Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 34


Bisma menatap ke arah kursi yang di duduki Sania. Dia langsung membayangkan kursi kesayangannya itu terkena noda bulanan Sania.


"Kenapa kakak melihatnya seperti itu?" tanya Sania menatap tajam Bisma.


"Tidak ada!" ucap Bisma kembali ke gaya coolnya.


"Apa kakak tidak ada niat sedikitpun untuk membantuku?" tanya Sania menatap intens Bisma.


"Membatu?" tanya Bisma mengerutkan keningnya binggung.


"Ia! Aku lagi bocor. Jadi tidak mungkin aku berjalan dengan keadaan seperti ini," ucap Sania.


"Kakak udah tua, tapi tidak ada peka-pekanya sedikitpun," ucap Sania ketus sambil menatap kesal Bisma.


"Apa kau bilang? aku sudah tua?" tanya Bisma tidak terima di bilang tua.


"Idih! ini om gak sadar ya jika dia sudah tua?" batin Sania menatap aneh Bisma.


"Sekali lagi kau bilang aku om! aku akan memakanmu hidup-hidup," ucap Bisma seperti tau dengan kata hati Sania.


"Idih! memangnya kakak itu buaya apa? makan orang hidup-hidup," ucap Sania terkekeh kecil.


"Buaya darat!" ucap Bisma ketus lalu duduk menyilangkan kakinya di sofa.


Melihat Bisma yang hanya diam saja, Sania langsung membuang napasnya kesal. Dia tidak tau harus mengatakan apa kepada manusia kulkas itu. Bukannya Bisma tidak tau apa yang di maksud Sania, hanya saja dia ingin bermain sebentar dengan gadis kecilnya itu. Dia ingin tau apa yang di lakukan Sania ketika melihatnya hanya diam tidak memperdulikannya.


"Kakak!" ucap Sania meningikan suaranya sambil mengentakkan kakinya.


"Kakak tidak tuli! jadi kau tidak usah berteriak seperti itu," ucap Bisma mengusap telinganya yang terasa sakit karena teriakan Sania.


"Baiklah! aku akan menghubungi Rifki saja. Dia pasti mau membantuku. Tidak ada gunanya bicara dengan manusia batu seperti kakak," ucap Sania kesal lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Rifki.


Mendengar ucapan Sania, Bisma langsung bangkit dari duduknya. Dia tidak mau jika sampai orang lain yang membantu Sania. Dia lebih memilih untuk mengurungkan niatnya untuk mengerjai Sania untuk saat ini.


"Baiklah! kakak akan beli pakaian ganti dan juga pembalut untukmu," ucap Bisma dengan sigap lalu keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa.


Melihat kepergian Bisma, Sania hanya menatap kepergian pria itu dengan tatapan penuh kebingungan. Baru saja pria itu sok jual mahal kepadanya. Akan tetapi giliran dia ingin minta bantuan kepada pria lain, Bisma malah dengan sigap keluar untuk membeli apa yang dia inginkan.


"Pria itu memang sulit untuk di tebak," ucap Sania memanyunkan bibirnya, lalu kembali memainkan ponselnya untuk menunggu kedatangan Bisma.


Bisma menghentikan mobilnya di mall yang tidak jauh dari kantor. Dia berjalan menuju toko pakaian untuk memilih pakaian untuk Sania. Setelah memilih pakaian untuk Sania, kini Bisma berjalan menuju ke tempat penyimpanan pakaian dalam. Dia menatap satu persatu pakaian itu dan binggung harus memilih yang mana. Karena dia tidak tau berapa ukuran pakaian dalam Sania.


"Maaf, Tuan! apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pengawai toko itu mendekati Bisma.


"Saya ingin membeli pakaian dalam untuk istri saya. Tapi saya tidak tau ukurannya," ucap Bisma sedikit gugup.


"Kalau boleh saya tau fostur tubuh istri tuan seperti apa?"


Mendengar pertanyaan pengawai itu, Bisma langsung menatap tubuh pegawai wanita itu yang hampir sama seperti tubuh Sania.


"Seperti tubuhmu! hanya saja dia lebih kurus sedikit," ucap Bisma.


"Baiklah! Tuan mau pakaian dalam yang lengkap?"


"Lengkap?" tanya Bisma bingung.


"Sebenarnya istri saya sedang datang bulan. Lalu," ucap Bisma mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh! kalau begitu yang bawah saja ya," ucap pegawai itu lalu memilihkan ****** ***** untuk Sania.


Setelah memilih semuanya, Bisma langsung pergi ke kasir untuk membayar. Setelah itu, dia keluar dari toko itu dan mencari pembalut untuk Sania. Sesampainya di sana, Bisma tidak tau harus memilih yang mana, karena begitu banyak tumpukan pembalut yang ada di depannya.


Karena tidak tau harus memilih yang mana, akhirnya Bisma mengambil satu di setiap merek yang ada di rak itu. Setelah selesai, Bisma langsung kembali ke kantor. Melihat Bisma yang sudah seperti toko berjalan karena tangannya yang penuh dengan belanjaan, semua karyawan yang melihatnya hanya bisa menatapnya binggung.


"Kakak mau ngapain bawa barang belanjaan sebanyak ini ke kantor?" tanya Erlan menatap Bisma binggung.


"Tapi ini apa kak? seperti roti," ucap Erlan menatap satu kantong pembalut yang ada di tangan Bisma.


Bisma memang sengaja meminta kantongan yang gelap, agar orang tidak bisa melihat isi kantongan itu.


"Memang roti! tapi belum pakai selai," ucap Bisma ketus lalu kembali melangkahkan kakinya.


"Selai apa, Kak?" tanya Erlan dengan polosnya.


"Selai strawberry! nanti kalau sudah siap kakak kasih ke kamu," ucap Bisma sambil terus melangkahkan kakinya.


"Selai strawberry? memangnya Kak Bisma ada usaha pembuatan selai?" tanya Erlan pada dirinya sendiri.


"Sudahlah! lebih baik aku lanjutkan pekerjaanku saja," gumam Erlan kembali melangkahkan kakinya untuk mengerjakan pekerjaannya.


Sesampainya di ruangannya, Bisma melihat Sania yang masih duduk santai di kursinya sambil memainkan ponselnya.


"Ini! kau puas 'kan?" tanya Bisma ketus sambil meletakkan semua barang yang dia beli di depan Sania. Gadis itu menatap dua kantung belanjaan di depannya dengan binggung.


"Kakak tidak tau pembalut apa yang nyaman untukmu. Jadi kakak beli aja setiap merek yang kakak lihat," ucap Bisma santai lalu duduk menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Baiklah! aku akan mengantinya. Aku pinjam toilet kakak ya," ucap Sania bangkit dari duduknya.


Sania berlari kecil menuju toilet yang ada di dalam ruangan Bisma. Saat Sania berlari, Bisma tidak sengaja melihat noda merah yang ada di rok Sania. Melihat itu, dia langsung membuang napasnya kasar lalu menghubungi OB untuk memesan sesuatu.


Sania masuk ke toilet dan menutup pintu dengan rapat lalu menguncinya. Dia memang selalu berhati-hati, tidak perduli siapa yang ada di dekatnya. Karena dia selalu mengingat nasehat Rissa untuk selalu waspada dan juga menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita.


Sania menatap pakaian yang di belikan Bisma. Walaupun terlihat cuek, tetapi pria itu sangatlah pengertian. Bahkan dia juga tau bagaimana jenis pakaian yang di sukai Sania. Sania hanya bisa tersenyum sambil memeluk pakaian yang di belikan Bisma. Setelah puas memeluk pakaian itu, dia langsung membersihan dirinya dan juga menganti pakaiannya, lalu keluar dengan penampilan yang sudah rapi.


"Kakak ngapain?" tanya Sania melihat Bisma yang sedang membersihkan kursinya yang terkena noda datang bulan Sania.


"Membersihkan ini," ucap Bisma santai terus membersihkan kursinya dengan kain basah.


"Itu 'kan jorok, Kak! sini biar aku saja yang membersihkannya," ucap Sania, tetapi langsung di tolak oleh Bisma.


"Sudah selesai kok. Tinggal menunggu keringnya saja," ucap Bisma lalu menyimpan kain dan juga mangkuk yang berisi air ke toilet.


Sania hanya diam sambil menatap Bisma dengan penuh kekaguman. Dia merasa bagai terbang melayang di udara melihat perlakukan Bisma yang selalu memanjakannya.


"Ini teh hangat. Kau minumlah, aku dengar orang lagi datang bulan akan mengalami kram pada perutnya," ucap Bisma memberikan teh yang telah dia pesan kepada OB kantor.


"Terima kasih, Kak," ucap Sania tersenyum sambil menyeruput teh itu.


"Oh ia! nanti kalau rotinya sudah di taruh selai. Kasi sama Erlan ya, dia tadi memintanya,"


Byuurrr....


Dengan seketika Sania langsung menyemburkan minuman yang ada di mulutnya mendengar ucapan Bisma.


"Dasar kakak gila!" teriak Sania penuh amarah.


Kabur.....


Bersambung.....,