
Sania sedang fokus memeriksa tumpukan dokumen yang ada di depannya. Hari pertama bekerja di kantor Rafi sungguh sangat melelahkan. Tubuhnya terasa sangat letih, ingin sekali dia menghempaskan tubuhnya di ranjang dan tidur sepuasnya. Namun, sangat di sayangkan pekerjaannya masih begitu banyak, jadi dia harus menyelesaikannya terlebih dulu baru boleh pulang.
"Kak Bisma ada dendam kesumat apaan sih kepadaku? Sehingga dia begitu tega memberikan pekerjaan yang begitu banyak kepadaku si gadis malang ini," Gumam Sania memelas.
Jangankan mengerjakan tumpukan dokumen itu, melihatnya saja kepala Sania seperti ingin meledak. Namun, dia tidak boleh menyerah, dia harus menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik, agar Bisma merasa kagum kepadanya. Dia harus memperlihatkan jika dia bisa menyelesaikan semua pekerjaannya.
Namun, di saat dia sedang sibuk memeriksa satu persatu dokumen yang ada di depannya, tiba-tiba Rifki malah berjalan mendekatinya. Dia melihat Sania yang begitu kekelahan dengan pekerjaannya yang begitu banyak. Karena tidak tega melihat wanita secantik Sania bekerja sangat keras, Rifki berniat ingin membantunya. Lagi pula jam sudah menunjuk ke jam pulang kantor, jadi dia tidak mungkin bisa membiarkan Sania bekerja lembur seorang diri di kantor ini.
"Hai, Sa! Apa pekerjaanmu belum selesai?" Tanya Rifki menatap Sania yang masih fokus dengan dokumen yang ada di depannya.
"Belum, Ki! Lihat pekerjaanku masih sangat banyak. Bahkan aku tidak tau akan pulang jam berapa nantinya, " Ucap Sania membuang napasnya kesal.
"Apa kau harus menyelesaikan semua dokumen ini hari ini?" tanya Rifki menatap tumpukan yang ada di depan Sania.
"Ia! Besok pagi semua dokumen ini harus sampai ke tangan Paman Rafi. Jadi aku harus menyelesaikannya sekarang," ucap Sania
"Jadi pemilik perusahaan ini adalah pamanmu?" tanya Rifki.
"Ia! Paman Rafi dan papa sudah bersahabat sejak kecil. Bahkan mereka sudah seperti saudara," jelas Sania.
"Papamu 'kan pemilik perusahaan terbesar di kota ini, kenapa kau tidak magang di kantor papamu saja. Aldan juga, papanya adalah asisten pribadi Tuan Rayyan. Tapi kenapa kalian malah magang di sini?" tanya Rifki binggung.
Walaupun sebenarnya dia juga salah satu putra pengusaha ternama di kota ini. Akan tetapi dia malah ingin mendapatkan pengetahuan yang lebih luas dengan magang di kantor Rafi. Baginya jika magang di kantor papanya tidak akan ada asik-asiknya. Lagi pula dia adalah seorang pria, jadi dia tidak boleh ketergantungan oleh kekayaan orang tuannya.
"Kau juga kenapa memilih magang di sini? bukankah kau juga bisa magang di kantor papamu," tanya Sania malah kembali bertanya.
"Kau ini! bukannya menjawab malah kembali bertanya," ucap Rifki terkekeh kecil sambil mengacak-acak rambut Sania.
Sania hanya tersenyum kecil lalu merapikan rambutnya yang telah berantakan karena ulah Rifki. Karena terlalu asik bercerita, mereka sampai tidak sadar ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka dengan penuh amarah. Siapa lagi kalau bukan Bisma, awalnya dia ingin membantu Sania untuk mengerjakan tugasnya. Akan tetapi, dia malah langsung mendapatkan pemandangan yang sangat membakar hatinya.
"Ehem! apa kalian sudah selesai?" tanya Bisma datar sambil menatap tajam Sania dan Rifki secara bergantian.
"Maaf, Pak! saya hanya ingin menemani dia. Lagipula semua karyawan sudah pulang. Jadi tidak mungkin saya meninggalkannya di kantor ini sendirian," jelas Rifki sambil menunduk tidak berani menatap wajah Bisma yang memerah.
"Kau pulang saja. Kau tidak perlu menghawatirkan gadis ini. Karena jangankan manusia, setan saja akan takut kepadanya," ucap Bisma asal sambil membuang napasnya kasar.
"Apa! memang pria kurang ajar. Awas saja kau nanti ya," batin Sania mengepalkan tangannya geram mendengar ucapan Bisma.
"Tapi, Pak!" ucap Rifki tidak tega meninggalkan Sania seorang diri di kantor sebesar ini.
"Baik, Pak! kalau begitu aku permisi dulu ya," ucap Rifki berpamitan.
"Hem!" dehem Bisma sambil membantu Sania memeriksa dokumen itu.
"Dasar kulkas dua puluh empat karat!" batin Rifki menatap kesal sikap Bisma yang sangat dingin.
"Sa! aku pulang dulu ya. Kau mau makan apa? biar aku pesankan untukmu," tanya Rifki menatap Sania sambil tersenyum.
"Aku mau...,"
"Selama bekerja di larang makan ataupun minum. Jika kau mau makan, maka selesaikan pekerjaanmu dulu baru boleh makan sepuasmu," ucap Bisma langsung memotong ucapan Sania.
"Baik, Pak!" ucap Sania sambil menatap Bisma dengan geram.
"Kau pulang saja. Aku bisa makan setelah selesai mengerjakan ini semua. Kau tidak perlu khawatir," ucap Sania kepada Rifki.
"Baiklah! kalau begitu aku tunggu kau di cafe depan saja ya. Agar aku yang akan mengantarkanmu nanti," ucap Rifki tidak menyerah.
"Mungkin dia akan pulang pukul lima subuh. Apa kau mau menunggunya?" tanya Bisma membuang napasnya kasar lalu menatap kesal Rifki.
"Kau pulang saja! aku akan di jemput papa. Jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Sania mulai merasa tidak nyaman dengan suasana yang semakin memanas karena ulah kedua pria itu.
"Baiklah! aku pulang dulu ya. Sampai jumpa besok," ucap Rifki tersenyum lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Sania dan Bisma.
"Kau hati-hati ya," ucap Sania melambaikan tangannya kepada Rifki.
"Ok!" ucap Rifki tersenyum lalu kembali melangkahkan kakinya.
Melihat kelakuan Sania, Bisma langsung merasa sesak napas. Dia melongarkan dasinya sambil menatap kesal Sania. Rasanya ruangan itu terasa sangat panas untuknya. Kelakuan Sania secara tidak sengaja membuat Bisma menjadi kepanasan sendiri.
"Cemburu aku cemburu, ketika melihatmu bercanda dengannya," Rafi yang melihat itu langsung menyindir Bisma dengan lagu ciptaannya sendiri.
Mendengar nyanyian sindiran Rafi yang tertuju kepadanya, Bisma langsung menatap kesal bosnya itu. Namun, Rafi terus menyanyikan lagu sindirannya sambil berjalan menjauhi Bisma dan Sania. Bahkan di sela-sela nyanyiannya Rafi juga terkekeh kecil ketika mengingat wajah Bisma yang merah padam karena cemburu.
Bersambung......