Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 88


"Mama!" ucap Rizki menatap sang mama dengan tatapan penuh kerinduan.


Melihat kedatangan mereka, Mala hanya bisa menunduk ketakutan. Dia takut jika kedatangan Sania dan Bisma hanya ingin menertawakan keadaannya saat ini. Kedua kakinya harus di amputasi karena kecelakaan yang dia ciptakan sendiri. Sehingga dia harus mengalami cacat seumur hidup.


"Untuk apa kalian datang kesini? jika kedatangan kalian hanya ingin menertawakanku, maka lebih baik kalian pergi saja," ucap Mala mengepalkan tangannya geram.


Tentu saja dia merasa malu kepada kedua orang itu. Niatnya menghancurkan mereka malah kembali kepada dirinya sendiri. Memang setiap kejahatan tidak akan pernah menang melawan kebaikan. Walaupun di dunia dia menang, pasti di akhirat kelak dia mendapatkan hukuman yang lebih pedih. Memang bisa Mala meninggal sewaktu kecelakaan itu, akan tetapi Allah masih memberikan kesempatan untuknya untuk berubah. Semoga saja dia bisa memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.


"Bukankah tertawa di atas penderitaan itu adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal. Ia! aku memang bisa menertawakanmu saat ini. Tapi aku tau, aku juga manusia biasa, dan musibah bisa datang kepadaku kapan saja," ucap Sania tersenyum kecil lalu melangkahkan kakinya mendekati Mala.


"Kau sangat beruntung karena kau masih di berikan kesempatan untuk hidup. Jika tidak! kau pasti sudah tawas dalam kecelakaan itu. Tapi Allah masih menyayangimu, dia memberikanmu kesempatan untuk berubah. Jadi gunakan kesempatan itu dengan baik, karena kesempatan tidak pernah datang dua kali," ucap Sania tersenyum sambil mengenggam tangan Mala dengan penuh kelembutan.


Mendengar ucapan Sania, Mala langsung menatap gadis itu. Dia benar-benar merasa malu, padahal usia gadis itu jauh lebih muda darinya. Namun, gadis itu malah jauh lebih dewasa darinya.


"Aku beruntung katamu. Lihat! aku akan cacat seumur hidup,"


"Kau hanya kehilangan kakimu, sedangkan sahabatku kehilangan penglihatannya. Aku tau, siapa dalang di balik kecelakaan ini. Tapi sayangnya aku tidak sama sepertinya. Aku memakai logika bukan emosi dan juga amarah," ucap Sania mengepalkan tangannya geram.


"Sayang! sudah. Lihat ada putra kita di sini," bisik Bisma tidak mau Sania terpancing emosi di depan Rizki.


"Maaf, Sayang! kakak terlalu terbawa suasana. Kamu bilang mau bertemu dengan mama 'kan? sini sama mamamu," ucap Sania tersenyum lalu membawa Rizki mendekati Mala.


"Ma! mama tidak apa-apa 'kan?" tanya Rizki mengenggam tangan Mala sambil menitikkan air matanya.


Mala hanya diam sambil menepis kasar tangan mungil itu. Melihat kelakuan sang kakak, Rifki hanya bisa membuang napasnya kasar. Walaupun sudah kehilangan kedua kakinya, tetapi wanita itu masih saja angkuh.


"Ma! kenapa mama sangat membenci Rizki? padahal Rizki sangat menyayangi mama. Apa salah Rizki, Ma?" tanya Rizki menangis melihat kelakuan mamanya itu.


"Sayang! kamu jangan menangis seperti itu. Mama sedang sakit, jadi pikirannya sedikit kacau. Mungkin mama butuh istirahat. Kita bertemu mama nanti lagi ya," ucap Sania langsung membujuk Rizki agar tidak menangis.


Mendengar ucapan Bisma, Sania langsung membawa Rizki keluar dari ruangan itu. Melihat keduanya telah keluar, Bisma langsung menatap tajam Mala yang duduk terdiam diatas bangsalnya.


"Apa maumu?" tanya Bisma menatap tajam wanita itu.


"Kau bertanya apa mauku? kau sudah tau sejak awal. Jadi kau tidak perlu bertanya lagi," ucap Mala tersenyum sinis.


Mendengar ucapan Mala, Bisma langsung terkekeh kecil. Dia mematap wanita itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Baiklah! tanpa aku bertanya aku sudah tau apa yang kau inginkan. Kau menginginkan kehancuran dirimu bukan?" tanya Bisma tersenyum sinis.


"Lihatlah dirimu! hanya karena dendam dan juga ambisi kau telah menghancurkan hidupmu sendiri. Kau membuat malu keluargamu dan di usir dari rumah. Bahkan sekarang kau juga kehilangan kakimu. Sedangkan kami, lihatlah! kami baik-baik saja," ucap Bisma tersenyum.


"Kau memang baik-baik saja. Tapi wanita itu," ucap Mala dengan lantang.


"Oh! ia. Aku sampai lupa, karena ulahmu salah satu dari putri dari sahabatku harus kehilangan penglihatannya. Tapi asal kau tau, dia hanya kehilangan penglihatannya. Sedangkan kau, kehilangan begitu banyak hal yang sangat berharga. Mulai dari keluarga, kedua kakimu, bahkan putramu satu-satunya. Tapi yang jauh lebih buruk lagi, kau telah kehilangan hati nuranimu. Kau sudah kehilangan semua yang ada pada dirimu. Ibarat sebuah ponsel, yang telah rusak. Awalnya kau itu sangat indah dan berharga, tapi sekarang kau hanya bisa dilihat, tetapi tidak ada artinya lagi," ucap Bisma tersenyum sinis.


"Tapi asal kau tau, bagaimanapun rusaknya sebuah ponsel, pasti bisa di perbaiki. Walaupun tidak bisa sebagus awalnya. Jadi semuanya terserah pada dirimu, kau mau memperbaiki dirimu. Atau kau ingin hidupmu jauh lebih hancur dari saat ini," ucap Bisma kembali lalu keluar dari ruangan itu denga santai.


Mendengar ucapan Bisma, Mala hanya bisa meneteskan air matanya. Dia menatap kepergian pria itu dengan mata berkaca-kaca. Melihat itu, Rifki hanya bisa diam sambil menatap iba kakaknya itu.


"Seperti yang aku katakan, mereka orang baik. Jadi kau tidak akan pernah bisa menang melawan mereka, karena kau berada di dalam sebuah kesalahan besar, sedangkan mereka berada di kebenaran. Mulai sekarang kau bebas melakukan apa, mau terus berada di dalam dendam tidak jelasmu itu, atau mau bertobat dan memperbaiki dirimu. Karena sekarang kau bukan anak-anak lagi, kau sekarang adalah seorang ibu. Jadi aku rasa kau sudah bisa menentukan jalanmu sendiri," ucap Rifki juga melangkah kakinya meninggalkan wanita itu.


Dia membiarkan Mala sendiri, agar wanita itu bisa berpikir dengan jernih dan merenungi semua kesalahannya. Dia hanya bisa berharap jika kejadian ini bisa mengubah cara pikir kakaknya itu. Agar sang kakak bisa kembali ke jalan yang benar dan melupakan semua dendamnya. Karena dendam hanya akan membuat hidupnya menjadi tidak tenang.


Bersambung.....