
Melihat drama yang sangat menegangkan itu, seluruh awak media yang awalnya ingin meliput pernikahan Yuki dan Aldan, kini beralih mengabdikan masa lalu Bisma. Tentu saja itu adalah berita emas untuk mereka, karena selama ini Bisma maupun para papa killer yang lainnya tidak pernah terkena rumor ataupun bahan percakapan di media sosial.
Apalagi melihat Sania putri dari Kinan Wirawan ada di tengah-tengah mereka. Pasti berita akan menjadi perbincangan nomor satu di seluruh awak media. Namun, di saat semua orang terlihat cemas akan keadaannya, Sania malah terlihat sangat santai seperti tidak terjadi apapun.
"Hai! akhirnya kita bertemu lagi. Waktu itu kita belum sempat berkenalan. Kenalkan nama kakak Sania," ucap Sania berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan bocah laki-laki itu.
"Namaku Rizki Alvaro, pangil saja aku Rizki," ucap bocah itu tersenyum.
"Nama yang bagus, cocok untuk pria pintar dan tampan sepertimu. Kau tadi memanggilnya dengan sebutan papa, apa benar dia papamu?" tanya Sania menunjuk ke arah Bisma.
Rizki berlahan menatap Bisma, lalu mengangguk kecil. Memang sejak lahir dia tidak pernah bertemu dengan papa kandungnya. Bahkan ibunya juga tidak pernah mengatakan siapa sebenarnya papa biologisnya. Namun, saat sang ibu mengatakan jika Bisma adalah papanya, dia langsung percaya dan mencoba menghampiri Bisma. Dengan harapan papanya itu bisa menerima kehadirannya dan mau memberikan kasih sayang yang tidak dia dapatkan selama ini.
"Ayo!" ucap Sania langsung membawa Rizki kedalam gendongannya lalu berjalan mendekati Bisma.
"Ternyata kakak memiliki putra yang sangat tampan. Kenapa kakak tidak mengatakannya kepadaku? apa ini alasan kakak selalu menjauhiku?" tanya Sania sambil menatap gemas wajah Rizki.
Walaupun terlihat sedikit kurus dan tidak terurus, tetapi bocah lelaki itu terlihat sangat tampan. Bahkan dia sangat mirip dengan Bisma, mulai dari mata dan juga senyumannya. Bisma menatap bocah itu dan Sania secara bergantian, bibirnya tertutup rapat tidak tau harus berkata apa. Apalagi melihat sikap Sania yang terlihat biasa saja, membuatnya semakin binggung apa sebenarnya yang berada di dalam pikiran gadis itu.
"Kau mau bertemu dengan papa 'kan? itu papamu, ayo ucapkan sesuatu kepada papa," ucap Sania menurunkan Rizki dari gendongannya.
"Papa! aku sangat merindukanmu. Bolehkan aku memelukmu sekali saja?" tanya Rizki menatap Bisma dengan tatapan penuh permohonan.
Bukannya menjawab, Bisma malah menatap Sania. Seakan dia meminta persetujuan dari gadis itu, karena baginya saat ini perasaan gadis lebih berharga dari apapun.
"Aku hanyalah wanitamu, sedangkan dia adalah putramu. Jangan pernah membuang darah dagingmu, hanya untuk membuat wanitamu senang. Ingatlah, kakak juga pernah menjadi anak seperti dirinya. Pasti kakak mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Jangan khawatirkan aku, karena aku telah memilihmu, maka aku harus menerima semua yang ada pada dirimu. Termasuk Rizki putramu," ucap Sania tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih! kamu memang bidadari dari surga yang telah diturunkan Allah untukku," ucap Bisma menangis haru.
Dia langsung berjongkok dan memeluk Rizki dengan penuh kerinduan. Awalnya dia memang tidak yakin jika anak yang di maksud wanita itu adalah putranya, tetapi saat melihat Rizki. Dia menjadi yakin jika dia adalah ayah biologis dari bocah itu. Walaupun dia terlahir bukan karena cinta, tetapi bocah itu juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaannya.
Puk... puk..
Gresia langsung bertepuk tangan melihat sikap Sania, sehingga membuat semua orang langsung menatap kearahnya. Melihat mantan tunangan putra dari keluarga Wijaya ada di sana, semua orang langsung kebingungan. Mereka berbisik-bisik satu sama lain dan mengeluarkan pendapat mereka masing-masing. Namun, tidak untuk Sania. Dia terlihat santai dan memberikan kode kepada seluruh keluarganya untuk tetap tenang.
"Aku harus membantu Sania!" ucap Yuki bangkit dari duduknya.
"Tidak perlu! Aku yakin Sania bisa menghadapi semua ini dengan mudah," ucap Aldan menatap kagum keberanian Sania yang tetap terlihat santai menghadapi kedua wanita ular itu.
"Ternyata kau seorang artis yang handal ya. Bahkan Kau bisa bertukar sifat dengan sangat mudah. Dulu kau bertingkah seperti gadis murahan yang terus mengejar cinta papa dari anak ini. Sehingga membuatnya memilih untuk pergi dan meningalkan wanita yang telah dia tiduri malam itu. Bahkan karena ulahmu anak yang malang ini terlahir tanpa seorang ayah," ucap Gresia memasang wajah kasihan melihat nasib Rizki.
"Jika kau tidak tau masalahnya, kau tidak perlu membuka mulut sampahmu itu," ucap Bisma menatap tajam Gresia.
"Ups! maaf jika ucapanku salah. Tapi itu memang kenyataannya. Setelah kau menidurinya, kau malah meninggalkannya begitu saja. Aku tidak tau sudah berapa banyak wanita yang menjadi korbanmu, tetapi yang pasti karena ulahmu itu, wanita ini harus kehilangan masa depannya. Bahkan tanpa memikirkan perasaannya, kau malah memberikan pemandangan yang sangat menyakitkan. Kau melamar wanita lain di depannya dan juga anak malang ini. Di mana hati nuranimu sebagai manusia?" tanya Gresia menatap tajam Bisma.
"Oh! aku salah. Seharusnya aku tidak bertanya kepadamu. Tetapi dengan wanita ini,'" ucap Gresia kembali sambil menatap Sania dengan tatapan penuh kebencian.
"Ternyata para tuan muda yang sangat terhormat dan di segani di negara ini, tidak sehebat yang kita kira. Mereka memang berhasil membangun perusahaan mereka, bahkan bisa sampai sesukses sekarang. Tetapi untuk mendidik putri mereka saja mereka tidak bisa. Mereka membiarkan putri mereka bertindak sesuka hati mereka tanpa memikirkan perasaan orang lain. Setelah Yuki, putri dari Tuang Wildan yang terhormat merebut tunangan saya, kini datang lagi Sania putri dari Tuan Kinan yang menghancurkan kehidupan seorang anak yang tidak berdosa. Hanya demi obsesinya semata. Apakah ini kelurga yang seharusnya kita sanjung dan hormati? Terlihat baik dan memiliki nama yang sangat baik di seluruh dunia, tetapi ternyata memiliki putri yang murahan," ucap Gresia tersenyum sinis.
Tentu saja hal itu membuat Kinan dan yang lainnya langsung murka. Siapa yang terima putrinya direndahkan di depan umum.
"Kau mengatakan kami murahan. Lalu bagaimana dengan dirimu? kau mengatakan orang tua kami tidak bisa mendidik kami, lalu bagaimana dengan orang tuamu? apa perlu aku mengatakan semuanya di depan umum?" tanya Sania melipat kedua tangannya di dada.
"Bercerminlah dulu, baru lihat keburukan orang lain. Karena belum tentu apa yang kau lihat buruk dari orang lain, lebih buruk dari dirimu sendiri," ucap Sania tersenyum sinis lalu beralih ke Mala.
"Kau salah memilih lawan, Sayang. Seharusnya kau kenali dulu lawanmu sebelum melangkah. Karena sekali saja kau salah melangkah, kau tidak akan bisa lepas dengan mudah. Kenalkan, aku adalah Sania Ayunda Wirawan, wanita yang memiliki dua sifat yang tidak kau tau. Kau telah menggecas jiwa iblisku untuk bangkit, maka jangan salahkan dia yang telah bangkit karena ulahmu," bisik Sania tersenyum sinis lalu meningalkan kedua wanita iblis itu dengan santai.
Bersambung.......