menitikkan air matanya lalu menangkup wajahnya di atas meja.
Hanya air mata yang mengalir membasahi wajah cantiknya. Keputusan sang papa yang telah menghancurkan hidupnya selalu melintas di kepalanya. Bahkan dia sudah tidak tau bagaimana caranya untuk menangis, dia hanya bisa diam dengan air mata yang terus mengalir. Ingin sekali dia menentang keputusan sang papa, dia ingin pergi dan terbang tinggi untuk bersama Bisma.
Karena dia yakin, jika Bisma juga sangat mencintainya. Pasti Bisma akan menyambutnya saat dia pergi dari rumah dan mendatangi Bisma. Namun, dia sadar! jika hubungan yang tidak di landasi restu orang tua tidak akan pernah bahagia. Dia juga tau, bagaimana Bisma sangat menghormati setiap keputusan yang di berikan oleh papanya. Dia yakin Bisma tidak akan mau hidup bersamanya jika tidak ada restu dari Kinan.
Sebenarnya tadi Kinan yang ingin melihat keadaan Sania, tetapi dia langsung menghalanginya. Karena dia tau, kehadiran Kinan hanya akan membuat perdebatan panjang antara papa dan anak itu. Rayyan berlahan melangkahkan kakinya mendekati Sania. Dia mengusap lembut punggung Sania, sehingga membuat gadis itu langsung menatap ke arahnya.
"Paman!" ucap Sania langsung menyeka air matanya.
"Kau menangis?" tanya Rayyan menatap lekat wajah keponakannya itu.
"Tidak! Sania tidak menangis. Sania hanya kelelahan saja. Ingin istirahat," ucap Sania bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ranjangnya.
"Kau yakin? kau tidak mau bercerita dengan paman?"
"Sania baik-baik saja. Sania hanya butuh ruang untuk sendiri," ucap Sania tersenyum kecil.
"Maaf! paman baru sadar jika keponakan paman ternyata sudah besar. Bukan gadis kecil yang manja dan juga cerewet lagi. Tapi sekarang keponakan paman telah tumbuh menjadi wanita yang kuat," ucap Rayyan tersenyum sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Sania.
"Tapi bagaimanapun caramu menunjukkan jika kau baik-baik saja. Matamu tetap mengatakan jika kau sedang memiliki masalah besar. Begitu juga dengan dirimu. Bagaimanapun caramu menunjukkan jika kau wanita kuat dan sudah dewasa. Tapi bagi paman kau tetap gadis kecil paman," ucap Rayyan menatap wajah Sania dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar ucapan Rayyan, Sania langsung menatap mata pria itu dengan lekat. Bagaimanapun cara Sania menyembunyikan lukanya, tetapi matanya tetap tidak bisa berbohong. Rayyan dapat melihat luka yang sangat besar yang terpancar di mata gadis itu.
Ingin sekali Rayyan membawa Sania dan menyatukannya dengan Bisma. Namun, dia juga tidak bisa bertindak gegabah. Dia harus bisa berpikir dengan jernih, dan terus berusaha untuk meyakinkan Kinan agar segera mengubah keputusannya. Karena dia tau, memisahkan Sania dengan Bisma. Sama saja membuat sisi gelap gadis itu menguasai dirinya. Hingga akhirnya dia akan menjadi Sania yang berbeda. Tidak lagi seperti Sania yang mereka kenal selama ini.
Bersambung....