Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 70


Yukk duduk terdiam di sudut ranjangnya. Dia meremas tangannya sambil terus memikirkan keadaan Sania. Dia yakin sahabatnya itu saat ini pasti sedang berusaha menerima rasa kekecewaannya. Walaupun terlihat tegar, tetapi dia tau jika perasaan sahabatnya itu sangat hancur saat ini.


"Sa! kenapa takdirmu begitu berat. Apa kau sekuat itu, sehingga Allah mempercayakan beban seberat ini di pundakmu. Baru saja kau merasakan kebahagiaan karena cintamu terbalas, tetapi kini kau harus menerima kenyataan yang begitu pahit," gumam Yuki menyeka air matanya membayangkan bagaimana hancurnya perasaan sahabatnya itu.


Brak...


"Aw! kalian hati-hati," ucap Sania mengelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Aulia dan Fiona yang asal membuka pintu kamar Yuki.


"Sania," ucap Yuki menatap binggung sahabatnya itu.


"He... he... maaf kami menganggu. Tapi Kak Aldan masih di luar 'kan?" tanya Sania cengengesan lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Kak! Kak Yuki saja belum meniduri ranjang ini. Kakak main asal berbaring saja. Lihat, hiasan bunga mawarnya jadi berantakan," ucap Auli mengendus kesal melihat kelakuan Sania.


"Ya elah! Kak Yuki saja tidak marah. Aku juga lelah, mau tidur," ucap Fiona ikut membaringkan tubuhnya di samping Sania.


Melihat Sania yang terlihat santai, Yuki hanya biasa membuang napasnya kasar. Padahal dia sejak tadi menghawatirkan keadaan sahabatnya itu, tetapi ternyata orang yang dia khawatirkan terlihat baik-baik saja. Walaupun matanya sedikit sebab karena kebanyakan menangis.


"Jadi konsepnya malam ini kita mengharap tempat tidur pengantin gitu?" tanya Aulia melihat tingkah kedua sahabatnya itu.


"Benar sekali! ayo tidur. Kau juga pasti lelah," ucap Sania tanpa memperdulikan Yuki yang terus menatap mereka.


"Kalau begitu aku juga ikut," ucap Aulia melemparkan tubuhnya ke atas ranjang.


"Kalian kembalilah kekamar kalian. Suamiku sebentar lagi akan datang," ucap Yuki mengambil bantal dan memukul ketiga sahabatnya itu.


"Tidak bisa! malam ini kamar ini adalah milik kami. Jika kau mau melakukannya, lakukan saja di kamar kami," ucap Sania menaik turunkan alisnya sambil menatap nakal Yuki.


"Melakukan apa?" tanya Fiona dengan polosnya.


"Kau mau tau?" tanya Sania dengan serius, sehingga membuat Fiona polos langsung menganggukkan kepalanya.


"Melakuan olahraga malam yang sangat menyenangkan. Kamu tau tidak, olahraganya di penuhi dengan irama lagu yang sangat merdu. Sehingga membuat gairah olah raga semakin meningkat. Keringat bercucuran sebagai tanda jika olah raga malam itu berjalan dengan penuh kenikmatan," ucap Sania dengan sangat serius.


Fiona dan Aulia yang mendengar penjelasan Sania, hanya bisa mengaruk kepala mereka bingung. Memang keduanya masih sangat polos, sehingga mereka tidak mengerti apa yang di maksud Sania. Sedangkan Yuki hanya bisa memukul keningnya melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Sania! kau berhenti meracuni pikiran mereka," ucap Yuki membuang napasnya kesal.


"Aku tidak meracuni pikiran mereka. Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Kau sudah tidak sabar ya?" tanya Sania menujuk Yuki sambil tersenyum jahil.


"Apakah kami boleh ikut gak? sepertinya olah raga malam sangat menyenangkan," ucap Aulia dan Fiona, sehingga membuat Yuki menjadi kebingungan harus mengatakan apa.


"Tidak boleh! kalian kembali ke kamar kalian. Kakak mau istirahat," ucap Aldan tiba-tiba muncul.


Melihat kedatangan suaminya itu, Yuki langsung menuduk malu. Dia tidak tau apakah suaminya itu mendengar pembicaraan mereka sejak tadi. Apalagi yang di ceritakan Sania tentang olah raga malam.


"Kakak! kami mau ikut," regek Fiona dan Aulia.


"Tidak boleh! kalian belum cukup umur," ucap Aldan tegas.


"Memangnya harus cukup umur ya? dan kami harus menunggu sampai kami seusia Kak Yuki dan Kak Sania?" tanya Fiona dengan polos.


"Ia! sekarang kalian keluarlah. Papa dan mama kalian mencari kalian sejak tadi," ucap Aldan mendorong Fiona dan Aulia keluar dari kamarnya.


"Enak saja! nanti mata suciku ini ternoda karena kalian. Ini untukmu, kau kenakan malam ini ya. Buat suamimu terpesona" ucap Sania memberikan tas belanja yang ada di tangannya.


"Ki! siap-siap ya. Siap-siap encok," ucap Sania kembali mengoda Yuki.


"Sa!" ucap Aldan membuang napasnya kasar.


"He.. he... ia aku kelua. Jangan lupa tipsnya ya," ucap Sania terkekeh lalu keluar dari kamar Aldan dan Yuki.


"Kak! ingat waktu ya. Jangan seperti mesin bor," ucap Sania tersenyum kecil lalu berlari mengejar Fiona dan Aulia.


"Dasar Sania," ucap Aldan mengeleng kecil lalu mengunci pintu agar para mantan bocil nakal itu menganggu malam pertama mereka lagi.


Setelah membereskan para mantan bocil itu, Aldan langsung menatap Yuki yang duduk di tepi ranjang dengan wajah tomatnya. Mengingat ucapan Sania yang terus mengodanya, membuat wanita itu menjadi besar kepala. Melihat kegugupan Yuki, Aldan hanya bisa tersenyum kecil lalu duduk di samping istrinya itu.


"Kamu mau mandi dulu, atau kita langsung melanjutkan acara utama kita?" bisik Aldan sehingga membuat bulu kuduk Yuki langsung merinding.


"Aku mau mandi dulu," ucap Yuki gugup lalu bangkit dari duduknya.


"Kamu mandi yang cepat ya. Agar kita bisa melakukan olah raga malam, yang di penuhi dengan keringat dan juga irama musik yang merdu dari mulut manismu itu," ucap Aldan memeluk Yuki dari belakang.


"Ah... ah...," ucap Aldan menirukan suara d*s*h*n, sehingga membuat Yuki semakin malu dan berlari kecil menuju kamar mandi.


"Jangan lama-lama ya, Sayang. Juniorku ingin segera menuju sarangnya," ucap Aldan dari balik pintu.


"Kakak!" pekik Yuki mendengar tingkah mesum suaminya itu.


Aldan hanya terkekeh kecil tanpa dosa, lalu membuka jasnya. Dia duduk bersandar di ranjang sambil menunggu Yuki selesai. Dia mencoba memainkan ponselnya, sambil sesekali mencuri pandangannya ke arah pintu kamar mandi. Seakan dia tidak sabar melihat istrinya itu keluar dari dalam sana.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Yuki langsung mengambil tas belanja yang di berikan Sania. Dia melihat isi tas itu yang ternyata sebuah lingerie hitam yang sangat tipis. Melihat kelakuan sahabatnya itu, Yuki hanya bisa membuang napasnya pelan.


"Apa aku harus mengunakan pakaian ini?" gumam Yuki mencoba mengenakan baju lingrie itu.


"Sangat tipis!" gumam Yuki gugup ketika melihat pantulan dirinya di dalam cermin. Dia tidak yakin jika mengenakan pakaian itu di depan suaminya.


"Sayang! kau belum siap juga?" tanya Aldan merasa jika istrinya itu sudah terlalu lama di dalam sana.


"Ia, Sebentar. Aku sudah selesai," ucap Yuki gugup lalu memberanikan diri keluar.


Dia berjalan mendekati Aldan sambil terus menundukkan kepalanya. Aldan yang melihat penampakan yang sangat indah itu, hanya bisa menelan salivanya kasar.


"Sayang! apa kau sudah siap?" tanya Aldan mentap istrinya itu dengan penuh gairah.


"Aku sekarang adalah milik kaka. Jadi kakak berhak melakukan apapun,"


"Termasuk meminta hakku?"


"Em!" dehem Yuki sambil mengangguk kecil.


Bersambung......