Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 39


Bisma terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia sesekali melirik Sania yang duduk di sampingnya sambil menatap ke arah kaca jendela mobil. Jujur dia ingin sekali memeluk gadis itu dan mengatakan jika dia sangat mencintai gadis itu. Namun, dia tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Dia takut jika perasaannya akan membuat hubungannya dan Kinan semakin menjauh.


"Andai saja kau tau, jika kakak juga sangat mencintaimu. Tapi maaf! karena kakak tidak punya keberanian untuk mengatakannya kepadamu," batin Bisma sambil menatap Sania.


"Kenapa kakak menatapku seperti itu? aku tau aku cantik. Tapi kakak tidak perlu menatapku seperti itu," ucap Sania ketus ketika menyadari tatapan Bisma kepadanya.


"Kau memang sangat cantik. Jadi kau jangan cemberut lagi seperti itu ya. Nanti cantiknya hilang lho," ucap Bisma mencoba mengoda Sania.


"Kakak jangan mengodaku! aku masih marah," ucap Sania melipat kedua tangannya di dada sambil memanyunkan bibirnya.


"Ok! kau masih marah," gumam Bisma sambil fokus menatap ke depan.


Namun, tiba-tiba pandangannya teralih ke sebuah toko boneka yang ada di depan. Dia langsung mengingat jika Sania sangat menyukai boneka beruang. Pasti jika dia memberikan boneka itu kepada Sania, gadis itu akan merasa senang dan mau memaafkannya. Tidak banyak pikir, Bisma langsung menepikan mobilnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Sania menatap binggung Bisma.


"Kakak ada keperluan sebentar! kau tunggu di sini ya. Jangan kemana-mana," ucap Bisma dengan tegas sambil mengacak-acak rambut Sania.


Sania hanya mengangguk kecil sambil menatap punggung Bisma yang menjauhi mobil. Sania tau, Bisma pasti berhenti untuk membeli sesuatu untuknya. Karena sejak kecil Bisma selalu memanjakannya dan paling tidak bisa melihatnya ngambek seperti ini. Dari cara Bisma memperlakukannya, Sania tau jika Bisma juga mempunyai perasaan yang sama sepertinya.


Hanya saja Bisma tidak mempunyai keberanian untuk itu. Namun, Sania akan terus menunggu Bisma dengan setia. Dia yakin suatu saat nanti mereka akan bisa bersatu. Lagipula dia masih kuliah, jadi dia memilih fokus dengan kuliahnya dulu. Jika dia dan Bisma berjodoh, pasti mereka akan bersatu. Hanya saja waktunya belum tempat.


Sambil menunggu, Sania memilih untuk memainkan ponselnya. Dia sibuk mengotak-atik ponselnya untuk bertukar kabar dengan para sahabat kecilnya. Dia mendengar Bibinya Zhia akan segera kembali ke kota mereka bersama kedua sepupunya, Sania langsung merasa sangat bahagia. Dia sudah tidak sabar untuk menunggu waktu itu tiba. Akhirnya sebentar lagi mereka akan bisa berkumpul lagi seperti waktu kecil dulu.


Saat sibuk dengan ponselnya, Sania melihat boneka beruang berwarna pink yang cukup besar berjalan ke arahnya. Sania bisa menebak siapa orang di balik boneka itu. Dengan cepat Sania membuka kaca jendela mobilnya sambil menatap boneka itu dengan penuh haru.


"Selamat malam, Nona! kenalkan namaku Teddy Bear. Kalian boleh tau nama nona yang cantik ini siapa?" tanya seorang pria yang berada di belakang boneka beruang itu.


"Selamat malam! kenalkan namaku Sania. Gadis yang cantik dan juga imut," ucap Sania tersenyum sambil menunjukkan wajah imutnya.


"Hai Sania! aku punya hadiah untukmu. Tapi kau harus berjanji dulu kepadaku,"


"Janji apa?"


"Kau mau 'kan memaafkan temanku. Jangan marah lagi kepadanya ya. Jangan cemberut lagi, nanti kecantikanmu bisa memudar,"


Sania hanya tersenyum kecil. Dia menatap pria yang berada di belakang boneka itu dari kaca spion. Walaupun selalu terlihat dingin dan cuek, tetapi Bisma sangatlah perhatian. Bahkan dia rela melakukan apapun agar Sania bisa tersenyum.


"Memangnya temanmu itu siapa? apakah aku mengenalinya?" tanya Sania tersenyum.


"Tentu saja! dia adalah kakak tampanmu. Pria gagah dan juga tampan yang selalu menghiasi harimu,"


"Baiklah! aku akan memaafkannya. Tapi kau harus ikut pulang bersamaku. Menemaniku sepanjang malam, dan mau mendengarkan semua keluh kesahku,"


"Tentu saja! aku akan ikut pulang bersamu," ucap Bisma tersenyum sambil menurunkan boneka itu sehingga Sania bisa melihat wajahnya dengan jelas.


"Wah! Terima kasih, Kak. Kakak memang paling tau apa yang aku inginkan," ucap Sania tersenyum bahagia lalu mengambil eskrim itu dari tangan Bisma.


Melihat senyuman Sania, Bisma hanya tersenyum kecil lalu masuk kedalam mobil. Dia menaruh boneka beruang itu di jok belakang lalu menatap Sania yang sedang asik memakan eskrimnya.


"Kau tidak mau membagi eskrimnya dengan kakak?" tanya Bisma menunjukkan wajah memelasnya.


"Kakak mau?"


"Tentu saja,"


Dengan senang hati Sania langsung menyuapi Bisma. Namun, saat Bisma ingin mengigit eskrim itu, Sania malah sengaja mengenai hidung Bisma sambil tertawa. Melihat kejahilan Sania, Bisma langsung tersenyum kecil sambil menarik hidung mancung Sania. Dia langsung mengambil tissu dan mengelap hidungnya yang terkena eskrim. Tidak lupa, dia juga membersihkan mulut Sania yang berselomotan.


"Hari sudah larut. Kita langsung pulang ya," ucap Bisma melihat hari yang sudah sangat gelap.


Dia kembali mengemudikan mobilnya sambil melirik Sania yang asik memakan eskrimnya. Dia merasa bahagia, karena akhirnya Sania mau memaafkannya. Memang membujuk Sania sangatlah mudah, hanya saja dia yang selalu jahil. Sehingga membuat Sania semakin merajuk dan mendiamkannya.


"Kau mau tidur?" tanya Bisma melihat Sania yang sudah mengantuk.


"Ia, Kak! aku tidur dulu ya. Jika sudah sampai bangunkan aku," ucap Sania memeluk lengan Bisma dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.


Bisma hanya tersenyum sambil menyingkirkan rambut Sania yang menutupi wajah cantik gadis itu. Sania berlahan memejamkan matanya hingga akhirnya di larut dalam mimpi indahnya. Bisma yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan agar dia bisa merasakan moment ini lebih lama lagi.


Dia menatap kecantikan Sania dengan mata berkaca-kaca. Banyak yang mengatakan jika dia bukan pria normal, karena sampai saat ini dia belum pernah mengencangi satu wanita pun. Namun, merek tidak tau. Jika dia sedang menunggu gadis kecilnya tumbuh dewasa.


Walaupun dia belum berani mengucapkan perasaannya kepada Sania. Akan tetapi, dia terus berdoa agar dia dan Sania bisa bersatu untuk selamanya. Dia tidak akan bisa membayangkan jika gadis yang dia tunggu selama ini akan menjadi milik orang lain. Jika sampai itu terjadi, pasti dunianya akan runtuh pada saat itu juga.


Saat memasuki perkarangan rumah Kinan, Bisma langsung menepikan mobilnya. Dia menatap lekat wajah Sania yang sedang tertidur dengan lelap dengan tatapan penuh keteduhan. Jika tidak memikirkan tanggapan Kinan, sudah pasti dia memilih untuk tidur di mobil bersama Sania. Namun, jika sampai itu terjadi, bukan hanya Kinan pasti Rayyan dan Rafi juga akan menghabisinya saat itu juga.


Dia menatap bibir mungil Sania sambil tersenyum kecil. Bayangan kenikmatan ciuman pertama merek waktu itu kembali terbayang di dalam ingatannya. Mengingat itu, Bisma langsung mengusap wajahnya kasar. Dia tidak boleh melakukannya lagi tanpa seizin Sania. Dia tidak mau di anggap mencuri kesempatan.


Namun, dia tidak bisa menyembunyikan suara hatinya. Dia ingin merasakan manisnya bibir munggil itu lagi. Dia berusaha untuk menelan ludahnya kasar sambil menatap ke sekitarnya. Melihat tidak ada orang, Bisma berlahan mengelus wajah Sania sambil mendekatkan bibirnya dengan bibir munggil itu.


Tok... Tok....


Bisma langsung menghentikan kegiatannya sambil menatap siapa yang mengetuk kaca jendela itu. Jantungnya langsung berdegup kencang. Dia menelan ludahnya ketika melihat sosok pria yang sangat dia kenal berdiri di depan pintu mobilnya.


"Kinan!" gumam Bisma sambil menurunkan kaca mobilya.


"Kau antarkan dia ke kamarnya. Setelah itu temui aku di ruanganku," ucap Bisma datar sambil menatap Sania yang tertidur di bahu Bisma.


"Ba... baik!"


Bersambung....