Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 76


Bisma duduk diam sambil terus menatap Sania yang duduk dengan santai di tepi ranjang. Sudah hampir sepuluh menit mereka berada di dalam ruangan itu. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara untuk memulai pembicaraan. Melihat Sania yang tidak membuka suara, Bisma akhirnya mengalah. Dia menarik napasnya pelan dan menatap gadis itu dengan tatapan penuh kesedihan.


"Apa kakak bisa bertanya kepadamu?" tanya Bisma menatap lekat Sania.


"Tentu saja! kakak boleh bertanya apapun kepadaku. Karena aku tidak akan lari dari setiap pertanyaan yang kakak lontarkan kepadaku," ucap Sania tersenyum kecil.


Mendengar ucapan Sania, Bisma merasa jika gadis itu sedang menyindir dirinya. Namun, itu bukanlah sindiran, tetapi kenyataan. Seharusnya dia tidak lari dari masalah dan membuat gadis itu kecewa.


"Maafkan kakak!" ucap Bisma menunduk dengan mata berkaca-kaca.


"Itu bukan pertanyaan."


Sania langsung bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya. Dia menatap langit yang begitu cerah dan juga suasana di sekitar rumahnya yang sangat sejuk. Dia mencoba untuk memejamkan matanya dan menghirup udara segar, agar dia mendapatkan kekuatan untuk menghadapi detik demi detik selanjutnya. Bisma hanya terdiam menatap gadis itu sambil mengikutinya dari belakang. Dia berdiri di samping Sania dan menatap wajah cantik gadis itu dengan penuh keteduhan.


"Dari mana kamu mengenal Rizki?" tanya Bisma sambil menatap lekat wajah gadis yang sangat dia cintai itu.


Tidak ada jawaban, gadis itu hanya tersenyum kecil sambil menatap mata pria itu. Sehingga kini mata mereka saling bertatapan. Bisma menatap lekat mata gadis itu, dari sana dia dapat melihat kesedihan yang teramat dalam. Sangat berbeda dengan sikap gadis itu yang terlihat tegar akan semua masalah yang datang menghampiri mereka.


"Bagaimanapun caramu menyembunyikan kesedihanmu, kakak akan bisa melihatnya dengan jelas di matamu. Maafkan kakak, maafkan kakak yang menciptakan luka di hatimu. Seharusnya kakak tidak lari dalam masalah ini. Seharusnya kakak mengatakan semuanya kepadamu sejak awal. Tapi! kakak tidak memiliki kekuatan untuk itu. Kakak takut kamu terluka dan membenci kakak," ucap Bisma menitipkan air matanya.


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika sampai gadis itu membencinya. Pasti dia tidak akan sanggup untuk melewati hari-harinya lagi. Karena baginya senyuman gadis itu adalah kekuatan yang tersembunyi pada hatinya. Melihat setetes air mata saja mengalir dari mata gadis itu, dia merasa jika hidupnya runtuh saat itu juga.


"Kakak tidak bersalah! karena skenario hidup ini bukan kita yang menentukan. Kita hanya bisa menjalaninya dengan keikhlasan. Karena keikhlasan dan kesabaran adalah kekuatan yang utama dalam diri kita," ucap Sania tersenyum sambil menghapus air mata Bisma.


"Kamu tidak marah kepada kakak? kamu tidak akan meninggalkan kakak 'kan?" tanya Bisma mengengam tangan Sania dan menatap gadis itu dengan tatapan penuh ketakutan.


"Tidak! aku tidak akan pernah meninggalkan kakak. Karena kakak adalah sumber kekuatanku," ucap Sania tersenyum.


"Terima kasih, Sayang! Terima kasih. Kamu adalah wanita yang paling istimewa yang di ciptakan Allah untukku," ucap Bisma memeluk erat gadis itu dan menciun keningnya dengan lembut.


"Aku mencintaimu, Kak!" ucap Sania menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu, sambil menitikkan air matanya.


"Aku juga mencintaimu, Sayang. Aku berjanji tidak akan pernah lari lagi dalam hidupmu. Terima kasih karena kamu tetap setia menunggu kakak," ucap Bisma menangis kesegukan.


Sania hanya tersenyum mendengar ucapan Bisma. Dia memeluk erat tubuh pria itu dan menghirup aroma tubuh pria itu yang begitu menenangkan pikirannya. Walaupun mereka harus melewati jalan yang begitu rumit di hadapan mereka, tetapi mereka yakin mereka akan bisa melewatinya secara bersama-sama.


Sedangkan di ruang tamu, para papa dan mama kece hanya terdiam, dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Jujur mereka sangat mencemaskan keadaan Sania saat ini. Mereka tidak yakin jika Sania bisa melewati setiap cobaan yang datang menghampirinya saat ini. Apalagi melihat kehadiran Rizki di tengah-tengah hubungan mereka. Apakah Sania adalah gadis yang sangat kuat, sehingga Allah begitu percaya kepadanya untuk menghadapi semua masalah ini.


"Apakah Sania bisa menerima status Bisma yang sudah memiliki anak? atau dia akan memilih mundur dan membiarkan Bisma hidup bersama wanita," ucap Rayyan menatap para sahabatnya.


"Aku percaya dengan Sania! dia gadis yang bijak. Jadi dia pasti tau apa yang terbaik untuknya dan kita semua. Sebelum mengambil keputusan, pasti dia sudah memikirkan semuanya terlebih dulu," ucap Rafi bijaksana.


"Aku setuju dengan Paman Rafi! apa kalian lupa saat Rizki datang dan memanggil Kak Bisma dengan sebutan papa, Sania nampak biasa saja. Bahkan tidak ada sedikitpun rasa terkejut yang terpancar di wajahnya. Aku kira Sania sudah mengetahuinya sejak awal," ucap Yuki, sehingga membuat semua orang di sana langsung terdiam berpikir.


"Gadis itu memang sangat licik," ucap Wildan menggelengkan kepalanya pelan.


"Bukan hanya Sania saja yang licik. Tapi semua anak kita memiliki kelicikan yang sama. Apa kalian lupa sejak kecil mereka selalu membantu kita menyelesaikan masalah," ucap Ardiyan terkekeh kecil.


"Kau benar! kenapa aku sampai melupakannya. Bahkan mereka selalu melangkahkan lebih depan dari kita," ucap Wildan terkekeh kecil mengingat masa lalu para putra-putri mereka.


"Jadi kalian yang bodoh sehingga menyembunyikan sesuatu dari mereka, termasuk Sania. Lihat, kalian sejak lama mencari identitaa wanita itu. Tapi kalian tidak mendapatkan apa-apa. Tapi giliran Sania, bukan hanya menemukan identitasnya. Bahkan dia berhasil memancingnya keluar dari sarangnya," ucap Zhia menatap kesal Kinan.


"Kau benar, Zhi! kakakmu itu memang bodoh. Masa dia tidak tau tingkat kegeniusan anaknya sendiri," ucap Wildan menatap kesal Wildan.


Mendengar ucapan sahabatnya itu, Kinan hanya bisa membuang napasnya kasar. Apa yang mereka katakan memang benar. Kinan memang bodoh, karena dia tidak bisa mengenali bagaimana sifat putrinya yang sebenarnya.


"Sudahlah! sekarang bukan waktunya kita saling menyalahkan. Lebih baik kita bantu Bisma keluar dari masalah ini," ucap Rayyan menghentikan perdebatan para sahabatnya.


"Aku setuju! aku yakin wanita itu ada niat buruk di balik semua ini. Apalagi melihat Gresia di sampingnya. Pasti mereka ingin menghancurkan kita satu persatu," ucap Aldan mencurigai sesuatu di balik kemunculan Mala dan Gresia.


"Kita akan menyelidiki itu nanti. Sekarang kita fokus kepada Rizki saja. Kita harus mengambil Rizki dari wanita itu," ucap Kinan penuh keyakinan.


"Apa! apa kau yakin?"


Tentu saja keputusan Kinan membuat semua orang yang ada di sana terkejut.


"Aku sangat yakin! Bocah itu tidak salah, dia juga korban disini. Jadi sebagai manusia, kita juga harus membantunya," ucap Kinan penuh keyakinan.


Bersambung....