Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 73


Bugh....


"Kau kira kakak ini pria apaan?" ucap Bisma kesal sambil melempar bantal kepada Gibran.


"Apa sebenarnya yang terjadi? kenapa aku bisa di sini?" gumam Bisma memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing.


Dia menatap seluruh sudut kamar, hingga akhirnya matanya terhenti ketika menatap para sahabatnya. Dia mencoba meneriksa pakaiannya dan mencoba mengingat kejadian semalam. Di saat Bisma yang seperti orang kebingungan, Gibran malah terus menatap geli dirinya. Bayangan kelakuan Bisma yang menganggap dirinya adalah Sanja terus terlintas dalam pikirannya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa yang terjadi semalam?" tanya Bisma menatap aneh Gibran.


"Lebih baik kalian bersihkan diri kalian saja," ucap Sania menatap kesal kedua pria itu.


"Kau benar! aku tidak bisa membiarkan tubuhku terus ternoda seperti ini," ucap Gibran langsung berlari kecil menuju kamar mandi.


"Apa yang sebenarnya terjadi? apa yang telah aku lakukan?" gumam Bisma kebingungan sendiri.


"Bis! cepat bersihkan dirimu. Setelah itu datanglah ke rumah. Aku menunggumu," ucap Kinan membuka suara.


"Em!" dehem Bisma mengangguk kecil mendengar perintah sahabatnya itu.


"Ayo kita kita pulang," ucap Rissa menggandeng putrinya itu.


Dia berharap setelah ini putrinya itu bisa kembali seperti dulu. Menjadi Sania yang manja dan juga ceria lagi, dan bisa melepaskan kebiasaan buruknya yang selalu minum di club malam. Tentu saja sebagai seorang ibu dia tidak bisa melihat putrinya jatuh kedalam dunia malam lebih dalam lagi. Sedangkan di saat Sania selalu mabuk-mabukan saja perasaannya terasa sangat hancur.


"Ayo, Sayang! kita pulang," ucap Zhia ikut menggandeng tangan keponakannya itu.


"Ayo kita pulang! biarkan Bisma dengan Gibran," ucap Rayyan melangkahkan kakinya itu keluar dari kamar itu.


Kinan hanya mengangguk kecil dan mengikuti langkah sahabatnya. Dia tidak mau berpikir buruk tentang Bisma, karena dia tau persis bagaimana sifat sahabatnya itu. Jadi dia tidak mau langsung menilai apa yang dia lihat tadi tanpa mendengarkan penjelasan dari keduanya terlebih dulu.


"Bawa Gibran juga," ucap Kinan sebelum melangkahkan kakinya.


"Baiklah!" ucap Bisma mengangguk kecil.


Setelah kepergian para sahabatnya itu, Bisma langsung menatap jas dan sepatunya yang berserakan di lantai. Dia berlahan memungutnya satu persatu lalu duduk di tepi ranjang untuk mengingat kejadian semalam. Namun, hasilnya tetap saja, dia sama sekali tidak mengingat apapun tentang kejadian semalam.


"Sebenarnya aku yang memperkosa dia, atau malah bocah itu yang memperkisaku?" gumam Bisma bertanya pada dirinya sendiri.


"Argh...sial! aku sama sekali tidak mengingat apapun. Mungkin semalam aku terlalu banyak minum," gumam Bisma sambil mengusap tengkuk lehernya.


Hingga akhirnya pikirannya di teralihkan ketika mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Dia melihat Gabriel keluar dari balik pintu itu dengan penampilan lebih segar dari sebelumnya. Melihat tatapan Bisma, Gabriel langsung menatap kesal kakaknya itu.


"Kenapa kakak melihatku seperti itu? aku bukan Sania, aku Gibran. G-i-b-r-a-n!" ucap Gibran penuh penekanan di kata-kata terakhirnya.


"Berarti kakak gila!" ucap Gibran sehingga membuat sang kakak menghentikan langkahnya.


"Kau mengatakan kakak gila?" tanya Bisma menatap kesal adiknya itu.


"Kakak sendiri yang mengatakannya," ucap Gibran membela diri.


Mendengar ucapan Gibran, Bisma menjadi binggung sendiri. Bukan hanya kepalanya yang terasa pusing karena pengaruh alkohol semalam, tetapi dia juga tidak mengingat apapun. Sehingga dia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan adiknya itu.


"Sudahlah! berbicara denganmu membuat kepala kakak pusing. Lebih baik kakak mandi saja," ucap Bisma mengusap wajahnya kasar lalu berjalan menuju kamar mandi.


"Dasar! sudah menodai orang bukannya minta maaf, malah ngoceh tidak jelas," oceh Gibran kesal, sehingga membuat Bisma menjadi semakin penasaran apa yang telah terjadi kepadanya semalam.


Dia menatap tajam Gibran, sebagai tanda jika dia menuntut penjelasan dari adiknya yang super jahil itu. Melihat tatapan sang kakak, Gibran malah terlihat santai dan duduk di sofa tanpa memperdulikan tatapan Bisma.


"Jujur! apa kau memiliki kelainan ****?" tanya Bisma menatap Gibra dengan tatapan penuh selidik.


"Kakak gila ya? kakak pikir aku ini pria apaan? walaupun jomblo aku masih waras kak. Masa ia pria setampan dan sekeren gini di bilang punya kelainan. Yang ada kakak itu yang punya kelainan," oceh Gibran tidak terima.


"Lalu apa yang terjadi semalam? kenapa kita bisa berada di sini? dan tidur di atas ranjang yang sama."


"Kakak semalam mabuk! aku membawa kakak ke sini, karena kakak terus mengucap nama Sania. Bahkan kakak juga menangis seperti anak kecil," ucap Gibran terkekeh kecil mengingat kelakuan Bisma semalam.


"Jadi ini kamar Sania?" tanya Bisma semakin binggung.


"Ia! ini kamar Sania. Kakak hampir saja merusak adikku," ucap Gibran mengepalkan tangannya geram.


Mendengar ucapan Gibran, Bisma langsung mencoba mengingat kejadian semalam. Dia perlahan mengingat jika dia semalam memeluk Sania dengan erat dan meminta maaf kepadanya. Tentu saja Bisma langsung mentesali perbuatannya itu. Jika sampai dia berhasil menodai Sania, sudah pasti dia akan membenci dirinya sendiri.


"Ah! mulai ingat. Aku terlalu banyak minum semalam. Tapi aku tidak melakukan apapun kepada Sania 'kan?" tanya Bisma cemas.


"Ia! kakak memang tidak melakukan apapun kepada Sania, tapi kakak hampir menodaiku," ucap Gibran kesal.


Semalam Bisma terus mengira jika Gibran adalah Sania, sehingga dia terus berusaha mencium pria itu. Tidak mau ciuman pertamanya di ambil oleh Bisma, Gibran yang geram langsung menutup wajah pria itu mengunakan bantal. Hingga akhirnya Bisma bisa tertidur dan tidak menganggunya lagi. Walaupun Bisma hampir kehilangan napas karena ulahnya itu.


"Masih hampir! tapi belum terjadi 'kan?" tanya Bisma santai lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Tidak mau membuang-buang waktu, dia langsung membersihkan dirinya dan bersiap untuk menemui sahabat sekaligus calon mertuanya. Tentu saja dia tidak mau membuat Kinan lama menunggu, bisa-bisa sahabatnya itu berubah pikiran dan menjauhkannya dari Sania lagi.


Bersambung.......