Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 35


Yuki terdiam menatap rumah mewah di depannya. Dia menelan ludahnya kasar sambil dan berusaha menyembunyikan rasa gugup yang menguasai dirinya. Dia terus diam mematung seakan tidak sanggup untuk melangkahkan kakinya. Bukannya karena rumah itu terlalu mewah, tetapi dia merasa gugup karena dia tidak pernah membantu orang untuk mempersiapkan arisan sebelumnya.


Dia yakin mama Aldan sedang sibuk untuk memasak untuk acara arisan nantinya. Sedangkan dia, jangankan membantu memasak, menghidupkan kompor gas saja dia tidak bisa. Dia merasa binggung harus melakukan apa di dalam nantinya. Dia takut karena kekurangannya yang tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah, mama Aldan menjadi tidak menyukainya.


"Kenapa kau diam saja? ayo masuk! pasti mama sudah menunggumu," ucap Aldan menatap Yuki yang hanya diam menatap rumahnya.


"Aku takut!" ucap Yuki menunduk.


"Kenapa kau takut? mama tidak akan memakanmu. Lagi pula dia tidak akan suka memakan gadis secantik dirimu," puji Aldan berusaha mengoda Yuki untuk menghilangkan kegugupannya.


"Kakak bisa saja," ucap Yuki menunduk malu sambil mencubit lengan Aldan.


"Ayo masuk! kau tidak perlu gugup seperti itu. Mama orangnya sangat baik. Jika kau bisa mengambil hatinya, aku yakin kau akan mendapatkan yang selama ini kau harapkan," ucap Aldan tersenyum.


Mendengar ucapan Aldan, Yuki langsung mengerutkan keningnua binggung. Jujur dia tidak mengerti apa yang di maksud pria itu.


"Sudahlah! ayo masuk," ucap Aldan mengacak-acak rambut Yuki lalu melangkahkan kakinya memasuki kediamannya.


Yuki hanya membuang napasnya pelan, lalu mengikuti langkah Aldan dari belakang. Dia berharap tidak ada hal buruk yang terjadi di dalam nanti. Dia berusaha terlihat tenang dan berjalan dengan santai di belakang Aldan.


Setelah menginjakkan kakinya di ruang tamu, dia menatap kagum setiap sudut ruangan itu. Terlihat sangat bersih dan juga rapi. Semua barang tertata dengan rapi, sehingga membuat ruangan itu terlihat semakin megah.


"Mama memang suka kebersihan. Bahkan dia setiap hari turun tangan untuk membersihkan rumah sebesar ini," ucap Aldan tersenyum.


Mendengar ucapan Aldan, Yuki hanya tersenyum kecil. Dia langsung mengingat ucapan mamanya agar belajar untuk membersihkan rumah. Agar ketika dia menikah nanti, dia sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah. Shinta selalu mengatakan, jika rumah mertua itu akan sangat berbeda dengan rumahnya sendiri.


"Hai, Sayang! kau sudah datang," ucap Bu Wijaya menyambut kedatangan Yuki. Tidak lupa dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya.


"Maaf, Tante! Yuki datangnya terlambat," ucap Yuki merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kau datang di waktu yang tepat, tante sedang bikin adonan kue. Ayo bantu tante," ucap Bu Wijaya menggandeng tangan Yuki menuju dapur.


"Buat kue!" gumam Yuki gugup sambil melirik Aldan yang berdiri di belakangnya.


Melihat tatapan Yuki, Aldan langsung memberikan semangat kepada Yuki melalui kode gerakan. Dia berharap gadis kecilnya itu bisa mengambil hati mamanya. Agar mereka bisa bersatu tanpa harus melukai hati siapapun. Melihat dukungan dari Aldan, Yuki hanya terseyum dan mencoba menarik napasnya pelan Dia berusaha untuk tetap tenang, agar dia bisa berpikir dengan jernih.


"Lihat! tante buat berbagai jenis kue. Coba kau rasakan," ucap Bu Wijaya memberikan beberapa kue yang sudah jadi dia buat.


Yuki mencoba mengambil kue buatan Bu Wijaya lalu mencicipinya. Baru sekali gigit, Yuki langsung membulatkan matanya menatap wanita paruh baya di depannya. Dengan sekali gigitan, dia langsung di buat takjub dengan kue buatan Bu Wijaya yang terasa begitu nikmat. Dia langsung mengingat Rissa mama sahabatnya yang sangat suka membuat kue.


"Em! rasanya sangat enak, Tante. Bahkan lebih nikmat dari kue buatan Tante Rissa," ucap Yuki tersenyum.


"Benarkah?" tanya Bu Wijaya tersenyum.


"Benar! apa tante mau mengajariku membuatnya?" tanya Yuki penuh semangat.


"Kau mau belajar?" tanya Bu Wijaya menatap lekat Yuki.


"Tentu saja! itu juga kalau tante tidak keberatan,"


Melihat semangat Yuki, Bu Wijaya langsung tersenyum kecil. Dia mengusap lebut rambut Yuki, sambil menatapnya penuh kehangatan.


"Tapi kita harus masak menu lain juga. Lain kali kau datang lagi ya, biar tante bisa mengajarimu," ucap Bu Wijaya tersenyum.


"Tapi apa, Sayang?" tanya Bu Wijaya menatap bingung Yuki.


"Yuki tidak bisa masak, Tante," ucap Yuki terkekeh kecil.


"Tapi Yuki bisa motong-motong sayur kok. Jika tante mau mengajariku, aku pasti bisa," ucap Yuki tersenyum.


Mendengar ucapan Yuki, Bu Wijaya hanya tersenyum kecil. Dia dapat melihat ketulusan yang terpancar di mata Yuki. Walaupun baru kali ini menginjakkan kakinya di dapur, tetapi Yuki terlihat sangat tekun dan mau belajar. Ntah mengapa Bu Wijaya merasakan ada getaran yang berbeda saat berdekatan dengan Yuki. Dia merasa begitu nyaman bahkan, gadis itu bisa mengambil perhatiannya dengan begitu cepat.


"Baiklah! tante akan mengajarimu," ucap Bu Wijaya tersenyum.


"Benarkah?" tanya Yuki semangat.


"Tentu saja," ucap Bu Wijaya tersenyum mengangguk.


"Terima kasih, Tante!" ucap Yuki memeluk Bu Wijaya dengan penuh kegembiraan.


"Baiklah! sekarang kita masak mie goreng seafood. Sekarang kau potong sayurannya ya," ucap Bu Wijaya memberikan bahan sayuran yang mau di potong kepada Yuki.


"Baik, Tante!" ucap Yuki mengambil sayuran itu lalu mencucinya dengan bersih.


Dia memotong semua sayuran dengan begitu telaten. Dia mengikuti setiap perintah yang Bu Wijaya berikan dengan sangat baik. Setelah selesai menyiapkan bumbu, sekarang tinggal urusan memasak. Namun, Yuki malah terus terdiam menatap kompor di depannya. Dia menatap kompor itu dengan tatapan penuh kebingungan.


"Kau sedang apa?" tanya Aldan tiba-tiba muncul di belakang Yuki.


"Asaga naga!" pekik Yuki terkejut sambil mengelus dadanya pelan.


"Kakak! bikin kaget saja. Bisa tidak kalau muncul itu jangan kayak jelangkung. Bikin kaget saja," celetuk Yuki sambil memanyunkan bibirnya kesal.


"Kakak tidak datang tiba-tiba. Kau saja yang sibuk menatap kompor, sehingga kau tidak sadar jika kakak datang," ucap Aldan tidak mau mengalah.


"Kau kenapa menatap kompornya sangat serius? apa kau menyukai kompornya. Memang kompor ini sangat mahal, karena mama memang paling suka barang yang berkualitas," ucap Aldan menatap kompor kesayang mamanya itu.


"Memang bagus sih! tapi lebih bagus lagi jika aku tau cara menyalakannya," ucap Yuki menatap kompor itu memelas.


"Kau tidak bisa menghidupkan kompor?" tanya Aldan menatap Yuki.


Yuki hanya menjawab dengan gelengan kepala. Melihat itu, Aldan hanya tersenyum kecil lalu menyalakan kompor itu.


"Sudah!" ucap Aldan tersenyum.


"Oh, begitu! tingal ctek-ctekkan saja. Coba aku ulangi sekali lagi," ucap Yuki mencoba mematikan kompor itu lalu menyalahkannya kembali.


Dia kemudian meletakkan wajan dia atas kompor itu dan menaruh minyak sesuai dengan yang di ajarkan Bu Wijaya tadi. Setelah selesai menjelaskan semuanya, Bu Wijaya sengaja meningalkan Yuki seorang diri. Dia ingin melihat bagaimana Yuki mengerjakan semua yang telah dia ajarkan kepadanya.


Yuki dengan telaten melakukan semua yang telah Bu Wijaya ajarkan kepadanya dengan di bantu Aldan. Mereka berdua bekerja sama dengan sangat baik. Walaupun lebih banyak bercanda dan mencuri momen romantis. Namun, mereka tetap berusaha membuat masakan itu terasa nikmat. Agar Bu Wijaya bisa merasa kagum dengan semangat Yuki yang begitu besar.


Karena terlalu fokus memasak, mereka sampai tidak sadar jika ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan mereka dengan seksama. Aldan juga dengan begitu lembut membatu Yuki dan mencoba mengajarinya semampunya. Walaupun seorang pria, tetapi Aldan juga tau urusan masak memasak.


Bersambung......