Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 68


"Ayo kita pulang," ucap Mala menarik kasar tangan Rizki.


"Hai! kau punya sopan santun atau tidak? kau telah melukai adikku," ucap Aulia menatap tajam Mala.


"Dia adalah putraku! jadi aku berhak melakukan apapun kepadanya," ucap Mala membalas tatapan Aulia.


"Kau itu pikun atau amnesia? baru saja kau mengatakan jika dia adalah putra dari kakakku. Jadi kami berhak untuk membelanya," ucap Aulia menepis kasar tangan Mala sehingga cengkramannya pada tangan mungil Rizki langsung terlepas.


"Kau tidak apa-apa? apa tanganmu sakit?" tanya Aulia tersenyum sambil memerikasa tangan Rizki.


Benar saja, tangan bocah itu terlihat memerah karena cengkraman Mala yang cukup kasar. Bocah itu memang sering mendapatkan perlakuan kasar dari ibunya itu. Namun, karena tidak mempunyai siapapun lagilagi, dia memilih untuk diam dan menerima semua perlakuan buruk dari wanita yang telah melahirkannya itu.


Ntah apa yang berada di dalam pikiran wanita itu, kenapa dia begitu tega berbuat kasar kepada putranya sendiri. Padahal Rizky adalah anak yang sangat penurut dan tidak banyak meminta. Namun, dia seperti sangat membenci darah dagingnya itu. Jika bukan untuk mengancam Bisma, sudah di pastikan dia sudah membuangnya sejak dulu.


"Aku tidak apa-apa, Kak! jangan marahi mama. Mama tidak bersalah," ucap Rizki tersenyum dan berusaha untuk membela sang mama.


"Sayang! kau tinggal dengan papa ya. Maaf! karena papa selama ini tidak mengetahui kehadiranmu," ucap Bisma berjongkok dan mengusap lembut rambut lebar Rizki.


Melihat keadaan bocah itu, Bisma langsung bisa menebak jika dia di perlakukan secara tidak baik oleh ibunya. Jujur, hati Bisma sangat terluka melihat keadaan putranya itu. Dia menatap tubuh mungil itu dengan tatapan intens, dia melihat ada kesedihan dan juga ketakutan yang terpancar dari mata bocah itu.


"Ia, Sayang. Kau tinggal dengan kami ya," ucap Kinan mencoba menghampiri Rizki.


Melihat semua orang mencoba mendekati putranya, perasaan Mala menjadi tidak tenang. Jika Rizki berhasil di ambil oleh Bisma, maka usahanya selama ini akan sia-sia. Dia akan kehilangan poin emas untuk menghancurkan hidup Sania dan juga yang lainnya. Tentu saja dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, sudah sekian lama dia menunggu waktu ini tiba, jadi dia tidak akan mau usahanya selama ini gagal begitu saja.


"Dia adalah putraku! kalian tidak berhak mengambilnya dariku. Apa kalian lupa, dulu kalian tidak mau menerima kehadirannya. Bahkan kalian ingin membunuhnya saat masih dalam kandunganku. Tapi sekarang kalian mau mengambilnya begitu saja, kalian memang manusia serakah," ucap Mala menatap Kinan dan Bisma dengan tatapan penuh kebencian.


"Aku tidak pernah ingin membunuhnya! tapi kau sendiri yang telah menyembunyikan kehadirannya. Bahkan setelah kejadian malam itu, aku berusaha untuk mencarimu. Tetapi kau sendiri yang pergi dariku. Bahkan kau mengunakan kejadian malam itu untuk mengancamku, sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?" tanya Bisma menatap Mala dengan tatapan penuh selidik.


Bisma tau jika wanita itu ada tujuan khusus saat masuk kedalam kehidupannya. Apalagi dengan caranya menjebak Bisma lima tahun lalu, membuat Bisma sangat yakin jika wanita itu adalah bagian dari musuh mereka. Awalnya Bisma memang mengganggap jika wanita yang tidur dengannya pada malam itu hanyalah wanita matre yang menginginkan hartanya saja. Namun, setelah bertemu langsung seperti ini, Bisma langsung bisa menebak jika yang di inginkan wanita itu bukan hanya uang, tetapi kehancuran mereka.


"Aku ingin kau melepaskan gadis itu dan menikah denganku," ucap Mala to the point.


Mendengar ucapan Mala, Bisma langsung tersenyum sinis. Ternyata dugaannya benar apa adanya. Wanita itu memang ingin memecah belah persahabatan mereka, kemudian dia akan menghancurkan kehidupan mereka satu persatu. Suatu rencana yang sangat mudah terbaca oleh pria seperti Bisma.


"Lebih baik kita pergi saja! ayo," ucap Gresia menarik tangan Mala ketika melihat kondisi yang tidak lagi berpihak kepada mereka.


Bagaimana tidak! para mama narsis terus menatap mereka dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Siapa yang tidak tau, jika di bandingkan kemarahan para papa narsis, maka kemarahan para mama narsis jauh lebih menakutkan dari apapun.


"Ayo kita pulang," ucap Mala menarik tangan Rizki secara paksa.


Rizki hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah sang mama, tetapi matanya terus tertuju kepada Bisma. Seakan dia memohon kepada papanya itu agar bisa membantunya keluar dari kejejaman wanita yang tidak punya hati itu secepatnya. Melihat tatapan Rizki, perasaan Bisma bagaikan di tancap sembilu. Ntah mengapa melihat tatapan putranya itu, dia merasakan bagaimana penderitaan yang di alami bocah itu selama ini.


"Kau tenang saja, Sayang! papa akan segera menjemputmu," batin Bisma menatap Rizki sambil tersenyum.


Seakan dia memberikan kekuatan kepada putranya itu agar tetap bertahan. Melihat senyuman Bisma, Rizki langsung membalasnya. Dia terus melangkah sambil menatap sang papa dengan senyuman yang melingkar di wajahnya.


Rafi yang dapat merasakan bagaimana perasaan Bisma saat ini langsung menghampiri asisten sekaligus sahabatnya itu. Dia menghamburkan pelukannya dan memberikan kekuatan kepadanya.


"Kau tenang saja! kau tidak sendiri. Kami akan selalu ada di sampingmu," bisik Rafi sehingga membuat pria itu langsung tersentuh.


Walaupun tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini, tetapi Bisma selalu bersyukur karena di berikan sahabat seperti para sahabatnya. Walaupun tidak memiliki ikatan darah, tetapi hubungan mereka jauh lebih laut dari hubungan saudara kandung sekalipun. Mereka selalu ada untuknya, baik dalam senang maupun susah.


"Sial! rencana yang aku susun bertahun-tahun hancur begitu saja. Ternyata gadis itu bukan gadis biasa," batin Mala geram mengingat jika dia kalah talak dengan Sania dengan mudah.


Namun, tiba-tiba langkah Gresia dan Mala terhenti ketika melihat seorang wanita yang berdiri menghalangi jalan mereka. Melihat tatapan tajam wanita itu, Mala dan Gresia langsung menelan ludahnya kasar, seperti melihat hantu di siang bolong, begitu ekspresi mereka saat ini.


Melihat ekspresi kedua wanita ular di depannya, Zhia hanya tersenyum sini. Dia berjalan mendekati kedua wanita itu dengan sangat santai dan elegan.


"Ternyata buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Melihatmu, aku langsung tau siapa dirimu," ucap Zhia tersenyum sinis sambil menatap penampilan Mala dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Belajarlah dari masa lalu, sebelum kau menyesal," bisik Zhia di telinga Mala lalu pergi meninggalkan wanita itu dengan santai.


Bersambung......