Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 33


"Kau mau pesan apa?" tanya Rifki menatap Sania yang duduk di depannya.


"Terserah! samakan saya dengan milikmu," ucap Sania.


"Baiklah!" ucal Rifki langsung memilih makanan untuknya dan juga Sania.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Rifki memilih untuk berbincang-bincang dengan Sania. Saat berbincang, tiba-tiba Sania melihat ponselnya yang berbunyi. Dengan cepat Sania mengambil ponselnya dan melihat nama Bisma tercantum di layar ponselnya. Melihat Bisma yang menghubunginya, Sania langsung mengerutkan keningnya binggung.


"Kenapa ini orang tiba-tiba menghubungiku? Apa hari sedang hujan ya?" batin Sania menatap ke luar restoran itu.


"Siapa?" tanya Rifki menatap binggung Sania.


"Kak Bisma! tunggu sebentar ya," ucap Sania berjalan keluar untuk mengangkat pangilan Bisma.


Mendengar ucapan Sania, Rifki hanya mengangguk kecil. Dia menatap kepergian Sania dengan tatapan intens. Memang dia tau jika papa Sania adalah sahabat Bisma dan Rafi. Namun, melihat kedekatan Sania dan Bisma, Rifki merasa sedikit aneh. Apalagi melihat tatapan Bisma kepada Sania, Rifki dapat melihat jika tatapan itu ada tersembunyi sebuah rasa yang tersimpan.


Sesampainya di luar, Sania langsung menekan tombol hijau dan meletakkan benda pipih itu di setingan. Baru saja meletakkan ponsel itu dib telinganya, dia langsung refleksi menjauhkannya karena mendengar suara Bisma yang membuat telinganya sakit.


"Di mana kau?" tanya Bisma sedikit berteriak.


"Ini om! kesambet setan apaan sih? tiba-tiba saja menghubungiku, sekarang nada bicaranya juga seperti kingkong," gerutu Sania kesal sambil menatap layar ponselnya yang masih menyala.


"Kau bilang apa?" teriak Bisma dari sebrang sana saat mendengar omelan Sania.


"Tidak ada! kenapa kakak tiba-tiba menghubungiku?" tanya Sania dengan nada kesal.


"Kau di mana? aku mencari sejak tadi," ucap Bisma.


"Aku lagi makan siang di restoran dekat kantor," ucap Sania.


"Kembali ke kantor sekarang. Tugasmu belum selesai, tapi kau malah enak-enakan makan," ucap Bisma kesal.


"Enak saja main perintah! tugasku sudah aku selesaikan. Jadi aku bebas mau kemana. Lagipula ini jam istirahat, jadi aku berhak untuk pergi dan mengisi perutku. Memangnya kakak mau aku tidak makan lalu pingsan gitu?" tanya Sania malah meninggikan suaranya.


"Ini anak kenapa balik marah? padahal tadi aku yang marah kepadanya," batin Bisma mengerutkan keningnya binggung.


"Sudah! aku mau makan. Jadi kakak jangan menghubungiku lagi. Jika kakak menghubungiku, maka aku akan memblokir nomor kakak dari ponselku," ucap Sania kesal lalu mematikan panggilannya secara sepihak.


Melihat kelakuan Sania, Bisma hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menatap layar ponselnya. Sedangkan Sania terus mengerutu kesal kepada ponselnya. Melihat kelakuan Sania, Rifki hanya bisa menatap binggung gadis di depannya. Awalnya dia ingin memanggil Sania karena takut makanan mereka dingin. Namun, dia malah melihat penampakan Sania yang sedang mengomel seorang diri.


"Kau bicara dengan siapa?" tanya Rifki menatap binggung Sania.


"Dengan dinding! sudahlah, ayo masuk. Aku sudah lapar," ucap Sania ketus lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Rifki.


"Dinding! memangnya dinding bisa di ajak bicara ya?" gumam Rifki menatap dinding di depannya.


"Rifki! kau mau makan atau tidak?" tanya Sania sedikit meninggikan suaranya karena jarak mereka yang telah jauh.


"Ia! tunggu," ucap Rifki langsung melangkahkan kakinya menuju meja mereka.


"Itu anak lagi dapet apa?" gimana Rifki bertanya pada dirinya sendiri.


Dia menatap Sania yang terlebih dulu menyantap makanannya. Dia duduk di depan Sania lalu menyantap makanannya sambil melirik Sania. Melihat Sania yang makan begitu lahap, Rifki hanya tersenyuk kecil. Dia mengambil tiissu dan mencoba membersihkan mulut Sania yang berselomotan.


"Kalau makan pelan-pelan saja. Aku tidak akan mengambil makananmu," ucap Rifki dengan lembut.


Mendengar ucapan Rifki, Sania hanya terkekeh kecil. Dia memang sudah sangat lapar, sehingga dia lupa jika dia makan bersama Rifki.


"Lebih baik kau makan saja makananmu itu! nanti aku ambil, aku masih lapar," ucap Sania kembali menyantap makanannya.


Melihat itu, Sania langsung menatap Rifki dengan bingung. Rifki memang sangat perhatian kepadanya, bahkan Rifki selalu memperhatikan Sania dari kejauhan. Namun, Sania saja yang tidak peka dan tidak pernah memperdulikan Rifki. Dia hanya memikirkan Bisma dan fokus untuk mengejar cinta pangerannya itu.


"Benarkah! lalu bagaimana denganmu?" tanya Sania menatap Rifki.


"Aku sudah kenyang. Kau makan saja," ucap Rifki tersenyum.


"Kau memang temanku yang paling pengertian," ucap Sania tersenyum lalu menyantap makanan pemberian Rifki dengan lahapnya.


"Sekarang kau boleh menganggapku hanya sebagai teman. Tapi aku berharap suatu saat nanti kau bisa membalas cintaku," batin Rifki menatap Sania.


Setelah menghabiskan makanannya, Sania dan Rifki langsung kembali ke kantor. Saat tiba di kantor, Sania melihat Bisma yang sedang duduk di mejanya. Bisma menatap tajam kedatangannya dan melihat tangan Sania yang masih menggandeng tangan Rifki. Melihat itu, Bisma langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati mereka berdua.


"Kalian di sini mau bekerja atau pacaran?" tanya Bisma menatap tajam Sania dan Rifki secara bergantian.


"Mau mengejar cintamu," ucap Sania santai sambil tersenyum manis.


Mendengar ucapan Sania, Rifki langsung menatap gadis di sampingnya itu dengan tatapan tidak percaya. Sedangkan Bisma hanya bisa diam sambil membuang napasnya kasar mendengar ucapan Sania.


"Sini kau!" ucap Bisma menarik tangan Sania dan membawanya ke ruangannya.


"Kau jaga di sini! jangan biarkan siapapun masuk ke dalam termasuk Rafi," perintah Bisma menatap tajam Rifki.


"Apa! aku di suruh jaga di sini," gumam Rifki menatap Sania dan Bisma dengan tatapan penuh rasa tidak percaya.


Dia menatap Bisma yang membawa Sania ke dalam ruangannya dan menutup pintu dengan rapat. Rifki tidak tau apa yang mereka lakukan di dalam sana, tetapi yang jelas dia merasakan hatinya terbakar melihat Sania di bawa oleh Bisma. Namun, dia tidak bisa berkata apapun. Dia hanya bisa diam sambil terus menatap ke ruangan itu dengan perasaan yang tidak menentu.


Sesampainya didalam, Bisma langsung mendudukkan Sania di kursinya. Dia meletakan kedua tangannya di hendle kursi lalu menatap wajah Sania dengan intens. Jujur saja jantung Sania langsung berdetak kencang melihat kelakuan Bisma. Apalagi kini wajah mereka saling berdekatan, dan deru napas Bisma yang menerpa wajahnya. Sehingga membuat darah Sania terasa mengalir dengan derasnya.


"Kak!" ucap Sania ketika merasakan sesuatu yang di bawah sana yang sudah penuh.


"Apa?" tanya Bisma datar sambil terus menatap wajah Sania.


"Sepertinya aku bocor," ucap Sania gugup.


"Bocor?" tanya Bisma menatap ke arah langit-langit ruangannya.


Melihat Bisma yang tidak peka, Sania langsung memukul keningnya pelan. Dia tidak tau harus bagaimana menjelaskannya kepada Bisma. Namun, yang pasti dia harus mengatakannya karena tidak mungkin dia membeli pembalut dalam keadaan bocor seperti ini.


"Bukan itu!" ucap Sania pelan.


"Jadi?" tanya Bisma mengerutkan keningnya binggung.


"Kakak ingat jamu yang kakak minum tadi," ucap Sania.


"Ia! jamu yang pahit itu," ucap Bisma.


"Kakak tau kan itu untuk apa?" tanya Sania kembali.


"Jamu pelancar datang bulan," ucal Bisma.


"Aku lagi datang bulan, dan..." ucal Sania menghentikan kata-katanya.


"Apa!"


Bersambung.....