
Seperti biasa, di malam hari Mala akan pergi keluar dan meninggalkan Rizki seorang diri di rumah.Dia akan pulang larut malam, bahkan kadang tidak pulang sama sekali. Bahkan dia tidak pernah perduli bagaimana keadaan Rizki saat dia tinggalkan.
Dia pergi bersenang-senang ke club malam untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Mala memang terlahir dari keluarga terhormat. Akan tetapi, karena sifatnya yang suka kebebasan membuatnya di jauhi oleh keluarganya. Bukannya mereka tidak mau mendidik putrinya itu. Namun, Mala sendiri yang keras kepala dan sering mencoreng nama baik keluarganya.
Bahkan dia juga sering mengunakan kecantikannya untuk menjerat para pria mata keranjang dan meloroti uang mereka. Bahkan tidak jarang dia membawa pria hidung belang ke apartemennya. Dia juga tidak peduli dengan keberadaan Rizki di sana. Sehingga bocah itu sering melihat mamanya itu bercumbu dengan pria lain di depan matanya sendiri.
"Argh! kepalaku sedikit pusing," gumam Mala memegang kepalanya yang terasa pusing sambil memasuki apartemennya.
Dia menghampaskan tubuhnya di sofa, dan membuang tasnya ke sembarang tempat. Dia memijit keningnya pelan dan menatap seluruh sudut ruangan itu. Biasanya Rizki selalu menunggunya di sofa itu, akan tetapi saat ini dia tidak melihat sosok bocah itu di sana.
"Dimana bocah itu?" gumam Mala sambil sempoyongan, karena terlalu banyak minum.
"Rizki! ambilkan air," perintah Mala dengan suara sedikit di tinggikan.
Namun, dia tidak melihat sosok bocah itu muncul di hadapannya. Sehingga membuat emosi wanita itu semakin memuncak.
"Rizki! dimana kau? apa kau tidak dengar, ha!" teriak Mala membulatkan matanya penuh amarah sambil menatap ke arah pintu kamar Rizki.
Namun, bukan sosok bocah yang dia cari keluar dari sana. Melainkan seorang pemuda tampan membawa segelas air dan berjalan mendekatinya. Melihat pemuda itu, Mala berusaha untuk mencari kesadarannya. Penglihatannya sedikit remang-remang, sehingga dia tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas.
Byur....
Satu gelas air itu langsung meluncur mulus di wajah Mala. Sehingga membuat wanita itu terkejut dan sadar seketika. Dia menatap pemuda yang berada di depannya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Kau mau air bukan? jadi itu aku telah memberikannya. Apa masih kurang?" tanya Rifki mengeraskan rahangnya sambil menatap kakaknya itu dengan penuh kekesalan.
"Aku tidak memintanya kepadamu. Tapi kepada bocah itu. Lagipula kenapa kau ada di sini? bukannya kau memiliki rumah yang mewah di sana? kenapa kau malah memilih untuk datang ke sini?" tanya Mala menatap kesal adiknya itu.
Mendengar ucapan sang kakak, Rifki langsung mengepalkan tangannya geram. Dia menatap kakaknya itu dengan tatapan tidak percaya. Dia tidak mengerti kenapa bisa dia memiliki kakak yang tidak punya hati seperti wanita itu. Bahkan dia begitu tega menyiksa darah dagingnya sendiri. Ntah apa dosa kedua orang tuanya di masa lalu, sehingga mereka bisa memiliki putri seperti Mala.
"Bocah itu kau bilang! apa kau lupa siapa bocah yang kau sebut? dia adalah putramu, kenapa kau begitu tega menjadikannya seperti babu? dia tidak meminta apapun darimu, bahkan dia tidak meminta kekayaan dan juga kemewahan. Dia hanya menginginkan perhatianmu," ucap Rifki mengusap wajahnya kasar. Dia tidak tau harus berkata apalagi untuk membuka hati nurani kakaknya itu.
"Apa kau masih ingin menggunakannya untuk membalas kematian Kak Mila?" tanya Rifki menatap tajam Mala.
"Kau sudah tau alasan kenapa dia hadir ke dunia ini. Jadi kau tidak perlu menanyakannya lagi."
"Apa kau ingin mengali kuburanmu sendiri? atau kau tidak punya otak untuk berpikir? aku sudah katakan jika mereka tidak membunuh Kak Mila," ucap Rifki tidak habis pikir dengan cara kakaknya itu.
Padahal dia sudah tau jelas bagaimana kejahatan kakak sepupunya itu dulu. Namun, dia tetap menyalahkan Bisma dan para sahabatnya atas kematian Mila.
"Mereka memang tidak membunuhnya. Tetapi mereka yang menyebabkan kematiannya."
Mendengar ucapan kakaknya itu, Rifki hanya membuang napasnya kasar. Dia tidak tau harus berbicara apalagi kepada saudara perempuannya itu. Agar kakaknya itu bisa berpikir jernih, dan bisa mencerna dengan baik setiap ucapannya.
Memang Mala dan Mila saling menyayangi satu sama lain. Mereka tumbuh besar bersama-sama. Mila adalah putri dari saudari perempuan papa Mala. Namun, berbeda dengan Mala tumbuh dengan di penuhi dengan kemewahan dan juga kasih sayang. Mila malah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil. Sehingga membuat kedua orang tua Mala yang akhirnya membesarkannya. Sehingga membuat Mila kekurangan kasih sayang dan membuatnya terlalu berlebihan saat menginginkan sesuatu.
Saat kematian Mila, Mala berasa diluar kota untuk melanjutkan pendidikannya. Namun, saat dia pulang, dia kejutkan kabar tentang kematian kakak sepupunya itu. Karena merasa jangal dengan penyebab kematian Mila, Mala akhirnya menyelidiki penyebab kematian kakak sepupunya itu. Sehingga akhirnya dia mengetahui jika kakaknya itu di jebloskan oleh Bisma dan para sahabatnya kedalam penjara. Sehingga membuat gadis itu depresi dan memilih untuk mengakhiri hidupnya.
"Mereka tidak ada hubungannya dengan kematian Kak Mila. Mereka hanya memberikan hukuman atas kejahatan yang telah di lakukan Kak Mila kepada sahabat mereka. Sama seperti dirimu yang tidak terima dengan kematian Kak Mila. Mereka juga sama, mereka semua juga terpukul atas kematian Tika. Hanya bedanya mereka lebih mendengarkan kata hati mereka dengan mengirim Kak Mila ke penjara. Bukan seperti dirimu yang malah menyakiti darah daging sendiri karena dendam tidak jelasmu itu."
"Apa kau lupa, jika mereka selalu meneror Kak Mila, sehingga Kak Mila menjadi depresi. Bahkan yang menerotnya adalah gadis itu dan para sahabatnya. Jadi jangan salahkan aku, jika aku juga melakukan hal yang sama seperti mereka," ucap Mala tetap pada pendiriannya.
"Bicara dengan orang sepertimu memang tidak ada gunanya. Karena kau hanya merasa jika dirimu yang paling benar. Tanpa mau menyelidiki semuanya secara detail," ucap Rifki menatap kesal kakaknya itu.
"Terserah jika kau ingin terus melanjutkan balas dendammu itu. Tapi asal kau tau, mereka semua orang baik. Mereka tidak akan melakukan sesuatu tanpa ada alasan. Aku harap kau bisa segera sadar, sebelum nasibmu sama seperti Kak Mila," ucap Rifki kesal lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Rizki.
Dia menatap keponakannya itu dengan tatapan penuh rasa iba. Dia duduk di tepi ranjang lalu mengusap lembut puncak kepala Rizki yang sedang tertidur dengan lelapnya. Dia menatap wajah pucat Rizki dan kembali meneriksa suhu tubuh bocah itu. Ternyata saat Mala meningalkannya, Rizki mengalami demam tinggi.
Rifki yang merasa cemas akan keadaannya keponakannya itu, memilih untuk meneriksa keadaan bocah itu. Alangkah terkejutnya pria itu, dia melihat Rizki seorang diri di rumah dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Dia meringkuk di sofa sambil mengigil karena suhu tubuhnya yang sedang panas tinggi. Hingga tanpa dia sadari air matanya menetes melihat nasib malang keponakannya itu.
Bersambung......