
Plakk...
Satu tamparan langsung melayang ke wajah Gresia, sehingga membuat tubuh gadis itu yang sempoyongan jatuh ke atas ranjangnya. Papa Gresia menatap tajam putrinya, dia tidak menyangka jika rencana yang telah mereka susun dengan sangat rapi. Dengan seketika hancur begitu saja karena ulah putrinya itu. Bahkan dia tidak tau harus meletakkan wajahnya di mana di depan keluarga Wijaya dan juga Rayyan dan teman-temannya.
"Pa! papa jangan perlakukan putri kita seperti itu. Ini semua bukan kesalahannya," ucap mama Gresia langsung memeluk Gresia dan menangis kesegukan.
Gresia yang belum sadar dari maboknya terus bertingkah aneh, bahkan dia dia terus tertawa membayangkan kehancuran Yuki. Padahal dirinya lah yang telah hancur. Melihat tingkah putrinya itu, papa Gresia langsung menyeret tubuh Gresia ke dalam kamar mandi. Dia mengguyur tubuh Gresia dengan air dingin, sehingga kesadaran Gresia mulai terkumpul sedikit demi sedikit.
"Papa! papa sudah gila? ingat dia adalah putri kita. Kenapa papa memperlakukannya seperti ini?" tanya mama Gresia menyelimuti tubuh Gresia mengunakan handuk.
Dia mencoba mengeringkan tubuh Gresia dan membawanya keluar dari kamar mandi. Karena malam yang telah larut, di tambah lagi air dingin yang mengguyur tubuhnya, membuat tubuh Gresia menjadi mengigil kedinginan. Papa Gresia yang melihat itu, hanya bisa mengusap wajahnya kasar sambil menatap putrinya dengan tatapan frustasi. Dia tidak menyangka dalam sekejab kehancuran datang menimpa keluarga mereka karena ulah putrinya sendiri.
"Ganti pakaiannya. Setelah itu istirahatlah, aku akan memikirkan cara agar Wijaya tidak membatalkan pertunangan Aldan dan Gresia," ucap papa Gresia melangkahkan kaki keluar dari kamar Gresia.
"Ma! apa yang telah terjadi? apa yang telah aku lakukan?" tanya Gresia sambil berusaha mengingat kejadian yang dia ciptakan di pesta tadi.
"Mama juga tidak tau! yang pasti minuman yang kita kirim ke Yuki, malah kembali kepadamu. Mama yakin, jika gadis yang bersama Yuki adalah dalang di balik semua ini. Apa kau tidak ingat, jika saat pelayan itu menghampiri mereka, dia langsung mengalihkan pandangan kita," ucap mama Gresia.
"Mama benar! aku yakin Sania yang melakukannya. Kita tidak boleh tinggal diam. Kita harus melakukan sesuatu," ucap Gresia mengepalkan tangannya geram.
"Kau tenang saja! mama sudah menyuruh detektif untuk menyelidiki kejadian tadi. Mama yakin di gedung itu ada CCTV-nya. Kita akan kembali membersihkan nama baikmu, dan kita akan membalas perbuatan mereka," ucap mama Gresia tidak Terima di kalahkan oleh Sania begitu saja.
"Baiklah, Ma! aku juga akan berusaha mengambil hati mama Aldan lagi. Aku tidak mau kehilangan tambang emasku begitu saja. Aku belum siap untuk hidup miskin," ucap Gresia.
"Sudahlah! kau cepatlah ganti pakaianmu. Setelah itu istirahatlah, siapkan tenagamu untuk besok," ucap mama Gresia bangkit dari duduknya.
Dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar putrinya. Dia harus bicara dengan suaminya dan mengatur strategi mereka dari awal. Mereka harus mengembalikan nama baik mereka di depan keluarga Wijaya. Karena jika sampai Wijaya membatalkan pertunangan putra mereka dengan Gresia, pasti perusahaan papa Gresia akan bangkrut. Sekarang saja perusahaannya masih bisa terus berjalan karena bantuan yang di berikan oleh keluarga Wijaya. Bahkan keluarga Wijaya telah membenamkan saham yang begitu besar di perusahaan mereka.
...----------------...
Melihat kejadian tadi, dada Bu Wijaya terasa sesak. Wijaya langsung membawa istrinya itu untuk beristirahat ke kamar hotel yang ada di gedung itu. Bu Wijaya terus memegang dadanya yang teras begitu sesak, dia merasa jika dia telah melakukan kesalahan besar. Calon menantu yang dia kira tulus menyayangi putranya ternyata hanya mengincar harta mereka. Sebagai seorang ibu, Bu Wijaya merasa sangat bersalah kepada putranya.
"Nak! maafkan mama ya. Maaf, karena mama telah salah memilih pasangan untukmu. Mulai sekarang mama menyerahkan semuanya kepadamu. Mama tidak akan memaksakan kehendak mama lagi kepadamu," ucap Bu Wijaya menatap lekat Aldan yang sedang duduk di sofa.
"Tante! tante minum dulu ya," ucap Yuki dengan lembut memberikan air mineral dan juga obat untuk Bu Wijaya.
Mendengar ucapan Yuki, Bu Wijaya hanya tersenyum kecil. Dia menatap Yuki dengan tatapa penuh keteduhan. Dia menerima obat pemberian Yuki lalu meminumnya.
Yuki hanya tersenyum kecil, lalu menerima gelas pemberian Bu Wijaya. Setelah menaruh gelas itu di meja, Yuki dengan penuh kelembutan memijit tangan Bu Wijaya. Sedangkan Aulya memijit kaki wanita paruh baya itu. Melihat ketulusan kedua gadis itu, Bu Wijaya hanya bisa tersenyum harus. Ternyata para mama dari gadis itu, telah berhasil mendidik putrinya. Sehingga kedua gadis itu tumbuh menjadi gadis yang sangat lembut.
Sedangkan Aldan hanya diam sambil menatap Yuki sambil tersenyum kecil. Dia tau kejadian tadi adalah ulah Sania. Walaupun dia tidak tau kejadian yang sebenarnya, tetapi dia tetap berterima kasih kepada Sania. Karena gadis itu telah berhasil membuka mata kedua orang tuanya, yang telah di butakan oleh acting Gresia yang sangat handal.
"Siapa namamu, Sayang?" tanya Bu Wijaya menatap Aulya.
"Namaku Aulya, Tante! Aulya yang imut dan cantik jelita," ucap Aulya tersenyum sambi meletakkan kedua tangannya di bawah dagu.
"Kau memang cantik, Nak! sama seperti mamamu," ucap Wijaya terkekeh kecil menatap kepedean Aulya.
"Ehem!" dehem Bu Wijaya merasa cemburu ketika suaminya memuji wanita lain di depannya.
"Tapi bagi paman tantemu jauh lebih cantik," ucap Wijaya tersenyum kecil mengoda istrinya itu.
"Ha... ha... Paman sama seperti papa. Papa juga jika mama marah langsung mengeluarkan jurus gombalan mautnya," ucap Aulya terkekeh.
Di saat mereka sedang asik berbicara, para papa dan juga mama narsis masuk ke kamar itu untuk melihat keadaan Bu Wijaya. Mengingat Bu Wijaya yang sempat merasa sesak pada dadanya, mereka semua langsung menghawatirkan keadaan istri dari rekan kerja mereka itu.
"Bagaimana keadaanmu? apa sudah mendingan?" tanya Shinta duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah pucat Bu Wijaya.
"Aku baik-baik saja. Kedua gadis cantik ini telah merawatku dengan baik," ucap Bu Wijaya menatap Aulya dan Yuki secara bergantian.
"Ehem! mentang-mentang sama calon mertua idaman baik budi. Sedangkan sama papa," ucap Wildan menatap cemburu kedekatan Bu Wijaya dengan putrinya itu.
"Papa!" ucap Yuki menunduk malu mendengar ucapan papanya itu.
Sedangkan Bu Wijaya hanya tersenyum kecil sambil menatap Yuki. Jujur dia juga sangat menyukai Yuki. Bahkan saat pertemuan mereka yang pertama kalinya, dia sudah menaruh hatinya kepada gadis itu. Hanya saja dia tidak bisa mengatakannya, karena saat itu putranya telah menjadi tunangan Gresia, gadis pilihannya.
Di saat semua orang sedang sibuk berbincang hangat bersama, Rayyan malah sibuk memperhatikan seluruh sudut ruangan itu. Dia seperti sedang mencari sesuatu, bahkan raut kepanikan terpancar di wajahnya.
"Apa kalian melihat Sania? saat kejadian tadi aku tidak melihatnya lagi," ucap Rayyan sehingga membuat semua orang langsung terkejut.
Mendengar ucapan Rayyan, semua orang langsung panik. Mereka langsung mengingat jika mereka tidak melihat Sania sejak tadi. Sehingga mereka langsung panik dan berusaha mencari keberadaan gadis itu.
Bersambung......